Foto Lembah Anai Tempo Dulu

Oleh / pada 27 April 2010 / di Media // 44 Komentar

Suatu ketika saya sedang menikmati alunan lagu minang, entah kenapa telinga ini sedang rindu dengan nada-nada yang memang saya akrab sejak kecil, terutama tarikan suara Elly Kasim. Salah satu lagu favorit saya adalah Malereang Tabiang.

Malereang lah tabiang malereang, mak oi

Malereang sampai nan ka pandakian

Den sangko langik nan lah teleang, mak oi

Kironyo awan nan manggajuju

Lagu tersebut bercerita tentang perjalanan menelusuri lereng-lereng tebing yang banyak dijumpai di Ranah Minang yang memang banyak daerah perbukitannya.

Lereng tebing di rel sepanjanh Lembah Anai

Lereng tebing di rel sepanjang Lembah Anai

Sore harinya Otty Widasari memberitahu bahwa suaminya (Hafiz) ‘menemukan’ foto-foto Minang tempo dulu di situs jejaring sosial Facebook. Orang yang memiliki foto tersebut bernama Ronal Chandra. Kami pun dari akumassa minta izin kepada beliau untuk memuat foto-foto tersebut di www.akumassa.org dan permintaan izin tersebut disambutnya dengan baik.

Lembah Anai, sebelum ada jalur kereta api

Lembah Anai, sebelum ada jalur kereta api

Saya cukup terkesima ketika melihat foto-foto perkeretaapian di Sumatera Barat, terutama jalur Padang-Bukittinggi yang melewati Lembah Anai. Saya begitu menikmati keindahan panoramanya ketika terakhir kali melewati kawasan tersebut pada workshop akumassa Padangpanjang tahun lalu. Dengan menyaksikan air mancur yang besar, kita juga dapat melihat kera hutan yang jinak sepanjang Lembah Anai. Udaranya disana sangat sejuk, tak terbayang betapa lebih indahnya pemandangan hutan lindung beserta jalur kereta tersebut di awal peresmiannya di akhir tahun 1800-an dahulu.

Peresmian jalur kereta api Padang Panjang pertama kali, tahun 1895

Peresmian jalur kereta api Padangpanjang pertama kali, tahun 1895

Pembukaan jalur kereta api Padang Panjang, sekitar tahun 1895

Pembukaan jalur kereta api Padangpanjang, sekitar tahun 1895

Kebetulan, 21 Februari 2009 lalu, ketika workshop akumassa Padangpanjang saya berkesempatan untuk menghadiri peresmian kembali kereta Mak Uniang sebagai kereta wisata. Menariknya, jalur Mak Uniang ini juga melewati lubang kalam (terowongan) dan jembatan Lembah Anai yang dibangun Belanda untuk menembus perbukitan.

Stasiun Padangpanjang tahun 1880-1900

Stasiun Padangpanjang tahun 1880-1900

Lembah Anai (1885-1895)

Lembah Anai (1885-1895)

Terowongan Anai, tahun 1910

Terowongan Lembah Anai, tahun 1910

Topografi Lembah Anai menyebabkan kawasan ini sering terjadi longsor. Terlebih kawasan ini juga termasuk daerah rawan gempa seperti Sumatera pada umumnya. Orang-orang tua dahulu tidak akan lupa kenangan pahit pada 28 Juni 1926, di mana gempa sebesar 7,8 SR pernah melanda Padangpanjang dan sekitarnya. Menurut Riosadja, kawan saya asal Bukittinggi yang baru beberapa bulan merantau di Jakarta mengatakan bahwa saat itu sudah ada cerita turun-temurun yang beredar di masyarakat tentang dashyatnya gempa tersebut. Digambarkan setelah terjadi gempa, seluruh telur ayam menjadi tamalangan (tidak bisa menetas dan membusuk dalam cangkangnya).

Hancurnya Stasiun Padangpanjang setelah gempa tahun 1926

Hancurnya Stasiun Padangpanjang setelah gempa tahun 1926

Akibat gempa tahun 1926

Akibat gempa tahun 1926

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 16 April 2010 kawasan Lembah Anai dihantam longsor besar. Longsor tersebut menyebabkan jembatan di dekat Lembah Anai rusak berat sehingga jalur Padang-Bukittinggi terputus total. Menurut kawan saya yang tinggal di Padangpanjang, sebelumnya curah hujan memang cukup tinggi dan turun tanpa henti. Hal ini mengakibatkan volume air membesar dan meluluh lantakan jalanan yang mengitari bibir sungai di Lembah Anai ini.

Kerusakan Lembah Anai karena longsor dan banjir tahun 1900-1940

Kerusakan Lembah Anai karena longsor dan banjir tahun 1900-1940

Kerusakan Lembah Anai karena longsor dan banjir tahun 1900-1940

Lembah Anai merupakan jalur utama yang menghubungkan kota kawasan ‘atas’ (darek) seperti Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar, Padangpanjang dan Solok dengan kota di kawasan ‘bawah’ (pasisia) seperti Pariaman, Lubukbasung, Padang dan Painan. Jalur ini juga merupakan jalur awal perekonomian di Sumatera Barat untuk mengangkut hasil pertanian dari kawasan ‘atas’ ke ‘bawah’ dan hasil laut dari kawasan ‘bawah’ ke ’atas’. Akan pentingnya jalur ini, maka Pemerintah Belanda membangun jalur kereta api sebagai sarana transportasi. Setelah didirikannya PT Semen Padang pada tahun 1910, kereta api juga digunakan untuk mengangkut batubara dari Ombilin ke Padang. Ada juga dua jalur besar lainnya yang menghubungkan ‘atas’ ke ‘bawah’ seperti Sitinjau Laut dari arah Solok dan Kelok 44 dari arah Bukittinggi, tapi dengan jarak dan waktu tempuh yang berbeda.

Jalur kereta arah Kayu Tanam sekitar tahun 1895

Jalur kereta arah Kayu Tanam sekitar tahun 1895

Pembangunan rel kereta Air Putih Payakumbuh tahun 1913

Pembangunan rel kereta Air Putih Payakumbuh tahun 1913

Stasiun Kereta Payakumbuh sekitar tahun 1900

Stasiun Kereta Payakumbuh sekitar tahun 1900

Foto-foto Lembah Anai tersebut kembali mengingatkan Riosadja akan jalur yang selalu dilaluinya bolak-balik Bukittinggi dan Padang saat kuliah di UNP (Universitas Negeri Padang). Jalur yang akrab dengan pengamen dan penjaja paragede jaguang (perkedel jagung) yang sigap melompat saat bus melambat di tikungan tajam dan jalanan menanjak. Jalur yang sejuk berkabut tempat beristirahat saat perjalanan; tempat berderet-deret rumah makan menyajikan masakan khasnya.  Dan saya pun hanya bisa berkata “Den takana jo kampuang”.

 

Tentang Penulis

Riezki Andhika Pradana

Riezky Andhika Pradana (Kikies) seorang mantan jurnalis majalah anak-anak Ananda semasa kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Fakultas Komunikasi jurusan Jurnalistik, ia lulus pada tahun 2005. Salah satu karya videonya, Balada Hari Raya yang merupakan salah satu karya dari proyek Cerpen Untuk Filem yang masuk nominasi kategori filem pendek Konfiden 2007. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi akumassa.org. Sekarang ia tinggal di Jogjakarta, dan menjadi wartawan di salah satu surat kabar lokal Jogjakarta.

