Oleh Imam FR | Pada Rabu, 3 Februari 2010
* * *

Terhitung telah genap dua tahun sudah masyarakat di daerah Ciputat dan sekitarnya merasa lega dengan keadaan Jalan Juanda pada sisi lintasan yang berada tepat di depan Pasar Ciputat. Kemacetan sekitar pasar sudah sedikit terkurangi, walaupun tetap masih ada. Hal itu menjadi wajar, seperti layaknya pada pasar-pasar lain, pasti ramai dengan para pengunjung dan angkutan umum sehingga menyebabkan kemacetan. Selain pengunjung mungkin juga karena ulah para pedagang yang berjualan di pinggir jalan atau bus dan angkutan yang parkir dan menaik-turunkan penumpang sembarangan. Namun, walau masih ada saja kemacetan, tidaklah terlalu parah apabila dibandingkan dengan keadaan dua tahun yang lalu sebelum adanya flyover.

 

Pada siang hari flyover terlihat sepi dari kendaraan

Pada siang hari flyover terlihat sepi dari kendaraan

Sebelumnya kemacetan sangatlah parah, dan itu terjadi setiap hari. Bagian jalan yang melintas di depan pasar yang panjangnya hanya sekitar 200 meter, seharusnya bisa dilewati tidak lebih dari 1 menit, namun karena macet, butuh waktu sekitar 5 sampai 10 menit untuk melewatinya. Penderitaan akibat kemacetan diperparah lagi dengan keadaan jalan yang berlubang. Sungguh melewati jalan itu seperti ungkapan peribahasa “bagai jatuh tertimpa tangga”, sudah macet masih ditambah dengan jalan yang berlubang.

Penderitaan berganda yang menimpa siapa saja yang melintasinya, diakhiri dengan dibangunnya jalan alternatif yang melintas di atas jalan tersebut atau istilah kerennya disebut flyover (jembatan layang), sedangkan di bawahnya yang semula adalah jalan rusak, kini berubah menjadi trotoar. Sebagai ganti jalan di bawahnya dilakukan pelebaran jalan. Pelebaran diperkirakan sekitar 8 meter di setiap sisi kanan dan kiri jalan.

 

Flyover dari arah Parung menuju Lebak Bulus

Flyover dari arah Parung menuju Lebak Bulus

Adanya flyover seolah menjadi obat dari semua kekesalan yang terjadi. Harapan besar untuk mengurangi kemacetan tersirat dengan adanya flyover. “Pembangunan flyover dimulai sekitar bulan Agustus 2006,” tutur Muhaimin (40 tahun), seorang penjual buah siap saji dan minuman di bawah flyover yang sudah puluhan tahun berjualan di situ, jauh sebelum flyover dibangun. Jadi dia tahu betul sejak awal sampai dengan selesainya pembangunan flyover. “Tapi flyover ini baru mulai digunakan kira-kira pada awal tahun 2008,” tambah Muhaimin.

“Habis berapa miliar ini Pak, pernah denger (dengar) kabar-kabar tentang itu nggak?” kataku. “Nggak sampai miliaran dik, ini kan cuma pendek nggak ada 500 meter, yang saya dengar ikatanya habis sekitar 800 juta, tapi itu baru uang pembangunan flyover, belum untuk ganti rugi pelebaran tanah,” jelas Muhaimin. “Buat ganti rugi, tanah dihargai 2 juta per meter, kalau ganti rugi bangunan dan rumah, harga tergantung besar atau kecil ukurannya,” tambah Muhaimin.

 

Kemacetan masih terjadi, walaupun tidak separah sebelum dibangunnya flyover ini

Flyover memang mengurangi kemacetan di sekitar Pasar Ciputat, walupun di waktu-waktu tertentu kemacetan tetap tak bisa dihindari

Lintasan flyover dimulai tepat dari depan Ciputat Mega Mall dan berakhir di depan Ramayana (sebuah department store yang menjual pakaian). Seperti yang dikatakan Muhaimin, memang panjangnya tidak lebih dari 500 meter, menurutku sendiri panjangnya hanya sekitar 300 meter lebih sedikit, dengan lebar jalan kurang lebih 8 meter. Sesuai dengan sebutannya “flyover” pasti jalan itu berada di atas, melintasi jalan yang di bawahnya. Tanjakan menuju ke atas jalan lumayan tinggi, apabila berada tepat pada puncaknya, ketinggian itu sampai sekitar 15 meter. Jalur yang dilintasi melalui flyover meliputi berbagai arah, yaitu arah menuju Parung, Pamulang, dan Ciater BSD.

