Sebilah Pedang Bambu dan Kain Perca Pengikat Kepala

Oleh / pada 13 Februari 2011 / di DKI Jakarta // 8 Komentar

Dengan sebilah pedang bambu dan kain perca pengikat kepala, saya merasa begitu keren untuk ajakan bertarung ketika itu. Musuh saya yang bertameng triplek juga tak kalah keren. Senjatanya mautnya; seutas cambuk pelepah pisang kering yang sudah berkali-kali dilecut-lecutkannya ke udara. Hanya sedikit basa-basi dan sepertinya pertarungan harus segera dimulai. Maka kami pun saling serang, saling elak. Sebuah pertempuran tengah terjadi–berjibaku dalam fantasi sebuah sekuel sandiwara radio.

Serial sandiwara radio Mantra Naga Bumi

Serial sandiwara radio Mantra Naga Bumi

Ya, pokoknya itu sudah lama sekali. Ketika dunia persilatan Nusantara masih berjaya di segala media, dan dimana masa bocah saya bergelut dengan indah di sana. Jauh di 7 Kilometer pusat Kota Bukittinggi, di dinginnya hawa lereng Gunung Marapi.

Ada Arya Kamandanu, Pendekar Syair Berdarah, Rangga Geni, Mantili, Satria Madangkara, Pedang Naga Puspa, Elly Ermawatie dan Ferry Fadly. Nama-nama itu begitu akrab di telinga, karena saban hari di setiap rumah bak berlomba memutar sandiwara silat di radionya dengan volume bersaing. Apakah Anda masih ingat ucapan Mpu Tantular dengan pedang Naga Puspa di setiap pembukaan sandiwara kolosal Tutur Tinular dan Mahkota Mayangkara? Saya sudah agak lupa, tapi saya masih sangat hafal dengan yang satu ini; Mantra kondang jurus Segara Geni: Siro ratuning geni, siro kang anguasaning lakuning geni, jagad iro jagad geni, langit iro langit geni segoro niro segoro geni. Hehe..

Saur Sepuh (versi filem)

Saur Sepuh (versi filem)

Sebagaimana diketahui, sandiwara radio juga banyak difilemkan. Saya pernah menonton Saur Sepuh di bioskop. Cuma filem silat semacam itu yang diperbolehkan untuk anak-anak dan kesempatan seperti itu hanya ada sekali-sekali saja. Hari-hari biasa, kebanyakan filem untuk orang dewasa dengan judul dan poster seronok. Oh ya, sekarang bioskop itu sudah bangkrut. Bioskop Sovya namanya, sekitar 200 Meter dari Jam Gadang. Eh, Bagaimana kabarnya Bioskop Eri? Saya pernah nonton filem Tarzan di sana. Tarzannya jago silat, diperankan oleh Barry Prima.

Barry Prima dalam filem Tarzan

Barry Prima dalam filem Tarzan

Lainnya di layar tancap, di lapangan bola. Waktu itu filem Satria Bambu Kuning yang diperankan oleh Advent Bangun. Mereka para penonton harus berbalut jaket tebal atau sarung untuk menahan dingin di malam yang berkabut, karena berada di lereng Gunung Marapi, malam adalah saat dingin menerkam. Menonton dengan kedinginan, segera terasa hangat oleh tayangan di layar tancap yang penuh adegan aksi.

Satria Bambu Kuning (1985)

Satria Bambu Kuning (1985)

Sepulangnya menonton rasanya saya jadi susah sekali tidur. Saya merasa terganggu oleh imajinasi liar saya. Wuih, kegagahan seorang pendekar memang begitu mempesona. Saya terpukau, membayangkan, bagaimana hebatnya jika sayalah sang pendekar hebat di filem itu. Besoknya saya mencari potongan bambu, merautnya dengan bagus lalu belajar memutar-mutar dengan tangan seperti senjata tongkat di filem. Tentu saja sambil menghayalkan diri sebagai Sang Satria Bambu Kuning yang tengah menghajar musuh-musuhnya. Saya ingin menjadi pendekar!

Kadang-kadang perlu bolos mengaji untuk nonton filem silat di TVRI. Untuk bisa menonton, saya mesti mendatangi rumah tetangga yang paling gampang dibohongi. Bilang saja kalau saya sudah pulang mengaji, tetangga itu percaya, lalu saya tinggal duduk menonton dengan manis. Hanya keesokan harinya, akibat bolos mengaji untu pergi menonton, saya harus membuka telapak tangan untuk dipukul Pak Ustad dengan rotan kesayangannya. Rotan Pak Ustad itu, menurut saya, bak tongkat guru silat sakti yang sedang memberi pelajaran kepada muridnya yang abai dalam menjalankan tugas menegakkan kebenaran.

Waktu itu memang cuma ada TVRI dan belum banyak yang punya TV berwarna. TV di rumah saya masih hitam-putih dan konon berumur lebih tua dari saya. Merknya National, 17 inchi.

Saya tidak sendirian. Hari-hari sepulang sekolah bersama teman-teman, selalu bermuat debat tentang petualangan pendekar-pendekar gagah yang mengembara ke luar-masuk rimba, senjatanya yang sakti dan jurus pamungkas nan dahsyat; semuanya yang hidup dari menonton atau mendengar radio. Bolehlah dengan sedikit bumbu, atau kalau bisa sekalian dengan mempraktekkan mantra, jurus hingga adegan sekaratnya segala. Kami selalu antusias untuk saling menyimak dan tak peduli apakah semua cerita itu terlalu berlebihan. Kami tidak peduli apakah cerita itu sama-sama kami ketahui karena sama-sama menonton. Yang terpenting adalah, pendekar dan dunia persilatan itu selalu hidup di kepala kami, dan kami gembira karena itu. Bagi kami, setiap bualan seru berarti fantasi yang melonjak-lonjak.

Teman saya membual, abangnya punya jurus maut yang sanggup merubuhkan Pohon Surian dengan sekali hantam. Teman lain tak mau kalah, dia bercerita tentang kakeknya yang punya piaraan inyiak alias Harimau ‘jadi-jadian’ yang memenangkan perkelahian dengan empat maling berkain sarung! Di rumah, saya pun mulai menggambar pendekar ciptaan sendiri atau membaca koleksi komik berulang-ulang. Siapa tahu saya menemukan cerita yang lebih menegangkan untuk diceritakan besok, sepulang sekolah.

Bayangkan, saya punya se-peti komik.

Era 60-80-an adalah masa emas komik Indonesia. Terlahirlah Si Buta dari Goa Hantu ketika itu. Dan mungkin Anda juga tak akan lupa; ada Jaka Sembung, Panji Tengkorak ataupun Mahesa Jenar. Banyak lagi.

Si Buta dari Goa Hantu

Si Buta dari Goa Hantu

Saya biasanya mendapatkan komik-komik silat itu dalam satu bundelan tebal, biasanya dikarang sekaligus digambar oleh satu orang saja. Terdiri dari 2 panel per halaman yang sedikit lebih kecil dari ukuran A5. Ada juga yang seukuran majalah. Lebih tipis namun panel per-halamannya lebih banyak. Yang bekas dan masih berejaan republik saya dapatkan di Pasar Lereng Bukittinggi, tempat orang menjual buku loakan.

Komik 2 panel per halaman, karya Kelana

Komik 2 panel per halaman, karya Kelana

Dulu hampir setiap koran punya komik silat bersambung. Setiap bertemu koran, saya langsung mencari halaman komiknya. Seperti komik bundelan, komik itu hitam-putih bertinta Cina dan masih perawan dari aplikasi digital. Beberapa sempat saya kliping di kertas duplikator, terjilid sederhana lalu tersusun rapi bersama komik-komik yang bukan berbentuk kliping ke dalam sebuah peti. Peti? Ya, saya sangat senang punya ruang privasi seperti peti. Peti selalu saya gembok. Gemboknya besar. Kuncinya masuk saku, saya bawa kemana-mana. Saya takut, ‘harta’ saya itu hilang dicuri atau dipinjam oleh entah siapa.

Saya punya puluhan komik-komik bekas terbitan Gramedia, Rajawali Graffiti, Grasindo dan lain-lain. Tidak ketinggalan, hampir seluruh komik Petruk-Gareng karya Tatang S, saya juga punya. Komik Petruk-Gareng kadang-kadang lumayan porno. Saya suka, teman-teman saya juga suka.

Jangan bawa komik ke sekolah! Kalau ketahuan, komik bisa disita Ibu Guru dengan alasan komik tidak baik dan mengganggu belajar. Selanjutnya komik sitaan bakal jadi bacaan rebutan bagi guru-guru lainnya di kantor majelis guru. Atau begini, Ibu Guru akan membawa pulang komik tersebut sebagai buah-tangan bagi anaknya di rumah. Adalah pada suatu hari yang naas, ketika saya mengalami sekaligus memergokinya, saudara-saudara. Komik saya yang disita itu, telah dimiliki anak salah seorang guru. Duh, Rasanya ingin sekali membuat ketapel!

Beberapa tahun saya sempat langganan Majalah Ananda yang terbit setiap hari Kamis. Isinya penuh gambar ilustrasi dan komik bersambung yang bagus. Saya mengagumi NBC Sukma dengan komik cat air-nya; Buyung Kilat dan 3 Jagoan. Apalagi setting ceritanya yang juga sampai ke Sumatera Barat, saya merasa begitu dekat. Asmadi, Wid NS, Gerdi WK, Teguh Santosa, semua gambarnya saya suka. Tidak ada yang porno.

Majalah Ananda

Majalah Ananda

Suplemen komik di Majalah Ananda, karya Jan Mintaraga

Suplemen komik di Majalah Ananda, karya Jan Mintaraga

Majalah Bobo terbit setiap hari Jumat, juga bagus. Tapi saya tidak punya.

Bayangkan: saya punya satu rak novel silat.

Berawal dari sekardus Wiro Sableng karya Bastian Tito, kiriman  dari paman saya di Jakarta, saya yang baru duduk di bangku SMP pun mulai melirik novel. Saya mulai rajin mendatangi lapak-lapak yang menjualnya untuk mencari edisi yang belum saya punya. Harganya 1000 atau 1200 Rupiah per buku. Bila langsung ke agen, harganya cuma 700 Rupiah. Agennya ada di Pasar Terminal Aur Kuning bernama Nin Agency, satu-satunya agen Wiro Sableng di Bukittinggi.

Novel Wiro Sableng

Novel Wiro Sableng

Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, memang novel silat tersukses. Konon, pengarangnya, Bastian Tito, adalah orang Minang. Saya ingat, pengarang lain lalu mengikuti polpularitasnya dengan membuat seri Pendekar Slebor, Pendekar Gila, Pendekar Bodoh, Roro Centil dan Dewa Linglung. Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131, juga karya pengarang lain.

Novel-novel silat pengikut popularitas Wiro Sableng

Novel-novel silat pengikut popularitas Wiro Sableng

Belakangan saya tahu ternyata Wiro Sableng juga sempat difilemkan versi bioskop walau tak pernah menjadi hits ketimbang sinetronnya di RCTI. Anda pernah membaca karya-karya Kho Ping Ho? Itu juga novel silat tersukses sebelum era Wiro Sableng, tapi saya kurang tertarik karena terlalu Cina. Bagaimana dengan karya Makmur Hendrik lewat  Tikam Samurai dan Si Giring-giring Perak-nya? Anda sempat kenal?

Nah, khusus untuk novel silat harus saya susun di rak, karena peti saya sudah tidak memadai lagi.

Saya juga sering ke taman bacaan untuk menghemat uang. Baca di tempat hanya 50 sampai 200 Rupiah, saya bisa membaca hingga 10 komik atau novel per hari jika sedang libur. Cukup banyak taman bacaan di Bukittinggi. Waktu itu ada 3 taman bacaan yang berdekatan di lantai 2 pusat pertokoan Pasar Atas, beberapa di komplek Pasar Putih, dan lainnya tersebar di bangunan pertokoan tua dekat Pasar Lereng. Hari ke hari di taman bacaan, saya menjadi saksi matinya kejayaan komik-komik silat Indonesia. Pajangan taman bacaan perlahan berganti ke komik-komik Jepang yang teksnya di-Indonesia-kan.

Semuanya sudah lama berlalu dan sekarang saya sudah tinggal di Jakarta. Ada masa yang telah hilang, hingga kemudian saya menjadi terbiasa dengan Manga, komik-komik Eropa, Marvel dan DC Comics sampai komik-komik kontemporer jaman sekarang. Tontonan saya menjadi sangat Holywood dan sudah terlanjur peka terhadap special effect kacangan. Bahkan di Forumlenteng, saya diperkenalkan dengan tontonan lain dengan sudut pandang yang lebih kaya. Semua sudah berubah.

Tapi yang pasti, masa bocah tetaplah milik saya dan akan selalu menjadi bagian diri yang tak terbantahkan. Kalau Anda tahu, betapa gugupnya saya saat meminta berfoto dengan Pak Djair Warni, sang pengarang Jaka Sembung. Saat itu di Galeri Nasional sedang diluncurkan sebuah kumpulan cergam (cerita bergambar), sekitar setahun yang lalu. Bertemu Pak Djair, maka Jaka Sembung dan masa bocah yang penuh cerita bagai hidup kembali di sana. Menyentak-nyentak tak karuan hingga luapan perasaan yang tak terlukiskan itu telah membuat saya lupa berterimakasih seusai berfoto. Maafkan saya, Pak. Hehe.

Aku berfoto bersama Djair Warni, pengarang Jaka Sembung

Saya berfoto bersama Djair Warni, pengarang Jaka Sembung

Demikian juga halnya ketika saya menulis tulisan ini, saat berusaha mengingat semuanya lebih dekat lagi. Mencoba mengais kepingan-kepingan, melintasi ruang, jarak dan waktu yang sudah jauh ke masa kanak-kanak yang meletup dalam kegembiraan hatinya. Berbagai kisah dan tingkah polah terkenang begitu indah. Mata saya berkaca-kaca hingga berkali-kali. Tapi, Satria Bambu Kuning tidaklah boleh menangis.

***

Apa kabar para pendekar pilih tanding? Apakah masih bertapa atau tengah menyiapkan rapalan ajian terbaru? Dunia persilatan kita sudah lama dikuasai  pendekar-pendekar impor. Segeralah turun gunung!



 

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Riosadja Dawat

Lahir di Bukittinggi, 1980. Ia mulai berkecimpung dalam kesenian di Studio Komik Dawat dan Komunitas Seni Belanak di Padang. Sambil bekerja sebagai ilustrator, desainer, dan animator secara lepas, ia juga aktif mengikuti berbagai pameran. Kini bergabung dengan Forum Lenteng di Jakarta dan mulai menekuni karya video.

8 Komentar pada "Sebilah Pedang Bambu dan Kain Perca Pengikat Kepala"

  1. otty 13 Februari 2011 pukul 23:54 · Balas

    wow…semuanya pake ikat kepala….

    • riosadja 15 Februari 2011 pukul 18:03 · Balas

      makasih ya, haha

  2. nda 14 Februari 2011 pukul 18:29 · Balas

    wahhhh….

    serunya masih lengkap koleksinya uda…

    koleksi nda karna di pakai turun temurun ke adik2, sekarang entah dimana… hiks :(

  3. red 15 Februari 2011 pukul 11:01 · Balas

    cerita yang menarik, jadi pingin baca komik dan dengar sandiwara radio masa lampau.

  4. Dinny 3 Maret 2011 pukul 16:53 · Balas

    Ceritanya bagus sekali nich….!

  5. konti 3 April 2011 pukul 16:35 · Balas

    episode pemberontakan rawedeng dan rangkuti saangat menegangkan. sampai2 pas radio yang kami kerubungi sampai pecah berkeping2 karna kemarahan amak. ‘kalian ma apa lah lai’, bisuak ka ujian…!!!
    PRAANK..!!!!
    Habislah radio den…

  6. Doris Hakiki 13 September 2011 pukul 04:16 · Balas

    Sanak……………awak taragak ndak mambaco tikam samurai….dima bisa dicari duh sanak

  7. herry 17 September 2011 pukul 03:29 · Balas

    satu hobby satu obsesi
    tampaik taman bacoan pasa putiah tampaik tongkrongan iszebes
    tp sayang kn ndak do lai

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung – Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2011 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //