Cerita Sebuah Perjalanan Bersama Kereta Bengawan

Oleh / pada 16 Februari 2010 / di Klaten, Jawa Tengah // 22 Komentar

Sore ini tampak cerah, walau tadi sempat datang mendung sejenak yang mendatangkan gerimis-gerimis kecil yang turun tidak begitu lama. Matahari di sebelah barat memancarkan sinarnya dari balik-balik awan putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Angin sepoi-sepoi terkadang lewat dan masuk melalui jendela ke dalam kamar kostku disaat aku sedang berkemas diri untuk pulang ke kampung halaman. Hari ini (Minggu, 14 Februari 2010) aku memang sudah merencanakan untuk pulang ke kampung halaman di Klaten, karena kuliah sedang libur semester.

Antrian pembeli tiket di Stasiun Tanah Abang

Antrian pembeli tiket di Stasiun Tanah Abang

Semua sudah siap. Aku segera berangkat ke Stasiun Tanah Abang. Jam di telepon genggamku sudah menunjukkan pukul 15.50 WIB. Setelah sejenak menunggu di halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, akhirnya Koantas Bima bernomor 102 yang akan mengantarkanku ke Stasiun Tanah Abang datang juga.

Setelah satu jam perjalanan, aku telah sampai di stasiun. Tampak banyak orang keluar-masuk dari stasiun. Aku segera menuju loket kereta Bengawan untuk membeli tiket. Tanpa menunggu lama, tiket sudah aku dapatkan, karena kebetulan saat itu antrian tidak begitu banyak. Di dalam tiket tertulis jadwal keberangkatan Kereta Bengawan dari Stasiun Tanah Abang pada pukul 19.30 WIB dan akan sampai di Stasiun Klaten pukul 06.30 WIB. Di bawah tulisan jadwal keberangkatan ada tulisan K3-4, 9C. Itu menunjukkan kelas kereta api (K3= kelas 3 atau ekonomi), nomor gerbong (gerbong 4) dan nomor tempat duduk (9C), berarti di situlah tempatku. Aku sengaja datang lebih awal dengan maksud agar masih mendapatkan tiket yang bertempat duduk. Karena apabila tidak mendapatkan tempat duduk, maka penumpang harus berdiri atau duduk di sela-sela gerbong dan ini sangat tidak mengenakkan. Apalagi lama perjalanan membutuhkan waktu kira-kira dua belas jam, sebuah hitungan waktu yang lumayan lama.

Kereta Bengawan yang belum dipasangkan lokomotif

Kereta Bengawan yang belum dipasangkan lokomotif

Kereta Bengawan sudah menjadi langgananku, setiap kali pulang naik kereta aku pasti memakai kereta ini, dengan pertimbangan harga tiketnya yang sangat murah, cukup mengeluarkan uang Rp.37.000,- aku sudah bisa pulang ke Klaten. Begitu juga dengan masyarakat yang kelas ekonominya menengah ke bawah, kereta ini menjadi transportasi alternatif  mereka. Karena dari segi harga, transportasi menggunakan bis bisa dua kali lipat lebih mahal dari harga Kereta Bengawan. Jadi, sesuai dengan kelasnya yaitu ekonomi, maka harga yang harus dibayar juga sangat ekonomis.

Menurut informasi penjaga stasiun, kereta sudah siap di jalur tiga. Aku sedikit kaget, karena sekarang jam baru menunjukkan pukul 17.00 WIB, tetapi kenapa kereta sudah siap? Ternyata ketika aku menuju jalur tersebut, yang ada baru gerbong keretanya, sedangkan lokomotif yang nantinya berfungsi untuk menarik kereta, belum dipasang. Walau begitu, beberapa penumpang sudah ada yang naik dan mencari tempat sesuai dengan nomor tempat duduknya masing-masing. Hal tersebut terjadi mungkin karena Stasiun Tanah Abang merupakan stasiun pemberangkatan yang pertama untuk Kereta Bengawan.

Stasiun Tanah Abang

Stasiun Tanah Abang

Waktu terus berjalan. Lokomotif kereta sudah dipasang. “Teng-tong, teng-tong, ting-ting, ting-ting”. “Kereta Bengawan, pemberangkatan awal dari stasiun Tanah Abang, tujuan akhir stasiun Solo Jebres, dari jalur tiga, harap segera diberangkatkan. Saya ulangi, Kereta Bengawan, tujuan akhir Solo Jebres, harap segera diberangkatkan.” Terdengar suara dari alarm stasiun dan suara petugas stasiun di pengeras suara. “Jeglek-jeglek, jeglek-jeglek, jeglek-jeglek” terdengar suara gesekan bundaran besi roda kereta dengan rel, “tut…tut…tut..” suara klakson kereta berbunyi kencang, kemudian disambut dengan suara-suara para pedagang:

“Mizone, Mizone, Pocari, Aqua dingin!”

“Kopi, Pop Mie, kopi dua ribu, Pop Mie lima ribu!”

“Koran-koran, seribu-an, buat alas tidur!”

“Kipas-kipas, bagi yang kepanasan!”

“Yang makan, makan, nasi gorengnya, nasi rames tiga ribuan!”

“Tahu, tahu… Tahu Sumedang!”

“Gantungan kuncinya…”

Pedagang kopi dan Pop Mie

Pedagang kopi dan Pop Mie

Pedagang gantungan kunci

Pedagang gantungan kunci

Seperti itulah sahut-sahutan suara mereka, dan itu belum semua. Masih banyak suara-suara pedagang lainnya, serta tidak mau kalah seorang petugas kereta yang menawarkan jasa penyewaan bantal “Bantal-bantal, bantalnya semalam tiga ribu saja,” ujarnya. Di sela-sela semua suara itu, masih ditambah lagi dengan suara genjrengan gitar para pengamen yang lalu-lalang silih berganti dengan pengamen lainnya, ada empat pengamen waktu itu. Suara-suara pedagang dan genjrengan pengamen berbunyi secara bersamaan, sehingga terdengar saling bertabrakan. Jadi, keadaan gaduh dan sangat berisik.

Pedagang Tahu Sumedang

Pedagang Tahu Sumedang

Kereta Bengawan telah melewati Stasiun Jatinegara. Suara-suara itu belum juga berhenti. Bahkan pedagang semakin bertambah ketika kereta sempat berhenti sejenak di Stasiun Jatinegara untuk menaikkan penumpang. Justru sekarang pedagang semakin banyak.

“Dsesss, dsess, dsess…” suara rem kereta yang ingin berhenti. “Jeglek-jeglek, jeglek-jeglek”, suara gesekan bundaran besi roda kereta dengan rel. Sekarang kereta berhenti di Stasiun Manggarai untuk menaikkan penumpang lagi. Penumpang yang naik dari stasiun ini lumayan banyak, belum lagi ditambah dengan para pedagang dan pengamen yang juga ikut naik, menjadikan keadaan semakin berdesak-desakkan di dalam kereta, itu sangat terlihat di dekat pintu masuk pada setiap gerbongnya.

Penumpang dan pedagang berdesakan di dalam Kereta Bengawan

Penumpang dan pedagang berdesakan di dalam Kereta Bengawan

Setelah sejenak kereta melaju, tiba-tiba dari kerumunan orang yang berdesak-desakkan di pintu gerbong empat, yang mana aku berada di dalamnya, terdengar suara jeritan seorang wanita setengah tua, “Hiiih, awas ini.. Gimana ini? Hiiih, hiiih”. Semua penumpang langsung mengalihkan perhatiannya ke sumber suara itu, yang terletak di dekat kamar mandi bagain depan gerbong. Aku juga sangat kaget mendengar jeritannya.

Tempat dudukku lumayan jauh darinya, jadi kurang begitu jelas tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Wah, kayaknya kesurupan itu,” teriak penumpang di sebelahku dan beberapa penumpang lainnya pun seakan menyetujui kalau wanita itu kesurupan. Aku semakin penasaran, sebenarnya aku ingin maju mendekati dan melihat apa yang terjadi, namun sangat sulit karena di depan sana banyak sekali penumpang yang berdesakkan mengelilingi wanita itu. Teringat bahwa aku membawa kamera digital, segera aku keluarkan kamera dari kantong saku sebelah kanan jaketku dan menjepretkan ke arahnya, hanya inilah yang bisa aku lakukan.

Wanita yang berteriak anaknya terjepit (mengenakan baju cokelat)

Wanita yang berteriak anaknya terjepit (mengenakan baju cokelat)

Hiiih… Ini anakku kejepit!” teriak wanita itu lagi. Keadaan menjadi semakin kacau. Pandangan para penumpang masih mengarah ke kerumunan. “Ohh anaknya kejepit…” gumam beberapa penumpang yang ada di sekitarku.

Selang beberapa menit, kekacauan itu sudah selesai. Nampaknya seorang anak yang terjepit itu sudah tertolong. Namun hanya berselang waktu beberapa detik, terdengar lagi suara teriakan dari seorang Ibu, “…Uangku hilang!!! Hah.. Uangku di mana ya, tadi di kantong, tapi ini kantongku sobek, kantongku disobek, copet!! Copet!!!”, Ibu itu teriak dengan lantang dan ekspresi wajah kebingungan. Para penumpang yang tadinya sudah mulai tenang, kembali terkaget mendengar teriakan itu. Ibu itu kemudian lalu-lalang, maju-mundur di gerbong, sambil teriak-teriak, “Copet, copet! Ada copet Mas, Pak!”

Aku dan para penumpang lainnya langsung bersiaga melihat kanan-kiri dan seluruh isi gerbong apabila copet itu memang ada. Namun, tidak ada yang mencurigakan dan tidak ada seorang pun di gerbong ini yang kelihatannya seorang copet.

“Tenang, tenang Bu… Tenang dulu,” kata salah seorang penumpang.

“Mau tenang bagaimana, ini uangku hilang,” balas Ibu tadi menjawab.

Penumpang lain ada yang melemparkan pertanyaan kepadanya “Emang uangnya berapa sih, Bu?”

Dengan ekspresi yang semakin kesal, bingung dan marah, ibu itu menjawab, “satu setengah juta!” Mendengar itu para penumpang langsung terkejut.

Ibu yang kehilangan uangnya lalu lalang di dalam gerbong sambil mencari pencopetnya

Ibu yang kehilangan uangnya lalu lalang di dalam gerbong sambil mencari pencopetnya

Ibu yang kehilangan tadi terus berlalu-lalang, maju mundur di gerbong sambil berteriak-teriak. Hingga dia berhenti di depan wanita setengah tua yang tadinya menjerit-jerit karena anaknya terjepit. Dengan lantang ibu tadi melontarkan pertanyaan kepada wanita itu,

“Heh, kamu copet ya?! Kamu tadi yang di samping saya kan?!”. Memang dalam kerumunan tadi wanita itu tepat berada di samping si ibu.

“Enggak, enggak, saya enggak nyopet,” jawab wanita itu.

“Sini, coba saya lihat tas-nya,” tanpa menghiraukan jawabannya, si ibu langsung mengambil tas wanita itu dan memeriksa isinya.

Wanita itu hanya bisa diam melihat tasnya digeledah. Sayang sekali ibu tersebut tidak mendapati uangnya yang hilang di dalam tas, akhirnya tas dikembalikan kepada pemiliknya. Ibu yang kehilangan uangnya kembali mondar-mandir kebingungan. Selang beberapa saat, ia mengadu kepada seorang laki-laki yang posisinya tidak jauh dari wanita itu, “Pak, orang ini perlu diperiksa lagi enggak Pak?!”. Nampaknya ia masih curiga dengan wanita itu. Dengan segera laki-laki itu memeriksa tas wanita itu kembali, namun dia juga tidak menemukan uang ibu tersebut.

Ibu yang kehilangan uang sedang memeriksa tas seorang wanita yang menurutnya mencopet uangnya

Ibu yang kehilangan uang sedang memeriksa tas seorang wanita yang menurutnya mencopet uangnya

Wajah ibu yang kehilangan uang tadi menjadi pucat, nampaknya dia harus merelakan kehilangan itu, karena tidak ada lagi yang bisa dicurigai. Kebetulan tidak ada petugas pada saat kericuhan itu terjadi, jadi agak sulit untuk mengadu ke petugas kereta. Kemudian si ibu nampaknya keluar dari gerbong menuju gerbong lain, mungkin bermaksud untuk mencari petugas keamanan kereta.

Suasana gerbong lama-kelamaan sudah mulai tenang. Kereta Bengawan berhenti lagi untuk menaikkan penumpang, kali ini berhenti di Stasiun Bekasi. Suara pedagang dan pengamen masih saja tetap ada. Kereta tidak berhenti lama dan kembali melaju kencang.

“Lho..wanita sama anaknya tadi ke mana, kok sekarang enggak ada” kata seorang penumpang yang berada tepat di depanku. “Wah ini tanda-tanda..” dia menyambung kata-katanya.

“Pertanda apa, Pak?” Aku terpancing untuk menanggapi kata-katanya.

“Berarti firasatku kayaknya betul, copetnya itu wanita tadi, cuma dia enggak sendirian, waktu dia menjerit gara-gara anaknya terjepit tadi, itu sebenarnya cuma untuk mengalihkan perhatian, terus teman-temannya yang mengambil duitnya. Uangnya enggak sama dia, uangnya sudah sama temannya dibawa lari, makanya ibu tadi enggak menemukan uangnya waktu memeriksa tas-nya”, jawab bapak itu.

“Masak iya sih, Pak?” Aku sedikit tidak percaya.

“Iya, dia kayaknya tadi turun di Stasiun Bekasi, nah di situ dia bertemu sama teman-temannya,” jawabnya lagi. Aku membayang-bayangkan, sepertinya bisa jadi begitu.

“Karena saya dulu pernah jadi pedagang asongan, cuma saya dulu di bis, ya kira-kira sama lah trik copet-copet di bis juga ada yang begitu,” dia menambahkan.

Aku mendengar sambil mengangguk-anggukkan kepala, karena kalau dipikir-pikir masuk akal juga penjelasannya.

Jakarta-Klaten11

Kereta Bengawan terus melaju kencang. Malam sudah mulai larut. Aku tertidur. Sesekali aku terbangunkan oleh suara-suara para pedagang yang menawarkan dagangannya. Pedagang di kereta ekonomi memang tidak akan pernah ada habisnya.

“Jeglek-jeglek, jeglek-jeglek, jeglek-jeglek”, kereta berhenti lagi. Aku terbangun mendengar suara itu. Sebelumnya kereta ini kelihatannya juga pernah berhenti, tapi entah di mana, karena aku sedang terlelap dalam tidur. “Lanting-lanting, oleh-oleh’e mas, sepuluh ewu papat”, “Gethuk pisang… Gethuk’e, gethuk’e”, “Lapis pisang’e mas…”, “Kopine mas.., rongewunan”, “sego ndok telongewu..sego ndok”, suara pedagang saling bersahutan. Aku merasakan ada yang berbeda di sini, mendengar suara-suara dari pedagang yang menawarkan dagangannya kebanyakan menggunakan bahasa Jawa. Aku melihat keluar, ada tulisan “Kroya”. Ternyata sudah sampai Stasiun Kroya di Cilacap, berarti kereta sudah memasuki kawasan Propinsi Jawa Tengah, maka wajar saja kalau kebanyakan pedagang sudah menggunakan bahasa Jawa.

Perjalanan yang sangat melelahkan. Semalam berada di dalam Kereta Bengawan, berdesak-desakan dengan para penumpang, dihiasi dengan suara-suara para pedagang dan pengamen. Tiba-tiba telepon genggamku bergetar. “Sudah sampai mana, Dik?” sebuah pesan singkat datang dari ayahku. “Ini sudah sampai stasiun Lempuyangan, Jogja. 30 menit lagi mungkin sudah sampai Klaten..” Aku membalasnya. Jam di telepon genggamku sudah menunjukkan pukul 06.05 WIB. Kereta berhenti di sini lumayan lama, selain menurunkan penumpang, Masinis juga turun menuju kantor stasiun, mungkin mereka ingin istirahat sejenak sambil menikmati seduhan teh hangat di pagi hari.

“Tut…tut…tut..” kereta kembali berjalan melaju kencang, melewati sawah-sawah yang membentang luas, sambil terus-terusan membunyikan klaksonnya, karena di daerah ini banyak pintu perlintasan kereta yang tidak ada palangnya, serta banyak para petani yang lalu-lang di situ. Stasiun Brambanan  dan Srowot sudah dilewati, berarti sebentar lagi akan sampai di Stasiun Klaten. “Tut… Tut… Tut..”, “jeglek… Jeglek”. Kereta berhenti. “Kami ucapkan selamat datang para penumpang Kereta Bengawan di Stasiun Klaten”, terdengar suara petugas stasiun dari pengeras suara. “Alhamdulillah sampai juga,” gumamku.

Kereta Bengawan berhenti di Stasiun Klaten

Kereta Bengawan berhenti di Stasiun Klaten

Sinar matahari pagi bersinar cerah dari arah timur seolah menyambut kedatangan para penumpang di Stasiun Klaten. Memang sangat sesuai dengan motto kota ini, “Klaten Bersinar” (Bersih, Sehat, Indah, Nyaman, Aman, Rapi). Di seberang, sebelah selatan rel kereta api, Aku melihat ayahku sudah menanti di sana. Segera Aku menuju kepadanya dan Kereta Bengawan itu kembali melaju kencang ke arah timur melanjutkan perjalanan menuju pemberhentian terakhirnya di Stasiun Solo Jebres.


 

Tentang Penulis

Imam Rahmadi

Imam Rahmadi, memiliki nama pena Imam FR Kusumaningati di kedua bukunya: Jadi Jurnalis Itu Gampang! dan NGANDROID. Masih kuliah di Universitas Islam Negri Jakarta (UIN), Syarif Hidayatullah, Jakarta, jurusan Pendidikan Agama Islam. Aktif di Komunitas Djuanda sebagai Sekretaris Jenderal dan di Forum Lenteng sebagai Sekretaris Redaksi akumassa.org

22 Komentar pada "Cerita Sebuah Perjalanan Bersama Kereta Bengawan"

  1. Gazali 17 Februari 2010 pukul 09:02 · Balas

    tulisan ini mengingatkan ku pada harapanku waktu masih kecil, kepengen naik kereta api. aku sering bernyanyi tuut… tut… tut… siapa mau ikut ke Bandung Surabaya… tapi tkut juga coz ada copetnya..!?!? Klo preman..?!?!?

  2. renal 17 Februari 2010 pukul 09:04 · Balas

    Oooo…Oooo…. jemput aku di stasiun Papa

  3. anggie 17 Februari 2010 pukul 10:43 · Balas

    oleh..oleh..oleh..dari kelaten Imam.

  4. eta 17 Februari 2010 pukul 11:50 · Balas

    jd inget jaman msh kuliah naik kereta ekonomi gini ke surabaya sama kakak perempuan gw,kita naik keretanya mlm,dan gerbong yg kita naikin lampunya mati,sementara suasana didlm gerbong padat dan sumpek luar biasa dgn penumpang dan tk.dagang.kebayang dong gmn rasanya…???hehehe….

  5. Hafiz 17 Februari 2010 pukul 12:09 · Balas

    Tidak ada kenangan paling indah selain naik kereta ekonomi. waktu zaman kuliah dulu, kalau ke Yogya saya selalu naik kereta ekonomi. Di sini kita akan melihat pertarungan sebenarnya yang ada di masyarakat. Intrik, tragedi…dan hiburan. Semuanya berbaur dalam sebuah perjalanan satu arah. Walau saat ini tidak pernah lagi naik kereta ekonomi selain ke Lebak-Rankasbitung, pengalaman naik kereta ekonomi membuat kita sadar bagaimana kenyataan-kenyataan yang ada di masyarakat. Baiklah Imam. Terimakasih berbagi pengalaman di Akumassa. Salam Hafiz.

  6. Chodri 17 Februari 2010 pukul 13:56 · Balas

    Tulisan ini mengingatkanku waktu mau ke lebak rangkas bitung, wah itu pertama kalinya ak naik kereta ..
    Aku menyangka naik kreta gak enak’ namun sekali naik ngerasa enak dan pengen lg..yah walaupun berdesak2 tp asyk

  7. koordinator program aku massa, forumlenteng 18 Februari 2010 pukul 15:32 · Balas

    tulisan yang bagus sekali, Imam. ada istilah : journalist is an intruder, tapi kita juga bisa melihatnya dari sisi yang sebaliknya, apa yang telah diproduksi oleh para jurnalis berguna bagi ilmu pengetahuan terutama soal pendataan dan pendokumentasian. yang dilakukan penulis di sini melakukan pendokumentasian peristiwa massa yang tidak banyak diproduksi oleh media pada umumnya.

    bagi saya secara pribadi, ada satu alinea yang sangat menarik : “Berarti firasatku kayaknya betul, copetnya itu wanita tadi, cuma dia enggak sendirian, waktu dia menjerit gara-gara anaknya terjepit tadi, itu sebenarnya cuma untuk mengalihkan perhatian, terus teman-temannya yang mengambil duitnya. Uangnya enggak sama dia, uangnya sudah sama temannya dibawa lari, makanya ibu tadi enggak menemukan uangnya waktu memeriksa tas-nya”, jawab bapak itu.

    mengingatkan saya pada novel2 detektif Agatha Christie, di mana ada seseorang yang menganalisa kejadian berdasarkan asumsi, untuk memecah sebuah misteri(biasanya peristiwa kriminal).
    lalu memperkuatnya dengan asumsi tambahan : “Iya, dia kayaknya tadi turun di Stasiun Bekasi, nah di situ dia bertemu sama teman-temannya,” jawabnya lagi. Aku membayang-bayangkan, sepertinya bisa jadi begitu.

    kemuadian dia memaparkan landasan argumennya : “Karena saya dulu pernah jadi pedagang asongan, cuma saya dulu di bis, ya kira-kira sama lah trik copet-copet di bis juga ada yang begitu,” dia menambahkan.

    kemudian saya memposisikan diri sebagai pembaca yang mencoba membayangkan cara berpikir Hercule Poirot atau Miss Marple, misalnya, saya akan bilang begini : mungkin si bapak yang ngomong itulah pelakunya. dia coba meyakinkan semua orang dengan argumennya sebagai alibi.

  8. sdj 18 Februari 2010 pukul 19:43 · Balas

    pujian untuk catatn ini memang begitu adanya. terimaksih mas imam, atas catatanmu yang begitu mengalir seperti keringat dan laju kakai-kaki penumpang yang lepas begitu saja dalam gerbong kelas ekonomi.
    -salam dari lebak-
    aboysirait

  9. akbar yumni 18 Februari 2010 pukul 20:40 · Balas

    ketika di cirebon,,,ada nasi rames.. ketika di purwokerto.. ada pecel… jg lupa lewat terowongan ijo yang bersejarah itu… diantara jogja dan solo pun ada pengamen silih berganti,, dan ewer2 ember….naik kereta ekonomi nampaknya bukan pengalaman lagi, tapi udah jadi hafalan…pengulangan itu masih saja terjadi di kereta ekonomi, nasi rames, pecel, pengamen…adakah pengalaman lainnya??? karena di jawa sang waktu berhenti,,, seperti apa yag diucapkan russel wallace berikut para mooi indie nya…sehingga yang ada bukan ingatan lagi..tapi sudah menjadi keniscayaan…sampe-sampe masih perlukah pengalaman itu?? itu pun jika ada, selain turisme.. semoga saja membedakan pengalaman dan turisme…lagi2 apa daya terhadap keniscayaan…. tabik

  10. rekamdanmainkan 18 Februari 2010 pukul 20:54 · Balas

    Perjalanan yang sangat melelahkan. Semalam berada di dalam Kereta Bengawan, berdesak-desakan dengan para penumpang, dihiasi dengan suara-suara para pedagang dan pengamen. Tiba-tiba telepon genggamku bergetar. “Sudah sampai mana, Dik?” sebuah pesan singkat datang dari ayahku. “Ini sudah sampai stasiun Lempuyangan, Jogja. 30 menit lagi mungkin sudah sampai Klaten..” Aku membalasnya.

    terharu… keren banget tulisannya. salam untuk keluarga di Klaten. Kami menunggu cerita menarik lainnya…

  11. enie 19 Februari 2010 pukul 10:20 · Balas

    belum pernah naik kereta tp udah sering baca tentang pengalaman orang y naik kereta…kapan ya bisa naik kereta?

  12. Imam FR 19 Februari 2010 pukul 15:17 · Balas

    Terimakasih kepada semua yang telah mengomentari tulisan ini..

    untuk koordinator program aku massa, forumlenteng:
    Aku ingin melakukan pembelaan atas asumsi Anda yang berdasar pada cara perpikir Hercule Poirot atau Miss Marple itu terhadap seorang penumpang yang berada tepat di depanku.
    Penumpang itu bukanlah alibi, dia orang baik-baik, pekerja keras di bidang ukir dan patung dari Ceper Klaten yang mengadu nasib ke jakarta untuk mempertahankan hidupnya.
    Pada saat keributan itu terjadi, dia tepat berada di depanku dan tidak bergerak ke mana pun. Hanya saja dia mengamati dengan betul kejadian itu. jarak tempat duduk kami dengan tempat kejadian juga lumayan jauh, yaitu sekitar 4 meter.
    jadi apabila dipikir-pikir lagi dengan rasionalitas logika, kemungkinan kalau dialah yang justru sebagai pencopetnya, itu tidak rasional.

  13. koordinator program aku massa, forumlenteng 19 Februari 2010 pukul 18:07 · Balas

    haha…imam akhirnya terjebak masuk ke dalam romantisme kisah detektif.
    oke imam..komentar terdahulu tidak menuduh siapapun yang ada di kisahmu sebagai pencopet. bahkan juga tidak pada ibu yang anaknya terjepit.
    saking baik dan menariknya kamu bertutur dan mendapatkan semua momen melalu foto2, menggiring pembaca pada ingatan-ingatannya masing2.kita sebut saja ingatan massa. dan ingatan massa pasti beragam. salah satunya, tulisan kamu mengingatkan pada bacaan masa kecil tentang cara2 para detektif amatir dan beberapa orang biasa yang bisa membantu polisi untuk memecahkan misteri yang rumit, dengan logika2 yang dibuat oleh pengarangnya seperti kemungkinan yang bisa dihasilkan oleh mata dadu.

    ok, mam?

  14. Imam FR 20 Februari 2010 pukul 19:10 · Balas

    untuk koordinator program aku massa, forumlenteng:

    hehe..okz, Aku juga tidak bermaksud menyalahkan komentar sebelumnya. Namun hanya mengkritisi sebuah asumsi.

    Biarlah para pembaca membuat bingkaian-bingkaian imajinasinya sendiri setelah membaca tulisan ini.

  15. anib 28 Februari 2010 pukul 13:31 · Balas

    hahahahahahaha toph deh mam

  16. heri 14 Mei 2010 pukul 09:33 · Balas

    perlu waspada klo naik kendaraan umum, meskipun telah ditertibkan para pengemis, pengamen, dsb, kita tetep mesti waspada.

  17. Imam FR 28 Mei 2010 pukul 15:06 · Balas

    Begitulah Her..betul sekali

  18. sukron_mgl 23 Juni 2011 pukul 23:27 · Balas

    jadi mau coba kereta bengawan, biasanya naik progo

  19. sukron_mgl 23 Juni 2011 pukul 23:28 · Balas

    mantap jd mau nyoba Ka bengawan

  20. Yeni E 24 Desember 2011 pukul 07:09 · Balas

    asyik tpi meski hati2 ya,,

  21. Agoes Buyut Mbah Dul 8 Januari 2013 pukul 14:42 · Balas

    kaya aku kemarin tapi aku menuju bekasi

Lacak balik untuk tulisan ini

  1. A Story about a Journey on the Bengawan Train | ( akumassa )

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2010 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //