Pramoedya Ananta Toer, seorang pria pemberani dan survive dalam segala hal. Lahir di Blora, Jawa Tengah pada 6 Februari 1925 – 30 April 2006.

Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer, seorang pria pemberani dan survive dalam segala hal. Lahir di Blora, Jawa Tengah pada 6 Februari 1925 – 30 April 2006.

Pramoedya Ananta Toer
SELAMATKAN BUMI !
Itu seharusnya yang harus didengar dan kita lakukan, kerusakan alam yang telah terjadi di negeri ini bukanlah hal yang baru kita lihat. Penjarahan besar-besaran yang dimulai sejak dahulu, bahkan sebelum lengsernya Rezim Orde Baru dari kursi kekuasaannya. Hutan yang didominasi pohon jati itu itu dilalap habis oleh tangan-tangan serakah yang tidak bertanggung jawab. Adanya ‘kongkalikong’ kerjasama dengan orang dalam, membuat apa saja yang sulit menjadi mudah, mudah juga dalam menebang pohon seenaknya.

Blora
Sisakan Satu Pohon Saja
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Sekarang yang terjadi adalah bencana di mana-mana, mulai dari longsor, banjir, gempa, dan sebagainya. Tak hanya kerusakan hutan saja yang menyebabkan terjadinya bencana alam di Indonesia, pertambangan alam pun juga ikut serta dalam kerusakan alam dan lingkungan, karena pertambangan adalah eksploitasi alam yang rakus akan lahan, air dan pencemaran udara yang sangat mengerikan. Lihat saja, kelalaian Lapindo Brantas, lumpur panas yang menyembur dari sumur gas menelan korban dan merusak sarana umum seperti sekolah rumah sakit, bahkan rumah warga sekitar juga ikut terkena semburan. Tak hanya itu, Suku Amungme juga menjadi korban pelanggaran HAM oleh PT. Freeport. Mereka membayar tentara setiap tahunnya, sehingga intimidasi, penindasan dan pembunuhan sering kali terjadi di sana.
Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia, bahkan sudah menjadi kebutuhan pokok mahkluk hidup di bumi ini. Mungkin kita tidak bisa hidup tanpa air, jadi air berpengaruh besar untuk kehidupan.

Aku tinggal di Randublatung yang merupakan salah satu titik penghasil minyak di Blok Cepu. Blok Cepu adalah wilayah kontrak minyak dan gas bumi yang meliputi wilayah Kabupaten Bojonegoro - Jawa Timur, Kabupaten Blora - Jawa Tengah, dan Kabupaten Tuban - Jawa Timur. Sebelum penemuan terbaru cadangan minyak yang cukup besar di wilayah Cepu dan sekitarnya, yaitu di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, ladang minyak Cepu hanya difungsikan sebagai wahana pendidikan bidang perminyakan yaitu dengan adanya Akademi Migas di Cepu.

Mbah Sukur merupakan seorang yang dituakan di sini, lahir sejak tahun 1926. Di masa mudanya, sekitar tahun 1946, ia adalah seorang tentara yang tidak mendapatkan upah. Ia sempat bercerita kepadaku, setiap hari hanya makan seadanya. Ia berhenti menjadi tentara tahun 1950, karena keinginannya sendiri dengan alasan usia orang tuanya sudah tua.
Ayahnya bernama Ngali Mustakum dan ibunya bernama Sugami. Di samping rumahnya terdapat bangunan ayahnya yang berupa langgar (sejenis mushola yang terbuat dari kayu). “Ndek cilikku seng ngulang ngaji neng kene aku” (waktu kecil yang mengajar ngaji di sini aku), mbah Sukur pernah ngomong itu kepadaku.
Langgar itu dibangun kira-kira tahun 1980an. Sebelumnya, langgar yang dibangun oleh Mbah Ngali itu adalah bekas lumbung padi yang sudah tidak terpakai. Aktifitas Mbah Ngali setiap harinya adalah bertani, menanam padi di musim hujan dan jagung di musim kemarau.
Mbah Sukur mempunyai saudara laki-laki bernama Mbah Zaini, sebenarnya saudaranya banyak, tapi yang aku tahu cuma Mbah Zaini karena yang lainnya sudah meninggal dunia. Mbah Zaini inilah yang merubah ulang langgar dan merenovasinya setelah Mbah Ngali meninggal. Seingatku Mbah Zaini meninggal di waktu aku masih kecil, ia sosok seorang kakek yang setiap harinya selalu menggunakan baju dan celana di bawah dengkul berwarna hitam-hitam.
Diambil dari Harian Kompas, Senin, 21 Desember 2009

Singa Barong Blora
Pemerintah Kabupaten Blora dan 600 seniman barongan mendeklarasikan barongan sebagai kesenian khas Blora, Jawa Tengah. Deklarasi itu berbentuk pernyataan barongan sebagai spiritualitas hidup dan kesenian masyarakat Blora serta parade tari 600 singa barong.
Para seniman dari 16 kecamatan di Blora, Sabtu (19/12) memadati Jalan Pemuda, Blora. Mereka memakai topeng singa barong, tokoh utama lakon pertunjukkan barongan, dan membentuk barisan tiga deret sepanjang sekitar 1,5 kilometer.

Dua barongan raksasa Risang Guntur Seto yang diusung 6-8 seniman berada di barisan paling depan. Di belakangnya, pemain-pemain kesenian barongan selain Singa Barong, seperti Bujangganong (Pujangga Anom), Joko Lodra (Genderuwo), pasukan berkuda, Noyontoko, Untub, dan Gainah, menari sesuai gaya dan karakter masing-masing.

Pementasan Joko Belek
Sebelum acara pameran dan pemutaran video dokumenter hasil dari kerja sama antara anakseribupulau dengan Forumlenteng, anakseribupulau pernah mengadakan barter dengan seseorang yang bersedia meminjamkan seperangkat tratak dan diesel untuk peralatan utama acara tersebut, dengan mendokumentasikan Pagelaran Seni Barong pada tanggal 5 Desember 2009. Kerja keras kami selama sebulan dengan kawan-kawan dari Jakarta ternyata membuahkan hasil yang maksimal. Antusias warga terhadap pameran serta pemutaran video akumassa pun menjadi semangat utama bagi kami untuk terus berkarya.
Tugas untuk mendokumentasikan Pagelaran Seni Barong itu akan kami lakukan, setelah makan Enthung (kepompong ulat jati) yang dimasak oleh Andri kami pun berangkat menuju tempat pagelaran tersebut. Di waktu yang bersamaan, di rumah anakseribupulau (ASP) ada meeting untuk membahas persiapan acara tahun baru yang akan digarap oleh ASP bekerjasama dengan komunitas lain yang ada di Randublatung. Sekitar pukul Sembilan, aku, Exi, Andri, Wilu, dan Dodee berangkat ke Dukuh Kedung Ringin untuk mendokumentasikan pegelaran tersebut. Dengan tiga motor kami menuju dukuh itu, perjalanan yang penuh kegelapan dan batang-batang pohon Jati dan Mahoni selalu menghiasi pandangan mataku. Jalan-jalan yang rusak sebelum memasuki Dukuh Kedung Ringin, membuat kami berhati-hati untuk mengendarai motor. Di tengah hutan belantara dan jalan-jalan yang rusak, ternyata ada sebuah tontonan kesenian yang khas rakyat Blora yaitu Barongan. Seni Barong Blora, merupakan salah satu kesenian rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Blora.
Blora adalah salah satu kota yang merupakan penghasil sapi terbesar di Jawa Tengah. Sapi adalah “Raja Kaya” di kota ini, sebab ketika baru lahir harga sapi berkisar Rp 3.000.000 (tiga juta rupiah). Bayangkan seumpama sehari di Randublatung 10 ekor pedet (anak sapi) dilahirkan maka Rp 30 juta dihasilkan. Setelah sapi ini mulai besar maka harganya berbeda, biasanya berkisar Rp 7 juta sampai Rp 10 juta. Yang paling mahal adalah sapi brahma yang berkisar antara Rp 13 juta sampai Rp 17 juta. Harga sapi brahma ini tergantung dari kualitasnya. Keunggulan sapi brahma dibandingkan dengan sapi biasa terdapat pada tubuh si sapi, karena selain dagingnya banyak, susunya juga bisa menyehatkan manusia jika diminum.


Sapi di Pasar Pahing
Sapi adalah hewan yang merupakan sahabat para petani, karena bisa digunakan untuk ternak dan membajak sawah. Air susu sapi petani, tidak layak untuk dikonsumsi karena jenisnya bukan termasuk sapi perah. Di tempat saya tinggal, semuanya adalah sapi ternak untuk bertani, bukan untuk diminum susunya. Kotoran sapi juga bisa dibuat pupuk kompos yang berguna untuk memupuk tanaman seperti padi, jagung, cabe dan sebagainya.
Setelah melalui proses kerja sebulan penuh bahkan lebih, akhirnya pameran untuk program akumassa di Randublatung–Kabupaten Blora diadakan. Acara ini bertempat di markas Anak Seribupulau di Jalan Onggososro No. 20 RT.05/RW.02 Randublatung–Kabupaten Blora. Pameran akumassa ini sekaligus memperkenalkan markas Anak Seribupulau kepada masyarakat. Pameran ini mempresentasikan sejumlah karya video yang direalisasikan oleh Anak Seribupulau bekerjasama dengan Forum Lenteng, Jakarta.
Presentasi hasil program akumassa kali ini berbeda dengan presentasi akumassa di kota lain sebelumnya seperti Lebak, Cirebon dan Padangpanjang, karena konsep presentasinya berupa pameran yang mengingatkan kita pada Festival OK. Video di Galeri Nasional Jakarta (Festival video di Jakarta diselenggarakan oleh ruangrupa–ed.) atau Videobase di Bentara Budaya Jakarta (program riset Forum Lenteng tentang video di Indonesia–ed.). Presentasi akumassa ini merupakan pameran video yang pertama di Blora–Jawa Tengah. Dengan tiga layar proyektor dan empat layar televisi di tiap ruangan yang dihiasi berbagai jenis lampion berhasil mengundang ratusan lebih warga yang datang tidak hanya dari Randublatung. Warga juga datang dari Desa Wulung, Pilang, Sambungwangan, Temulus, Kedung Sambi, Cepu, Kota Blora dan wilayah sekitarnya, beberapa bahkan kawan dari Yogyakarta dan Semarang juga turut meramaikan pameran ini. Tampak hadir Pak Soesilo Toer yang merupakan adik kandung Pramoedya Ananta Toer dan beberapa tokoh masyarakat. Beberapa rekan dari media massa lokal dan nasional juga meliput pameran ini.
[Lanjutkan membaca Pameran Video akumassa: Pertama di Blora]
[copyleft] akumassa.org januari 2009 - 2010
www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.
FB | TWEET
RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media