Sore Tugu Pancoran

Oleh / pada 2 Maret 2010 / di DKI Jakarta // 7 Komentar

…Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu

Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu

Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal…

Lirik lagu milik Iwan Fals ini sering sekali terdengar olehku, dari suara vokal dan gitar seadanya oleh pengamen jalanan, atau pun dari suara teman-temanku ketika bernyanyi bersama, yang juga seadanya. Mulanya ku kira lagu ini berjudul ‘Anak Sekecil Itu’, maklum saja aku tak pernah mendengarnya melalui versi lengkap yang dinyanyikan Iwan Fals. Ternyata lagu ini berjudul ‘Sore Tugu Pancoran’.

Tiap kali mendengar lagu ini, ada satu perasaan yang hadir menyelimuti hatiku, yaitu tragis. Kenapa? Karena lagu ini berkisah tentang anak kecil bernama Budi yang harus bekerja sebagai penjual koran sore di kawasan Pancoran, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ia melakukannya demi tetap dapat bersekolah dan mengenyam pendidikan untuk menggapai cita-cita.

Wilayah Pancoran dipadati kendaraan bermotor

Wilayah Pancoran dipadati kendaraan bermotor

Ironis sekali Iwan Fals menggunakan nama Budi untuk tokoh anak jalanan penjual koran dalam lagunya itu. Padahal saat sekolah dasar, aku selalu mengenal tokoh Budi, Wati, Ayah dan Ibu yang ada di buku Bahasa Indonesia sebagai tokoh yang mencitrakan keluarga Indonesia yang baik dan ideal. Mungkin kamu pun begitu, belajar membaca dengan mengeja “I-ni Bu-di”, “Bu-di ber-ma-in bo-la”, “I-bu Bu-di se-dang me-ma-sak”, “Wa-ti be-la-jar me-nga-ji”. Ternyata Budi yang ada di lagu tersebut tidak seideal Budi yang ada di Buku Bahasa Indonesia. Dalam memberi nama tokoh tersebut, Iwan Fals seakan mengingatkan kita bahwa Budi yang merupakan ikon ideal anak Indonesia dalam pelajaran sekolah, pada kenyataannya tidak selalu baik nasibnya. Bahkan Budi yang dikisahkan dalam lagu Iwan Fals tak sempat menghabiskan waktunya untuk bermain bola atau belajar mengaji. Dan kepada pemerintah, Iwan Fals seakan menyampaikan sindirannya mengenai figur anak Indonesia yang sebenarnya. Yaitu yang berada di bawah garis kemiskinan.

Dalam imajinasiku, mudah sekali membayangkan seorang Budi kecil, berjualan Koran di saat lampu merah walaupun hari sedang hujan, karena sering terlihat olehku sosok Budi Budi yang lain, yang juga masih kecil, yang juga berjualan Koran dan terkadang masih memakai seragam sekolah.

Patung Dirgantara yang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran

Patung Dirgantara yang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran

Lagu tentang nasib anak jalanan itu dibuat oleh Iwan Fals pada 1985 yang juga merupakan masa Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto. Pada masa Orde Baru pemerintah dianggap otoriter dan mengurung rakyat Indonesia dari kebebasan menyuarakan aspirasi dan mendapatkan hak mereka, termasuk para jurnalis dalam mempublikasikan berita, terutama tentang keadaan pemerintahan saat itu. Namun hingga kini, 2010,  saat Reformasi telah menggema dan Orde Baru telah menjadi sejarah dan kenangan, masih banyak aku dan mungkin kamu jumpai para anak jalanan seperti sosok Budi dalam lagu Iwan Fals. Padahal seperti yang diharapkan dari sebuah Reformasi, seharusnya rakyat Indonesia bisa lebih sejahtera dan memiliki kebebasan untuk mendapat hak-haknya. Termasuk hak mendapat pendidikan yang layak bagi anak-anak seperti yang dinyatakan dalam pasal 9 (1), UU 23 tahun 2002. Nyatanya, jumlah penduduk Jakarta yang ada di bawah garis kemiskinan saat ini masih tinggi, yaitu mencapai 323,17 ribu jiwa, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) DKI.

Bicara Jakarta, sepertinya menarik juga jika berbicara tentang Pancoran, yang disebutkan dalam lagu Iwan Fals tersebut. Kawasan ini adalah salah satu jalan protokol di Jakarta. Di Pancoran, ada sebuah patung raksasa yang hampir sama terkenalnya dengan Monas, yaitu Patung Pancoran. Aku ingat ketika temanku yang berasal dari luar kota baru pertama kali datang ke Jakarta. Aku memberitahunya bahwa kita sedang berada di wilayah Pancoran, spontan ia bertanya “Mana patungnya? Mana Patung Pancoran-nya?”

Wilayah Pancoran tempo dulu (1970-an)

Wilayah Pancoran tempo dulu (1970-an)

Patung Pancoran berdiri sejak 1965. Patung ini mengarahkan jarinya menunjuk ke arah utara, hal ini kemudian menjadi pertanyaan dan teka-teki di masyarakat. Jawabannya pun beragam. Ada yang mengatakan Patung Pancoran menunjuk ke arah Sunda Kelapa, yang dahulu menjadi pusat pemerintahan Indonesia saat masih dijajah Belanda. Ada pula yang lebih menarik, sebagian orang mengatakan arah tangan Patung Pancoran menunjuk kepada tempat Mantan Presiden RI, Soekarno, menyimpan harta karunnya. Karena saat proses pemasangan patung raksasa itu, Bung Karno mengawasi langsung prosesnya. Mungkin Bung Karno ingin arah patungnya benar-benar tepat ke arah yang diinginkan, pikirku. Tak terbayang betapa repotnya aparat negara menjaga keamanan Bung Karno saat itu.

Patung Pancoran sebenarnya memiliki nama asli Patung Dirgantara. Terletak di bundaran Jalan Jenderal Gatot Subroto, tepatnya di seberang Wisma Aldiron yang dahulu merupakan Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia. Karena letaknya di daerah Pancoran, maka patung ini lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran. Nama Pancoran sendiri berasal dari kata Pancuran. Pada tahun 1670 di daerah tersebut dibangun semacam waduk tempat penampungan air dari Kali Ciliwung, yang dilengkapi dua buah pancuran yang mengucurkan air dari ketinggian kurang lebih 10 kaki.

Dari tempat itu kelasi- kelasi (awak kapal) biasa mengangkut air untuk kapal–kapal yang berlabuh agak jauh di lepas pantai, karena di Pelabuhan Batavia kapal tidak dapat merapat. Karena banyaknya yang mengambil air dari Pancoran, sering kali mereka harus antri berjam – jam. Sebagian dari awak kapal tersebut sering juga memanfaatkan kesempatan itu untuk menjual barang–barang yang mereka selundupkan. Seiring waktu daerah tersebut lebih akrab dengan nama Pancoran daripada Pancuran.

Keadaan Pancoran saat ini, macet dan dilintangi oleh jalan layang

Keadaan Pancoran saat ini, macet dan dilintangi oleh jalan layang

Patung Pancoran dirancang oleh Edhi Sunarso, dan dikerjakan oleh Keluarga Arca Yogyakarta dengan pimpinan Edhi Sunarso. Proses pembuatannya memakan waktu lama, yaitu sejak tahun 1964-1965, maklum saja ukuran patung ini begitu besar. Patung Pancoran memiliki tinggi 11 meter dan terbuat dari 11 ton perunggu. Landasan patung berbentuk lengkungan dari beton setinggi 27 meter. Menurut isu yang beredar di masyarakat, patung ini dibiayai pembuatannya oleh uang pribadi Bung Karno, sampai beliau rela menjual mobilnya. Benar atau tidaknya sampai kini isu tersebut masih menjadi debat kusir saja.

‘Sore Tugu Pancoran’ merupakan salah satu soundtrack dari film ‘Damai Kami Sepanjang Hari’. Saat aku melihat videoklip ini di youtube, gambar yang muncul mengiringi lagu adalah potongan dari film tersebut.  Kita bisa melihat keadaan wilayah Pancoran beserta Patung Dirgantara saat tahun 1985, yang merupakan tahun dibuatnya film itu. Wilayah Pancoran tahun 1985 jauh berbeda jika dibandingkan dengan keadaan Pancoran saat ini. Dahulu Patung Pancoran masih bisa terlihat dari dasar hingga puncak patungnya, namun kini, penglihatan kita harus terpotong-potong oleh lekukan-lekukan jalan layang di Pancoran jika ingin melihat Patung Pancoran tersebut. Maklum saja, kendaraan bermotor yang tak pernah berkurang membuat Pancoran dan sejumlah wilayah lainnya di Jakarta meminta bantuan kepada jalan layang, untuk mengurangi kemacetan lalu lintas.

Cover Film 'Damai Kami Sepanjang Hari'

Film ‘Damai Kami Sepanjang Hari’ disutradarai oleh Sophan Sophian dan diproduksi tahun 1985. Film ini tidak jauh berbeda dari film Indonesia pada umumnya. Kisahnya pun mudah ditebak dan berakhir dengan happy ending. Film ini menjadi menarik karena adanya Iwan Fals yang menjadi pemeran utama serta lagu-lagunya yang mengiringi film tersebut. Diantaranya ‘Damai Kami Sepanjang Hari’, ‘Sore Tugu Pancoran’, dan ‘Sumbang’.

Dalam film tersebut tokoh Iwan yang merupakan siswa SMA dengan setumpuk tanggung jawab ekonomi sebagai tulang punggung keluarganya diperankan oleh Iwan Fals. Mirip dengan kisah Iwan Fals dalam kehidupan nyatanya yang sempat menjadi pengamen, Iwan dalam film ‘Damai Kami Sepanjang Hari’ juga menjadi pengamen sebelum akhirnya ia dilirik oleh seorang produser musik.

Iwan Fals lahir di Jakarta pada 3 September 1961. Nama aslinya adalah Virgiawan Listanto. Ayahnya adalah seorang Kolonel Anumerta bernama Haryoso dan Ibunya bernama Lies. Iwan menjalani masa kecilnya di Bandung dan sempat tinggal di Jeddah bersama saudaranya. Meskipun anak seorang Kolonel, hidup di jalanan sebagai pengamen sempat ia lakoni sebelum masuk ke dapur rekaman. Mayoritas lagu-lagunya selalu menjadi hits dan akrab di telinga masyarakat saat itu hingga saat ini. Walaupun tidak banyak, aku cukup mengenali beberapa lagunya, di antaranya ‘Surat Buat Wakil Rakyat’, ‘Ibu’, ‘Bento’, ‘Pesawat Tempur’, ‘Oemar Bakrie’, ‘Galang Rambu Anarki’, ‘Damai Kami Sepanjang Hari’, ‘Belum Ada Judul’, dan lain-lain. Lirik-lirik lagunya mayoritas bercerita tentang situasi sosial masyarakat Jakarta, kemiskinan, pendidikan, sampai sindiran terhadap pemerintah. Semasa Orde Baru beberapa lagu Iwan Fals sempat tidak berani diterbitkan oeh perusahaan rekaman karena dinilai terlalu keras mengkritik pemerintahan. Begitu pula konsernya, beberapa diantaranya sempat disabotase dan bahkan digagalkan.

Iwan Fals

Iwan Fals

Dalam lagu-lagunya, Iwan Fals secara sadar atau tidak sudah menuangkan rekaman ingatannya sebagai seseorang yang hidup di Jakarta dan tentang massa yang ada di sekitarnya ke dalam lagu-lagu yang diciptakannya. Seperti kisah Budi penjual Koran yang ada pada lagu ‘Sore Tugu pancoran’.

Foto: Agung Natanael & berbagai sumber

Video:

www.youtube.com

http://ilalangsenja.multiply.com/video/item/41/Film_IWAN_FALS_Damai_Kami_Sepanjang_Hari_01

 

Tentang Penulis

Mira Febri Mellya

Perempuan kelahiran Jakarta pada tanggal 22 Februari 1990 ini telah menyelesaikan studi strata satu di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Sebelumnya ia telah aktif sebagai fasilitator program worskhsop akumassa di beberapa kota bersama komunitas dampingan. Sekarang ia menjadi wartawan aktif di majalah Gatra.

7 Komentar pada "Sore Tugu Pancoran"

  1. eta 3 Maret 2010 pukul 11:23 · Balas

    wah coba pancoran kyk th 70 dan 80 an itu ya….enak bnget pastinya jalan disitu…

  2. aads 3 Maret 2010 pukul 13:26 · Balas

    oke..

  3. Sibawaihi An-nuha 3 Maret 2010 pukul 23:37 · Balas

    Neh tulisan menggairahkan…. Keren…. bang Iwan kalo baca pasti seneng neh…. O.I……. Oke Indonesia…..

  4. daviddarmadi 3 Maret 2010 pukul 23:40 · Balas

    liat patung pancoran, jadi ingat waktu diantar pulang sama Da Man naik taksinya dari lenteng agung ke bandara sukarno-hatta. Da Man sempat cerita, setiap orang yang datang ke Jakarta kalau sudah liat patung Pancoran itu tandanya sudah berada di Jakarta. Tapi sampai kapan ya patung Pancorannya berdiri kokoh dengan jarinya yang menunjuk ke arah utara ?. 10 atau 20 tahun seperti apa lagi ya perubahan yang terjadi di kawasan Pancoran ?

  5. galih rambu robani 21 Mei 2010 pukul 04:25 · Balas

    i love iwan fals

  6. OMEN 10 Agustus 2010 pukul 23:25 · Balas

    AH POKONAMAH HIRUP AINGMH SAKABEH KBEH KEUR KANG IWAN ################antarA aku DAN BEKAS pacarmu################# BY:omen:theE
    banjaran

  7. abdee 15 Oktober 2010 pukul 11:35 · Balas

    lihat² disana sini perubahan kini cpat sekali

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2010 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //