Oleh Farabi Ferdiansyah | Pada Selasa, 26 Januari 2010
* * *

Bangun tidur, tanpa disadari mata ini langsung searching makanan untuk menuruti panggilan perut. Insting-ku semakin tajam ketika mendengar dentingan mangkok yang dipukul oleh sendok,“Ting-ting-ting-ting,” begitulah bunyinya. Sekejap, Aku langsung menuju balkon depan, mencari dari mana bunyi itu berasal. Dari jauh terlihat agak samar, ku-kucek mataku sembari membersihkan belek mata yang masih menempel tebal di mataku. Terlihat ada abang-abang sedang melayani pembeli. Ku-kucek lagi mataku berusaha untuk fokus dan melihat seksama, “Ohh… bubur  sumsum,” ucapku dalam hati.

Selendang Mayang, makanan khas Betawi yang kini mulai sulit dijumpai

Selendang Mayang, makanan khas Betawi yang kini mulai sulit dijumpai

Dari belakang, Ekoy, kawanku sekaligus fasilitator akumassa, muncul. Nampaknya dia juga mendengar panggilan denting mangkok yang ditujukan kepada perutnya. Ekoy memperhatikan objek yang terletak di bawah pohon karsen, yang tepat berada di depan warung Bang Mufti.

“Itu apa?” Ucap Ekoy, yang juga melihat samar-samar, karena matanya masih tertutup belek.

“Itu bubur sumsum, Bang,” ucapku.

Ekoy mempertegas penglihatannya, “Bukan, itu Es Selendang Mayang khas Betawi!” Ekoy langsung turun ke bawah menghampiri tukang jualan itu dengan sarung bau apek kesayangannya, juga dengan belek yang masih menempel tebal di matanya.

“Hah apaan tuh?” Aku baru pertama kali mendengar Es Selendang Mayang, aku pun ikut turun untuk membelinya karena rasa penasaran.  Setelah kuamati, makanan tersebut seperti  lapis legit, berwarna-warni, putih, hijau, merah. Aku semakin tertarik ingin tahu makanan tersebut.

“Apa ini, Las?” Tanyaku kepada bidadari Komunitas Djuanda yang bernama Lastri. Nampaknya Lastri juga sedang membeli Es Selendang Mayang itu.

“Selendang Mayang, makanan khas Betawi!” Ucapnya dengan khas suaranya yang menggelegar, tetapi masih terlihat manis dipandang.

“Oh…,” melihat Ekoy memesan aku pun juga ikut memesan, walaupun perutku belum terisi nasi.

Dipotong menggunakan bambu

Selendang Mayang dipotong menggunakan sebilah bambu kecil

Mataku melotot, “Unik sekali,” ucapku ketika Si Abang tidak memakai mata pisau untuk memotong Selendang Mayang, melainkan sebuah bilah bambu. Dari gerak tangannya nampaknya ia sudah terbiasa, sangat lihai dan terampil. Aku sebenarnya malu, karena diriku yang masih keturunan Betawi baru mengetahui adanya makanan selendang mayang yang merupakan makanan khas Betawi, sangat ironis memang. “Nyak, maafkan aku!” ucapku kepada nenekku dalam hati, merasa malu, karena tidak mengetahui makanan tradisional khas Betawi. Namun aku beruntung dapat menemui makanan tradisional ini sebelum ‘punah’, dan semoga tidak akan pernah punah, Amin.

“Itu lapis legit ya, Bang?” Aku bertanya melihat bentuknya seperti lapis legit meskipun sebelumnya sudah ada yang mengatakan padaku bahwa itu adalah Selendang Mayang. Aku berusaha meyakinkan bahwa itu adalah lapis legit, mungkin hanya sebutannya saja yang berbeda. “Bukan, ini Selendang Mayang, dibuatnya dari gula aren,” ucap Si Abang penjual. Ternyata aku memang benar-benar salah, makanan ini bukan lapis legit melainkan Selendang Mayang. Dan aku semakin terkejut ketika mendengar aksen pengucapan yang dilontarkan Si Abang Selendang Mayang. Terdengar dari logatnya, ia bukanlah orang Betawi. Dan benar dugaanku, ia bukan keturunan Betawi, melainkan keturunan Jawa (Brebes). Tapi aku juga cukup bangga, karena adanya akulturasi antar budaya, di mana budaya Betawi dapat melekat di darah orang Jawa. Itulah Indonesia, beragam macam budaya melekat di bawah naungan bendera Merah Putih, tapi tetap memegang teguh Bhineka Tunggal Ika! Dan aku merasakannya saat mencoba Selendang Mayang ini bersama teman-temanku.

