Oleh Anita Yossihara & C. Anto Saptowalyono | Pada Rabu, 27 Januari 2010
* * *

Artikel ini diambil dari Harian Kompas, Rabu, 27 Januari 2010

Polemik dan konflik antarkepala daerah sering menghantui sepanjang sembilan tahun perjalanan Banten menjadi provinsi. Pemerintah Provinsi Banten belum bisa menemukan formulasi yang tepat untuk membina hubungan baik dengan kabupaten/kota.

Warga menutup hidung saat melintasi tumpukan sampah yang mulai menggunung di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin (25/1). Tumpukan sampah yang tak terangkut di Tangerang Selatan itu merupakan bagian dari lemahnya koordinasi antara Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Tangerang sebagai induk Kota Tangerang Selatan.

Warga menutup hidung saat melintasi tumpukan sampah yang mulai menggunung di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin (25/1). Tumpukan sampah yang tak terangkut di Tangerang Selatan itu merupakan bagian dari lemahnya koordinasi antara Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Tangerang sebagai induk Kota Tangerang Selatan.

Ketidakselarasan hubungan dengan pemerintah kabupaten/pemerintah kota bisa dilihat dari frekuensi ketidakhadiran bupati/wali kota dalam kegiatan yang dilaksanakan Pemprov Banten. Sulit ditemukan saat semua bupati/wali kota berkumpul bersama Gubernur dalam suatu acara, sekalipun dalam rapat koordinasi.

Sebut saja Rapat Paripurna Istimewa Hari Ulang Tahun Ke-9 Provinsi Banten, 4 Oktober 2009. Tak semua bupati/wali kota hadir dalam acara di Gedung DPRD Banten di Kecamatan Curug, Kota Serang, itu. Hanya Bupati Serang Taufik Nuriman, Penjabat Wali Kota Tangerang Selatan M Shaleh, dan Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah yang hadir. Adapun Wali Kota Serang Bunyamin, Pelaksana Tugas Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi, Wali Kota Cilegon Tubagus Aat Syafaat, Bupati Tangerang Ismet Iskandar, dan Wali Kota Tangerang Wahidin Halim tidak terlihat hadir.

Ketidakhadiran itu menjadi biasa apabila hubungan antara Gubernur dan bupati/wali kota benar-benar harmonis. Namun, sering kali bupati/wali kota tak hadir dalam acara Pemprov karena mereka sedang berpolemik.

Salah satu contoh saat Menteri Dalam Negeri (saat itu) Mardiyanto melantik M Shaleh menjadi Penjabat Wali Kota Tangerang Selatan, Januari 2010, Bupati Tangerang tak hadir. Padahal, Tangerang Selatan adalah daerah pemekaran dari Kabupaten Tangerang.
Bahkan, tujuh camat yang wilayahnya masuk Kota Tangerang Selatan pun tidak mengikuti pelantikan itu. Bupati dan camat tidak hadir lantaran kecewa karena usulan mereka agar Penjabat Wali Kota Tangerang Selatan berasal dari Kabupaten Tangerang tidak diindahkan. Mereka menganggap Gubernur Ratu Atut Chosiyah memaksakan kehendak menempatkan ”orang dekat” untuk memimpin Tangerang Selatan.

Polemik antara Gubernur dan bupati/wali kota selalu terjadi sepanjang tahun sejak Provinsi Banten terbentuk. Hampir setiap tahun, saat penyusunan Rancangan APBD Banten, polemik antarkepala daerah terjadi. Bupati/wali kota kerap mengancam akan menolak program Pemprov karena usulan mereka tentang besaran dana bantuan tunai atau block grant tidak terpenuhi.

Pertikaian itu terakhir kali terjadi pada September 2009 saat Pemprov Banten menyusun Rancangan APBD tahun 2010. Bupati dan wali kota mengancam memboikot semua kebijakan yang dikeluarkan Gubernur, lantaran Pemprov merencanakan menurunkan nilai bantuan keuangan menjadi Rp 5 miliar per kabupaten/kota.

Bupati/wali kota kesal karena besaran bantuan keuangan terus turun setiap tahun. Sebelumnya selama 2003-2008, setiap kabupaten/kota menerima bantuan keuangan Rp 20 miliar. Jumlah itu turun menjadi Rp 15 miliar pada 2009.

Semua kepala daerah yang tergabung dalam Forum Komunikasi Bupati/Wali Kota Se-Banten itu bersepakat menolak bekerja sama dan memilih memboikot program pembangunan yang menjadi kebijakan Pemprov. Kesepakatan pemboikotan itu diserahkan secara resmi dalam bentuk surat kepada Gubernur.

Selain itu, bupati/wali kota pun terkadang tidak segan menunjukkan perlawanan di depan publik. Bupati Serang Taufik Nuriman, misalnya, beberapa kali menolak kebijakan Gubernur. Pertengahan tahun lalu, dia menolak bantuan keuangan Rp 5 miliar dari Pemprov karena takut terjerat hukum. Pasalnya, dana itu diberikan untuk pembangunan jalan lingkar Pasar Induk Rau yang pekerjaannya dilakukan tanpa tender.

Sejak awal menjabat sebagai bupati pada 2005, Taufik dikenal sebagai salah satu kepala daerah yang keras melawan Gubernur. Sikap itu baru melunak beberapa bulan terakhir setelah ia dipasangkan dengan Ratu Tatu Chasanah, adik kandung Atut, dalam pencalonan sebagai Bupati Serang periode 2010-2015.

Begitu pula Bupati Tangerang dan Wali Kota Tangerang. Wacana membentuk Provinsi Tangerang pun sering kali muncul saat mereka berpolemik dengan Pemprov Banten.

Proyek Terbengkalai

Lemahnya koordinasi itu juga terlihat dari banyaknya proyek pembangunan pemerintah pusat ataupun Pemprov di kabupaten/kota yang terbengkalai. Selain tidak tepat sasaran, proyek Pemprov juga sering kali tidak dibutuhkan kabupaten/kota sehingga lebih terkesan memaksakan kehendak.

Salah satu contohnya adalah pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Balaraja, Kabupaten Tangerang. RSUD di Desa Tobat, Kecamatan Balaraja, itu dibangun Pemprov Banten melalui dana dekonsentrasi dari pemerintah pusat. Pada 2005-2007, pemerintah pusat mengucurkan dana hingga Rp 22,7 miliar untuk membangun rumah sakit itu. Namun, hingga 2008, pembangunan belum selesai dilakukan. Proyek itu sempat terbengkalai dan pembangunannya dihentikan.

Pembangunan RSUD sempat menimbulkan polemik. Saat itu, Bupati Tangerang Ismet Iskandar melontarkan kritik lantaran Pemprov lebih mendahulukan pembangunan gedung perkantoran, bukan ruang pelayanan. Pemkab Tangerang mendesak untuk mengambil alih penanganan RSUD Balaraja.

Proyek yang juga terbengkalai adalah pembangunan pos kesehatan desa (poskesdes). Pemprov membangun lebih dari 50 poskesdes di kabupaten/kota dengan dana APBD Banten tahun 2007 sebesar Rp 14,9 miliar. Tak sedikit bangunan poskesdes yang sampai saat ini terbengkalai, tidak dimanfaatkan.

Contoh lain adalah pembangunan RSUD Malingping, Kabupaten Lebak, dengan dana APBD Banten tahun 2004. RSUD itu sudah beroperasi, tetapi masih mengalami keterbatasan tenaga dan peralatan medis. Akibatnya, kini rumah sakit itu lebih mirip puskesmas plus yang dilengkapi fasilitas rawat inap.

Beberapa proyek Pemprov di Pandeglang pun terbengkalai karena tak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Salah satunya bantuan pompa air tanpa motor yang dialokasikan dari APBD Banten tahun 2003 sebesar Rp 3,5 miliar. Pembangunan Terminal Agro di Kecamatan Menes dan Cikedal pada 2002 terbengkalai pula. Meski pembangunannya menghabiskan dana lebih dari Rp 2 miliar, pasar agro itu tak pernah terealisasi.