Proses pembangunan flyover diawali dengan melapisi lempengan besi baja dan beton di dalamnya supaya memperkuat ketahanan terhadap tekanan dari kendaraan yang melintas. Lubang galian yang dijadikan fondasi dari tiang-tiang penyangganya mencapai 15 meter kedalaman tanah. Pembuatannya memakan waktu sekitar satu setengah tahun, pembangunan flyover ini merupakan program kerja akhir dari Bupati Kota Tangerang, Ismet Iskandar, dan proses pembangunannya pun berlangsung ketika Pemilu Bupati Kota Tangerang yang diikut sertakan kembali oleh Ismet Iskandar didampingi oleh Rano Karno sebagai wakilnya. Pemilu Wali Kota Tangerang 2007 tersebut untuk yang kedua kalinya dimenangkan oleh Ismet Iskandar. Waktu yang termasuk sebentar untuk sebuah pembangunan flyover, cepatnya pembangunan itu karena menggunakan mesin yang sudah canggih dan modern.

 

Coret-coretan kini menghiasi flyover, salah satunya grafitti

Coret-coretan kini menghiasi flyover, salah satunya grafitti

Keadaan flyover saat ini setelah berumur dua tahun (dihitung dari awal mula penggunannya)  masih terlihat dari kokoh dan kuat, belum terlihat adanya keretakan. Aspal jalannya juga masih rata, halus dan belum berlubang. Bagiku itu wajarlah, secara flyover itu baru berumur dua tahun, namun entahlah dengan lima tahun kedepan, biasanya bangunan sudah mulai kelihatan kerusakannya setelah lima tahun. Kini tembok-tembok tebal yang menjadi tiang penyangga flyover sudah banyak coretan-coretan, entah itu ulah dari orang-orang yang sebenarnya kreatif namun kekurangan tempat untuk menuangkan kreatifitasnya, atau ulah dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab. Apabila dilihat dari tulisan-tulisannya, lebih layak dinilai akibat ulah tangan-tangan yang jahil, karena tulisannya tidak jelas dan terkesan sembarangan menulisnya (tak ada seni). Berbeda apabila itu coretan dari orang yang kreatif namun kurang media untuk mengekspresikannya, coretan mereka lebih terkonsep dan mempunyai nilai estetika, seperti Grafitti atau mural-mural yang juga biasa aku temui di tembok-tembok perkotaan (it’s art ma men..).

Selain sebagai jalan alternatif untuk menghindari kemacetan, flyover secara tidak sengaja menimbulkan banyak fungsi-fungsi lain, seperti yang terlihat tepat di bawahnya. Banyak kehidupan di bawah flyover tersebut, terutama aktifitas perdagangan seperti berjualan sepatu, lukisan, VCD bajakan, bahkan di ujung bawah flyover ada yang memakai untuk berjualan sayuran yang seharusnya digunakan sebagai jalan penyebrangan, seakan tidak mau kalah tukang ojek juga ikut mangkal di bawahnya. Jadi, flyover dijadikan layaknya sebuah atap yang menaungi mereka dari panasnya terik matahari dan hujan.

 

Para tukang ojek di bawah flyover

Para tukang ojek di bawah flyover

 

Pedagang sepatu yang berjualan di bawah flyover

Pedagang sepatu yang berjualan di bawah flyover

Para pedagan kaki lima di sepanjang jalan yang seharusnya menjadi jalan penyebrangan di bawah flyover

Para pedagan kaki lima di sepanjang jalan yang seharusnya menjadi jalan penyebrangan di bawah flyover

Menurutku itu merupakan bagian dari dampak kehidupan masyarakat urban yang dinamis, sangat wajar dan tidak dapat dihindari. Persaingan hidup di daerah perkotaan yang keras dengan pola kehidupan  heterogen. Setiap orang memiliki tujuan dan keperluan masing-masing, sampai-sampai setiap orang juga hanya memikirkan dirinya masing-masing. Apalagi di daerah yang sangat dekat dengan Ibu Kota, banyak orang-orang dari desa mengadu nasibnya di sini, termasuk di antaranya teman-temanku. Banyak teman-temanku satu kampung yang berada, hidup dan mencari nafkah di sekitar Pasar Ciputat.

Setelah dibangunnya flyover, saat ini menjadi tanggungjawab bersama dalam mempertahankan dan merawatnya, mengingat fungsinya sangat strategis dalam mengurangi kemacetan. Pastinya masyarakat mengharapkan flyover tersebut akan tetap kokoh, terhindar dari kerusakan dan tak lekang oleh jaman, namun itu juga tergantung bagaimana perawatannya. Terkadang memang mempertahankan sesuatu menjadi lebih sulit daripada membangunnya.

Your email:

 


9 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Jalan Sampah
  2.           Sampah Terus Ramaikan Tangsel
  3.           Rona Pasar Ciputat
  4.           Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Pasar Ciputat
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Komentar (3)

 

  1. zhiben mengatakan:

    kapan yah di Lombok dibangun FlayOver… pasti banyak anak-anak menjadikannya sebagi tempat maen layangan, ato tempat menunggu azdan magrib….

  2. Chodri mengatakan:

    wah kantor sepi, tulisan sepi..

  3. umam mengatakan:

    kok fTo tkang ojek yg dbwah flyoveR kga dmasukin????
    kan daH ada sTok ftO’a……

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      17-an di Taman Lenteng

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      6
      Setiap tahun Taman Lenteng yang terletak di seberang Kampus IISIP Jakarta ikut memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI). Begitu pun tahun ini, di ulang tahun negara kita yang ke-64 Taman Lenteng menjadi saksi solidaritas s ...

      (Ada 7 komentar pada artikel ini)

      Pesta Rakyat di Alun-Alun Multatuli - Lebak

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      lebak4
      Sedikit  suasana pergantian tahun di Alun-alun Multatuli - Rangkasbitung [caption id="" align="alignnone" width="480" caption="Dari kiri ke kanan Maulana M. Pasha, Syaiful Anwar dan Helmi di tengah-tengah massa yang memadati alun-alun Multatuli - Leb ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

      Kelereng Mainan Maen Ball

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      kelereng
      Sudah lama tulisan ini tersimpan rapi di sobekan buku kertas bergaris. Buku dengan gambar depan pemain bola dari inggris bekas semasa Sekolah Menengah Umum (SMUN) 3. Masa yang paling manis dalam perjalanan hidup. Butuh keberanian berucap bahwa aku su ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Tontonan Kolonial yang Menjadi Tradisi

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      12
      Dimulai dari zaman penjajahan Belanda di Indonesia, panjat pinang adalah acara yang dibuat poleh para penjajah sebagai bahan tontonan yang diadakan pada saat ada perhelatan besar seperti pesta pernikahan, kenaikan jabatan atau pesta ulang tahun. Per ...

      (Ada 13 komentar pada artikel ini)

      Rangkasbitung, 13 Desember 2008

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      diskusi aku massa
      13 Desember 2008 Saidjah Forum, komunitas yang didirikan oleh kawan-kawan dari UNTIRTA (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) pada tahun 2005 adalah sebuah komunitas kecil di daerah Rangkasbitung⎯ daerah yang pernah diperebutkan oleh penjajah terdahulu ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      PEMIRA UIN Syarif Hidayatullah

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Kampanye salah satu partai peserta PEMIRA
      Bulan Maret hingga Mei 2010 adalah bulan yang disibukkan oleh penyelenggaraan pesta demokrasi di kampus UIN Syarif Hidayatullah. Gegap gempita pesta demokrasi di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun ini memasuki usia yang ke 11 tahun pen ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 41

    Total: 68998

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media