Oleh Fuad Fauji | Pada Senin, 17 Mei 2010
* * *

Pelangi muncul. Terang cahaya langit petang datang dari belakang penglihat. Menembus tetes-tetes air yang berperan sebagai cahaya putih. Rupa jingga berlapis-lapis. Adzan Ashar tak terdengar.

Senja

Senja

[Lanjutkan membaca Senja dan Kotak Film ]

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Fuad Fauji | Pada Jumat, 12 Februari 2010
* * *

Dalam kesunyian perkampungan di Lebak tengah di balik gunung-gunung itu, perasaan bebas bagaikan udara hinggap, laksana cahaya tak terkekang menerangi sekeliling. Di sanalah aku memperoleh kebebasan yang sungguh-sungguh. Di sanalah aku bisa bertatap muka dengan saksi bisu semasa kecil yang kini masih hidup. Rerumputan tanpa nama dengan bunga-bunga putih menebarkan wangi bunga selasih terbawa angin timur tercium dari kejauhan. Kini aku berhadapan dengan kerumunan anak kecil yang serba rahasia di batas Hutan Al-Basiah diapit Sungai Cikoncet dan Cipeuyah. Hamparan pohon kerdil tak bernama banyak tumbuh setelah sebuah sungai muda yang mempesona membuat senang rasa hati itu kian jelas tersentuh saat membasuh muka. Air mengalir menghiasi kulit bumi dalam ukiran meliuk-liuk di sisi perbukitan sebelum bercampur dengan Sungai Cisimeut. Sebuah permainan kepatuhan atas perintah dan titah akan sedikit terjabarkan.

jarog

Sebuah perkampungan kecil di kelilingi persawahan. Hijaunya padi yang baru tumbuh 3 bulan menebar kesejukan penglihat. Dua aliran sungai kecil yang di satu titik tepat tempat aku berdiri menyatu menyerupai huruf Y. Di sisi kirinya terdapat perkampungan kecil. Di atasnya dihiasi perbukitan lebat hutan, sebuah pemukiman warga rapi tersisih di bawah lembah terhalang bukit bebatuan pemakaman umum tempo dulu. Tidak tahu persis, tetapi keterangan warga mengatakan pemakaman tersebut sebuah memiliki sejarah penting. Sisi-sisinya dikelilingi persawahan. Di tengahnya terdapat danau kecil. Kampung Koncet di Leuwidamar, sebuah nama perkampungan yang tidak banyak dikenal.

[Lanjutkan membaca Jarog]

11 pembaca suka artikel ini.
Oleh Aboy Sirait & Fuad Fauji | Pada Minggu, 31 Januari 2010
* * *

Maaf, kami banyak membicarakan Bapak di waktu senggang. Apa yang Bapak ketahui tentang seni patung? “Saya tidak banyak tahu dan bukan seniman. Saya hanya tukang kebun”. Langit semakin hitam. Pertanda aku harus segera mencari posisi yang bisa melindungi tubuh dari serbuan butir-butir air yang turun dari warna hitam langit.

*****

Haji Sahib
Haji Sahib Sujana R.J.

Suatu hari jalan-jalan di Jalan Hardiwinangun, karena penat oleh sempitnya ruangan terkadang membuat sakit kepala. Ke luar melihat-lihat patung di Jalan Hardiwinangun, berharap bisa menghibur.

Patung publik di Rangkasbitung belum terbentang ceritanya dalam jangka waktu yang panjang. Penuturan  tentang temuan menjadi kata sepadan dengan fakta-fakta yang ada sementara ini. Butuh disiplin yang kuat untuk menguak apa yang ada di balik patung penghias Kota Lebak. Dalam rentang waktu yang terlihat panjang tapi sesungguhnya pendek. Belum banyak memang perubahan signifikan pemikiran dalam hal menafsir bentuk dan intepretasi karya sesorang. Diawali dari ketertarikan untuk menyimak bagaimana pandangan kekaguman atas ulet dan terampilnya si pembuat. Rasa penasaran dan kagum pada objek yang memiliki garis dan cekungan objek yang tajam, kami pun mencari ‘Mpunya’.

Sekilas terlihat dari patung-patung publik di Rangkasbitung, semuanya tampak tak bisa lepas dari keinginan mengobarkan spirit revolusi dari sebuah daerah yang terus menerus kisruh oleh konsep nilai. Hari ke bulan, kami menatap detail-detail karya yang belum diketahui siapa pembuatnya teruslah berlangsung. Sadar dengan ketidaksopanan memperhatikan karya tanpa memiliki bekal pengalaman estetik kami urungkan sesaat. Ada baiknya mencari dongeng dari sumbernya. Seni patung adalah cabang seni rupa yang hasil karyanya berwujud tiga dimensi. Biasanya diciptakan dengan cara memahat, modeling (misalnya dengan bahan tanah liat) atau casting (dengan cetakan), baca wikipedia. Seluruh kemampuan kami pusatkan pada sebuah relief di tembok bangunan luar partai berlambang beringin.

[Lanjutkan membaca Lupakan Hari Esok]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Saidjahforum | Pada Jumat, 15 Januari 2010
* * *

Setelah menerima pinjaman buku dari seorang kawan di Jakarta beberapa bulan lamanya, aku sungguh kagum dan merasa terhormat bisa menerimanya. Seringkali waktu dihabiskan untuk membaca. Warna buku, teks, dan beberapa gambar sampulnya telah membuatku memimpikan sebuah kegiatan yang remeh mungkin bagi anda, tetapi tidak bagiku. ”Dongeng buku”, dongeng, ya…mendongeng!! Ingin sekali kami mendapat dongeng dari orang yang banyak tahu tentang teks dan konteks buku ini. Hal-hal kecil terbersit dalam imajinasiku, pertanyaan kecilpun bermunculan. Kenapa buku ini dibuat? Karena kami kurang cakap membaca, apalagi menulisnya dalam sebuah gagasan, maka seringlah terjadi tukar pikiran lewat dongeng dan omong kosong setiap sorenya di ruangan tanpa meja di Saidjahforum setengah tahun lalu.

Mendongeng Buku -- 31 Januari 2010 --

Mendongeng Buku -- 31 Januari 2010 --

Sungguh pengecut jika harus berhenti sampai di pembacaan saja. Cukup lama buku dibolak-balik dengan pemahaman seadanya dalam telaah kecil pada teks yang termaksud dalam setiap kalimatnya. Sesudah itu semua berlalu, aku dan kawan lainnya menyatukan maksud dan tujuan yang sama. Membuat diskusi kecil dan pemutaran film. Empat buku yang dimaksud antara lain: Zaman Reformasi; Pengarang  Edith Simon, penulisnya seorang wanita inggris yang terkenal. India Yang Bersejerah;  Hasil karya Lucille Schulberg. Jepang Purba; Pengarang Jonathan Norton Leonard, menurut catatan di halaman pertama seorang anggota staf penulis PUSTAKA TIME-LIFE. Roma Pada Masa Kekaisaran; Pengarang  Alm.Moses Hadas lama dipandang sebagai salah-satu ahli terkemuka di Amerika dalam masalah kuno. Untuk film yang akan di putar berjudul: I WAS BORN, BUT….. Sutradara Yasujiro Ozu.

Lewat poster digital tanpa makna dan catatan kecil ini, kami berdo’a agar bisa terbaca oleh si pemilik buku dan dengan ikhlas untuk datang ke tempat baru kami yang rapuh.


Your email:

 


7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Aboy Sirait | Pada Kamis, 24 Desember 2009
* * *

Sudah lama tulisan ini tersimpan rapi di sobekan buku kertas bergaris. Buku dengan gambar depan pemain bola dari inggris bekas semasa Sekolah Menengah Umum (SMUN) 3. Masa yang paling manis dalam perjalanan hidup. Butuh keberanian berucap bahwa aku sudah selesai menulis. Saat seseorang yang paling aku segani di Saidjahforum menanyakan apakah sudah selesai menulisnya? Aku menjawab belum, dan tidak. Ketidak tahuanku tentang menulis dan apa yang harus ditulis teruslah menghantui perasaan. Benar adanya jika perasaan itu susah dipercaya, tetapi aku sering mengikutinya. Hingga tiap harinya kusempatkan menyusun kata perkata, kalimat perkalimat, coret sana sini. Akhirnya  jadilah catatan kecil tentang permainan yang akan aku urai dengan tergagap-gagap.

kelereng

Satu minggu yang lalu di awal bulan peristiwa itu terjadi. Bulan Mei tepatnya. Sebuah penglihatan tertuju pada bola kaca kecil. Bentuknya bulat dengan ragam corak warna-warni di dalamnya. Sebut sajalah Kelereng. Biasanya mereka membeli dari pasar toko mainan milik Si Engkhoh. Saat permainan terjadi gerak bola kaca itu berputar-putar di atas tanah liat bercampur semen yang sudah rontok. Letaknya berdekatan dengan benteng tua bekas peninggalan Belanda. Aku kira jaraknya hanya 15 kaki saja. Tetapi aku tidak di situ. Aku berada di gang sempit, di tengah jalan berdinding tembok rumah warga. Gerak gaya bola kaca terpantul, membentur tembok rumah. Kecepatannya ditakar oleh tenaga si pemain. Ketika membentur gundukan kelereng lain, maka sulitlah menebak arah pantulannya. Terkadang berdekatan dengan musuh atau sebaliknya. Hati dan mata si penglihat tertuju dengan berdebar. Besarnya tenaga yang keluar dari jari-jemari tangan mereka tidak berpengaruh. Jika tidak mengunci targetnya maka tenaga akan terbuang percuma. Mengunci objek bukan mengunakan alat bantu canggih dalam permainan tetapi dengan satu mata setengah memejam. Mengunci kelereng musuh. Target atau objek akan terkunci. Dalam permainan begitu penting halnya. Permainan kelereng pada umumnya mungkinlah sama. Tetapi  di kampungku sebutannya berbeda. Maen Ball. Permainan kelereng yang hingga kini dimainkan banyak anak. Sangat berbeda jika kakek tua  dan muda-mudi ikut juga. Aturan dalam permainan kelereng:

- usia pemain bebas (tanpa mengenal status)
- dilarang bermain curang dalam hal bentuk apapun
- masing–masing pemain harus memasang taruhan yang telah dibuat dan tersepakati.

[Lanjutkan membaca Kelereng Mainan Maen Ball]

9 pembaca suka artikel ini.
Oleh Febri | Pada Selasa, 15 Desember 2009
* * *

Ruang yang aku tempati sedikit cahaya. Terlihat di balik celah pohon bambu, awan hitam berjalan pelan dari arah barat kota. Gelaplah cuaca, seketika berubah menjadi siklus sedang. Tidak lama butir-butir air yang halus berjatuhan dari langit menambah pendek jarak pandang. Sungai Ciujung bergemuruh nampak keruh. Menjadi pertanda telah terjadi hujan lebih awal di hulu sungai.

lorong masuk Saidjahforum
lorong masuk Saidjahforum

Lihatlah ragam pelatuk burung berkumis dengan aneka warna. Dia sedang asyik menghisap madu dari bunga-bunga di atas pohon Jeruk nipis dan Pepaya Gandul. Gayanya seperti ketua tidak punya kaki yang mendapat makanan dari orang lain. Makhluk itu tidak merasa terganggu dipandangi lama-lama. Mereka sepertinya mengisolasi pendengarannya, menutup bening mata dalam kesunyian dan semrawutnya psikologikal si penglihat. Ragam kemasan plastik bergerak pelan di bawahnya. Berjatuhan bunga-bunga tak berguna menimpa bungkus kantong plastik gas. Samar terdengar seperti suara aliran air dari penis yang jatuh ke dedaunan jati kering. Cetak..cetik..cetok..tak! bunyinya. Pandangan mata difokuskan. Nyata-nyata gerak plastik bukan diakibatkan oleh jatuhnya bunga-bunga tetapi oleh kotoran burung dari atas batang Jeruk dan Pepaya. Pandanganku tidak begitu jelas saat pagi itu. Mungkin rabun bola mata ini karena terhalang lilitan kawat pagar yang baru dipasang tanggal dua kemarin. Lilitan rumit timah baja, dibeli dari pasar dua minggu yang lalu oleh kawan, hasil gaji PNS tiga bulanan. Lama tertegun. “Kalau tidak dipasang kawat, rasanya kurang tenang dari intaian si pencuri satu tahun yang lalu,” suara si pemilik rumah terdengar di belakangku beradu benturan dengan tabung gas tiga kilo yang disusun.

[Lanjutkan membaca Gas Tiga Kilo]

10 pembaca suka artikel ini.
Oleh Jimi Lesmana & Fuad Fauji | Pada Sabtu, 12 Desember 2009
* * *

Sebuah obsesi lahir dari mimpi. Kenyataannya tidak semudah meninggalkan jejak langkah. Acara musik fenomenal kadang lahir dari hal yang tidak pernah diduga. Tetapi yang pasti semua hasil yang besar hampir mutlak disokong oleh kerja keras, kejujuran, dan ketekunan usaha yang luar biasa. Paling tidak hal ini sudah dicoba oleh Saidjahforum bekerjasama dengan komunitas musik TingTong yang dijawab oleh reaksi agresif M2 Studio. Cukup disayangkan, reaksi dengan mendukung penuh di wilayah teknis itu tidaklah cukup mulus dan hampir cacat di acara Ulang Tahun Lebak ke 181.

 

antusiasme masyarakat Lenak di acara peringatan HUT Lebak ke 181
antusiasme masyarakat Lebak di acara peringatan HUT Lebak ke 181

Kegiatan parade awalnya hanya tawaran basa-basi pihak pelaksana hajatan tahunan.  Jika mereka tidak menawarkan maka saya tidak akan menerimanya. Saya harus berterimakasih pada Saidjahforum  yang menyumbang sebuah issu potensial tentang data Red Studio, yang merupakan studio musik rental pertama di Lebak. Pemiliknya berasal dari Bogor.  Letak studionya di Leuwijamang. Pada tahun 1990 Red Studio berubah menjadi tempat steam kendaraan. Bangunan Belanda yang kini sudah tidak ada. Dari data itu semangat militansi panitia muncul. Dari perapihan database peserta band sampai berusaha mengetuk pintu rumah Clausas Band untuk persoalan Juri. Acara parade sampai festival musik pada dasarnya sudah dimulai pada tahun 90-an. Hanya beberapa acara yang dianggap sukses di tahun itu. Carilah cerita pada pelakunya yang masih hidup. Festival Akustik misalnya, acara ini sempat menggemparkan insan musik di Banten. Saat lampau Lebak menjadi rujukan untuk perkembangan band akustik. Sekilas cukup berlebihan tapi jika menelusuri lebih detail Lebak memiliki juara-juara musik. Sebut saja instrumen musik keroncong, band akustik, piano, dan paduan suara yang sudah berkembang di tahun 80-an.

Saat itu gitar elektrik sangat mahal dan hanya dimiliki orang-orang yang mapan saja. Gitar bolong saja masih langka. Kalau ada orang yang bisa memainkan instrumen gitar bolong maka dia sudah sah menjadi pemain band. Dampak setiap acara menjadi pertaruhan seberapa jauh perkembangan diam di pertapaan, sambil tertawa Ela, musisi senior di Lebak, gitaris handal dan sekaligus juri dalam acara ini, menambahkan obrolan saat ditemui  di kediamannya. “Tunggu dulu! Cerita itu sekarang hanya jadi romantisme saja” ujar Jaenudin yang sejak dulu aktif di scene musik Lebak  “Setahu saya, pada tahun 80-an peralatan band hanya dimiliki dua lembaga saat itu. Sebut saja alat itu dimiliki oleh partai dengan lambang pohon beringin dan Bank milik BUMN. Kalau ada sejarawan, mungkin alat-alat itu akan masuk museum kini, karena tanpa alat itu motivasi nge-band saya berakhir di gitar bolong,” sambung Ade, musisi yang juga berperan sebagai juri.

Begundal Multatuli
Begundal Multatuli

[Lanjutkan membaca Project Audisi 10 BAND TERBAIK dan Issu Red Studio]

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Bima Muia | Pada Jumat, 4 Desember 2009
* * *
Kota Rangkasbitung terlihat dari gedung sekolah

Kota Rangkasbitung terlihat dari gedung sekolah

Tanaman-tanaman di halaman rumah kini sudah segar kembali. Musim sudahlah berganti lagi. Banyak hal sudah terlewati. Aku tidak bermaksud menyendiri setiap hari, melainkan sedang asyik membaca katalog kecil. Membaca berulang kali setiap hari dan itulah yang terjadi kini. Di dalamnya isi buku terdapat cerita-cerita lucu. Kusempatkan membacanya setelah pulang sekolah sambil jalan kaki sepanjang Jalan Multatuli menuju rumah.Tulisan-tulisannya sungguh lucu sekali. Gambar-gambar kecil dalam buku kecil (Loket Karcis). Buku aneka warna dengan ragam bentuk itu terbawa dari Jakarta (Forumlenteng dan Ruangrupa) ke Saidjah Forum. Isinya cukuplah membuat aku banyak berpikir tentang ruang-ruang di gedung yang kusinggahi setiap kali. Sejujurnya aku menyukai gedung tidak bertingkat. Aku ingin kotaku ini tidak dibangun gedung bertingkat.  Cukuplah tower-tower tinggi saja yang terlanjur berdiri menghiasi pingiran Kota Lebak kini.

 

Gedung rumah sakit

Gedung rumah sakit

5

Sungai Ciujung

[Lanjutkan membaca Ruang Ruang di Rangkasbitung]

11 pembaca suka artikel ini.
Oleh akumassa | Pada Rabu, 9 September 2009
* * *

Perasaan dan emosi berdiam di balik nama samaran yang dibuat semasa kecil. Lantunan lagu pagi membawaku ke tempat-tempat semasa kecil tumbuh tak subur. Tidak lagi ada sesal karena semua telah menjadi kenangan, kini. Raut muka polos dan menggembirakan telah berubah menjadi kerut-merut wajah yang berkarakter. Umurnya belumlah tua tetapi kini sebutannya sudah menjadi bapak. Anak istri yang dulu jadi obrolan omong kosong kini telah nyata-nyata nampak di depan mata. Kutemui sosok sahabat semasa kecil bernama Romli, 26 tahun, di daerah selatan kota Lebak. Sebelum tiba di sana kusempatkan diri mampir ke rumah sahabat yang lain di Lebak Sambel, Kebon Kopi tempatnya, dan di Sajira. Salah satu dari dua sahabat yang kini sudah pindah rumah berbicara tanpa nada bahagia. Tuturannya cukup mengejutkan. Ayahnya yang mau kutanyai tentang dongeng permainan yang dulu banyak terceritakan semasa kecil kini sudah tidak bisa ditemui. Niatku ingin mencocokkan tentang ingatan yang sering terputus.

patung kuda di Kebon Kopi

patung kerbau di Kebon Kopi

alun-alun Sajira

alun-alun Sajira

Ayah meninggal dunia dua tahun lalu di hari Jum’at. Awalnya aku sungguh berharap bahwa ia dapat hidup beberapa tahun lebih lama lagi. Aku menganggap kematiannya sebagai pengorbanan terakhir yang dibuatnya karena cinta kasihnya kepadaku. Batinku menyimpan sesal. Ia meninggal lantaran aku yang bila mungkin masih dapat menjadi sesuatu. Dari semua yang telah ia warisi hanyalah setumpuk cerita kenangan akan dia, potretnya dalam keadaan yang sangat berbeda”, tuturnya. Sakit keras yang dideritanya tidak sempat dibawa ke dokter di kota. Sungguh berharga baginya, dan aku akan berusaha untuk mengekalkan kenangannya agar aman terjaga dari soal-soal kaduniaan. Sejenak ada jeda lama percakapan. Berbeda sekali rasanya jeda bicara antara kami berdua sebagai orang dewasa. Rasanya, keempat mata penuh dosa ini menatap ke beranda rumah. Kedua anaknya tertawa gembira bermain Agot. Kami dulu melakukannya.

sedang bermain Agot

sedang bermain Agot

[Lanjutkan membaca Agot]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh akumassa | Pada Jumat, 14 Agustus 2009
* * *

merah-putih

Itulah hari kemerdekaan kita! Aku, kamu dan mereka sudah pasti terbawa pada kehangatan suasananya jika hari itu tiba. Ada gairah yang selalu coba dilukiskan oleh setiap individu. Anak-anak, muda-mudi, orang tua, semua larut dalam gairah yang sama. Gairah merdeka! Walau dalam bingkai persepsi yang berbeda-beda tentunya. Semua orang ingin melihat merdeka itu dari mana-mana arahnya. Tetapi aku lebih senang melihat daerahku merdeka dan dilihat secara langsung dengan mataku sendiri bukan dengan mata orang lain. Geliat daerah Lebak mungkin akan menjadi pijakan awal ketika melihat merdeka itu. Lihat dan berhenti sejenak di setiap persimpangan yang membingungkan di jalan-jalan kota Lebak (Rangkasbitung) gerobak dari kayu tambal sulam yang didapat saat menepi dan hanyut di sungai Ciujung ikut memeriahkan suasana penjualan pernak-pernik simbol Agustusan.

Seminggu sebelumnya, kegiatan perlombaan dan pertandingan di tiap sudut RT sudah dimulai. Ada lomba balap kelereng, balap karung, tarik tambang, memasukkan paku kedalam botol, dan masih banyak lagi jenis perlombaan yang disajikan. Bervariasi. Panitia perlombaan biasanya dipegang oleh pemuda-pemudi setempat. Mereka diberi tanggung jawab untuk merencanakan sekaligus melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut oleh Ketua RT.

Kekhasan lain yang terasa adalah ketika menghias kampung. Bendera merah putih sudah barang tentu dipasang di setiap rumah. Belum lagi bendera kecil-kecil yang terbuat dari kertas minyak yang ditempelkan pada benang lantas dipasang zig-zag dari satu tiang listrik ke tiang listrik lainnya sepanjang jalan utama perkampungan. Gapura dibuat pada tiap gang masuk utama di tiap kampung. Puncaknya, sebuah pohon pinang lengkap dengan hadiah yang tergantung di atasnya, menancap gagah di atas tanah.

[Lanjutkan membaca Agustusan di Alun-Alun Kabupaten]

2 pembaca suka artikel ini.

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Serang (akan) Menyerang

      (PengantarSerang, Banten)

      Peta Banten jaman dahulu
      Tidak banyak yang dapat saya gambarkan dari Kota Serang. Sepuluh tahun lalu, saya hanya bisa mengingat-ingat nama kota ini pernah disebut dalam tulisan Multatuli dan selain itu saya tidak menemukan ingatan saya tentang kota ini. Tentu ada beberapa ca ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Semangat Kemerdekaan Sudah Memudar di Tempat Kita

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      lapangan volly tempat perayaan 17-an
      [caption id="attachment_2229" align="aligncenter" width="470" caption="lapangan volly tempat perayaan 17-an"][/caption] Pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB saya mendengar suara seruan yang berasal dari masjid, “Untuk merayakan hari kemerdekaan kita, dih ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Publikasi Pemutaran akumassa Rangkasbitung

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      [issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=FFFFFF showflipbtn=true documentid=090702192539-c1e96df2c2ae4aa495da2613eb79832a docname=publikasi-pemutaran-akumassa-rangkasbitung username=forumlenteng loadinginfote ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      What’s on your mind?

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      5780_1200399655684_1399345614_30600263_2217254_n1
      Facebook selain sebagai social networking ternyata juga menjadi saksi perayaan HUT RI ke-64. Banyak para penggunanya yang mencantumkan isi kepala mereka tentang kemerdekaan Republik Indonesia dalam kolom "what's on your mind?" yang sudah sangat famil ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Pertama Kali Menonton Video.

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      Megaloman
        [caption id="attachment_1144" align="alignnone" width="300" caption="Megaloman"][/caption] Cerita Bapakku, "Semenjak aku lahir di tahun 1974,  TVRI (Televisi Republik Indonesia) sudah nampak keberadaannya". Saat itu TVRI adalah satu-satunya hiburan ...

      (Ada 20 komentar pada artikel ini)

      Projectionist di Bioskop Tua Padangpanjang

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Pak Udin adalah kakekku yang bekerja sebagai projectionist di bioskop Karia Padangpanjang sejak 1954, berarti sudah 55 tahun ia menekuni pekerjaan itu. Selama bekerja sebagai projectionist, banyak suka duka yang dialaminya. Beliau bercerita padaku te ...

      (Ada 10 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 43

    Total: 68999

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media