Dalam kesunyian perkampungan di Lebak tengah di balik gunung-gunung itu, perasaan bebas bagaikan udara hinggap, laksana cahaya tak terkekang menerangi sekeliling. Di sanalah aku memperoleh kebebasan yang sungguh-sungguh. Di sanalah aku bisa bertatap muka dengan saksi bisu semasa kecil yang kini masih hidup. Rerumputan tanpa nama dengan bunga-bunga putih menebarkan wangi bunga selasih terbawa angin timur tercium dari kejauhan. Kini aku berhadapan dengan kerumunan anak kecil yang serba rahasia di batas Hutan Al-Basiah diapit Sungai Cikoncet dan Cipeuyah. Hamparan pohon kerdil tak bernama banyak tumbuh setelah sebuah sungai muda yang mempesona membuat senang rasa hati itu kian jelas tersentuh saat membasuh muka. Air mengalir menghiasi kulit bumi dalam ukiran meliuk-liuk di sisi perbukitan sebelum bercampur dengan Sungai Cisimeut. Sebuah permainan kepatuhan atas perintah dan titah akan sedikit terjabarkan.

Sebuah perkampungan kecil di kelilingi persawahan. Hijaunya padi yang baru tumbuh 3 bulan menebar kesejukan penglihat. Dua aliran sungai kecil yang di satu titik tepat tempat aku berdiri menyatu menyerupai huruf Y. Di sisi kirinya terdapat perkampungan kecil. Di atasnya dihiasi perbukitan lebat hutan, sebuah pemukiman warga rapi tersisih di bawah lembah terhalang bukit bebatuan pemakaman umum tempo dulu. Tidak tahu persis, tetapi keterangan warga mengatakan pemakaman tersebut sebuah memiliki sejarah penting. Sisi-sisinya dikelilingi persawahan. Di tengahnya terdapat danau kecil. Kampung Koncet di Leuwidamar, sebuah nama perkampungan yang tidak banyak dikenal.












