Mantan anggota DPRD Banten asal Tangerang, Ansor, membenarkan, banyaknya proyek yang terbengkalai disebabkan kurangnya koordinasi antara provinsi dan kabupaten/kota. Ia mencontohkan pembangunan RSUD Balaraja yang terbengkalai akibat tarik-menarik kepentingan antara Pemprov dan Pemkab Tangerang.

”Sebenarnya proyek itu didanai pusat. Namun, ada tarik-menarik antara provinsi dan kabupaten terkait siapa yang berhak mengerjakan. Tahun 2005 Pemprov memutuskan membangun sendiri, tetapi akhirnya terbengkalai. Sekarang permasalahan itu selesai, Pemkab mengambil alih pengerjaannya,” tuturnya.

Konflik Elite Pendiri

Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Gandung Ismanto, berpendapat, penyebab lemahnya koordinasi di Banten itu cenderung lebih kompleks dibandingkan daerah lain. Selain faktor yuridis dan legitimasi yang umumnya terjadi di daerah lain, karakteristik politik lokal juga lebih mendominasi penyebab ketidakharmonisan provinsi dengan kabupaten/kota di Banten.

Dia menjabarkan, lemahnya koordinasi disebabkan kegagalan pelembagaan konflik antarelite menjelang hingga saat terbentuknya Provinsi Banten pada 2000.

Your email:

 


1 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Lebak, Dimana?
  2.           Mengelola Wilayah Tangsel
  3.           Sampah Terus Ramaikan Tangsel
  4.           Mari Berkunjung ke Ciputat, Tangerang Selatan
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Padang: Kota Seribu Angkot Modis

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      modifikasi-interior1
      Angkutan kota (angkot) merupakan alat transportasi publik yang utama digunakan di kota Padang selain bus kota. Akses yang mudah dan harga yang terjangkau membuat masyarakat kota Padang lebih memilih menggunakan jasa angkot daripada taksi ataupun oje ...

      (Ada 19 komentar pada artikel ini)

      Bukan Sumsum, Bukan Lapis Legit, Selendang Mayang Namanya

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Selendang Mayang, makanan khas Betawi yang kini mulai sulit dijumpai
      Bangun tidur, tanpa disadari mata ini langsung searching makanan untuk menuruti panggilan perut. Insting-ku semakin tajam ketika mendengar dentingan mangkok yang dipukul oleh sendok,“Ting-ting-ting-ting,” begitulah bunyinya. Sekejap, Aku langsung men ...

      (Ada 10 komentar pada artikel ini)

      Konser Musik dan Kota Cirebon

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Patung Bima di stadion Bima Cirebon
      28 Desember 2008, Arya Kemuning Patung Bima di Stadion Bima Cirebon Stadion Bima tempat yang nggak asing bagi saya untuk mengingatnya. Sebuah areal lapangan bola yang cukup dikenal oleh masyarakat kota Cirebon. Daerah yang tenang dan sejuk dengan pep ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Tontonan Kolonial yang Menjadi Tradisi

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      12
      Dimulai dari zaman penjajahan Belanda di Indonesia, panjat pinang adalah acara yang dibuat poleh para penjajah sebagai bahan tontonan yang diadakan pada saat ada perhelatan besar seperti pesta pernikahan, kenaikan jabatan atau pesta ulang tahun. Per ...

      (Ada 13 komentar pada artikel ini)

      Gado-Gado Pintar

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Bu Nani
      Sebut  saja namanya Ibu Nani, karena biasanya orang setempat memanggilnya begitu. Ibu Nani tinggal dekat Taman Lenteng Agung, tepat di seberang Kampus IISIP Jakarta. Menurut pelanggannya yang tinggal di kawasan itu sejak 1992, gado-gado Ibu Nani cuku ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Sehari Dua Malam di Vi_Chie@Net

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Harry Gunawan adalah teman semasa sekolah saya sewaktu di SMPN 1 Padang dan juga di SMAN 3 Padang. Ada yang menarik dengan kisah cintanya dengan Suci Angelina. Banyak orang bilang jodoh di tangan Tuhan dan semuanya sudah ada jalannya. Pernyataan ters ...

      (Ada 13 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 41

    Total: 68998

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media