Futsal: Efektif, Efisien, dan Dramatis

Oleh / pada 27 Mei 2010 / di Solo, Jawa Tengah // 7 Komentar

Perkembangan tata ruang perkotaan tidak diragukan telah membawa pergeseran pergerakan sosial budaya pada masyarakatnya. Gedung-gedung yang menjulang tinggi telah melahap perkampungan kota yang biasanya didiami para kaum marjinal.

apartemen

Sebuah apartemen di Solo yang sekaligus menjadi bangunan tertinggi di kota ini

Konsep rumah susun dan apartemen dianggap menjadi solusi yang akan memecahkan permasalahan tata kota. Dalam satu bangunan yang besar dan menjulang tinggi akan dihuni dan dilengkapi dengan berbagai masyarakat dengan segala kepentingannya.

Rumah susun, jenis bangunan ini lebih dicitrakan untuk kalangan menengah ke bawah. Fasilitas yang standar, seperti layaknya rumah sangat sederhana, atau bahkan lebih seperti asrama, ini sangat tergantung pada nilai jual atau nilai sewa rumah susun itu sendiri. Rumah susun biasa dihuni para keluarga menengah-menengah ke bawah. Menciptakan perkampungan baru di dalam satu bangunan. Privasi menjadi suatu yang sulit di dapat oleh para penghuninya. Warna-warni jemuran baju sampai celana dalam yang seakan-akan melambai-lambai di setiap sudut bangunan menjadikan personalitas penghuni rumah susun tak tersembunyikan lagi.

Sementara apartemen menjanjikan eksklusifitas berhuni di sebuah bangunan besar dengan beberapa penghuni lainnya, dengan fasilitas yang lebih baik dan lengkap dibandingkan dengan jenis hunian di atas. Penghuninya pun memiliki kelas yang berbeda. Tarif yang lebih mahal, menjadikan apartemen sebagai gaya hidup dan usaha pencitraan diri bagi masyarakat urban yang mapan.

Rumah Susun

Rumah Susun

Entah itu masyarakat bawah atau yang mampu, masyarakat perkotaan biasanya lebih dinamis dalam melakukan segala aktivitasnya. Saya akan mengambil futsal sebagai satu contoh yang akan saya bicarakan dalam kesempatan ini.

Futsal adalah salah satu olah raga yang memiliki kemiripan dengan sepak bola sebagai olah raga terpopuler di dunia. Sepak bola populer di semua kalangan masyarakat, baik di desa atau di kota, digemari oleh semua umur baik laki-laki atau perempuan. Namun dengan berkembangnya karakter sosial dan budaya di perkotaan, dengan masalah tata ruang kota atau keterbatasan penyediaan lapangan sepak bola yang biasanya membutuhkan lahan yang luas,  telah membuat futsal menjadi produk olah raga yang kini paling digemari di berbagai kota besar.

Futsal sendiri diciptakan di Montevideo, Uruguay pada sekitar tahun 30-an oleh Juan Carlos Ceriani. Olah raga jenis ini langsung menjadi populer di Amerika Selatan, kota-kota padat di Amerika Selatan pun ikut memberi andil dalam mengembangkan gaya dan keterampilan bermain futsal. Menurut artikel yang saya baca, bintang pemain sepak bola asal Brasil, Pele, juga ikut mengembangkan bakatnya di  dunia futsal.

Futsal juga dianggap sebagai solusi ampuh untuk mengatasi permasalah masyarakat dalam menjalankan olah raga sepak bola di perkotaan. Di kota-kota besar seperti Rio de Jeneiro, orang-orang biasanya bermain bola di jalan-jalan, di perkampungan sehingga mengesankan ketidakteraturan. Tak jarang aktivitas ini menimbulkan beberapa masalah sosial dalam kehidupan mereka. Seperti bola nyasar yang memecahkan barang-barang di sekitar arena mereka bermain, mengganggu kenyamanan pengguna jalan yang sedang lewat, bahkan tidak jarang juga sampai terjadi kecelakaan lalu lintas.

Futsal yang menggunakan lapangan permainan jauh lebih kecil ketimbang sepak bola yaitu, dengan ukuran panjang 25-42 m x lebar 15-25 m ini memberikan kemungkinan bagi masyarakat urban untuk menjalankan hobi berolahraganya di dalam ruangan. Keliaran penggila bola sedikit terjinakkan. Mereka dengan sendirinya menjadikan futsal menjadi gaya hidup mereka yang baru. Antri dan bermain futsal di dalam ruangan dianggap jauh lebih bermartabat dan bergengsi daripada bermain bola di jalan. Ruangan futsal menjadi sebuah medan magnet yang kuat bagi mereka untuk datang dan memeras keringat.

Futsal

Salah satu tempat futsal di Solo

Melakukan pembacaan kebudayaan juga menarik untuk melihat futsal sebagai bentuk simbol budaya urban yang efektif, efisien, dramatis. Efektif karena bentuk penjinakan seperti yang sudah disinggung di atas. Efisien, karena selain futsal membutuhkan ruang yang relatif kecil, futsal juga efisien dalam jumlah pemain. Kalau dalam sepak bola membutuhkan 11 pemain dalam setiap grup dan biasanya 6 pemain cadangan, dalam futsal pemainnya hanya berjumlah 5 orang dengan 7 orang pemain cadangan. Jumlah  yang jauh lebih sedikit dalam hal pemain, membuat futsal semakin pas untuk masyarakat urban dengan aktifitasnya yang padat. Jadi kesulitan untuk menemukan teman bermain dalam jumlah yang besar, sedikit teratasi. Apalagi aturan permainan futsal saat pergantian pemain cukup fleksibel ketimbang sepak bola. Kalau di sepak bola, pergantian pemainnya dibatasi. Dan pemain yang sudah diganti tidak bisa bermain lagi. Ini tidak terjadi di futsal. Pemain boleh bergantian lebih dari 1 kali. Jadi mereka bisa istirahat kapan saja ketika mereka keletihan, namun permainan akan tetap on fire.

Kedramatisan futsal juga menawarkan keeksotisan bagi para pelaku dan penontonnya. Katakanlah, sebuah tim atau grup merupakan kumpulan orang yang bisa bermain futsal dengan berbagai posisi yang ada dalam permainan. Dari penjaga gawang, pemain belakang, tengah, dan penyerang. Semua sudah paham akan tugas mereka masing-masing dan bagaimana harus bekerja sama untuk meraih sebuah kemenangan.

Ketika mereka menguasai bola, pencarian posisi dan akurasi umpan harus dilakukan secara maksimal agar penguasaan bola dapat berlangsung terus menerus. Ini adalah sifat manusia pada umumnya. Jika mereka merasa menguasai sesuatu, mereka akan berusaha untuk tidak melepaskannya. Sistem dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dibuat untuk kelangsungan dan kelanggengan kekuasaan mereka. Tidak boleh lengah atas usaha-usaha yang dilakukan dalam perebutan kekuasaan. Pos-pos kekuasaan harus terus bergerak. Sehingga lawan semakin terdesak di daerah pertahanan mereka sendiri. Jika sedikit saja mereka goyah dalam pengusaan, perebutan kembali harus segera dilaksanakan. Pengerahan kekuatan secara maksimal, bila perlu tackling dengan mengutamakan pergerakan yang seolah-olah hal tersebut bukan sebuah pelanggaran dalam permainan. Kecermatan pengawasan di setiap pos juga harus tajam. Pos-pos mana yang perlu diganti, harus segera diganti. Jangan sampai pos tersebut menjadi terlanjur lemah sehingga lawan mudah menerobos salah satu pos.

Bila pengorganisasian pos-pos kekuasaan bisa berjalan baik, kini tinggal bagaimana membenamkan semangat musuh dengan penjebolan gawang. Gawang yang relatif kecil akan didera dengan tembakan-tembakan keras, atau gerakan-gerakan tipuan dengan sebuah eksekusi matang dan memukau. Cantiknya permainan akan menyamarkan intimidasi dan tipuan itu sendiri. Penonton akan melihat itu sebagai sebuah keberhasilan dalam permainan, merka tidak melihat pada tipuan dan terornya.

Ketika keberhasilan itu dicapai, bersoraklah kaum penguasa bersama pendukung kekuasaan. Bersorak ceria yang kadang dilakukan secara arogan di depan kaum yang kalah. Gol itu sendiri sebenarnya sudah merupakan bentuk puncak pencapaian dalam sebuah permainan, namun rasanya itu tidak cukup memuaskan para pemegang kekuasaan. Perayaan menjadi sebuah ritual penting dalam setiap pencapaian keberhasilan. Kebahagiaan yang melimpahlah yang dikehendaki para pemenang. Begitu pula penderitaan yang bertubi-tubilah yang dikehendaki pemenang atas lawannya. Lawan yang sudah dikalahkan, dikuasai, dan dijinakkan.

 

 

Tentang Penulis

Herlambang Bayu Aji

Akrab disapa Bayu Aji Rajakaya. Pernah kuliah Universitas Sebelas Maret dan di Fakultas Seni Rupa UNS. Ia mendirikan Wayang Rajakaya, wayang kulit kontemporer dan Wedang Waras Solo.

7 Komentar pada "Futsal: Efektif, Efisien, dan Dramatis"

  1. Imam FR 28 Mei 2010 pukul 15:02 · Balas

    menarik..sepertinya Herlambang Bayu Aji adalah orang yang maniak futsal.

    Herlambang Bayu Aji..salam kenal dariku Imam FR. 6 tahun sudah aku pernah di Solo. secara memang terlihat kota Solo perlahan-lahan hendak beranjak menuju kota urban.

  2. Herlambang Bayu Aji 28 Mei 2010 pukul 22:38 · Balas

    hai Imam. jujur saja aku baru sekali bermain futsal. tapi teman2ku banyak yang maniak futsal. tulisan ini adalah hasil pengamatanku atas kebiasaan mereka dan masyarakat solo umumnya.

    aku lebih sering nonton daripada main. maklum, ketrampilan mengolah bolaku sangat terbatas. apalagi stamina….hancur deh!! haaa….

  3. rock n rool mom^^ 29 Mei 2010 pukul 01:00 · Balas

    Hi, Bayu.. seneng nemu jurnal-mu..jd kangen Solo^^
    aq tinggal di Jkt..dan ya, futsal jd cpt menjamur di sini..krn faktor2 kebutuhan org kota itu td..haha..trutama memang krn lahan dh hbs!
    my hubby jg rutin sminggu skali futsal brg tmn2 kantor..He said ‘futsal malah lbh mbakar kalori nih!lapangan lbh kcl, dituntut gerak aktif trs..’ *dibanding sepak bola kali yaaa…*
    tp tetep aja aq lbh cinta sepak bola:D yg maen di lapangan terbuka, kena udara segar(bkn AC), ada matahari, dan rumput asli^_^

  4. koordinator program aku massa, forumlenteng 29 Mei 2010 pukul 17:20 · Balas

    selamat, ki dalang.
    kami tunggu tulisanmu berikutnya. kami sangat ingin tahu kota2 lain, solo salah satunya.

  5. bob 29 Mei 2010 pukul 17:42 · Balas

    apik..tapi kok potoku gak kliatan :p

  6. bamz int01 29 Mei 2010 pukul 17:56 · Balas

    bagus….cip..percaya aku herlambang..hehehehe

  7. Herlambang Bayu Aji 1 Juni 2010 pukul 09:00 · Balas

    terimakasih teman2. tulisan2 selanjutnya akn segera dikirim. semoga bisa membuka sedikit gambaran tentang apa yang aku lihat, dengar, dan rasakan di kota tempat tinggalku ini.

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2010 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //