Oleh Imam FR | Pada Kamis, 4 Maret 2010
* * *

Mendengar kata Sekaten bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, sudah tidak asing lagi. Begitu juga denganku yang pernah tinggal di Solo selama enam tahun. Setiap tahun, pasti aku mendengar kebar-kabar mengenai Sekaten, baik itu melalui surat kabar atau hanya dari omongan-omongan kecil yang melintas di masyarakat.

Pasar Sekaten

Maleman Sekaten di Alun-alun Utara Keraton Surakarta

Namun, kabar-kabar itu layaknya sebuah angin lalu saja bagiku, karena belum pernah sekali pun aku datang ke Sekaten. Tidak tahu jelas apa sebabnya, mungkin karena dulu aku tidak pernah ada waktu untuk datang ke sana atau memang hanya diriku yang tidak pernah peduli dengan sebuah tradisi. Sungguh aku merasa bersalah apabila mengingatnya.

Permainan yang ada di Maleman Sekaten

Permainan yang ada di Maleman Sekaten

Enam tahun sudah biarlah berlalu, dan cukuplah untuk menjadi sebuah kenangan. Kali ini, aku tidak mau lagi mengulangi hal itu. Kesempatan telah datang, kuliah sedang libur semester, berarti tidak ada lagi alasan untuk tidak datang ke Sekaten. Walaupun sekarang belum masuk pada acara inti Sekaten, bagiku itu tidak masalah, karena pasti di sana ada pasar Sekaten-nya. Hitung-hitung juga untuk menebus kesalahan karena ketidakpedulianku dulu, maka berangkatlah aku dari Klaten ke Solo untuk datang menontonnya.

“Kiri, kiri, kiri,…yo kiri”, terdengar suara para penyedia jasa penitipan sepeda motor dari pinggir-pinggir jalan ketika aku sudah mulai memasuki jalan masuk menuju Alun-alun Utara Keraton Surakarta, mereka bermaksud untuk menawarkan jasa penitipannya. Begitu banyak di sini para penyedia jasa penitipan itu, namun aku tidak langsung menitipkan sepeda motorku di jasa penitipan yang berada paling depan, melainkan aku mencari tempat penitipan yang paling dekat dengan Alun-alun, supaya tidak berjalan kaki terlalu jauh.

Dari dalam kawasan Alun-alun terdengar suara-suara kemeriahan, membuatku tidak sabar lagi untuk masuk. Segera aku menitipkan sepeda motorku, kemudian langsung berjalan menuju Alun-alun. Sebuah tulisan ‘Wilujeng Rawuh, Maleman Sekaten 2010′ (Selamat Datang, Maleman Sekaten 2010) menyambut di pintu masuk. Maleman sekaten adalah acara yang menyerupai Pasar Malam, dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan di Alun-alun Utara Keraton Surakarta, dalam rangka memeriahkan acara Sekaten.

Setahun sekali acara ini diadakan, begitu juga dengan Sekaten. Sekaten yang berasal dari kata syahadatain adalah acara untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dimulai pada tanggal 5 sampai 12 Rabiul Awal atau dalam perhitungan Jawa jatuh pada tanggal 5 sampai 12 bulan Mulud. Sekaten di Solo diadakan oleh Keraton Surakarta,  pada tahun ini acara inti Sekaten yang berlangsung selama sepekan, dimulai pada Jum’at (19/2) sampai Jum’at (26/2), ditandai dengan dikeluarkannya gamelan  Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari ke serambi Masjid Agung Solo, dan diakhiri dengan Grebeg Mulud sebagai puncak acara.

Lapak-lapak pedagang

Lapak-lapak pedagang

Tidak hanya di Solo, Sekaten yang sudah merupakan tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan dan dipertahankan, secara bersamaan diadakan juga di Alun-Alun Utara Yogyakarta oleh pihak Keraton Yogyakarta. Begitu juga dengan acara yang diselenggarakan, di Solo maupun di Yogyakarta tidaklah banyak berbeda.

Aku datang pada sore hari, bersama temanku Mufti Al Umam. Walau masih sore, namun sudah ada beberapa wahana hiburan permainan yang dijalankan, dan beberapa yang lainnya masih dipersiapkan. Wahana permainan mendominasi setengah lebih bagian Alun-alun, dan sebagian yang lain diisi oleh para pedagang. Semua jenis wahana permainan yang biasanya ada di pasar-pasar malam ada di sini, begitu juga pedagang, dari pedagan makanan, mainan, buku, tas, sandal, sepatu, sampai pedagang korek api sekali pun juga ada.

Pedagang makanan

Pedagang makanan

Kerajinan tangan berbentuk Harimau, khas Sekaten

Kerajinan tangan berbentuk Harimau, khas Sekaten

Setelah sejenak berjalan berkeliling Alun-alun, sebuah mainan olahan kerajinan tangan berbentuk Harimau berwarna kuning ditata berjajar rapi memukau penglihatanku, dan disampingnya ada kerajinan tangan dengan bentuk serta warna lainnya. Mainan seperti itu merupakan  mainan khas Sekaten, terbuat dari tanah liat yang kemudian diwarnai.

Mainan kapal-kapalan yang ada di Maleman Sekaten

Mainan kapal-kapalan yang ada di Maleman Sekaten

Belum selesai aku berkeliling, di langit tampak awan mendung tebal seakan hujan akan segera turun. Tidak lama kemudian, ternyata benar, hujan pun datang. Aku sempat bingung mau berteduh di mana, untung saja aku segera teringat dengan Masjid Agung yang berada di sebelah Alun-alun, dengan segera aku menuju ke sana.

Memasuki gerbang halaman masjid, aku melihat di sekitarnya banyak pedagang yang menjual Endog Amal (telur asin) dan Kinang. Kinang adalah racikan daun sirih, gambir, tembakau dan kapur, yang nantinya akan dikunyah. Melihat itu, bagiku sudah tidak begitu kaget lagi, karena aku sudah sering mendapat cerita dari orang-orang tua mengenai hal itu. Selain Endog Amal dan Kinang, menurut cerita yang pernah aku dengar, biasanya ada juga penjual Pecut (cambuk) dan Sego Gurih (nasi uduk).

Endog Amal (Telur Asin)

Endog Amal (Telur Asin)

Kinang

Kinang

Ada sebuah kepercayaan unik yang mendasari banyaknya pedagang benda-benda itu. Endog Amal, apabila membelinya dimaksudkan agar orang tersebut suka beramal. Kinang, masyarakat percaya apabila me-nginang (mengunyah daun sirih, gambir, tembakau dan kapur) sambil mendengarkan gamelan yang ditabuh dari serambi masjid pada saat Sekaten, maka akan awet muda dan mendapatkan berkah. Pecut, makna di balik membelinya adalah diharapkan bisa menggiring nafsu supaya berjalan ke jalan yang benar, sebagaimana fungsi dari Pecut yang biasa dipakai untuk menggiring ternak agar berjalan sesuai jalannya. Sego Gurih, membeli dan memakannya sebagai tanda mensyukuri nikmat kehidupan dan segala sesuatunya, serta supaya kehidupan akan semakin nikmat seperti nikmatnya rasa makanan itu.

Selama hujan datang, aku berteduh di serambi Masjid Agung. Untung saja hujan tidak turun begitu lama, sehingga aku dapat segera melanjutkan berkeliling. Sebelum keluar dari halaman masjid, aku menyempatkan diri untuk mengobrol sejenak dengan salah satu pedagang yang menjual Endog Amal dan Kinang. Ibu Hartini namanya (55), perempuan yang sudah mulai masuk usia tua, namun walau begitu wajahnya masih tampak merona.

Ibu Hartini, penjual Endog Amal dan Kinang

Ibu Hartini, penjual Endog Amal dan Kinang

“Bu’, pripun, laris?” (Bu’, bagaimana, laris?), biasa, sebuah sapaan manis penghantar percakapan, aku ucapkan.

“Nggih ngeten niki Mas, lumayanlah” (ya kayak gini Mas, lumayanlah), jawabnya dengan karakter pengucapan bahasa Jawa khas Solo serta senyum manis keluar dari bibirnya.

“Sampun dhangu sadean wonten mriki?” (sudah lama berjualan di sini?), aku bertanya.

“Yen Kulo nembhe tigang tahun, tapi rencang-rencang kulo niki enten sing pun puluhan tahun” (kalau Saya baru tiga tahun, tapi teman-temanku ini ada yang sudah puluhan tahun), jawabnya.

“..yen nginang niku, manfaat nipun nopo Bu’?” (..kalau nginang itu, manfaatnya apa Bu’?), pertanyaan ini aku tanyakan untuk memastikan cerita yang pernah aku dengar.

“..kagem untu supoyo kiat” (untuk gigi supaya kuat), jawabnya singkat.

“Bileh saget marai dhowo umure niku pripun?” (kalau supaya panjang umurnya itu bagaimana?), aku kembali bertanya.

“Nggih enten sing percoyo ngeten niku..” (ya ada yang percaya seperti itu..), jawabnya lagi.

Kemudian dia menambahinya “wah..bileh ten keraton jogja, sing nginang niku bethen wedhok mawon, tiyang lanang nggih nginang” (kalau di Keraton Jogja, yang nginang itu bukan hanya wanita saja, orang laki-laki juga nginang). Aku sempat kaget mendengarnya, karena sepengetahuanku sebelumnya hanya wanita yang me-nginang.

Obrolan yang lumayan panjang, cukup memberi tambahan wawasan untukku. Dari obrolan itu, aku jadi tahu kalau Kinang yang sudah dibungkus daun pisang dengan takaran satu porsi itu dijual dengan harga seribu rupiah. Sebenarnya harga yang relatif mahal, alasannya karena sekarang harga bunga yang diikut sertakan dalam satu porsian Kinang itu sedang naik, jadi mahal, begitu penjelasan dari Ibu Hartini.

Setelah selesai mengobrol, aku melanjutkan berkeliling pada bagian Alun-alun yang belum terjamah olehku. Lapak demi lapak pedagang dan wahana permainan telah aku lewati, nampaknya semua sisi telah terjamah. Aku tidak bermaksud sampai malam di sini, sehingga ketika petang menjelang, aku segera pulang, dan semoga tradisi Sekaten tidak akan pernah lekang oleh modernisasi yang menghadang.

Your email:

 

4 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Pesta Rakyat di Alun-Alun Multatuli - Lebak
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Pembukaan DOCUROOM PROJECT Komunitas Sarueh

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      DOCUROOM PROJECT, diselenggarakan mulai
      Sore itu (07/01) sebelum pukul 16.00 wib beberapa anggota Sarueh, Rudi, Fadly Capaik, Harryaldi, David, Angga, Culil, dan Ronny tampak sibuk mempersiapkan pembukaan DOCUROOM PROJECT di ruang tengah Sarueh. Dana  untuk mengadakan acara ini adalah hasi ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Sayur Trubuk : Sayur Nganten, Sayur Selametan, Sayur Betawi

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      1
      “Sayur apaan nih Bu?” “Sayur nganten, biasa untuk orang Betawi”. “Mau nyobain? Nih, masih ada tinggal dikit…” “Bentar ya, tupatnya ibu ambilin…” Itulah sebuah pertanyaan spontan saya ketika melihat semangkuk sayur yang langka dijumpai di kota- kota ...

      (Ada 7 komentar pada artikel ini)

      Akhirnya Datang Juga

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Rapat kesepakatan jadwal
      Padangpanjang, 25 Januari 2009 Jumat, 23 Januari 2009 warnet Om Wawan yang bersebelahan dengan gerbang STSI Padangpanjang penuh dengan ributnya anak-anak Sarueh yang lagi chating dengan mbak Otty yang akan datang besoknya ke kota hujan ini. Diantara ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Sisakan Satu Pohon Saja

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      Blora
      SELAMATKAN BUMI ! Itu seharusnya yang harus didengar dan kita lakukan, kerusakan alam yang telah terjadi di negeri ini bukanlah hal yang baru kita lihat. Penjarahan besar-besaran yang dimulai sejak dahulu, bahkan sebelum lengsernya Rezim Orde Baru da ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Tulisan Partisipan: Pather Panchali

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Pather Panchali
      [caption id="attachment_403" align="alignnone" width="300" caption="Pather Panchali"][/caption] Saat saya menonton film Kidung Lelangkah (Pather Panchali, 1955) karya Satyajit Ray, saya merasa film ini sangat menyentuh walaupun awalnya saya tidak men ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

      Mengenal Guru Rusdi

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Guru Rusdi
      Aku mengenal sosok seorang pak Rusdi pada tahun 2007 dari seorang ibu-ibu yang duduk di sampingku saat dalam perjalanan dari Padangpanjang ke Padang, di atas mobil bus antar kota. Di antara deru mesin mobil yang naik turun jika berhenti, teriakan st ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 42

    Total: 68999

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media