Bukan Sumsum, Bukan Lapis Legit, Selendang Mayang Namanya

Oleh  pada  26 Januari 2010  di  Ciputat, Tangerang Selatan  |  11 Komentar

Bangun tidur, tanpa disadari mata ini langsung searching makanan untuk menuruti panggilan perut. Insting-ku semakin tajam ketika mendengar dentingan mangkok yang dipukul oleh sendok,“Ting-ting-ting-ting,” begitulah bunyinya. Sekejap, Aku langsung menuju balkon depan, mencari dari mana bunyi itu berasal. Dari jauh terlihat agak samar, ku-kucek mataku sembari membersihkan belek mata yang masih menempel tebal di mataku. Terlihat ada abang-abang sedang melayani pembeli. Ku-kucek lagi mataku berusaha untuk fokus dan melihat seksama, “Ohh… bubur  sumsum,” ucapku dalam hati.

Selendang Mayang, makanan khas Betawi yang kini mulai sulit dijumpai

Selendang Mayang, makanan khas Betawi yang kini mulai sulit dijumpai

Dari belakang, Ekoy, kawanku sekaligus fasilitator akumassa, muncul. Nampaknya dia juga mendengar panggilan denting mangkok yang ditujukan kepada perutnya. Ekoy memperhatikan objek yang terletak di bawah pohon karsen, yang tepat berada di depan warung Bang Mufti.

“Itu apa?” Ucap Ekoy, yang juga melihat samar-samar, karena matanya masih tertutup belek.

“Itu bubur sumsum, Bang,” ucapku.

Ekoy mempertegas penglihatannya, “Bukan, itu Es Selendang Mayang khas Betawi!” Ekoy langsung turun ke bawah menghampiri tukang jualan itu dengan sarung bau apek kesayangannya, juga dengan belek yang masih menempel tebal di matanya.

“Hah apaan tuh?” Aku baru pertama kali mendengar Es Selendang Mayang, aku pun ikut turun untuk membelinya karena rasa penasaran.  Setelah kuamati, makanan tersebut seperti  lapis legit, berwarna-warni, putih, hijau, merah. Aku semakin tertarik ingin tahu makanan tersebut.

“Apa ini, Las?” Tanyaku kepada bidadari Komunitas Djuanda yang bernama Lastri. Nampaknya Lastri juga sedang membeli Es Selendang Mayang itu.

“Selendang Mayang, makanan khas Betawi!” Ucapnya dengan khas suaranya yang menggelegar, tetapi masih terlihat manis dipandang.

“Oh…,” melihat Ekoy memesan aku pun juga ikut memesan, walaupun perutku belum terisi nasi.

Dipotong menggunakan bambu

Selendang Mayang dipotong menggunakan sebilah bambu kecil

Mataku melotot, “Unik sekali,” ucapku ketika Si Abang tidak memakai mata pisau untuk memotong Selendang Mayang, melainkan sebuah bilah bambu. Dari gerak tangannya nampaknya ia sudah terbiasa, sangat lihai dan terampil. Aku sebenarnya malu, karena diriku yang masih keturunan Betawi baru mengetahui adanya makanan selendang mayang yang merupakan makanan khas Betawi, sangat ironis memang. “Nyak, maafkan aku!” ucapku kepada nenekku dalam hati, merasa malu, karena tidak mengetahui makanan tradisional khas Betawi. Namun aku beruntung dapat menemui makanan tradisional ini sebelum ‘punah’, dan semoga tidak akan pernah punah, Amin.

“Itu lapis legit ya, Bang?” Aku bertanya melihat bentuknya seperti lapis legit meskipun sebelumnya sudah ada yang mengatakan padaku bahwa itu adalah Selendang Mayang. Aku berusaha meyakinkan bahwa itu adalah lapis legit, mungkin hanya sebutannya saja yang berbeda. “Bukan, ini Selendang Mayang, dibuatnya dari gula aren,” ucap Si Abang penjual. Ternyata aku memang benar-benar salah, makanan ini bukan lapis legit melainkan Selendang Mayang. Dan aku semakin terkejut ketika mendengar aksen pengucapan yang dilontarkan Si Abang Selendang Mayang. Terdengar dari logatnya, ia bukanlah orang Betawi. Dan benar dugaanku, ia bukan keturunan Betawi, melainkan keturunan Jawa (Brebes). Tapi aku juga cukup bangga, karena adanya akulturasi antar budaya, di mana budaya Betawi dapat melekat di darah orang Jawa. Itulah Indonesia, beragam macam budaya melekat di bawah naungan bendera Merah Putih, tapi tetap memegang teguh Bhineka Tunggal Ika! Dan aku merasakannya saat mencoba Selendang Mayang ini bersama teman-temanku.

Bang Udin namanya, si penjual Selendang Mayang. Sebelumnya Bang Udin berprofesi sebagai tukang Bed Cover (sprei) keliling. Namun karena kurang mujur, akhirnya beralih profesi menjadi penjual Selendang Mayang. Keahliannya membuat Selendang Mayang itu ditularkan oleh sahabatnya di Tanah Abang, yang juga begelut dalam profesi pembuat dan penjual Selendang Mayang. Dari dialah, Bang Udin dapat membuat Selendang Mayang, dengan paseh (fasih-red).

Selendang Mayang

Bang Udin menjual makanan khas Betawi, walaupun ia berasal dari Jawa

“Bang, tapi sumpah deh, saya baru tahu Selendang Mayang. Yang saya tahu itu bubur sum-sum,” aku masih bertanya-tanya setelah yakin bahwa itu bukan lapis legit. Kali ini aku seakan meyakinkan diriku bahwa makanan ini adalah bubur sumsum.

“Emang sekarang udah jarang yang jual, adanya di Kota, Beos dan sekitarnya,” logat Jawanya masih terdengar kental.

“Kalau di Ciputat banyak yang jual Selendang Mayang, Bang?”

“Setahu saya sih, cuma saya saja yang menjualnya di Ciputat!”

Aku semakin kagum dengan sosok dirinya, hanya dia saja yang menjual Selendang Mayang di Ciputat. Mungkin tanpa kita sadari ada beberapa pedagang Selendang Mayang lain, tapi mungkin saja hanya Bang Udin lah yang menjual Selendang Mayang di kawasan Legoso dan sekitarnya, itulah yang ada di benakku. Meskipun tidak menutup kemungkinan hanya dia seorang penjual Selendang Mayang yang berada di Ciputat ini. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Di daerah tempat tinggalku, di Cipete tepatnya, mayoritas penduduknya Betawi asli. Selama aku hidup, tidak pernah aku melihat makanan seperti itu berada di sekelilingku, apalagi merasakannya sembari duduk di teras rumah menikmati hembusan angin.

Menikmati Selendang Mayang bersama kawan-kawan

Menikmati Selendang Mayang bersama kawan-kawan

Mungkin hanya Bang Udin saja yang dapat bertahan melawan hukum alam, “Siapa yang kuat dia akan bertahan.” Namun aku tak tahu, apakah besok, lusa, sampai dengan nanti lima tahun ke depan, ia masih bertahan menjual Selendang Mayang, atau akan berganti profesi lagi? Melihat menjamurnya makanan cepat saji yang mayoritas dikuasai oleh produk negara asing, menjajah makanan tradisional Indonesia.


 


Tentang Penulis

www.akumassa.org terbit didasari atas gagasan tentang jurnalisme warga, masyarakat khususnya pekerja kreatif muda (usia 20-30 tahun) yang dapat memanfaatkan teknologi modern dan internet global ini sebagai media informasi alternatif dan juga untuk melengkapi maupun memeriksa fakta-fakta yang diberitakan dalam media. Apa yang dikerjakan oleh Forum Lenteng selama ini, adalah sebuah usaha mengumpulkan narasi-narasi kecil tentang kota, Jakarta khususnya. Narasi-narasi yang dituturkan ’sendiri’ oleh masyarakatnya. Karena selama ini berita-berita yang diketahui oleh masyarakat berada pada kuasa media massa besar. Dengan gagasan tersebut di atas Forum Lenteng berinisiatif untuk membuat media massa alternatif berbasis jaringan internet dalam bentuk blog yang diaplikasikan ke dalam program dan ide akumassa. Isi dalam artikel-artikel yang terbit dalam www.akumassa.org berisi tentang kepingan-kepingan kecil akan sejarah dan peristiwa di tiap kota dampingan ataupun kota di luarnya.

Lihat semua tulisan

11 Komentar on "Bukan Sumsum, Bukan Lapis Legit, Selendang Mayang Namanya"

  1. ietha 8 November 2011 pukul 07:36 · Balas

    sumpah,bertaon taon idup di jakarta, baru tahu ada es namanya selendang mayang… X_X

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

 

PROFIL

   

                 

src=