44 Komentar pada "Foto Lembah Anai Tempo Dulu"

  1. nda 27 April 2010 pukul 08:41 · Balas

    TOP MARKOTOP…KIKY….THANSK BUAT SURPRISE NYA…HHAHA…AKHIRNYA 49 JUGA…HHAHA

  2. hafiz 27 April 2010 pukul 12:35 · Balas

    Untuk kawan-kawan Sarueh, artikel ini adalah semacam ajakan untuk kawan-kawan untuk lebih “giat” membaca sejarah, dan lingkungan dimana kalian berada. Temuan foto-foto ini bukan untuk menambah artikel yang dibuat dari Padang Panjang, tapi buat keseluruhan situs akumassa. Redaksi di sini terus mencari kepingan-kepingan sejarah dari berbagai daerah yang dapat dimuat di akumassa untuk wawasan kita. Marilah kita berkontribusi…, karena ini penting buat kawan-kawan. Kepingan-kepingan sejarah itu bisa berasal dari mana saja; foto, artikel, video, teks, dan oral history dari pengalaman orang-orang.
    Jadi, foto-foto tua ini, juga kritik buat kawan-kawan Sarueh…untuk dapat menemukan sumber-sumber yang tidak pernah terbaca oleh media meanstream…untuk kita bicarakan ke publik.

    Salam
    Hafiz

  3. Ken 27 April 2010 pukul 13:54 · Balas

    Mantaaaap..!
    Jangan brenti ngulik eksplorasi sejarah & budaya, Ki..
    Negeri ini terlalu kaya untuk didiamkan begitu saja, toh?
    Hehe.. Terus nulis, ya..

  4. Melan 27 April 2010 pukul 14:23 · Balas

    top,tulisan dan foto-fotonya berhasil menggelitik emosi.

  5. riosadja 27 April 2010 pukul 15:21 · Balas

    catatan tambahan: Mak Itam artinya ‘Paman Hitam’ adalah sebutan untuk kereta api uap dengan bahan bakar batu bara. Sedangkan Mak Uniang artinya ‘Paman Kuning’, sebutan untuk kereta api bermesin diesel.

  6. ronny si 27 April 2010 pukul 20:48 · Balas

    makasi ky

  7. agha 29 April 2010 pukul 00:17 · Balas

    waduh jadi yakut jadinya tingla di padang pajang
    maksih bg berkat tulisan u w baklan cpet2 lulus kuliah hehhehe

    keran bgt tulisannya n gmbar2 y, jadi penasaran emangnya udah berapa kli yah jalur padang panjang padang kena longsor, n jalur mobil bisa masuk

  8. yunarwan 5 Mei 2010 pukul 13:01 · Balas

    Pertama kalinya Ortu kami membuka lahan di Lembah Anai tahun 1960 utk pabrik kertas tahun sampai tahun 2000 batang Anai tidak pernah banjir seperti sekarang, karena ekosistem diatas kawasan Lembah Anai belum dijamah oleh tangan2 oknum yang tidak bertanggung jawab.

    Masalah gempa dan longsor harus kita bedakan,jgn asal ngomong, krn beberapa kali gempa di Sumbar tidak merusak permukaan jalan dan rubuhnya jalan KA di kawasan Lembah Anai, termasuk bangunan reot kami di sana.

    Masalah longsor & banjir di Lembah Anai ini disebabkan kerusakan lahan kawasan hutan lindung dan kawasan Wisata alam Lembah Anai (mega mendung), kami menduga kerusakan kawasan Lembah Anai ini disebabkan adanya pembiaran & ketidakmampuan penjagaan hutan oleh Polsus hutan, padahal kelestarian alam pada Kawasan Wisata Lembah Anai harus kita jaga dgn baik.

    Melalui tulisan ini diharapkan Pemda mengambil langkah konkrit untuk menetapkan Kawasan Lembah Anai sebagai “Kawasan Wisata Terpadu yang bernuansa lingkungan” dimana Kawasan Wisata terpadu ini langsung dikelola dan diawasi oleh Pemda Sumbar dan Pemkab Tanah Datar.

    Tujuan ditetapkan Kawasan Lembah Anai sebagai sebagai kawasan Wisata Terpadu adalah ;
    1. Pembangunan harus sesuai masterplan kawasan
    2. Pengawasan hutan sekitar kawasan lebih ketat, agar kelestarian kawasan alam wisata dapat dijaga dgn baik.
    3. Mempermudah investor membangunan industri pariwisata di Lembah Anai.
    4. Pembangunan industri pariwisata berwawasan lingkungan

    Semoga tulisan ini dibaca oleh penjabat terkait, agar kelestarian kawasan Lembah Anai dapat dijadikan sebagai KUNJUNGAN WISATA ALAM DI SUMBAR.

    Terima kasih

  9. feri nugraha 6 Mei 2010 pukul 11:51 · Balas

    kelalui artkel ini hendaknya kita generasi muda berpikir utklbh maju didalam pengembangan budaya kita,krn dari semua bacaan tentang padang panjang dan sumatra barat kususnya selalu didalam pujian,tetapi sekarang kmn pujian utk padang panjang dan sumatra barat yang tenama diseluruh indonesia???????
    sudah tenggelam kah padang panjang dan sumatra barat dari kata-kata mutiara yg diucapkan org selama ini kpd kita??????
    mana generasi muda padang panjang dan sumatra barat yg ternama kn????? dahulu para generasi muda padang panjang dan sumatra barat sangat indah dibumi indonesia ini tapi sekarang apakah seperti itu juga????????
    bangkit lah pemuda padang panjang dan sumatra barat jangan kamu terus jadi budak nafsu yang membelenggu diri mu,dulu padang padang panjang dan sumatra barat adalah kota islam dimana pemuda dan pemudiny sanggat menjunjung islam tp sekarang apakah masih seperti itu????kebanyakan sekarang pemuda dan pemudi padang panjang dan sumatra barat jd budak nafsu dmn disetiap tempat yang gelap dan sepi jd tempat pemuas nafsu para pasangan yang tidak terikat perkawinan .
    akankah padang panjang dan sumatra barat akan terus begini

  10. bobby 13 Mei 2010 pukul 22:59 · Balas

    artikel ini sangat bagus sekali untuk dibaca..
    foto -foto tempu dulu mengingatkan kita keindahan kampung halaman kita sudah ada sejak dahulunya…, malah lebih indah dari yang ada saat sekarang ini., apalagi sampai melihat stasiun kereta api yang dipayakumbuh, mudah2an pemerintah daerah mau menhidupkan kembali rel kereta api yang sudah lama tertimbun dipayakumbuh…, saya sangat banga dengan kampung kita.
    masalah kawasan hutan di lembah anai alngkah bagusnya kalo kawasan tersebut dijadikan kawasan Taman Nasional agar pengelolaan dan pengawasanya lebih bagus lagi..
    trims..

  11. Rusdi Chaprian 25 Juni 2010 pukul 13:39 · Balas

    artikel dan ceritanya sangat menarik untuk di baca…dan dari artikel ini saya suka karena banyaknya photo-photo lama yang begitu sulit di dapat jika boleh perkenankan saya untuk dapat memasangnya di blog saya ini, dengan tujuan untuk ikut mempromosikan objek wisata sumatera barat.terimakasih sebelumnya saya ucapkan dan mohon komfirmasi permintaan izin saya ini.

  12. juliustin 8 Oktober 2010 pukul 19:50 · Balas

    seandainya saja gambar2 berkenaan sejarah minang kabau tempo dulu dapat dilihat lebih banyak,

  13. eko 11 Oktober 2010 pukul 12:48 · Balas

    rancak bana……………..

  14. andika putra 21 Oktober 2010 pukul 10:05 · Balas

    seandinya fto di buat lbh banyak mungkin lbih jelas apa yang sebenar nya yg ada d zaman yg terdahula<yg sebenarnya tidak boleh dlupakan

  15. Nasrullah 7 November 2010 pukul 20:48 · Balas

    Zaman..dahulu..walaupun masih sederhana..mungkin di bawah tekanan penjajah..kenapa orang bisa menikmati hidup dengan tenang dan bersahaja…yang sulit dijumpai saat ini…………..????????

  16. Syukrial 4 Januari 2011 pukul 23:26 · Balas

    Melihatnya saja mebuat kita seakan-akan telah berada di masa lalau..
    Pada masa penjajahan Belanda persoalan transpotasi KA menjadi perhatian. Seharusnya setelah merdeka infrastruktur KA zaman dulu tersebut makin dibenahi sepenuh hati oleh pihak PT KA. Semoga saja jalur KA di Sumatera Barat bisa aktif lagi…Amin

  17. yuwardi tanjung 10 Januari 2011 pukul 23:59 · Balas

    mungkin suatu saat..foto-foto ini akan sangat berguna bagi saya. terutama buat tulisan yang munkin akan saya torehkan pada momen tertentu..

    untuk itu..dengan penuh hormat k pada pemilik foto bersejarah tersebut, saya mohon ijin jika nita itu terpenuhi atau tiba masanya…

    yuwardi tanjung
    PADANG PANJANG
    2011

  18. ridwan.zainal 26 Januari 2011 pukul 16:59 · Balas

    +- baru 1000 tahun sejak lahirnya Muhammad SAW BAYANGKAN 100 tahun lagi gimana pula pemandangannya

  19. Debby Wijayanti 5 Februari 2011 pukul 13:07 · Balas

    Pelepas Rindu bana….Mancaliak Ko :-)

  20. Yori 16 Maret 2011 pukul 15:14 · Balas

    Great.. MasyaALlah…
    Gini ya jalan di lembah anai dulu…
    Jauh berbeda dengan apa yang kita liat hari ini.
    Btw, saya selalu melewati jalan ini minimal sekali sebulan…

  21. isrha hadi 17 Maret 2011 pukul 20:08 · Balas

    yo bana takana jo kampuang,,,
    ta ibo hati denai mangana mandeh d kampuang…

  22. melson Sikumbang 25 Agustus 2011 pukul 04:32 · Balas

    mantap photo-photo diatas, mengingatkan dan membawa kita ke salah satu lingkar ranah minang. ini juga merupakan cikal bakal jalan raya (labuh:aspal) yang kelak berada disamping jalan K.A

  23. afdhal caniago 16 November 2011 pukul 02:46 · Balas

    subhanalloh rancak bana, mohon izin share sanak…

  24. putri 21 Desember 2011 pukul 08:38 · Balas

    ancak2nyo. . . .
    makin tmbah bangga den jo kmpuang den. . .
    ancak bana . . . .
    syang den talalu jauah bana drie kmpung. .
    mkasih deh fotonyo. . .

  25. Ade Sikumbang 12 Januari 2012 pukul 08:22 · Balas

    ndeeeh alah 4 taun wak ndak pulang, gara2 mancaliak poto2 ko, langsuang minta ijin cuti ka kantua, insya allah bulan mei wak jalang baliak tapian mandi

  26. jon kenedi 16 Januari 2012 pukul 07:29 · Balas

    warisan masa lalu yang harus tetap terjaga hingga masa depan

  27. YORI 19 Januari 2012 pukul 06:50 · Balas

    bangga.. menjadi salah satu anak rantau berdarah minang.. bangga dan bangga.. itulah aq.. minang sejati… ini adalah saksi sejarah yang musti tetap ada… salut buat tuan yang sudah mempublikasikan foto-foto ini…

  28. doni saputra 29 Januari 2012 pukul 22:44 · Balas

    ondehhh mande..
    yo sabana babahayo sumbar ko dulu nyo yo da,..
    yo sabana padiah bantauk e,,..
    salut wak bagi yg ma upload foto ko..
    mokasi banyak da.,alah ma upload foto2 nan dlu2 ko..
    (y)

  29. YUHIBBUL IKHSAN 14 Februari 2012 pukul 08:29 · Balas

    sngat indhnya alam ini!!1

  30. fadli rizal 1 April 2012 pukul 15:52 · Balas

    takana kampuang mancaliak ko dek nyo……
    mantap” fto na…..

  31. mita 9 April 2012 pukul 08:17 · Balas

    waaaw mantaps

  32. syamsu 15 April 2012 pukul 23:34 · Balas

    rancak bana
    lw bisa labiah banyak lai fto nyo

  33. ugie 4 Agustus 2012 pukul 01:50 · Balas

    Ternyata dulu lembah anai lbh indah. Hampir dr bln februari’2012. tiap hari sabtu saya pulang ke padang panjang. Tak menyangka dulu lbh indah dr sekarang. (sangat kagum saya)

  34. hendri sikumbang 23 Desember 2012 pukul 00:18 · Balas

    iyo sabana taibo ambo mlieknyo walaupun ambo alun layoa lai doh .takana juo dulu katiko ambo masih ketek naik kareta pai kapadang malalui tarowongan tu…..
    raso-rasonyo io baliak liak ka maso ketek dulu,…
    kini taragak rasonyo mandanga kereta lalu dakek rumah ambo baliak..pabilo itu..???

  35. rhia wheny 27 Desember 2012 pukul 22:58 · Balas

    rasanya ingin sekali melihat jaman doelo…

  36. Haasma 3 Maret 2013 pukul 20:58 · Balas

    Wuah and wuah. Sejak lama meninggalkan kampuang halaman marantau dek diusie urang awak sampai dibumi Sriwijaya dan menetap di Depok, Bogor Jawa Barat, raso-rasonyo iyolah dapeik balik kajaman nan doeloe itoe. Kebanggan tersendiri manakala dibawo-bawo dek ranggaek naik kereta api manuju bukittingi taruih ka padang tuut…tuut…tuut. Badarai si aie mato dek indak dapeik mancaliek nan subana nagori awak nan elok dan cantiek menjadi tulangpunggung dunia sebagai zamrud khalutistiwa. Ayo, bangun balik Nagori kito basamo-samo kito bisa, kok bareik samo dijinjiang, kok ringan samo dipikue dengan konsep Mambangkiekkan batang nan tarandam. Semoga!

  37. ade 8 April 2013 pukul 17:50 · Balas

    Den suko urang minang yang bantuak iko . Masih ado raso cinto untuak minang kabau

  38. paulhendri 16 Mei 2013 pukul 20:19 · Balas

    mantap…..semua kenangan dan kejayaan masa lalu itu perlu kita ketahui dan kita abadikan, sebagai putra kota serambi mekah saya berharap dan mengucapkan terima kasih atas pa yang telah ada di dalam website ini dan satu saat nanti mungkin salah satu fhoto atau beberapa fhoto ini akan berguna bagi saya dalam sebvagai kelengkap tulisan yang saya tulis untuk itu saya meminta sekaligus ucapakn terima kasih pada yang memiliki fhoto fhoto ini. wsl paul

  39. sigit 11 Juni 2013 pukul 11:01 · Balas

    keren banget,tapi rel keretanya masih aktif tidak ya saat ini

  40. praditya agus 11 Agustus 2013 pukul 14:39 · Balas

    Fantastis….ini liputan sejarah yang mengupas dunia sumatera barat dengan apik dikemas dengan vintage season..sudah seharusnya sumatera barat dijadikan daerah istimewa berhubung dulunya menjadi ibukota darurat disalah satu kota nya. “Kompakan dengan rekan ken,” teruskan berkarya seperti ini dan publikasikan,” Negeri ini terlalu kaya untuk didiamkan begitu saja, toh?” Segalanya ada sejarah di masa lalu, dan dikemas apik di masa sekarang agar lebih baik lagi kedepannya untuk segala propinsi di indonesia. Merdeka buuuungg..

  41. Firman Abdul Malik 11 September 2013 pukul 16:39 · Balas

    tumpang share ya

  42. del 27 Desember 2013 pukul 23:17 · Balas

    Tagak bulu ramang mancaliaknyo….sabana rancak nagari wak ko sajak dulunyo.

  43. rosa 28 Desember 2013 pukul 15:21 · Balas

    Makasi banyak untuk penulis. Kereta api di sumbar hanya tinggal satu rute. Simpang aru padang ke pariaman. Hanya tiap hari minggu. Untuk wisata

Lacak balik untuk tulisan ini

  1. Lembah Anai, Minang, Tempo Dulu « Suprizal Tanjung's Surau

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2010 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //