Mencari Nafkah di Tengah Suara Gemuruh

Oleh / pada 18 Mei 2012 / di Bojonegoro, Jawa Timur // 1 Komentar

Suporter Persibo Bojonegoro memenuhi stadion Bojonegoro

Aku mendengar cerita dari temanku yang berasal dari Tangerang Selatan, Umam, bahwa pernah ada sebuah kesebelasan dari Tangerang yang bernama Tangerang Wolves. Saat ini kesebelasan tersebut sudah tidak ada. Menurut Umam, Tangerang Wolves didirikan pada masa awa Liga Premiere Indonesia (LPI). Namun di musim berikutnya, saat PSSI sudah diketuai oleh Djohar Arifin, kesebelasan ini entah kemana. Dari dulu di Tangerang sudah ada kesebelasan yang memiliki supporter fanatik, yaitu Persikota dan Persita. Tangerang Wolves yang tak memiliki supporter fanatik tidak bertahan. Bisa jadi sebuah kesebelasan sangat bergantung pada dukungan supporter-nya.

Cerita dari Umam mengingatkanku pada sebuah pertandingan yang sempat kusaksikan lebih dari satu tahun yang lalu. Uniknya, pertandingan tersebut adalah pertandingan pertama dan satu-satunya pertandingan sepak bola yang pernah kusaksikan secara langsung di stadion. Namun tulisan ini tidak hanya akan menceritakan mengenai pertandingan itu saja. Aku mengingat bagaimana sebuah perhelatan juga diramaikan oleh para pedagang musiman.

Hari itu aku sedang menonton sebuah pertandingan sepak bola di Bojonegoro, kota tempat aku menuntut ilmu di kampus IKIP PGRI Bojonegoro. Dua tim yang bertanding adalah Kesebelasan Persibo, Bojonengoro, melawan Kesebelasan Tangerang Wolves dalam pertandingan lanjutan LPI. Hari itu pertandingan berjalan dengan tertib dan lancar, meskipun cuaca kurang mendukung—Kota Bojonegoro sedang mendung dan sempat diguyur hujan meskipun tidak deras pada saat berjalannya pertandingan. Pertandingan dimulai, para supporter bersiap-siap untuk memberi semangat dengan gerakan-gerakan seragam yang mengikuti panduan seorang dirigen. Di  tengah lapangan para pemain telah sibuk berjuang dalam pertandingan yang sangat sengit. Para Boromania (julukan bagi supporter fanatik Persibo Bojonegoro) meneriakkan sorakan-sorakan atau yel-yel penyemangat buat tim kebanggaanya itu.

Seorang dirigen memandu para suporter untuk mendukung tim Persibo Bojonegoro

Saat itu sedang demam-demamnya sepak bola bagi rakyat Indonesia. Sebab di Indonesia pada akhir tahun itu, tepatnya bulan Desember 2010, sedang mengikuti sebuah perhelatan terbesar di Asia Tengara yakni AFF, yang merupakan ujung tombak dari sebuah perubahan di dunia olah raga khususnya sepak bola. Meningkatnya para penggila bola di Indonesia tak hanya di kota-kota besar saja, tetapi juga dari sebuah kota kecil sampai tingkat kecamatan pun telah berbondong-bondong membuat sebuah turnamen. Siapa tahu dari sebuah kota kecil bisa berkembang bibit-bibit pemain baru yang mempunyai skill lebih bagus dari yang sudah ada.

Setelah babak pertama selesai, aku melihat banyak supporter kesebelasan mencari makanan ringan atau minuman, sebab mereka kelelahan akibat bersorak ria mendukung timnya. Di sini para pedagang asongan siap-siap untuk diserbu para penonton yang ingin membeli makanan atau minumannya. Namun, di sela-sela menjual makanan atau minuman, para pedagang asongan itu biasanya suka tertipu karena seringkali ada oknum penonton yang mengambil makanannya tanpa membayar. Hal itu yang tidak disukai para pedagang. Sudah susah payah berjualan tapi tidak pada membayar. Namun tidak semuanya begitu. Hanya beberapa orang saja yang tidak membayar. Pengalaman ini sempat diceritakan oleh seorang pedagang lumpia kepadaku.

Ketika babak ke dua dimulai, pedagang yang sebelumya diam di tempat menunggu pembeli datang sendiri, mulai gantian berjalan mengelilingi supporter. Sebab kalau tidak begini dagangannya tidak laku. Para asongan akan mencari orang-orang yang mungkin lapar atau haus. Selain itu, selama pertandingan berlangsung, para supporter fokus ke jalannya pertandingan. Jadinya mau nggak mau para asongan itu hadir di tengah-tengah penonton yang sedang asik menonton sepak bola.

Berada di dalam Stadion Sudirman Bojonegoro, aku berusaha mendekati seorang ibu yang usianya sekitar 45 tahun, Ibu Ida namanya. Ia sedang melayani para penonton yang membeli lumpia. Ada juga para tukang asongan lainnya yang ikut menjajakan makanan atau air minumnya di dalam Stadion Sudirman itu, dengan alat yang mudah untuk dibawa kemana-mana. Para asongan itu bebas mengelilingi para penonton yang berada di dalam stadion. Sambil makan lumpia, aku juga sempat bertanya-tanya pada Ibu Ida. Katanya, satu pincuk yang berisi tiga lumpia harganya Rp 2.000. Ya, ketika sedang ada pertandingan seperti ini Ibu Ida bisa meraup untung 40% lebih besar dibanding hari biasanya ketika berjualan di pasar-pasar Bojonegoro. Saat ada pertandingan sepak bola seperti ini, Ibu Ida pun tidak menyia-nyiakan waktu yang lumayan terbatas, karena hanya dua kali 45 menit, di tambah waktu istirahat yang tidak begitu lama bagi para pemain sepak bola yang sedang melakukan pertandingan.

Ibu Ida penjual lumpia di Stadion Bojonegoro

Ibu Ida tetap semangat menjajakan lumpianya seperti semangat penonton sepak bola. Ia ikut serta meramaikan pertandingan dengan cara berjualan di dalam stadion. Tujuannya bukan untuk memberi semangat melainkan berharap lumpianya laku dan diborong oleh para supporter.

Ibu Ida melayani para suporter sepak bola yang lapar

Selang beberapa menit kemudian, setelah babak ke dua dimulai, tim Persibo melakukan tendangan yang membuat gawang tim tamu Tangerang Wolves kebobolan satu gol. Seketika para supporter berteriak kencang dan suasana lapangan menjadi gaduh oleh penonton berkostum oranye. Dengan kebobolannya tim lawan maka supporter tambah semangat menyanyikan lagu-lagu atau yel-yel yang sudah disiapkan supporter Persibo yang terkenal dengan sebutan Boromania. Mereka semua bersorak ria karena merayakan tim kebangaannya menang di kandang sendiri. Gol yang dicetak di babak ke dua dengan hasil 1-0 menjadi satu-satunya gol sampai menit terakhir. Pertandingan Persibo melawan Tangerang Wolves selesai.

Tentang Penulis

Ariyanto

Dilahirkan di Blora pada tanggal 8 Mei 1990. Pria yang akrab disapa Pethek ini menyelesaikan sekolahnya di SMK Katolik St.Louis, Randublatung, Blora. Sekarang ia sedang menyelesaikan studinya di IKIP PGRI Bojonegoro jurusan Bahasa Inggris. Ia juga aktif di komunitas lokal di Blora yaitu, komunitas Anak Seribu Pulau.

1 Komentar pada "Mencari Nafkah di Tengah Suara Gemuruh"

Lacak balik untuk tulisan ini

  1. Making a Living in the Middle of Tumultuous Sound | ( akumassa )

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //