Ki Akhamadi, Dalang Wayang Golek Cepak

Oleh / pada 5 April 2010 / di Indramayu, Jawa Barat // 10 Komentar

Ki Akhamadi adalah salah satu tokoh dalang wayang golek cepak Indramayu yang  berumur 63 tahun. Ki Akhamadi merupakan generasi ke 5 penerus dalang wayang golek cepak, leluhurnya yaitu Ki Pugas, Ki Warya, Ki Koja, Ki Salam. Hingga saat ini Ki akhamadi masih aktif dalam  berkesenian, walaupun dalam keseharian ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sebagai Imam masjid.

Ki Akhamadi, dalang wayang golek cepak Indramayu

Ki Akhamadi, dalang wayang golek cepak Indramayu, sedang membaca naskah kuno perwayangan

Wayang golek cepak yang selama ini menjadi alat berkesenian  dan juga sebagai sumber kehidupannya, tampak mulai lesu di dalam kancah kebudayaan. Jika di ihat sekarang masyarakat lebih cenderung menampilkan bentuk-bentuk kesenian yang lain dalam konteks event. Sebut saja masyarakat lebih menyukai organ tunggal yang sifatnya lebih praktis dan modern ketimbang wayang golek cepak yang dalam pelaksanaanya lumayan repot, dikarenakan banyaknya alat atau nayaga. Nayaga adalah pemain gamelan pada sebuah pagelaran wayang golek cepak.

Ki Akhamadi memainkan duplikat wayang Garuda (wayang aslinya sudah terjual)

Ki Akhamadi memainkan duplikat wayang Garuda (wayang aslinya sudah terjual)

Karena lesunya minimnya perhatian dan apresiasi masyarakat terhadap  pagelaran wayang golek cepak, Ki Akhamadi semakin terpuruk dalam mengisi beras di rumahnya. Sampai beliau terpaksa menjual beberapa tokoh wayang golek cepak asli yang dia punya, seperti tokoh wayang golek Hanoman, Naga, Garuda, Menak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun beliau tidak menjual seluruh wayang golek cepak yang asli (warisan dari nenek moyangnya), hanya beberapa saja. Beliau juga sempat menjual beberapa peti wayang golek cepak ke negara lain,  diantaranya Belanda dan Jepang,  tetapi itu pun bukan wayang golek asli melainkan duplikat, yang di pesan di Desa Gadingan, Indramayu.

Duplikat Hanoman (wayang aslinya sudah dijual)

Duplikat Hanoman (wayang aslinya sudah dijual)

Gunungan, salah satu jenis wayang golek cepak

Gunungan, salah satu jenis wayang golek cepak

Dua wayang golek cepak dipegang oleh keponakan Ki Akhamadi. Kini wayang tersebut juga telah dijual

Dua wayang golek cepak dipegang oleh keponakan Ki Akhamadi. Kini wayang tersebut juga telah dijual

Dalam silahturahmi ke rumah beliau saya mengabadikan salah satu aset artikel yang sangat menarik, yakni naskah kuno tahun 1310 Hijriyah yang  lumayan masih bisa terbaca, 1 peti wayang golek warisan turun temurun dan 1 peti wayang golek duplikat.

Rumah Ki Akhamadi

Rumah Ki Akhamadi

Naskah kuno wayang golek cepak

Naskah kuno wayang golek cepak

Tahun 2009 lalu Ki Akhamadi jatuh sakit sampai beberapa bulan lamanya, beliau merasa panas, dingin disertai batuk-batuk. Karena sakit yang berkepanjangan dan perlu terus berobat terpaksa 1 set gamelan dijual seharga 15 juta ke sesama dalang yang ada di Indramayu. Walaupun begitu, Ki Akhamadi tetap menjalankan profesinya sebagai dalang jika beliau mendapatkan kesempatan untuk mendalangi sebuah pagelaran wayang golek cepak Indramayu. Beliau meminjam gamelan dan beberapa nayaga dari teman-teman dalang lainnya.

Wayang golek cepak yang masih terawat disimpan dalam peti

Wayang golek cepak yang masih terawat disimpan dalam peti

Pelengkap dalam pewayangan

Pelengkap dalam pewayangan

Ki Akhamadi belum bisa menitiskan ilmu pewayangan wayang golek cepak . Ketika saya bertanya sebabnya, beliau menjawab bahwa hingga saat ini belum ada orang yang cocok untuk menerima ilmu pewayangannya. Dan alasan yang paling utama kenapa belum ada penerusnya, karena beliau sendiri tidak diberikan keturunan laki-laki.

Foto: Iskandar Abeng

Tentang Penulis

Iskandar Abeng

Pria yang menetap di Cirebon ini dilahirkan pada tanggal 8 Mei. Ia memiliki ketertarikan pada karya seni dan budaya.

10 Komentar pada "Ki Akhamadi, Dalang Wayang Golek Cepak"

  1. manshurzikri (tooftolek) 7 April 2010 pukul 21:16 · Balas

    sungguh sangat disayangkan apabila seni wayang golek cepak ini tidak ada yang meneruskan…

  2. ruyat 10 April 2010 pukul 14:40 · Balas

    aku bener2 terkesan dengan Indramayu, saya baru tau bahwa Indramayu ternyata memiliki banyak Orang Tua yang masih punya banyak jiwa seni. From Wong reang Segeran Indramayu.

  3. wasdi 17 Agustus 2010 pukul 17:33 · Balas

    sedih sekali. padahal saya selalu duduk depan panggung kalu wayang cepak di gelar di sekitar desa saya. sekarang saya pingin memiliki koleksinya. tapi nyari dimanaya? ada yang bisa bantu saya?

  4. guntur 20 Oktober 2010 pukul 22:28 · Balas

    sedih…… , prihatin saya?? kenapa saya jadi nangis gini…….??

  5. gondes 12 November 2011 pukul 08:02 · Balas

    mas, mba, bu, pk.jika ada yang berkenan, tolong ktemukan saya dengan pmilik atau pewaris wayang golek atau naskahnya. ke 081392232004/087828978759.hata

  6. Farah 13 Desember 2011 pukul 07:51 · Balas

    Saat ini saya sedang meneliti tentang wayang golek untuk diaplikasikan sebagai alat peraga di taman kanak-kanak. Sedih sekali membaca artikel ini, miris. Makanya saya sangat ingin mempertahankan keberadaan wayang golek Indonesia. Salut untuk Ki AKhamadi, beliau adalah salah satu pahlawan indonesia yang mempertahankan keberadaan wayang golek cepak.

  7. akumassa 19 Desember 2011 pukul 06:52 · Balas

    Teman-teman pembaca, harap ditunggu jawaban dari pertanyaan teman-teman yang belum terjawab ya. akumassa sudah menghubungi narasumber.

    Terima kasih, salam akumassa

  8. dissy ekapramudita 22 Agustus 2012 pukul 08:45 · Balas

    halo salam kenal pak Iskandar,
    nama saya dissy ekapramudita, saya fotografer dari jakarta. saya sedang membuat sebuah buku ttg jawa barat bersema sebuah penerbit. saya mau menanyakan alamat pak ki akhamadi, bisa kah saya mendapatkannya? terima kasih

  9. Ki Jaka Ireng 17 Juli 2013 pukul 21:39 · Balas

    Sy sbagai adik skandung dgn kk (Ki Akmadi) merasa sdih sbb wayang golek cepak ada yg terjual 4 buah itu (Buta Naga, Hanoman, Garuda, Lamsijan) itu wayang kuna. Tadinya memang ada orang yg brminat membeli 1 kotak (waktu itu masih ada ibu saya) dgn penawaran 40 juta sdangkan kk sy dgn menjual 50 juta. Dia (pembeli) memberikan uang muka 7 juta dgn membawa 4 wayang itu sbagai jaminan. Knapa kk sy juga ibu menjualnya? krn trdesak kebutuhan ekonomi disbbkan juga jarangnya manggung, sdangkan ibu sy mendorongnya utk dijual (krn memang kk sy tdk punya anak laki-laki) cuma firasat sy waktu itu yg punya wayang datang. Pas hari yg ditentukan pembeli datang sore hari klau tdk slh kamis sore jum’at, sdangkan yg pegang/membawa kunci rumah adlh sy. Dari kjauhan pembeli dtng, sy pun pergi ke kuburan leluhur krn yg punya wayang juga datang. Trus, sy pergi ke orangtua bisa juga sy anggap guru, sy bicarakan duduk prmasalahan, knyataanya memang iya, wayang tidak bolh dijual, pd saatnya nanti ada yg menggantikan. Entah siapa? Sy pun membawa kk sy pd “orang ngerti” yg paham dunia pewayangan msih wilayah kecamatan Cikedung (desa dan blok maaf tdk sy sbutkan), knyataanya? wayang warisan leluhur tidak boleh dijual. Sy masih penasaran juga, ditnyakan kembali pd orang yg ngerti tpi paham dunia pewayangan (msih dkat dgn wilayah kota Indramayu, pun tidak boleh dijual krn warisan leluhur. Tapi, kok knapa kk sy tdk peka dgn leluhur yg punya wayang sbgai dalang wayang pemilik awal?

  10. Syahwan Rama 16 September 2013 pukul 00:27 · Balas

    Assalamualaikum,,perkenalkan saya Rama dari Pamiarta Wayang Golek
    saya mohon minta alamat serta no telp yang bisa saya hubungi kepada ki Dalang Akhmadi untuk sebuah acara yang rencanaya akan di gelar di Bandung,,silakan hub, saya di 081802142680 atau pin BB 30EBD2DC atas segala bantuanya saya ucapkan terima kasih

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2010 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //