Pengalamanku Menonton Bola

Oleh / pada 7 Februari 2010 / di DKI Jakarta // 56 Komentar

Dalam hidupku ada beberapa hal yang ingin aku lakukan sebelum usiaku menginjak 20 tahun. Dan beberapa kesempatan untuk melakukannya sudah telanjur aku lewatkan di masa SMA. Misalnya, menjadi anggota klub pecinta alam, menjadi penabuh drum di sebuah band, dan lain-lain. Semua itu bisa saja aku kejar di masa kuliah kini, seperti yang aku lakukan kemarin, menonton bola secara langsung di stadion. Kedengarannya memang sangat sederhana, tapi tidak bagiku. Di kepalaku sudah terpola bahwa menonton bola secara langsung itu ‘menakutkan’, mengingat cerita-cerita seputar rusuhnya supporter bola, timpuk-timpukan botol yang di dalamnya diisi air seni dan segala macam tentang supporter bola yang rusuh.

Pengalamanku Menonton Bola1

Akhirnya, beberapa hari yang lalu, tepatnya 3 Februari 2010, aku masuk ke Gelora Bung Karno Senayan untuk menonton pertandingan sepak bola antara Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta) dengan Persela (Persatuan Sepak Bola Lamongan).

Begini ceritanya…

The Jakmania cilik

The Jakmania cilik

The Jakmania membajak sebuah Metro Mini

The Jakmania membajak sebuah Metro Mini

Berawal dari pertemuanku dengan para supporter Persija yang dikenal dengan nama The Jakmania di halte IISIP, Lenteng Agung, Jakarta. Saat itu aku sedang menunggu temanku menjemput, para The Jakmania pun sedang menunggu jemputan bis kota yang sudah dibajak dari Depok oleh teman-temannya sesama The Jak. Menurut cerita seorang temanku yang pernah ngobrol dengan supir angkutan umum, para supir itu biasanya tidak punya pilihan bila angkutannya dibajak oleh para The Jakmania, karena angkutannya bisa dirusak habis jika mereka menolak dibajak, dan bisa rusak pula jika angkutannya dipakai untuk mengangkut para supporter. Karena mereka akan memadati atap angkutan sambil bertingkah rusuh. Tapi setidaknya, kerusakan lebih bisa diminimalisir jika mereka mau mengangkut para The Jakmania, dibanding menolaknya. Iseng saja aku bertanya pada salah seorang dari mereka,

“Mas, Persija main di mana?”Tanyaku mengawali percakapan.

“Senayan.” Jawabnya singkat. Pemuda berparas sangar dengan kacamata berwarna merah menutupi setengah wajahnya itu lengkap memakai atribut Persija. Dari mulai syal, topi, kaos kaki, hingga kaos oranye bertuliskan nama Bambang Pamungkas, ia sukses membuatku malas meneruskan percakapan. Tapi aku tetap melanjutkannya.

“Oo, biasanya di Lebak Bulus ya…” Ujarku sok tahu.

“Pindah-pindah kali, Mbak,” Jawabnya, masih dengan singkat.

“Main jam berapa Mas?”

“Jam 3 an.”

Percakapanku dengan dia yang aku tak tahu namanya itu, benar-benar semakin menghadirkan kesan seram dan kebencianku pada supporter bola. Selama ini aku selalu merasa mereka melakukan hal yang tidak penting karena berarak-arakan naik bis kota, membuat macet, dan polusi suara sorak sorai serta gendang mereka begitu menyakitkan telinga. Belum lagi jika Persija main di Lebak Bulus. Wah, kesempatanku untuk mendapat jatah duduk di Deborah (bis yang aku tumpangi untuk pulang-pergi kuliah) semakin berkurang. Jangankan duduk, jatah berdiriku pun tambah sempit karena disesaki para The Jak.

Tapi entah ada angin apa akhirnya aku sampai juga di Senayan hari itu, masuk dan membeli tiket di kelas biasa seharga 20 ribu rupiah. Wah mahal juga, lebih mahal dari menonton bioskop di Hari Senin… ucapku dalam hati.

Pengalamanku Menonton Bola5

Pekarangan luar Gelora Bung Karno terlihat tidak begitu penuh, walaupun The Jak menyebar di mana-mana. Aku sempat membeli minum di dekat loket. Tapi, membeli minum itu ternyata sebuah kesalahan besar. Karena begitu sampai di pintu masuk, 8 orang Polisi memeriksa isi tas dan kantong celana. Mereka membuka tasku dengan kasar dan terburu-buru, sehingga resleting tasku rusak dibuatnya. Air minum yang dikemas dalam botol disita oleh mereka, begitu pun korek api dan benda tajam dalam bentuk apapun. Dan inilah kesalahan besar yang aku maksud: Air minum kemasan botol yang kita bawa dipindahkan ke plastik yang telah disediakan oleh Pak Polisi. Jadilah, air mineralku yang semula di dalam botol, kini dikemas dalam plastik, seperti air minum di Warung Tegal (warteg). Tidak praktis dan menggangu penampilan. Tujuannya agar botol minum tidak digunakan untuk menimpuk, karena bisa memicu kerusuhan antar supporter. Hahaha, sungguh pengalaman yang lucu bagiku. Aku semakin tak sabar masuk ke dalam. Mungkin akan ada peristiwa yang lebih menarik lagi di sana.

Pengalamanku Menonton Bola5

Lewat Pintu VIII aku masuk ke stadion dan duduk di Sektor 14 yang menghadap ke tengah lapangan. Gawang Persija berada di kananku dan gawang Persela di sebelah kiriku. Warna oranye menghampar hampir di seluruh bangku penonton. Para The Jakmania memadati Sektor 9 – 13 yang berada di sisi kiri  gawang Persija. Sedangkan para supporter Persela yang berkostum biru muda berjumlah sangat sedikit, hanya memadati satu sektor di sebelah kanan gawang Persela. Perbandingan supporter Persija dengan Persela adalah 10 banding 1. Wajar saja, karena Persija adalah kesebelasan tuan rumah di pertandingan ini.

Sektor 9 - 13 dipadati oleh supporter Persija

Sektor 9 - 13 dipadati oleh supporter Persija

Pengalamanku Menonton Bola7

Karena korek api disita oleh Polisi, awalnya aku mengira tak ada yang boleh merokok di dalam stadion. Tapi, orang pertama yang aku lihat sedang memegang rokok justru seorang Polisi yang duduk di bangku penonton. Selanjutnya seorang pemuda, lalu bapak-bapak, dan ternyata hampir semua orang merokok. Ternyata lagi, di dalam ada penjual rokok khusus produk PT Djarum. Karena sponsor utama acara pertandingan bola tersebut adalah PT Djarum. Terang saja semua bisa mengepulkan asap dengan santainya.

Salah satu penonton yang merokok

Salah satu penonton yang merokok dan memiliki korek api

Selain penjual rokok, ada pula penjual minuman. Harga minuman lebih mahal seribu rupiah dari yang dijual di luar stadion. Ada pula penjual cangcimen (kacang, kuaci, permen), penjual roti, tahu Sumedang, dan jus buah. Para SPG (Sales Promotion Girl) juga terlihat lalu-lalang menawarkan Teh Gelas seharga seribu rupiah, yang juga merupakan sponsor pendamping pertandingan bola tersebut.

Jujur saja, aku terlalu sibuk memperhatikan sekelilingku, sehingga aku tak menyaksikan gol yang dilancarkan oleh Aliyudin. Itu merupakan gol pertama dan satu-satunya dalam pertandingan ini. Skor kini menjadi 1-0 untuk Persija. Sayangnya, tak ada siaran ulang di stadion ini. Tidak seperti yang biasa aku saksikan di layar kaca. Saat gol tercipta, The Jakmania langsung mengibar-ngibarkan syal oranye mereka. Aku dan temanku duduk jauh dari kumpulan mereka, karena takut terjadi kerusuhan. Dari kejauhan tarian tangan mereka yang melambai-lambaikan syal begitu indah dan menarik. Aku baru sadar inilah asyiknya menonton bola. Terang saja para The Jakmania selalu beramai-ramai menonton tim kesayangannya bermain. Solidaritas dan yell-yell mereka sungguh membangkitkan semangat.

Pengalamanku Menonton Bola8

Diantara para supporter banyak juga aku temui pasangan suami istri muda yang membawa anaknya yang masih balita. Para balita juga ikut dipakaikan kostum bola bertuliskan nama pemain jagoan bapak-ibunya, misalnya Bambang Pamungkas. Mungkin mereka berharap saat besar nanti anaknya akan sehebat Bambang Pamungkas.

Pengalamanku Menonton Bola9

Pengalamanku Menonton Bola10

Setelah 45 menit berlalu, habislah babak pertama pertandingan sepak bola. Skor masih tetap 1-0 untuk Persija. Waktu istirahat dimeriahkan oleh penampilan Jakarta Freestyle yang menampilkan kebolehan mereka bermain-main dengan bola. Namun bagiku mereka lebih terlihat seperti semut yang membawa gula di kepalanya, karena aku melihatnya dari kejauhan.

Setelah Jakarta Freestyle, tampil para sexy dancer. Sorak sorai penonton yang didominasi oleh kaum Adam langsung ramai terdengar. Musik yang menghentak serta liuk tubuh si penari yang seksi memang sangat memancing perhatian.

Di babak kedua Persija lebih banyak bertahan, sedangkan Persela menyerang dengan penuh semangat. Para The Jakmania tak gentar menabuhkan gendang serta menyanyikan yell mereka. Saat menegangkan pun terjadi ketika Bambang Pamungkas, idola Indonesia, mendapat kesempatan free kick (tendangan bebas). Aku ikut berdiri dan menahan nafas saat ia akan menendang bola. Namun sayang, tendangannya mengenai tiang gawang. Gol pun gagal tercipta dan semua kembali duduk, kecuali The Jakmania yang berkumpul di sektor 9 – 13. Dari awal pertandingan hingga akhir mereka setia berdiri, menari-nari tak kenal lelah menyemangati para pemain.

Aku mencoba menyapa seorang The Jakmania di sebelahku.

“The Jak dari mana, Mas?” Tanyaku.

Gue dari Kebon Kacang. Lo dari mana?” Ia bertanya balik kepadaku.

Gue dari Ciputat. Cuma iseng nonton aja, baru sekali nonton bola,” jawabku jujur.

Pantesan nggak pakai atribut The Jak. Seru kan? Pasti ketagihan,” jawabnya yakin.

Masih banyak tempat duduk yang kosong

Masih banyak tempat duduk yang kosong

Aku pun membalasnya dengan senyuman saja. Tapi mungkin juga aku jadi ketagihan. Karena menonton bola ternyata tak seseram yang selama ini aku bayangkan. Dan The Jakmania ternyata tidak mengganggu. Kini aku mengerti, mereka ternyata sangat penting bagi para pemain. Semangat yang mereka tunjukkan lewat yell-yell dan tabuhan gendang mereka pasti membangkitkan semangat para pemain Persija. Mungkin cocok juga pepatah lama untukku, “tak kenal maka tak sayang”. Dan kini aku punya lanjutannya, “sekali kenal hati-hati ketagihan”. Hidup Sepak Bola Indonesia…!


 


Tentang Penulis

Mira Febri Mellya

Perempuan kelahiran Jakarta pada tanggal 22 Februari 1990 ini telah menyelesaikan studi strata satu di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Sebelumnya ia telah aktif sebagai fasilitator program worskhsop akumassa di beberapa kota bersama komunitas dampingan. Sekarang ia menjadi wartawan aktif di majalah Gatra.

56 Komentar pada "Pengalamanku Menonton Bola"

  1. rekamdanmainkan 7 Februari 2010 pukul 19:08 · Balas

    dua jempol untuk “sekali kenal hati-hati ketagihan”

  2. eta 15 Februari 2010 pukul 12:37 · Balas

    gw udah ngerasain yg namanya ketagihan nonton pertandingan live,jaman sma dulu,setiap ada pertandingan basket di senayan gw pasti nonton sm temen2 gw,dan beneran ngerasain ketagihan…jd hati2 mer,lo jg akan merasakan yg namanya ketagihan nonton pertandingan live…hehehe…

  3. Nugroho Agung 16 Februari 2010 pukul 10:05 · Balas

    Pastinya sebuah pengalaman pertama yang tidak bisa dilupakan ya..

    @Mira Febri Mellya
    Mohon Konfirmasinya, Apakah Tulisan anda ini dapat kami muat di website kami, http://www.jakmania.org untuk dimasukkan ke kolom artikel website ini ?
    Mohon tanggapannya atau dapat menghubungi saya,

    Agung
    02198353231

  4. Jak_harland 16 Februari 2010 pukul 11:05 · Balas

    pasti…pasti ketagihan utk menonton PERSIJA..
    tinggalkan kesan yg buruk, tp ambilnya yg positifnya, hee..
    bersatu membaur di GBK totalitas dukung PERSIJA..

  5. Jakampus UI 16 Februari 2010 pukul 12:31 · Balas

    nice artikel.
    setidaknya tulisan anda dapat menggugah mereka yg hanya menilai buruk suporter tanpa mau tau seluk beluknya lebih dalam.
    tak kenal maka tak sayang.
    Jakampus UI
    best regards

  6. nandarbp 16 Februari 2010 pukul 13:52 · Balas

    katanya sepak bola kita rusuh., katanya sepakbola kita tak bermutu., apapun yang terjadi kami tetap janji mendukung sepakbola negeri ini.,politik berkelahi saling caci maki bagi kami FOOTBALL FOR UNITY.,.,

  7. aristya 16 Februari 2010 pukul 17:24 · Balas

    jempol telunjuk, the jak mania, memang luar biasa,,baru tau diaa

  8. firza 16 Februari 2010 pukul 17:36 · Balas

    haha…..asyik nih nonton persija……
    tuh kan jakmania bukan biang rusuh yang selama ini di beritakan media…tergantung kita menyikapi nya ajj…..

    ku bukan anak jakarta tetapi ku cinta persija.,persija slalu di hati persija takan terganti.,walau penuh rintangan hati kami takan goyang.,the jak mania perbatasan satu hati dukung persija…JAKMANIA RAIN CITY.
    DARI BOGOR UNTUK PERSIJA…PERSIJA NEVER DIE

  9. Aries Sulaeman 16 Februari 2010 pukul 17:40 · Balas

    Sangat menyentuh…dan merupakan sebuah pengalaman yang akan membuka mata masyarakat bahwa sepakbola tidak rusuh

  10. oren jakers 16 Februari 2010 pukul 17:51 · Balas

    sip mantab mira, orang biasanya akan takut itu karena blum pernah nyoba nonton langsung k stadion…
    Mira punya FB gak ?? hehehe….
    Lanjutkan nontonnya okey….

  11. mayo 16 Februari 2010 pukul 19:50 · Balas

    FENOMENA JAKARTA buka kaum terpuruk di JAKARTA buktinya mereka bayar 20.000 untuk hal yang tidak mempunyai timbal balik kepada mereka kecuali kepuasan hati dan harapan…

  12. orenjmaniastore 16 Februari 2010 pukul 19:53 · Balas

    di tunggu kehadiran selanjutnya….. dan jangan lupa beli segera atributnya

  13. Gusti PersijaLover 16 Februari 2010 pukul 20:16 · Balas

    nice artikel, orang2 awam memang biasanya selalu berfikir begitu krn mereka belum pernah merasakan secara langsung bagaimana suasana std. sepakbola.

    kalau kata2 dari gue, “loe ga akan bisa menilai sebuah kelompok tertentu, kalau loe nggak pernah menjadi bagian dari kelompok tersebut.”

    jgn kapok buat nonton bola lagi ya, banyak juga koq cewek2 yg dateng langsung ke stadion.

  14. Mira 16 Februari 2010 pukul 20:59 · Balas

    Wah terimakasih untuk komentar-komentar tentang tulisan ini. Untuk publikasi tulisan ini di web the jakmania sepertinya tidak masalah, selama disebutkan sumbernya. Trims.

  15. b4sten 16 Februari 2010 pukul 21:36 · Balas

    Artikel bagus mbak. Cuma perlu dikoreksi tuh, rombongan dari Depok, Srengseng, Kelapa Dua, semuanya nyarter bus/angkot tuh.

    Ga bajak Bus.

  16. Farid_orangestreetboys 16 Februari 2010 pukul 22:06 · Balas

    wah,,,,, begitu jujur anda menceritakannya
    hingga membaca y pun menjadi terharu,,,,,

    salam telunjuk jempol,,,,,,,

    _farid OSB

  17. idhen_CaNeZa 17 Februari 2010 pukul 00:25 · Balas

    SaLut salut yang dah buat artikel ini dan sluut banget lo bisa hadir di GBK buat dukung PERSIJA (yah awalaupun hanya iseng aja) tapiii mantab!!!! w harap bsok kedepannya buka cuma iseng ke stadion,, tapi u hoby ke stadion buat dukung PERSIJA..

    tak kenal lelah..takkan menyerah,,hadapilah lawanmu,,Orens sejati,takka berhenti PERSIJA sampe mati…

    tHE JAk MaNia..takkan pernah lelah dukung PERSIJA..

  18. Angel olipper 17 Februari 2010 pukul 00:47 · Balas

    P’alaman kamu hampir sama dgn p’alamanku..pertama kali aku diajak nonton bola tnp atribut the jak,aq langsung ketagihan n pengen nonton lg.apa yg ada dbenakku ternyata tdk separah yg qta bayangkan.Ternyata the jak itu asyik n ramah2..lama kelamaan aku jth cnt pd persija n sampai skrgpun aku jd rajin nonton persija langsung malah skrg lengkap dgn atribut the jak krn lbh asyik drpd nonton diTV,,
    Kini aku tlh bgabung mjd “jak angel” sebutan dr supporter wanita jakmania..

    Yah bs dbilang dr mata turun kehati

    Yah bs dbilang dr mata turun kehati

  19. hendra 17 Februari 2010 pukul 00:53 · Balas

    para the jack mania biasanya nyarter mobil bukan ngebajak..
    pasti dibayar qoq mobil yang dicarternya..

    klo lo punya banyak waktu nonton persija lagi jha…

  20. begoendal 17 Februari 2010 pukul 06:45 · Balas

    supporter lebih menakutkan ketimbang demonstran ataupun penonton konser musik..
    padahal demonstrasi dan konser musikpun sering menimbulkan kerusuhan…

    Penonton bola hanyalah korban MEDIA dan POLITIK…!!
    di PERSIJA kami menemukan kebahagiaan, kebersamaan, solidaritas, dan persatuan..!!

    Statistik menunjukkan, sejak adanya The Jakmania, tawuran antar sekolah di Jakarta dan sekitarnya ; frekuensinya menurun drastis..!!

    Terima kasih buat testimoni anda terhadap The Jak..
    “The Jak bukanlah yg terbaik, tapi akan berusaha menjadi baik..”

  21. adyt 17 Februari 2010 pukul 09:47 · Balas

    yhanks yang da buat artikel ini..thanks juga lo udah sempetin dateng buat nonton persija sekarang da terbukti kalo kami” the jak mania ” datang ke stadion hanya untuk dukung persija bukan PERUSUH.

  22. Nugroho Agung 17 Februari 2010 pukul 09:49 · Balas

    @Mira

    Terimakasih atas kesediaannya mempublikasikan tulisan anda di website http://www.jakmania.org/ind/
    Tulisan anda telah kami muat dan tentunya dengan mencantumkan sumber & linknya. Trims.

    Salam Persahabatan,
    Agung

  23. ngahiwal kabeh 17 Februari 2010 pukul 10:57 · Balas

    waduk kabeh…
    blum tahu asal muasal nya..
    kasian…
    seperti anak yg baru lahir tp belum tau asal muasal ibu bapak nya…

  24. bhrama 17 Februari 2010 pukul 11:05 · Balas

    waah mbanya kayanya udah
    “Oren Addicted”
    jangan kapok yee, buat dateng lagi k senayan..

  25. Amie Cinta Persija Jakarta 17 Februari 2010 pukul 11:07 · Balas

    jiah she eneng,
    memang awalnya kelihatan serem’ tapi pada akhirnya jatuh cinta juga kan ame PERSIJA,,
    kalo ane mulai suka nonton langsung ntuh 1 tahun terakhir,pertandingan pertama yang ane tonton langsung di SUGBK waktu persija melawan persiwa wamena Pd tgl 11 februari 2009 persija menang banyak 6-1,,,,,
    sebelumnya gak bisa nonton langsung karena kerja di perusahaan retail yang gak kenal waktu jadi bisanya nonton di layar kaca ( loh kok jadi curhat hihihih )
    ane juga sempet di latin ame tHe Jak yang lain dateng ke stadion kok gak pake atribut’ yah ane juga takut awalnya,
    tapi sepulang habis nonton langsung beli tuh nyang namanya syal’ baju’ n souvenir persija.
    nah pertandingan berikutnya ane rajin dah tuh nonton langsung,
    she eneng lucu ya bahasanya dibajak tuh yang namanye bis or angkot ( tapi tenang neng pasti di bayar hihihihi )
    salam JT ( jempol telunjuk )The JakMania
    di tunggu dah kedatangannya di SUGBK
    sering sering ajah buat artikel
    kayaknya bakat juga jadi penulis atau pengerang

  26. anan 17 Februari 2010 pukul 12:26 · Balas

    bener bgd!!
    nntn persija itu asyik.
    gw dr matraman.
    dlu gw punya kartu anggota ,
    tp udh hilang!!
    the jack ga serem ,
    mereka ramah”.
    gw ernah kehabisan uang,
    dan dlu pernah dibantu sama THE JACK MANIA!!

    ILOVE U FULL PERSIJA!!!

  27. Orange Street Boys 17 Februari 2010 pukul 13:57 · Balas

    Tak kenal maka tak sayang yaa…

    Oh iya, itu bukan dibajak… Tapi dicarter tepatnya… suporter persija sejati ga maen bajak2an…

    maen2 ke web kami

    http://www.orangestreetboys.webs.com

    atau blog kami

    http://www.orangestreetboys.blogspot.com

    Orange Street Boys
    ~Brigade Ultras Persija~

  28. Fan-di 17 Februari 2010 pukul 21:20 · Balas

    Good story……

  29. bewok jak 17 Februari 2010 pukul 21:31 · Balas

    asik asik pemikiran negatif terhadap jakmania udah berkurang,makanya jangan liat dari luar nya aja

  30. gon2jaktng 18 Februari 2010 pukul 00:00 · Balas

    w za yg bkan org jkrta bsa cnta mti am persija,,,
    w jga dlu nntn persija cma iseng2,eh tpi ktghan,,
    ampe jdi ank jakmania bnran(bkin KTA)bukan jali lgi,hhe,,

    jakmania tangerang
    PERSIJA PACAR GUE

  31. adjie gile 18 Februari 2010 pukul 01:07 · Balas

    jujur gua pengen liat muka luh.. :D

  32. indra1082 19 Februari 2010 pukul 06:55 · Balas

    Kapan-kapan nonton bareng saya yuk.. :grin:
    Salam Kenal…
    Salam BW…. :)

  33. lookman 19 Februari 2010 pukul 11:24 · Balas

    gw cinta persija sampe mati, jakmania ga pernah rusuh,persija selalu di hati, jgn pernah menganggap the jakmania itu perusuh tetapi the jakmania itu selalu cinta damai..gw selalu dukkung persija klo main di GBK, ga pernah tuh gw lihat jakmania rusuh,justru jakmania selalu membangkitkan para pemain di dalam stadiun untuk menang..sekali lagi jangan bilang jakmania perusuh tapi jakmania cinta damai…oke…oke…

  34. Novii Orenzta 19 Februari 2010 pukul 13:23 · Balas

    hhaa
    emank jd ketagihan..
    udda gabung adjja jadi JakMania..
    gga bakal nyesell quc..
    suer dee!!!!
    tetep dukung PERSIJA yya..
    salam jempol dan telunjuk..

  35. Jak dJokja 19 Februari 2010 pukul 15:12 · Balas

    emang kata orang nonton bola identk dgn kekerasan..

    tapi artikel ini nunjukin dan ngejelasin knapa jakmania setia dukung persija..

    apapun yg terjadi..
    satu hal yg kami yakini
    football for unity

    dr joja ikut dukung persija
    -DIJ-

  36. Jak Semarang 19 Februari 2010 pukul 19:23 · Balas

    Majulah Persija !!
    Majulah Persepakbolaan Indonesia !!

    Persija di Jakarta..
    Pendukungnya dimana-mana..

    -Jak Semarang-

  37. ilham 19 Februari 2010 pukul 23:51 · Balas

    we juga nak ciputat….lo ciputat mna’a..??
    klo mao n0nton bareng ma w ja…
    ne no tlp w 91521870

  38. chao 21 Februari 2010 pukul 01:18 · Balas

    hahahahaaa…

    mere mere…

    gokil luh, besok nonton bareng gw aja..hhahahhaa

  39. aku juga penonton biasa 21 Februari 2010 pukul 11:36 · Balas

    artikel yang cukup bagus, menceritakan sebuah pengalaman hal yang dianggap berbahaya ternyata mengasikan…
    mungkin ada sebuah kalimat yang kurang tepat dalam artikel ini, yaitu “bus dibajak” sepengetahuan saya bus yang di gunakan untuk mengangkut pendukung persija memang khusus disewa. tapi memang ada beberapa suporter yang berangkat dengan mengecer…

    setuju, coba dulu baru rasakan…

  40. Orang Biasa 21 Februari 2010 pukul 12:26 · Balas

    Saya senang dengan tulisan ini. Banyak tanggapan dari pendukung persija. Tapi perlu juga dikritik, kenapa kalau naik angkot atau bis selalu naik ke atas atap mobil. Apa itu tidak berbahaya walau demi Persija tercinta. Bisa gak kita lebih “sopan” atau mengikuti peraturan lalulintas. Ini mungkin yang sering dilihat masyarakat The Jak itu rusuh. Jadi bukan tawuran dll. Saya di Jakarta, tentu mendukung Persija.

  41. Ryan JCC-JP 23 Februari 2010 pukul 12:20 · Balas

    Itulah Asiknya Nonton Langsung DI Bandingkan
    Nonton DI layar Kaca

    Gua Sependapat Sama Loe
    Tentang Bis Itu

    JCC : JAK CONDET CILILITAn
    JP : JAK PEKAN BARU

  42. the jak angel jakarta utara 23 Februari 2010 pukul 13:41 · Balas

    hii . .. kmu kmren biz nnton persija eea d’glora . .
    hmm aqu jga kmren biz nnton d’sna . .
    emank cie ..aqu sbel klo da org yg naek” k’atas bus . . .
    tkud ja bus’a roboh . .
    dah gtu sopir’a org batak . ,syerem bgt , ,

    hmm. .kpan kmu mau nnton lgi??

    kmu pna FB ga??
    klo kmu ada. .add aqu iia . .
    ni email aqu

    suciputri98@yahoo.com

    slam knal . .n persija slalu

  43. diki 24 Februari 2010 pukul 19:37 · Balas

    kalo udah nonton performance-nya suporter bola di indonesia, marina putus . . .

  44. ferdi 4 Maret 2010 pukul 14:20 · Balas

    haiii eang di atas

    w stuju ma u smua

    tppi ppa leh bwt eakan demi tim kesayangan w PERSIJA JAKRTA

    bravo jak mania-depok

    kedutaan srengseng sawah

  45. aris jak kramat djati 15 April 2010 pukul 09:13 · Balas

    pokok’a The jak sejati itu selalu ada di senayan dan anti viking bonek

  46. the Jak Rawa_Belonk 30 April 2010 pukul 08:51 · Balas

    SeLAmat BERGABUNG DI KELUARGA BESAR “THE JAK MANIA”

    PERSIJA AMPE MATI. !!!

  47. Cucas Orange 4 Agustus 2010 pukul 16:11 · Balas

    Salam JT untuk RSIJA LOVER’S DI SELURUH DUNIA !!

    JAK NGALAM
    Dari Malang Untuk Persija

  48. eko JP 4 April 2011 pukul 06:17 · Balas

    bener kan ketagihan nntn bola itulah asiknya nntn PERSIJA dri pda nntn yng laen ..

    JP=JAK PAMOELANk

  49. ardhiii 4 April 2011 pukul 06:32 · Balas

    DISINI THEJAK…
    DISANA THEJAK,,,

    DIMANA MANA KITA SAUDARA :)

  50. riccoorangoren 4 April 2011 pukul 07:12 · Balas

    Buat Gw mendukung Persija adalah Panggilan jiwa..

    Kami yg merasa di anak tirikan di kota kami sendiri, akan selalu berusaha exis untuk menunjukkan bahwa Anak jakarta asli masiah ada, dan kami tetap bangga pada Jakarta Kami,
    kami ( The Jak Mania ) tak pernah menuntut apapun dari Kota Kami, tpi paling tidak berilah sedikit ruang dan waktu buat Kami wara jakarta yg dipandang sebelah mata, warga ibukota yg dimarginalkan di tanah nya sendiri, Kmai tidak marah, kami tidak kesal, krn kami masih bisa mendukung Persija Jakarta, karna kami masih bisa mencintai bagian dari Kota jakarta walau hanya sebatas klub sepak bola…

    Persija Ampe Mati…!!!

  51. riccoorangoren 4 April 2011 pukul 07:26 · Balas

    Buat gw mendukung persija adalah Panggilan jiwa,
    kami ( The jak mania ) yg dipandang sebelah mata, kami ( The jak mania ) ibarat terdakwa, kami terdakwa tanpa pledoi, kami tak punya hak untuk membela diri kami, tapi kami tak mempermasalahkan, buat kami mendukung Persija adalah yg terpenting, kami ( The Jak mania ) yg di marginalkan ditanah sendiri tak pernah sedikit pun menuntut kepada Kota Jakata, klo boleh mengutip kata2 JF.Keneddy ‘ jangan tanyakan apa yg Jakarta berikan kepada Mu, tpi tanyakan apa yg telah kamu berikan kepada jakarta Mu, tpi kami mohon kepada semua warga Jakarta, tolong berikan sedikit ruang dan waktu untuk kami guna menyalurkan rasa fanatik kami, kami sadar kami belum baik tpi kami akan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik…

    ” Gw anak The Jak Mania”
    ” gw pendukung persija ”
    ‘ Gw selalu setia, mendukung Persija berlaga ”
    ” Walau Panas matahari ‘
    ” Walau hujan turun lagi ”
    ” The Jak dukung lo disini ”
    ” Walau harus sampai mati “

  52. dea 4 April 2011 pukul 07:27 · Balas

    ga seru ramean nonton PERSIB ga ada istilah bajk bajakan, anda sudah diajarkan berbuat kriminal, kasian kan orang yang nyari duit, lu rampas begitu aja, bangga klian membajak rakyat yg susah myari duit,kalian tidak lebih dari SAMPAH,betul ga?

  53. eghie angel'y persija 4 April 2011 pukul 16:30 · Balas

    persija tu btuh the jak. dan the jak gk akn ada tnpa persija. jd s’bruk ap’pun ank the jak..mrka ttp bgian dr persija. so, let’s be a positive supporter ^-^ sajete_

  54. danang 5 April 2011 pukul 03:50 · Balas

    karena PERSIJA adalah kebanggan kami. selalu dan selamanya.
    the pride of JAKARTA.

    forza PERSIJA JAKARTA viva The Jak.

  55. temennyaomjen 10 April 2013 pukul 06:25 · Balas

    kayak tulisan feature di koran2 jawa pos… ;(

  56. Furniture Jepara 25 Januari 2014 pukul 10:40 · Balas

    Mantab gan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2010 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //