Oleh Mira Febri Mellya | Pada Minggu, 7 Februari 2010
* * *

Dalam hidupku ada beberapa hal yang ingin aku lakukan sebelum usiaku menginjak 20 tahun. Dan beberapa kesempatan untuk melakukannya sudah telanjur aku lewatkan di masa SMA. Misalnya, menjadi anggota klub pecinta alam, menjadi penabuh drum di sebuah band, dan lain-lain. Semua itu bisa saja aku kejar di masa kuliah kini, seperti yang aku lakukan kemarin, menonton bola secara langsung di stadion. Kedengarannya memang sangat sederhana, tapi tidak bagiku. Di kepalaku sudah terpola bahwa menonton bola secara langsung itu ‘menakutkan’, mengingat cerita-cerita seputar rusuhnya supporter bola, timpuk-timpukan botol yang di dalamnya diisi air seni dan segala macam tentang supporter bola yang rusuh.

Pengalamanku Menonton Bola1

Akhirnya, beberapa hari yang lalu, tepatnya 3 Februari 2010, aku masuk ke Gelora Bung Karno Senayan untuk menonton pertandingan sepak bola antara Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta) dengan Persela (Persatuan Sepak Bola Lamongan).

Begini ceritanya…

 

The Jakmania cilik

The Jakmania cilik

The Jakmania membajak sebuah Metro Mini

The Jakmania membajak sebuah Metro Mini

Berawal dari pertemuanku dengan para supporter Persija yang dikenal dengan nama The Jakmania di halte IISIP, Lenteng Agung, Jakarta. Saat itu aku sedang menunggu temanku menjemput, para The Jakmania pun sedang menunggu jemputan bis kota yang sudah dibajak dari Depok oleh teman-temannya sesama The Jak. Menurut cerita seorang temanku yang pernah ngobrol dengan supir angkutan umum, para supir itu biasanya tidak punya pilihan bila angkutannya dibajak oleh para The Jakmania, karena angkutannya bisa dirusak habis jika mereka menolak dibajak, dan bisa rusak pula jika angkutannya dipakai untuk mengangkut para supporter. Karena mereka akan memadati atap angkutan sambil bertingkah rusuh. Tapi setidaknya, kerusakan lebih bisa diminimalisir jika mereka mau mengangkut para The Jakmania, dibanding menolaknya. Iseng saja aku bertanya pada salah seorang dari mereka,

“Mas, Persija main di mana?”Tanyaku mengawali percakapan.

“Senayan.” Jawabnya singkat. Pemuda berparas sangar dengan kacamata berwarna merah menutupi setengah wajahnya itu lengkap memakai atribut Persija. Dari mulai syal, topi, kaos kaki, hingga kaos oranye bertuliskan nama Bambang Pamungkas, ia sukses membuatku malas meneruskan percakapan. Tapi aku tetap melanjutkannya.

“Oo, biasanya di Lebak Bulus ya…” Ujarku sok tahu.

“Pindah-pindah kali, Mbak,” Jawabnya, masih dengan singkat.

“Main jam berapa Mas?”

“Jam 3 an.”

Percakapanku dengan dia yang aku tak tahu namanya itu, benar-benar semakin menghadirkan kesan seram dan kebencianku pada supporter bola. Selama ini aku selalu merasa mereka melakukan hal yang tidak penting karena berarak-arakan naik bis kota, membuat macet, dan polusi suara sorak sorai serta gendang mereka begitu menyakitkan telinga. Belum lagi jika Persija main di Lebak Bulus. Wah, kesempatanku untuk mendapat jatah duduk di Deborah (bis yang aku tumpangi untuk pulang-pergi kuliah) semakin berkurang. Jangankan duduk, jatah berdiriku pun tambah sempit karena disesaki para The Jak.

Tapi entah ada angin apa akhirnya aku sampai juga di Senayan hari itu, masuk dan membeli tiket di kelas biasa seharga 20 ribu rupiah. Wah mahal juga, lebih mahal dari menonton bioskop di Hari Senin… ucapku dalam hati.

Pengalamanku Menonton Bola5

Pekarangan luar Gelora Bung Karno terlihat tidak begitu penuh, walaupun The Jak menyebar di mana-mana. Aku sempat membeli minum di dekat loket. Tapi, membeli minum itu ternyata sebuah kesalahan besar. Karena begitu sampai di pintu masuk, 8 orang Polisi memeriksa isi tas dan kantong celana. Mereka membuka tasku dengan kasar dan terburu-buru, sehingga resleting tasku rusak dibuatnya. Air minum yang dikemas dalam botol disita oleh mereka, begitu pun korek api dan benda tajam dalam bentuk apapun. Dan inilah kesalahan besar yang aku maksud: Air minum kemasan botol yang kita bawa dipindahkan ke plastik yang telah disediakan oleh Pak Polisi. Jadilah, air mineralku yang semula di dalam botol, kini dikemas dalam plastik, seperti air minum di Warung Tegal (warteg). Tidak praktis dan menggangu penampilan. Tujuannya agar botol minum tidak digunakan untuk menimpuk, karena bisa memicu kerusuhan antar supporter. Hahaha, sungguh pengalaman yang lucu bagiku. Aku semakin tak sabar masuk ke dalam. Mungkin akan ada peristiwa yang lebih menarik lagi di sana.

Pengalamanku Menonton Bola5

Lewat Pintu VIII aku masuk ke stadion dan duduk di Sektor 14 yang menghadap ke tengah lapangan. Gawang Persija berada di kananku dan gawang Persela di sebelah kiriku. Warna oranye menghampar hampir di seluruh bangku penonton. Para The Jakmania memadati Sektor 9 – 13 yang berada di sisi kiri  gawang Persija. Sedangkan para supporter Persela yang berkostum biru muda berjumlah sangat sedikit, hanya memadati satu sektor di sebelah kanan gawang Persela. Perbandingan supporter Persija dengan Persela adalah 10 banding 1. Wajar saja, karena Persija adalah kesebelasan tuan rumah di pertandingan ini.

 

Sektor 9 - 13 dipadati oleh supporter Persija

Sektor 9 - 13 dipadati oleh supporter Persija

Pengalamanku Menonton Bola7

Karena korek api disita oleh Polisi, awalnya aku mengira tak ada yang boleh merokok di dalam stadion. Tapi, orang pertama yang aku lihat sedang memegang rokok justru seorang Polisi yang duduk di bangku penonton. Selanjutnya seorang pemuda, lalu bapak-bapak, dan ternyata hampir semua orang merokok. Ternyata lagi, di dalam ada penjual rokok khusus produk PT Djarum. Karena sponsor utama acara pertandingan bola tersebut adalah PT Djarum. Terang saja semua bisa mengepulkan asap dengan santainya.

 

Salah satu penonton yang merokok

Salah satu penonton yang merokok dan memiliki korek api

Selain penjual rokok, ada pula penjual minuman. Harga minuman lebih mahal seribu rupiah dari yang dijual di luar stadion. Ada pula penjual cangcimen (kacang, kuaci, permen), penjual roti, tahu Sumedang, dan jus buah. Para SPG (Sales Promotion Girl) juga terlihat lalu-lalang menawarkan Teh Gelas seharga seribu rupiah, yang juga merupakan sponsor pendamping pertandingan bola tersebut.

Jujur saja, aku terlalu sibuk memperhatikan sekelilingku, sehingga aku tak menyaksikan gol yang dilancarkan oleh Aliyudin. Itu merupakan gol pertama dan satu-satunya dalam pertandingan ini. Skor kini menjadi 1-0 untuk Persija. Sayangnya, tak ada siaran ulang di stadion ini. Tidak seperti yang biasa aku saksikan di layar kaca. Saat gol tercipta, The Jakmania langsung mengibar-ngibarkan syal oranye mereka. Aku dan temanku duduk jauh dari kumpulan mereka, karena takut terjadi kerusuhan. Dari kejauhan tarian tangan mereka yang melambai-lambaikan syal begitu indah dan menarik. Aku baru sadar inilah asyiknya menonton bola. Terang saja para The Jakmania selalu beramai-ramai menonton tim kesayangannya bermain. Solidaritas dan yell-yell mereka sungguh membangkitkan semangat.

Pengalamanku Menonton Bola8

Diantara para supporter banyak juga aku temui pasangan suami istri muda yang membawa anaknya yang masih balita. Para balita juga ikut dipakaikan kostum bola bertuliskan nama pemain jagoan bapak-ibunya, misalnya Bambang Pamungkas. Mungkin mereka berharap saat besar nanti anaknya akan sehebat Bambang Pamungkas.

Pengalamanku Menonton Bola9

Pengalamanku Menonton Bola10

Setelah 45 menit berlalu, habislah babak pertama pertandingan sepak bola. Skor masih tetap 1-0 untuk Persija. Waktu istirahat dimeriahkan oleh penampilan Jakarta Freestyle yang menampilkan kebolehan mereka bermain-main dengan bola. Namun bagiku mereka lebih terlihat seperti semut yang membawa gula di kepalanya, karena aku melihatnya dari kejauhan.

Setelah Jakarta Freestyle, tampil para sexy dancer. Sorak sorai penonton yang didominasi oleh kaum Adam langsung ramai terdengar. Musik yang menghentak serta liuk tubuh si penari yang seksi memang sangat memancing perhatian.

Di babak kedua Persija lebih banyak bertahan, sedangkan Persela menyerang dengan penuh semangat. Para The Jakmania tak gentar menabuhkan gendang serta menyanyikan yell mereka. Saat menegangkan pun terjadi ketika Bambang Pamungkas, idola Indonesia, mendapat kesempatan free kick (tendangan bebas). Aku ikut berdiri dan menahan nafas saat ia akan menendang bola. Namun sayang, tendangannya mengenai tiang gawang. Gol pun gagal tercipta dan semua kembali duduk, kecuali The Jakmania yang berkumpul di sektor 9 – 13. Dari awal pertandingan hingga akhir mereka setia berdiri, menari-nari tak kenal lelah menyemangati para pemain.

Aku mencoba menyapa seorang The Jakmania di sebelahku.

“The Jak dari mana, Mas?” Tanyaku.

Gue dari Kebon Kacang. Lo dari mana?” Ia bertanya balik kepadaku.

Gue dari Ciputat. Cuma iseng nonton aja, baru sekali nonton bola,” jawabku jujur.

Pantesan nggak pakai atribut The Jak. Seru kan? Pasti ketagihan,” jawabnya yakin.

 

Masih banyak tempat duduk yang kosong

Masih banyak tempat duduk yang kosong

Aku pun membalasnya dengan senyuman saja. Tapi mungkin juga aku jadi ketagihan. Karena menonton bola ternyata tak seseram yang selama ini aku bayangkan. Dan The Jakmania ternyata tidak mengganggu. Kini aku mengerti, mereka ternyata sangat penting bagi para pemain. Semangat yang mereka tunjukkan lewat yell-yell dan tabuhan gendang mereka pasti membangkitkan semangat para pemain Persija. Mungkin cocok juga pepatah lama untukku, “tak kenal maka tak sayang”. Dan kini aku punya lanjutannya, “sekali kenal hati-hati ketagihan”. Hidup Sepak Bola Indonesia…!

Your email:

 


33 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Pengalamanku Menjadi Sales Promotion Boy
  2.           Menonton Kirab “Boyong Kedhaton”
  3.           Menonton Dangdut Familys di Pamulang Timur
  4.           Pertama Kali Menonton Video.
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Komentar (44)

 

  1. ferdi mengatakan:

    haiii eang di atas

    w stuju ma u smua

    tppi ppa leh bwt eakan demi tim kesayangan w PERSIJA JAKRTA

    bravo jak mania-depok

    kedutaan srengseng sawah

  2. diki mengatakan:

    kalo udah nonton performance-nya suporter bola di indonesia, marina putus . . .

  3. the jak angel jakarta utara mengatakan:

    hii . .. kmu kmren biz nnton persija eea d’glora . .
    hmm aqu jga kmren biz nnton d’sna . .
    emank cie ..aqu sbel klo da org yg naek” k’atas bus . . .
    tkud ja bus’a roboh . .
    dah gtu sopir’a org batak . ,syerem bgt , ,

    hmm. .kpan kmu mau nnton lgi??

    kmu pna FB ga??
    klo kmu ada. .add aqu iia . .
    ni email aqu

    suciputri98@yahoo.com

    slam knal . .n persija slalu

  4. Ryan JCC-JP mengatakan:

    Itulah Asiknya Nonton Langsung DI Bandingkan
    Nonton DI layar Kaca

    Gua Sependapat Sama Loe
    Tentang Bis Itu

    JCC : JAK CONDET CILILITAn
    JP : JAK PEKAN BARU

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Catatan Biografi Aku Sebagai Partisipan

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Atot
      Workshop Aku Massa Kota Cirebon yang diadakan di Engklek —merupakan salah satu bagian dari komunitas Gardu Unik Cirebon— diikuti oleh delapan partisipan yang berasal dari Kota Cirebon, dua orang perempuan dan enam orang laki-laki. Kegiatan kebanyakan ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      VIDEOBASE

      (Pengantar)

      VIDEOBASE
      [caption id="attachment_1013" align="alignnone" width="589" caption="VIDEOBASE"][/caption] Mencermati sejarah Indonesia melalui video menjadi satu gerakan penting. Sejarah memang berpihak pada pemenang. Kenyataan dibentuk sedemikian rupa sesuai kehen ...

      (Ada 7 komentar pada artikel ini)

      Rumah Sakit Umum Daerah dr. Adjidarmo

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      Patung dr. Adjidarmo
      13 Maret 09 [caption id="attachment_1157" align="alignnone" width="300" caption="Patung dr. Adjidarmo"][/caption] Persepsi kecil Adjidarmo di Lebak. Setahuku adalah rumah sakit umum yang sering menjadi rujukan untuk seluruh penduduk kabupaten Lebak, ...

      (Ada 13 komentar pada artikel ini)

      Langgar

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      Interior langgar yang terbuat dari kayu
      Interior langgar terbuat dari kayu. Dibangun sekitar tahun 1980an oleh Mbah Ngali Mbah Sukur merupakan seorang yang dituakan di sini, lahir sejak tahun 1926.  Di masa mudanya, sekitar tahun 1946, ia adalah seorang tentara yang tidak mendapatkan upah ...

      (Ada 8 komentar pada artikel ini)

      Aku dan Nelayan (Bagian 1)

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Cirebon, 23 Desember 2008 Transkrip Percakapan dalam bahasa Jawa dan Indonesia antara Malik Yahya dan nelayan yang baru datang di Tempat Pelelangan Ikan Kejawanan. >> Malik Klo kapal pengangkut ikan datang jam berapa pak??? Bapak-Bapak Oowh ga ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Di Balik Beton Baja

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Pada siang hari flyover terlihat sepi dari kendaraan
      Terhitung telah genap dua tahun sudah masyarakat di daerah Ciputat dan sekitarnya merasa lega dengan keadaan Jalan Juanda pada sisi lintasan yang berada tepat di depan Pasar Ciputat. Kemacetan sekitar pasar sudah sedikit terkurangi, walaupun tetap ma ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  294
    • Komentar:  1,499
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 85

    Total: 41383

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media