Oleh Rommy Rahmandy Lesmana & Era Canggih Tatit Anggoro | Pada Senin, 25 Januari 2010
* * *

Berbicara tentang Ciputat pasti orang langsung menyebut macet dan sampah. Selain dua hal tersebut Ciputat memiliki keunikan dan ketertarikan khusus terhadap sesuatu, yaitu tumbuh dan berkembangnya Ciputat menjadi sentral penjualan dan importir mebel berbahan kayu serta barang-barang antik yang terbuat dari kayu, porslen, keris, batu atau patung dan tentu saja tidak ketinggalan lampu kristal jaman peninggalan kolonial Belanda.

Salah satu Art Shop yang berada di Jalan Ir. H. Juanda, Ciputat

Salah satu Art Shop yang berada di Jalan Ir. H. Juanda, Ciputat

Bahan bahan mebel berasal dari Jawa. Negara-negara yang menjadi pasar ekspor adalah Negara Eropa, seperti Belanda, Jerman dan Negara-negara Eropa lainnya. Sedangkan dalam kawasan Asia sendiri pernah mengekspor ke Australia dan Filipina. Selama lima semester sudah atau 2 tahun lebih, aku pulang-pergi kuliah melewati Jalan Ir. H. Juanda yang selalu disuguhi pemandangan macet, dan kesemrawutan jalan.  Tanpa disadari, dari arah Lebak Bulus menuju Pasar Ciputat kita pun akan melihat pemandangan banyaknya kayu-kayu lapuk, barang-barang yang terlihat kuno, patung  dan benda antik lainnya.

Cikal bakal tumbuhnya toko-toko barang antik dan mebel kayu atau akrab dengan sebutan ‘art shop’ (toko benda seni) yang tumbuh dan berkembang di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda dewasa ini berasal dari usaha almarhum Bapak Haji Abdullah dan Bapak Haji Taman padan tahun 1974 yang mendirikan toko Madura Art Shop. Seiring dengan bergulirnya waktu, usaha ini mengalami perkembangan dengan merambahnya usaha sejenis di sepanjang Jalan Raya Ciputat sebelum berubah nama menjadi Jalan Ir. H. Juanda pada tahun 1980. Saat ini Ciputat dengan Jalan Ir. H. Juanda dikenal sebagai sentral penjualan art nasional, dari sekitar 50-an galeri berdiri di sepanjang Jalan Juanda, hanya setengahnya yang masih bertahan sampai saat ini. Mereka banyak ‘gulung tikar’ akibat krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1997. Padahal sebelum krisis melanda, para perajin di sekitar sering mengadakan pameran dan pelelangan di Hotel Indonesia (HI) bekerja sama dengan Kedutaan Jerman. Art Shop

Art Shop

Para perajin lebih mengutamakan kayu jati sebagai bahan dasar ketimbang kayu lainnya. Karena  teksturnya yang padat, tidak mudah terkena rayap dan tidak mudah lapuk jika sering terkena air, sehingga kayu jati bisa bertahan hingga puluhan tahun. Selain kayu jati banyak juga ukiran yang menggunakan kayu sono keling, cendana, gaharu, kayu papan, kayu ambon dan mahoni. Bagi mereka, dengan tumbuh dan berkembangnya toko yang sama-sama menjual usaha sejenis (barang antik dan mebel), tidak menjadi masalah karena mereka menyakini bahwa setiap toko memiliki kualitas yang berbeda dan tingkat artistik yang beda pula, tergantung bagaimana konsumen menilainya saja dengan selera mereka.

Kebanyakan pemilik art shop di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda berasal dari Madura dan Jawa, meskipun ada juga yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Bali dan sebagainya. Usaha ini mengalami kemajuan pada masa-masa krisis moneter yang waktu itu menimpa bangsa Indonesia dari tahun 1997 sampai dengan 1999. Pada saat itu karena nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing khusunya Dolar Amerika menurun drastis sehingga kurs Dolar terhadap Rupiah menguat, maka tentu saja sangat menguntungkan terhadap usaha ini karena kebanyakan pembelinya merupakan orang asing.

Art Shop

Art Shop

Barang antik yang dijual rata-rata sudah berumur lebih dari seratus tahun. Barang-barang antik tersebut kebanyakan berasal dari kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di tanah Jawa, sebut saja seperti Kerajaan Singosari, Majapahit, dan sebagainya. Jenis-jenis barang antik tersebut meliputi keris kerajaan, arca atau patung dan kotak perhiasan. Kalau kita berbicara tentang barang-barang antik, maka yang terlintas di pikiran kita, apakah benar barang antik yang diperjual-belikan itu benar-benar murni barang antik, bukan barang tiruan? Aku sempat bertanya mengenai pembusukan yang banyak dilakukan oleh para perajin untuk lebih menambahkan kesan artistik, kuno dan antik pada barang kerajinannya dengan cara cepat.

“Pak cara ngebedain barang yang benar-benar asli barang antik dengan yang bukan atau palsu tuh gimana ya Pak caranya? Biar nanti kalau saya beli di tempat lain nggak ketipu.” Tanyaku pada Pak Muhammad, pemilik Maulana Art Shop.

“Ya kamu pegang aja, terus kamu raba, orang kalo melihat juga pasti tahu itu benar barang antik atau bukan,” jawab Pak Muhammad.

“Tapi Pak, saya kan belum punya pengalaman ngebedain mana barang antik asli atau bukan,”

Yah susah kalo situ belum punya pengalaman. Orang kaya saya saja yang sudah punya pengalaman masih bisa ketipu, apalagi situ,” ujar Pak Muhammad.

Art Shop

Art Shop

Itulah sekilas pembicaraan saya dengan Bapak Muhammad, anak dari pemilik Toko Galeri Maulana Art Shop mengenai cara membedakan antara barang yang benar-benar asli barang antik dengan barang yang dibuat menyerupai barang antik. Merasa tidak puas, aku berusaha mencari tahu tentang proses pembusukan pada art shop lainnya. Sungguh sulit memperoleh informasi tentang pembusukan barang antik, karena hampir semua pemilik art shop sangat berhati-hati ketika bercerita tentang barang-barang antik yang ada di tokonya. Pembusukan sendiri adalah upaya perajin agar mebel terlihat sangat antik seperti sudah berusia puluhan tahun. Tidak sia-sia, aku bertanya mengenai pembusukan yang banyak dilakukan oleh para perajin untuk lebih ‘mengartistikkan’ kerajinannya dengan cara cepat kepada Imam, salah seorang yang sudah menggeluti bidang wirausaha barang antik selama 20 tahun. Imam pun tidak memungkiri kalau banyak perajin melakukan proses pembusukan tersebut, akhirnya aku memperoleh informasi tentang proses pembusukan itu yaitu, dengan cara :

1.    Kayu direndam air selama beberapa lama, bisa juga dengan cara dilumuri oli bekas atau membiarkannya diluar ruangan sehingga terkena air hujan dan terkena panas matahari. Biasanya untuk menjadi sebuah karya, kayu dipahat, diberi dempul putih (untuk mengisi sela-sela kayu yang tidak rata), setelah itu diampelas dan dijemur.

2.    Barang tersebut harus dicelupkan kedalam air PK (sejenis cairan antiseptik; Larutan serbuk yang dicampur dengan air mandi untuk penderita yang menderita gangguan kulit seperti gatal, kudis, dan lain-lain-www.dechacare.com).

3.    Dijemur di halaman rumah, harus terkena air hujan dan panas sampai berubah warna menjadi kotor dan berlumut, setelah itu lumutnya dibersihkan.

4.    Letakkan di pojok kamar mandi agar terkena air dan lembab sampai benar-benar terlihat seperti patung tua.

5.    Tahap terakhir adalah memberikan cat warna atau diplitur agar terlihat cokelat, antik, bersih dan artistik. Semua proses ini memakan waktu cukup lama, apalagi jika harus menunggu kayu menjadi tua, berserat dan terlihat lapuk.

Barang kebanggaannya adalah sebuah lukisan seharga 10 juta rupiah yang didapatkan dari anak seorang pelukis terkenal Antonio Blanco, dan juga (Ssstt… ini sangat rahasia) sebuah batangan kuningan bergambar Nyi Roro Kidul, didapatkannya seharga 5 juta rupiah. Ternyata saat dia menggosok dan membersihkannya, batangan itu adalah sebuah emas murni. Emas batangan itu ditawar oleh seorang wisatawan Korea. Dia memberikan harga 10 miliar rupiah. Satu-satunya barang yang tidak ia letakkan di ruang pamer dan menjadi ‘kuncian’ jika suatu saat galerinya sepi dan akan menutup usahanya.

Art Shop

Tidak hanya orang-orang pribumi saja yang memburu barang-barang antik dan langka, tetapi juga wisatawan luar negeri dari Arab, Pakistan, India, Korea, Jepang dan lainnya. Bahkan art shop di sepanjang Jalan Ir .H. Juanda telah terkenal sampai ke negeri  yang pernah menjajah kita selama lebih dari 350 tahun, Negeri Kincir Angin, Belanda.

Kini art shop sekitar Jalan Ir. H. Juanda tidak seramai dulu, para perajin hanya bisa bertahan hidup dengan mengandalkan pembeli yang kian hari kian sedikit atau dengan membuat bantalan rel kereta api pesanan PT. KAI. Mereka hidup di tengah ketidakpastian mempertahankan galeri sepi pengunjung atau ‘gulung tikar’.

Your email:

 


7 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Rumah Kontrakanku yang terakhir itu, kini menjadi Jl. H. Juanda
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Komentar (1)

 

  1. rekamdanmainkan mengatakan:

    wahh… mantap sekali. ternyata banyak yang menarik dari ciputat selain sampah yang menumpuk…

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      “Framing Sekolah Ku” di perpisahan SMAN 3 Padangpanjang

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      acara pemutaran
      Padangpanjang, 22 Mei 2009 “Framing Sekolah Ku” merupakan sebuah filem dokumenter pertama yang digarap oleh Poketter'z di bawah bimbingan Sarueh. Tidak banyak guru yang mengetahui bahwa beberapa murid kelas X dan XI SMAN 3 Padangpanjang yang di antar ...

      (Ada 10 komentar pada artikel ini)

      Rumah Sakit Umum Daerah dr. Adjidarmo

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      Patung dr. Adjidarmo
      13 Maret 09 [caption id="attachment_1157" align="alignnone" width="300" caption="Patung dr. Adjidarmo"][/caption] Persepsi kecil Adjidarmo di Lebak. Setahuku adalah rumah sakit umum yang sering menjadi rujukan untuk seluruh penduduk kabupaten Lebak, ...

      (Ada 14 komentar pada artikel ini)

      Profil Partisipan Akumassa Ciputat

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      logo
      Riset, observasi, wawancara, dan dokumentasi pra akumassa sejak awal bulan November telah berlangsung secara intens. Berbagai macam kesibukan teman-teman untuk terjun langsung ke lapangan akhirnya sampai juga pada hari perdana di mulainya lokakarya a ...

      (Ada 18 komentar pada artikel ini)

      Tarawih vs Pasar Kaget

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      pict0869
      Allahhua..coba kau pikirkan apa yang kau inginkan tlah aku berikaaan.. Allahuakbar..dung tet teret tet... Aku bukan sedang mempermainkan kalimat takbir. Namun itulah yang kudengar saat sholat tarawih di Masjid At-Taqwa malam minggu yang lalu. Masjid ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Believe It or Not

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      1
      Berawal dari sepengetahuan aku saja, semenjak duduk di kelas 2 SMPN 1 Randublatung sering terpikir, kenapa sih kakak kelas dari sekolahku maupun sekolah yang lain sering tertimpa kasus pregnant atau hamil dalam bahasa  negara kita. Randublatung, sang ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Pameran Video akumassa: Pertama di Blora

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      keramaian-massa-6
      Setelah melalui proses kerja sebulan penuh bahkan lebih, akhirnya pameran untuk program akumassa di Randublatung–Kabupaten Blora diadakan. Acara ini bertempat di markas Anak Seribupulau di Jalan Onggososro No. 20 RT.05/RW.02 Randublatung–Kabupaten Bl ...

      (Ada 16 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 44

    Total: 68999

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media