Oleh Mira Febri Mellya | Pada Kamis, 4 Februari 2010
* * *

Ia memegang kaca pembesar dan sebuah foto di tangan kirinya, serta sebuah kuas bergagang hitam di tangan kanannya yang menunggu disapukan. Sambil sedikit mengernyitkan dahi, ia melirik ke sebuah foto yang sedang ia buat lukisannya tersebut. Aku merasa tak perlu menebak umurnya, karena dari raut wajahnya aku sudah dapat melihat garis-garis keriput, tanda usianya tak muda lagi.

Pameran Setiap Hari

Namanya Hadi Aryono, seorang pelukis dari sekian banyak pelukis yang berjejer di pinggiran kios tak berpenghuni di Jalan Pintu Besar Selatan, Jakarta Barat. Sudah 10 tahun ia menjajakan jasa lukis di sana

Harga jasa melukis satu buah kanvas ukuran besar ia bandrol Rp.500.000,- dan yang ukuran sedang sekitar Rp.300.000,-. Cukup mahal bagiku yang merupakan orang awam dalam hal seni lukis. Tapi seperti katanya kepadaku, “Kalau dilihat dari harganya saja memang terasa mahal, tapi bandingkan dengan kepuasan setelah melihat hasilnya nanti, pasti tidak kecewa membayar segitu,” jelasnya kepadaku.

Pameran Setiap Hari

Dari kecil Pak Hadi, sapaan akrabnya, sudah mengikuti les lukis. Ia merasa darah seninya mengalir dari sang ayah yang juga hobi melukis. Sejak kecil ia sudah kenal dekat dengan cat air, akrilik dan alat pewarna lainnya yang biasa digunakan ayahnya untuk melukis. Entah saking cintanya terhadap melukis, atau hal lainnya, Pak Hadi tak pernah mencoba bekerja di kantor. “Kayaknya saya nggak ada wibawa untuk jadi orang kantoran,” tuturnya.

Pameran Setiap Hari 2

Kios-kios bekas yang menjadi tempat Hadi Aryono dan beberapa pelukis lainnya menjajakan jasa lukis

Kios-kios bekas yang menjadi tempat Hadi Aryono dan beberapa pelukis lainnya menjajakan jasa lukis

Sejak hijrah dari kota asalnya, Bandung, ke Jakarta, ia langsung menjajakan jasa lukisnya di pinggir jalan tersebut. Bangunan kios yang menjadi tempatnya sehari-hari itu merupakan kios-kios bekas Pujasera, Bar, tempat bermain billiard, dan sebagainya. Kios-kios tersebut mati suri sejak  menjadi korban kerusuhan jaman orde lama atau masa kepemimpinan Almarhum Presiden Soeharto. Kios-kios tersebut tidak dibangun kembali. Bukan karena tidak ada modal, namun karena kios-kios itu berada di atas tanah sengketa. Surat-surat bangunan tidak jelas pemiliknya. Sehingga menimbulkan masalah kepemilikan saat akan dibangun kembali dan akhirnya terbengkalai begitu saja.

Pak Hadi mengaku tak pernah bosan berada di sana setiap hari dari pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB. Hampir setiap hari ada saja orang yang memesan lukisan kepadanya. Uangnya pun diakui cukup untuk membiayai anak istrinya.

Pameran Setiap Hari6

Dahulu ia dan beberapa pelukis lainnya pernah mencoba bekerjasama dengan pengurus mall di Jakarta untuk menggelar pameran lukis, tapi hasilnya tidak memuaskan. Tak ada satupun pengunjung mall yang tertarik membeli lukisannya, padahal ia sudah mengeluarkan biaya lumayan besar untuk mengadakan pameran tersebut. Akhirnya, ia kembali lagi ke pinggir jalan, ditemani bising kendaraan bermotor yang lalu-lalang, pemandangan kemacetan ibu kota, serta polusi yang mengudara di sekitarnya. “Tidak terganggu, Pak, melukis di pinggir jalan seperti ini?” Tanyaku. “Saya sudah biasa seperti ini, sejak 10 tahun lalu. Di sini saya seperti mengadakan pameran setiap hari,” tuturnya kepadaku disertai senyuman kecil.

Pameran Setiap Hari7

Pameran setiap hari. Benar juga istilahnya, pikirku. Setiap hari berpuluh, beratus, bahkan beribu orang melewati jalan itu, bisa dipastikan mereka melirik lukisan-lukisan Pak Hadi. Apalagi di saat keadaan jalan macet. Walaupun tidak terkenal seperti pelukis-pelukis besar lainnya, Hadi Aryono boleh berbangga, karena bisa menggelar pameran lukisnya setiap hari.

Your email:

 


8 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Pameran Video ‘…yang taksa [ambigu]‘
  2.           Membaca Pameran Senirupa Kontemporer di Galeri Merdeka
  3.           Pameran Video akumassa: Pertama di Blora
  4.           Melihat Demo 100 Hari Kinerja SBY-Boediono
  5.           Melihat Cirebon Dalam 3 Hari
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Komentar (3)

 

  1. harianto mengatakan:

    terus berkarya dan tak kenal lelah..biarlah orang suka atau tidak suka hsil karya kta..tidak menghitung untung atau rugi..tak ada cat gunakanlah pena, tak ada pena gunakanlah pensil,tak ada pensil ambillah arang..karna arang ada di mana2…jdilah seniman yang merdeka semerdaka-dekanya…..

  2. lilik mengatakan:

    asalamualikum,om swastiastu,salam sejahtera,aku salut pada engkau biarpun tergeser zaman tapi engkau tetap exsis berkarya dan berkaraya,,,,,,,,,,salam kenal dari samin art randublatung…..wassalam,om santi santi om,salm sejahtera

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Pertandingan M.04 Pasar Minggu-Depok Timur

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Suasana di perempatan Pasar Minggu tanpa lampu lalu lintas
      [caption id="attachment_994" align="alignnone" width="300" caption="Suasana di perempatan Pasar Minggu tanpa lampu lalu lintas"][/caption] Setelah beberapa hari bergeliat dengan diskusi dan riset-riset, tim akumassa Lenteng Agung akhirnya telah menda ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Stasiun Jurang Mangu, Stasiun Anyar di Kota Tangerang Selatan

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      1
      Kota Tangerang Selatan kini memiliki stasiun kereta api baru, bernama Stasiun Jurang Mangu. Stasiun ini berada di Jalan Tegal Rotan, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Stasiun ini dibangun pada tahun 2002, selesai pada awal bulan Septe ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Selamat Tahun Baru 2010

      (Pengantar)

      Selamat Tahun Baru 2010
      ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Negeri Para Monyet

      (Cirebon, Jawa Barat)

      monyet sedang memakan buah
      Pernahkah anda melihat monyet sedang panjat pinang? Jawabannya anda harus datang ke situs Makam Sunan Kalijaga pada saat hari peringatan 17 Agustus. Ketika itu sang kuncen membuat panjat pinang mini dengan menggunakan bambu dan di beri pelicin.maka ...

      (Ada 8 komentar pada artikel ini)

      Iklan Slide dan Rupa Reklame

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Iklan slide yang kami dapatkan dari Bioskop Karia
      Beberapa waktu yang lalu ajakan Jelita, temanku sesama anggota Sarueh, untuk kembali bertandang ke Bioskop Karia ku sambut dengan baik. Di tengah gerimis dan dinginnya Padangpanjang kami melangkahkan kaki menuju bioskop tua yang masih kokoh berdiri d ...

      (Ada 9 komentar pada artikel ini)

      Iklim Berubah, Mari Berubah.

      (Pengantar)

      climate-change2
      [klik gambar ini untuk melihat tulisan yang lebih jelas] Kopenhagen-Denmark saat ini menjadi isu sentral di dunia. Perubahan Iklim! Itulah gagasan besar yang didengungkan dari kota ini. Saat ini sedang berlangsung Konferensi Perubahan Iklim Perserik ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 44

    Total: 68999

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media