Berkunjung ke Parung Farm, Bogor

Sudah lama aku ingin ke Parung Farm. Aku sudah mencari tahu di internet. Ia adalah kebun sayuran yang menggunakan sistem hidroponik. Parung Farm adalah merek dagang hasil produksi kebun sayur PT Kebun Sayur Segar. Meski begitu, tidak semua sayur produksinya menggunakan merek Parung Farm. Untuk outlet-outlet tertentu, mereka hanya memasok sayurnya dan diberi label seturut permintaan. Swalayan Hero menggunakan label First Choice untuk sayur segar yang ditanam oleh PT Kebun Sayur Segar.

Senin, 27 Juni lalu aku mengajak Bintang ke Parung Farm. Ia terletak di Jalan Raya Parung No. 546, Parung, Bogor. Tak sulit menemukannya. Dari arah Tangerang menuju Bogor, setelah pasar Parung ia berada sekitar 1 km di sebelah kiri. Ada plang penanda yang cukup mencolok bertuliskan Parung Farm 546.

Aku parkir mobil di dalam, di depan deretan kamar-kamar perkantoran mereka. Berturut dari kiri ke kanan: tempat menurunkan dan menaikkan sayur, kemudian ruang-ruang kantor dengan teras berisi dua set meja kursi. Aku masuk ke salah satu ruang. Bintang mengikuti dari belakang. Ada seorang bapak menyambut, aku memperkenalkan diri. Bapak itu menyebut namanya, Joko. Aku perkirakan ia berumur sekitar setengah abad lebih. Belakangan ia cerita dulunya mengajar Biologi di IPB, setelah pensiun ia memilih bekerja di Parung Farm.

Aku bertanya, bisakah Bintang belajar mengenai sistem hidroponik di sini? Pak Joko tak langsung menjawab. Mulutnya masih mengunyah sesuatu. Ketika sesuatu itu sudah tertelan, barulah ia menjawab sambil menggandeng tanganku menjauh dari kantornya. “Begini, di sini tidak menerima pelatihan untuk anak secara perorangan. Biasanya mereka datang sebagai rombongan dari sekolah. Tapi kalau sekedar mau melihat-lihat silakan saja berkeliling, di sana tempatnya,” ujarnya sambil menunjuk ke arah kebun.

Aku khawatir Bintang kecewa mendengar penjelasan Pak Joko. Sedikit memaksa aku bilang akan membayar berapa biaya yang diperlukan. Pak Joko bergeming. Ia bilang tak bisa. Ya sudah. Aku ajak saja Bintang berkeliling melihat cara mereka bercocok tanam. Pak Joko ikut menemani.

Yang pertama aku datangi adalah pendopo yang berisi alat peraga, alat tulis, dan kursi-kursi. Inilah tempat pelatihan hidroponik secara teori. Ada definisi mengenai hidroponik terbaca di sana. Hidroponik merupakan sistem bagaimana memberdayakan air, menyiram akar tanaman.

Aku menemukan ada dua panel kertas yang menerangkan dua turunan sistem hidroponik. Pertama, sistem air menggenang atau sistem minuman ayam. Sistem ini menggunakan media arang sekam atau bisa juga kerikil. Sebuah botol minuman ayam atau botol bekas kemasan air minum yang diletakkan terbalik di sana. Air akan keluar dari mulut bawah botol dan menggenangi akar tanaman secara terus menerus. Kedua, sistem aeroponik. Air mengalir dan disemprotkan ke atas. Tanaman di tanam di pralon-pralon besar yang sudah dilobangi dan akarnya dibiarkan menggantung di udara. Cara penyiraman dengan menggunakan saklar on and off yang dihubungkan dengan pompa listrik, pengaturan waktu penyiraman menggunakan timer yang sudah di atur sebelumnya. Sepanjang hari air akan mengalir silih berganti menyirami akar-akar tananam.

Selanjutnya kami melihat praktik dari dua sistem tersebut pada beberapa tanaman. Ada caisim, kangkung, tomat ceri, kemangi dan beberapa jenis sawi lainnya.

Perhatian kami ke soal hidroponik sempat terpecah begitu kami masuk ke kebun anggrek. Pak Joko memanggil seorang laki-laki muda, ia lantas minta ijin pergi sambil tetap mempersilakan kami berkeliling. Kini lelaki muda itu yang menemani kami. Ada beragam jenis anggrek di sana. Yang paling banyak adalah jenis dendrobium. Aku beli satu yang bunganya masih kuncup. Harganya 17ribu rupiah per pot. Sementara Bintang pilih satu pot kecil keladi mini. Harganya hanya 5ribu rupiah, ia berbisik, “Nanti aku bayar pakai uangku boleh ya, bu.” “Tentu saja boleh,” jawabku sambil tersenyum.

Bintang dan pohon keladi mininya

Seorang ibu menyeruak masuk. Ia langsung teriak, “Ada yang baru nggak? Saya pesan 18 ya, langsung kirim ke rumah!” Rupanya kebun anggrek Parung Farm juga menerima pembelian dalam jumlah banyak untuk dijual kembali. Lelaki muda yang menemani kami cerita ia biasa kirim ke Aceh. Untuk satu kotak yang berisi 100 pohon anggrek tanpa pot dan terbungkus koran, ongkos kirimnya 150ribu rupiah. Di Aceh, pasar anggrek kabarnya sangat menjanjikan. Satu pohon anggrek bisa terjual dengan harga 65ribu rupiah.

Keluar dari kebun anggrek aku masih berkeliling sebentar. Kemudian kembali lagi ke perkantoran mereka. Aku lihat ada sesosok bapak yang penampilannya berbeda dibanding yang lain. Mengenakan hem putih lengan pendek dan celana pendek berwarna khaki. Sekilas mengingatkan pada Bob Sadino. Ia sedang asyik berbincang dengan seorang tamu sementara sebuah truk di belakangnya sedang menurunkan sayuran. Beberapa lelaki muda perlente ada di sekitar truk. Suasana kerja. Rupanya ada sayur yang baru datang dari kebun Parung Farm yang berlokasi di Cianjur.

Aku bertanya kepada seorang bapak yang ada di dekatku. Ia membenarkan, bapak itu pemilik Parung Farm. Aku mendekat, memperkenalkan diri dan mengajaknya berbincang. Tapi si bapak hanya cerita sedikit. Ketika aku menerangkan bahwa kedatanganku untuk mencari bahan tulisan ia lantas menyerahkan ke asistennya, Pak Soedarmojo. Sedikit perbincangan membuatku paham saat ia menolak jati dirinya disebarluaskan. Baiklah aku sebut saja inisialnya Pak S.

Parung Farm dibangun pada 1993, mulanya sekadar sebagai hobi. Pelatihan dan pertemuan dengan anak-anak muda dari BPPT membuat Pak S tertarik pada sistem hidroponik. Ia menambah sendiri pengetahuannya dengan banyak membaca buku-buku dan majalah dari luar negeri. Pada 2003, produksi kebun sayurnya masuk pasar di bawah bendera PT Kebun Sayur Segar. Pada 2010, PT Kebun Sayur Segar mendapat sertifikat organik dari PT Mutu Agung Lestari, sebuah Lembaga Sertifikasi Organik yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional, di bawah Kementerian Pertanian RI. Kini mereka memasok sayur-sayuran ke 34 outlet baik hipermarket, supermarket, restoran, ataupun toko buah di seluruh Indonesia.

Saat ini Parung Farm mengklaim dirinya sebagai kebun sayur berdaun yang terbesar di Indonesia yang ditanam dengan cara hidroponik. Mereka juga melayani beragam pelatihan bercocok tanam baik untuk, umum, anak-anak ataupun ibu-ibu untuk membuka perkebunan skala rumah tangga. Di sana aku juga melihat beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi tengah melakukan penelitian entah untuk skripsi, thesis, dan disertasi. Beberapa hasil penelitian juga nampak tergeletak di meja kantor.

Bintang sedang memetik tomat ceri

Parung Farm barangkali tak semenarik tempat wisata agro seperti Mekarsari ataupun lainnya. Tapi baiklah untuk menambah pengetahuan tentang apa itu hidroponik. Ketika pulang Bintang diperbolehkan memetik tomat-tomat ceri yang sudah matang untuk dijadikan bibit di rumah.

 

Tentang Penulis

Elisabet Repelita Kuswijayanti

Elisabet Repelita Kuswijayanti. Biasa dipanggil Tata. Kelahiran Yogyakarta, 6 Februari. Mantan wartawan majalah Eksekutif dan majalah Indikator. Pernah mengikuti pelatihan LEAD (Leadership for Environment dan Development) pada 1995-1997. Menyelesaikan pascasarjana pada Program Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan di IPB pada 2007. Sekarang menjadi penulis lepas.

7 Komentar pada "Berkunjung ke Parung Farm, Bogor"

  1. nia 5 Juni 2012 pukul 17:54 · Balas

    Hidroponik budidaya dgn media selain tanah..tp ada jg yg blg hidroponik berbeda dgn organik.krn organik kita tdk mnggunakan bhn kimia.smntara hidroponik msh ada..spt pnggunaan sistem NFT,dsb. Jd pengen bkunjung jg..bagus tulisannya..suka..sdh coba kunjungan ke kemfarm? ;-)

  2. rahmadsyah 9 September 2013 pukul 08:27 · Balas

    farung farm adalah tempat yang bagus untuk menggali ilmu tentang budidaya tanaman dengan cara hidroponik.

  3. rifal herwindo 12 September 2013 pukul 08:24 · Balas

    parung farm tempat yang paling cocok untuk belajar tentang hidroponik. semua sistem hidroponik ada dsini, apalagi tempat ini cocok banget untuk praktek lapang. ga bakal nyesel kalau belajar dsini

  4. parungfarm 22 Oktober 2013 pukul 13:02 · Balas

    Terima kasih atas tulisan Ibu dan komentar-komentar yang diberikan. Kami sangat mengharapkan kritik membangun, agar kami dapat menjadi lebih baik lagi, baik dari segi produksi dan penjualannya, maupun dari segi mutu pelatihan kami.

  5. Indro P Widodo 20 Desember 2013 pukul 13:10 · Balas

    Secara pribadi sy ingin belajar teknik hidroponik untuk skala bisnis, bs bantu informasi alamat pelatihan yg bs sy ikuti ? Trm ksh.

  6. zarrin 29 April 2014 pukul 23:11 · Balas

    saya berasal dari Kabupaten Kepulauan Anambas Propinsi Kepulauan Riau swangat berminat untuk mengembangkan hidroponik di daerah saya untuk itu mohon kami di undang untuk mengikuti pelatihan hidroponik yang ditujuakan kepada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kepulauan Anambas di Tarempa melalui Email saya…terima kasih

  7. friska arsalina 10 November 2014 pukul 10:20 · Balas

    ada nmor tlp parung farm?

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //