Oleh Hamdani Mutiara Tanjung | Pada Rabu, 3 Maret 2010
* * *

Sekitar dua minggu yang lalu, gue sedang pusing dan malas narik (mengoperasikan  tarayek) Metro Mini 91 jurusan Batusari-Tanah Abang karena terlalu sering dibokisin (dibohongi) oleh supir gue.  Awalnya, supir gue, Si Sihombing ini baik. Melihat gue  luntang lantung dia langsung memanggil gue,

“He, lae! Sini Kau. Apa marga Kau?”

“Tanjung, Paman.”

“Ah, masih saudara Kau dengan Akbar Tanjung? Faisal Tanjung? Orang kaya, Kau?” dia bercanda, “Ngapain Kau tak karuan begitu, seperti dewa mabuk, bawa-bawa botol setiap hari. Sudah, besok ikut jadi batanganku (jadi kondektur tetap dia) saja, Kau!”

Ikutlah gue bekerja dengan Sihombing sejak saat itu. Tapi lama kelamaan, setelah gue tahu seluk beluk tentang besar setoran dan pembagian pendapatan, gue baru sadar kalau selama ini dia ngebokisin gue. Misalnya pendapatan kita satu hari sebesar 700 ribu rupiah. Setoran kepada bos sebesar 230 ribu rupiah. Hutang air minum dan rokok kami berdua di pool perhari cuma 30 ribu rupiah. Untuk beli solar 180 ribu. rupiah Artinya penghasilan kami berdua 260 ribu rupiah. Kalau supir yang ‘asyik’ seperti supir gue sebelum bekerja dengan Sihombing, penghasilan dibagi rata. Yah, minimal harusnya gue mendapat 120 ribuan lah dari 230 ribu itu. Sihombing tiap hari cuma ngasih gue 70 ribu rupiah. Kawan gue sesama kondektur pernah bilang, “Wah, Tak. Itu namanya lo di-kadalin (dikerjai).” (kawan-kawan biasa memanggil gue dengan sebutan ‘Batak’)

Sudahlah, gue tinggalkan Sihombing.

 

Sihombing, supir Metro Mini 91

Sihombing, supir Metro Mini 91

Tiba-tiba gue jadi kangen kepingin nongkrong dengan kawan-kawan lama  gue di daerah Tanjung Duren, belakang Untar (Universitas Taruma Negara). Gue langsung kembali ikut mengamen bersama kawan-kawan gue lagi seperti sebelumnya. Malam harinya hujan turun rintik-rintik. Gue dan kawan-kawan berteduh di sebuah gubuk beratap papan bekas dan berlantai papan juga, yang dilapisi karpet merah. Kami memetik gitar dan mendendangkan lagu bersama-sama, bercanda dan tertawa di gubuk papan beralas karpet merah.

Ketika itu datanglah seorang cowok yang usianya gue perkirakan sekitar enambelas tahunan. Tangan kirinya bertato dengan motif batik. Penampilannya keren, rapi dan bersih.  Mengenakan kaos oblong tangan pendek warna hitam, celana buntung jins warna biru, dan berwajah seperti orang keturunan Cina. Rambutnya pendek sekali berjambul seperti David Beckham. Dia memegang sekaleng lem Aica Aibon. Sebelumnya kaleng tersebut dia sembunyikan dekat ketiak dalam kausnya.  (Lem bermerek Aica Aibon terkenal sebagai zat adiktif yang murah dan umum dipakai oleh anak-anak jalanan untuk mabuk. Biasanya aktifitas menghisap aroma lem Aica Aibon melalui saluran hidung, disebut dengan istilah nge-lem atau ngaibon - red).

Cowok bertato (memakai kaos hitam) yang ternyata cewek

Cowok bertato (memakai kaos hitam) yang ternyata cewek

Salah satu kawan gue, Vetrus yang sepertinya sudah mengenal lelaki bertato itu, mendatanginya dan mengisengi cowok keren itu. Dia malah teriak dan menangis, Nggak karuan seperti perempuan. Ternyata gue baru sadar dia seorang perempuan  dan dia  tidak bisa berbicara alias  gagu. Vetrus  bertanya  ke   gue,“ Emang lu kira dia apa, Tak?”
Gue jawab, “Cowok.”

Kawan gue yang lain ikut angkat suara,  ”Dia cewek, Tak. Rambutnya aja yang sengaja dipotong begitu. ”

Gue pun bertanya, ”Kalau cewek, kok ga ada payudaranya?”

“Payudaranya dikorsetin, Tak.”

“Kayak perut emak gue baru habis ngelahirin, dikorsetin. Hahahaha….” Gue tertawa.

Lalu cewek itu mulai menghisap lem Aibonnya dengan santai sambil merokok. Setelah lemnya habis dia meminta lagi lem dari salah satu kawan gue. Kawan gue nggak ngasih. Cewek itu nangis lagi. Lalu dia menyodorkan sendal jepitnya kepada kawan gue. Sendal jepit itu gunanya untuk ditukar dengan secolek lem Aibon milik kawan gue... tidak banyak. Dia cuma mencolek seuprit (sedikit) lem dari kawan gue. Gila tuh orang, pikir gue. Dia  rela nyeker (tidak beralas kaki),  mengorbankan sendal jepitnya untuk mencolek lem doang. Lalu dia kembali nge-lem sambil merokok. Yang gue heran, dia kemudian tidur tanpa melepas lem itu dari hidungnya. Jangan-jangan lem itu merekat nanti di hidungnya. Hehehe…

Tertidur sambil masih menghisap lem Aica Aibon

Tertidur sambil masih menghisap lem Aica Aibon

Siang harinya gue dan kawan gue membeli nasi bungkus, membawa nasi bungkus dalam kantong plastik ke gubuk kami lalu membangunkan kawan-kawan semua untuk makan siang bersama-sama. Tiba-tiba Si Gagu datang dan berniat nimbrung makan. Kawan gue menggodanya, “Nggak boleh! Apa-apaan lu? Bangun-bangun langsung mau nimbrung makan aja. Enak banget lu!” Si Gagu langsung nangis teriak-teriak lagi. Kawan gue bilang,  “Nih, ambil! Makan sama nangis aja lu bisanya.” Makanlah Si Gagu bersama kami. Gue bilang ke dia, “ Cuci tangan dulu, baru makan.”

Sehabis makan gue menyuruh Si Gagu membeli tiga batang rokok dan air es. Dia mengambil uang dari tangan gue, lalu jalan dengan riangnya membeli tiga batang rokok dan air es. Setelah dia datang dan menyerahkan rokok dan air es, gue kasih dia sebatang rokok. Dia menghisapnya dengan santai.

Lokasi ngamen di daerah Blok M

Lokasi ngamen di daerah Blok M

Datanglah satu kawan gue yang baru habis mengamen di Blok M sambil menenteng gitar. Dia meletakkan gitarnya dan mengeluarkan sekaleng Aica Aibon dari kantong bersama uang sembilan ribu untuk membeli nasi lagi. Gue menyuruh kawan gue yang bernama Soni untuk membeli tiga bungkus nasi. Gue menambahkan uang sebesar tiga ribu untuk  beli rokok. Soni pergi. Si Gagu tiba-tiba menyambar kaleng kosong untuk minta diisikan lem oleh kawan gue yang bernama Vetrus. Vetrus nggak ngasih. Si Gagu menangis lagi sambil berteriak-teriak.

Gue bilang, “Kasihlah. Berisik!”

Vetrus menjawab, “Bukannya apa-apa, Tak. Dia kalau punya Aibon, pelit banget.

Makanya gue males ngasih dia.”

Gue bilang lagi, “Udahlah, kasih aja, Trus.”

Akhirnya Vetrus memberinya. Si Gagu langsung senang. Tanpa banyak basa basi langsung itu kaleng ditempelkan ke hidungnya. Vetrus kemudian menyuruh Soni mencari kaleng kosong.  Soni jalan mencari, dan setelah dapat langsung memberikannya pada Vetrus. Vetrus mengisi kaleng kosong Soni dan kawan-kawan lainnya dengan Aibon.

Nge-lem bersama

Nge-lem bersama

Vetrus bertanya pada gue, “Lu nggak mau, Tak?”
Gue jawab, “Enggak, ah.”
“Emangnya lu kagak ngaibon?”
Kagak. Kalau anggur baru gue mau.” Jawab gue.

Lalu seorang kawan gue becerita tentang Si Gagu. Dia bukan cuma rela menukar sendal jepitnya, dia juga rela menukar bajunya dengan secolek Aica Aibon. Bahkan terkadang dia rela memberi tubuhnya untuk dapat sekaleng lem. Pernah ada cerita tentang Si Soni yang sedang asyik ngaibon, lalu tiba-tiba didatangi Si Gagu. Dia minta secolek Lem pada Soni. Soni bilang, “Ntar gue beliin sekaleng, tapi lu ‘main’ dulu sama gue.” Si Gagu dengan bodohnya lalu merelakan tubuhnya demi mendapat sekaleng Aica Aibon. Setelah mendapatkan kenikmatan, Soni membelikan sekaleng Aica Aibon untuk si cewek bertato dengan penampilan seperti lelaki itu.

Tempat tidur yang seadanya

Tempat tidur yang seadanya

Mengkhayal

Mengkhayal karena mabuk setelah nge-lem Aibon

Di hari lain Si Gagu pergi nyadong (meminta-minta) di sekitar area Diskotik Medika, di Jalan Daan Mogot. Dia meminta-minta uang pada wanita-wanita pekerja diskotik. Setelah mendapatkan uang dia langsung membeli sekaleng lem Aica Aibon. Dengan santai dia menghisapnya sambil tidur-tiduran. Di sore harinya dia membeli sekaleng lagi. Dia akan berjalan sambil sembunyi-sembunyi karena takut dimintai oleh Vetrus, sesama penghisap lem. Suatu ketika Vetrus melihat Si Gagu sedang asyik ngaibon sendirian. Vetrus langsung mengejarnya untuk minta berbagi. Setelah Si Gagu tertangkap, Vetrus berkata, “Lu kalau punya aja, ngumpet-ngumpet! Dasa pelit lu!” Si Gagu kemudian menuangkan sebagian lemnya ke kaleng milik Vetrus. Setelah itu dia ngumpet lagi, nge-lem sambil mengkhayal.

Your email:

 

6 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Tak ada artikel terkait.


Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Komentar (14)

 

  1. PuspaL mengatakan:

    bagus bgt dan, baca ceritanya kaya dengerin lu ngomong, gaya lu bgt, heheheh..

  2. gombelo mengatakan:

    terima kasih yah kawan2 padang panjang……mukin tida hanya kawan2 saja yang semangat untuk menulis karna melihat tulisan gombelo. gombelo punakan ikut semangat juga untuk menulis lagi dan lagi…

  3. agip mengatakan:

    tulisan yang sangat realistis dan cocok di buat naskah

  4. nda mengatakan:

    dani…lo tau gak…kalo tmn2 di padangpanjang jadi semangat nulis krn baca tulisan lo…dan tulisan lo jadi refrensi kwn2 utk nulis lg dan lagi…tq ya dan… :)

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Di Taman Lenteng Agung, Aku Kaget Ada Pasar Kaget

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Pasar Kaget atau Pasar Malam di Taman Lenteng Agung
      Aku adalah orang baru di Lenteng Agung, perantau dari Sukabumi, mencari ilmu dan melakukan sebuah pekerjaan di Lenteng Agung. Aku bergabung bersama kawan-kawan Forum Lenteng. Baru kali ini aku terpisah jauh dari sanak keluarga. Lenteng Agung berada d ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Penyaluran Bantuan Untuk Korban Gempa Sumatera Barat Tahap Ketiga

      (Padang, Sumatera Barat)

      Pada 11 Oktober 2009 Komunitas Sarueh beserta Komunitas Belanak kembali menyalurkan dana bantuan untuk korban gempa Sumatera Barat, yang telah masuk melalui rekening Forum Lenteng. Bantuan yang disalurkan adalah Rp. 2.032.200,- berupa 105 paket kebu ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Puskesmas Kita

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      dsc00305
      Bacaan Saya Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Belanda pada abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya upaya pemberantasan cacar dan kolera yang sangat ditakuti m ...

      (Ada 7 komentar pada artikel ini)

      Pengalaman Casting

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Iklan "Calon Bintang Terkenal"
      Iklan "Calon Bintang Televisi" Waktu itu saya masih kelas 3 Sekolah Menengah Pertama akhir setelah UAS (Ujian Akhir Semester) dan saya mengikuti lomba akting di Cirebon Mall. Biaya pendaftarannya Rp 65.000. Saya mengikuti lomba akting ditemani oleh M ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Sehari Dua Malam di Vi_Chie@Net

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Harry Gunawan adalah teman semasa sekolah saya sewaktu di SMPN 1 Padang dan juga di SMAN 3 Padang. Ada yang menarik dengan kisah cintanya dengan Suci Angelina. Banyak orang bilang jodoh di tangan Tuhan dan semuanya sudah ada jalannya. Pernyataan ters ...

      (Ada 13 komentar pada artikel ini)

      Perempuan dan Pabrik

      (Sukabumi, Jawa Barat)

      Perempuan dan Pabrik
      'Perempuan Perkasa', ya, begitulah sebutan yang pantas bagi mereka kaum hawa yang rela menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja. [caption id="attachment_5528" align="alignnone" width="470" caption="Salah satu pabrik di Sukabumi yang didominasi ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 43

    Total: 68999

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media