Bang Udin namanya, si penjual Selendang Mayang. Sebelumnya Bang Udin berprofesi sebagai tukang Bed Cover (sprei) keliling. Namun karena kurang mujur, akhirnya beralih profesi menjadi penjual Selendang Mayang. Keahliannya membuat Selendang Mayang itu ditularkan oleh sahabatnya di Tanah Abang, yang juga begelut dalam profesi pembuat dan penjual Selendang Mayang. Dari dialah, Bang Udin dapat membuat Selendang Mayang, dengan paseh (fasih-red).

Selendang Mayang

Bang Udin menjual makanan khas Betawi, walaupun ia berasal dari Jawa

“Bang, tapi sumpah deh, saya baru tahu Selendang Mayang. Yang saya tahu itu bubur sum-sum,” aku masih bertanya-tanya setelah yakin bahwa itu bukan lapis legit. Kali ini aku seakan meyakinkan diriku bahwa makanan ini adalah bubur sumsum.

“Emang sekarang udah jarang yang jual, adanya di Kota, Beos dan sekitarnya,” logat Jawanya masih terdengar kental.

“Kalau di Ciputat banyak yang jual Selendang Mayang, Bang?”

“Setahu saya sih, cuma saya saja yang menjualnya di Ciputat!”

Aku semakin kagum dengan sosok dirinya, hanya dia saja yang menjual Selendang Mayang di Ciputat. Mungkin tanpa kita sadari ada beberapa pedagang Selendang Mayang lain, tapi mungkin saja hanya Bang Udin lah yang menjual Selendang Mayang di kawasan Legoso dan sekitarnya, itulah yang ada di benakku. Meskipun tidak menutup kemungkinan hanya dia seorang penjual Selendang Mayang yang berada di Ciputat ini. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Di daerah tempat tinggalku, di Cipete tepatnya, mayoritas penduduknya Betawi asli. Selama aku hidup, tidak pernah aku melihat makanan seperti itu berada di sekelilingku, apalagi merasakannya sembari duduk di teras rumah menikmati hembusan angin.

Menikmati Selendang Mayang bersama kawan-kawan

Menikmati Selendang Mayang bersama kawan-kawan

Mungkin hanya Bang Udin saja yang dapat bertahan melawan hukum alam, “Siapa yang kuat dia akan bertahan.” Namun aku tak tahu, apakah besok, lusa, sampai dengan nanti lima tahun ke depan, ia masih bertahan menjual Selendang Mayang, atau akan berganti profesi lagi? Melihat menjamurnya makanan cepat saji yang mayoritas dikuasai oleh produk negara asing, menjajah makanan tradisional Indonesia.

Your email:

 


8 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Kampus Tercinta, Memang Begitu Namanya
  2.           Sayur Trubuk : Sayur Nganten, Sayur Selametan, Sayur Betawi
  3.           Cahaya Proyektor Itu Kini Padam Sudah
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Komentar (10)

 

  1. icha mengatakan:

    bisa tolong bantu saya,,,??dimana rumah bapak yg jual es slendang mayang??? kebetulan bulan juni 2010 nanti insya allah kk saya mw menikah dan acaranya khas betawi…mw mesen untuk acra pernikahan.thx…

  2. abay mengatakan:

    Sayangnya Bang Udin sudah tidak pernah datang lagi ke Mandor Baret.
    Entah karena bangkrut atau hal lainnya, yang pasti aku selalu merindukannya…

  3. abay mengatakan:

    Tragisnya Bang Udin sudah tidak pernah main ke mandor baret lagi!
    wajahnya sudah tidak terlihat…
    Entah karena bangkrut atau apa?!?
    Tapi aku rindu slendang mayangmu….

  4. eta mengatakan:

    waduh kyknya enak bener nih makanan…anak juanda kalo ke lenteng bawain ya buat diriku….

  5. anggie mengatakan:

    bang Udin lewat jam 10-11. pas di cobain enak, gulanya dikasih nagka kaya es dawet…

  6. otty mengatakan:

    jam berapa bang udin lewat mandor baret. gue mau ke sana ah. gue doyan banget nih yang kaya begini. kasitau ya

  7. Mas Chandra mengatakan:

    Karena mas Bambang lebih sayang dengan mbak Mayang dibanding mbak Halimah

  8. rekamdanmainkan mengatakan:

    gue sering makan juga Selendang Mayang, tapi ga pernah tau namanya Selendang Mayang… Yummy… Nyam..nyamm… Nyamm…

  9. jaeezaa clara azzahra mengatakan:

    wuaaaaa .. trnyata saya senasib dengan abay .. org betawi yg br taw makanan ini .. tp setidaknya dengan adanya tulisan ini saya jadi taw kuliner khas betawi ..
    hmmm..jadi penasaran maw nyobain .. hehehe
    taphie bang udin hebat juga yah bsa monopoli ciputat dengan selendang mayangnya .. hoho ;)

  10. mira.merre mengatakan:

    Wah saya pernah makan ini di Tanah Abang..
    jangan-jangan yg jual temennya Bang Udin?? hehe

    Kira-kira kenapa ya diberi nama Selendang Mayang?
    Mungkin bisa ditanya ke Bang Udin kalo dia mampir lagi..

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Mitos-mitos Piala Dunia: Dari Punggung Tsubasa Sampai Kutukan Iklan

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Semenjak Piala Dunia 2010 yang dimulai bulan Juni kemarin, saya dan teman-teman jadi lebih suka membicarakan tentang sepak bola. Tentang siapa yang menang, yang kalah, berapa skornya, prediksi siapa yang juara, dan sebagainya. Pernah satu kali saya m ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Randu Oh Blatung, Sekarang Aku Disini

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      1
      Blora. Apa yang terlintas dalam benak anda? Kota di daerah Jawa Tengah yang dikenal dengan sejarah dan aroma pemberontakan, kayu jati, minyak, Samin serta Pramoedya Ananta Toer, pasti sedikit banyak persoalan itu sudah ada dalam benak anda dan perso ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Balada si Kancut

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Catatan ini mungkin setara dengan apa yang disebut orang Minang sebagai bacaruik, yang artinya mengumpat dengan kata-kata yang kotor. Karena selama 4 hari berada di Padangpanjang seringkali saya dan Kikie, sesama rekan kerja saya dari Jakarta, diperi ...

      (Ada 8 komentar pada artikel ini)

      Satu Kisah di Malam Perjalanan

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Aku : "Ibu maaf, kenapa makannya pakai kantong plastik segala?" Ibu : "Tak ada, pengen aja aku makan kayak gini.." Pertanyaan pertamaku di atas menjadi kalimat pembuka antara aku dengan seorang ibu muda yang sama sekali belum pernah aku lihat sebelum ...

      (Ada 9 komentar pada artikel ini)

      April Mop

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Dari kanan ke kiri: Remy, Abrar, Rani dan Martha
      Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 31 Maret 2010, aku sedang asyik ber-internet ria. Sudah satu bulan lebih modemku tidak dapat beroperasi lagi karena kartunya hilang di Padang oleh teman kos ku yang meminjam modem selama liburan kemarin. Saking sena ...

      (Ada 18 komentar pada artikel ini)

      Seandainya Kartini

      (PengantarTajuk)

      Ia berangkat di pagi hari dan pulang ketika malam tiba. Bahkan, ketika dinas luar kota, dengan santainya ia pergi sendirian. Ia juga terbiasa mengendarai mobil sendiri. Di usianya yang sudah lebih setengah abad, baru sepuluh tahun terakhir ini ia be ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 44

    Total: 68999

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media