Oleh Muhammad Sibawaihi An-Nuha | Pada Minggu, 21 Februari 2010
* * *

Alhamdulillah… Aku baru saja menyelesaikan Sholat Isya’ di Masjid Ass-Shirathal Mustaqim yang terletak bersampingan dengan Pasar Pemenang. Segera kubergegas mengambil sandal dan bergerak menuju ke rumah karena perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maklumlah, dalam perjalanan dari Gunungsari ke Pemenang siang tadi, aku belum menyantap makanan. Apalagi kulihat tadi sore bibiku datang membawa Pes Ikan yang  dia bikin sendiri dari anaknya, hasil memancing.

Suasana malam hari di Bo'bo'an

Suasana malam hari di Bo'bo'an

Memang aku agak canggung untuk berjalan ke masjid dan aku merasa seperti orang asing di tempat sendiri karena lebih sering tinggal di Gunungsari. Dan biasanya aku pergi ke masjid menggunakan sepeda motor Supra-ku. Namun, sekarang motorku masih diperbaiki jadi belum bisa kupakai lagi.

Kali ini jalanan agak ramai karena malam Minggu, di mana biasanya para pemuda menggunakan malam ini untuk berkumpul bersama teman-teman mereka. Banyak kulihat anak-anak muda berkumpul dan seolah-olah dirancang untuk membagi diri mereka menjadi beberapa kelompok. Di depan masjid kulihat orang-orang yang sering berdagang di Bangsal, berbicara tentang hasil dagangan mereka hari ini. Seru sekali kelihatannya. Beberapa orang berdiri dan sebagiannya lagi duduk di sebuah tempat yang bisanya kami sebut dengan istilah bo’bo’an.

[Lanjutkan membaca Reuni Kecil Ba'da Isya di Bo'bo'an]

2 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Gazali | Pada Jumat, 19 Februari 2010
* * *

Senja baru saja menyapa, ketika saya, Mas Kiki Pea dan Maldi kembali dari perkampungan saudara-saudara kami yang beragama Budha. Hasrat ingin tahu tentang keberadaan agama-agama di Pemenang yang memiliki rasa kebersamaan dan toleransi yang tinggi ini, mengantarkan kami mengelilingi kota kecil sebelah barat Lombok Utara.

Salah satu tempat pemutaran film di Pemenang, yang kini kembali menjadi Banjar

Salah satu tempat pemutaran film di Pemenang, yang kini kembali menjadi Banjar

Bersandar sejenak di pojok ruang sekretariat, membuat pinggangku terasa sedikit lega setelah seharian bertengger di punggung sepeda motor tua bapakku yang akrab kami panggil “Kemumun”. Setelah Sholat Isya dan makan malam, kami melanjutkan planning ke rumah saudara kami yang  beragama Hindu. Mumpung Mas Kiki Pea ada disini, kita kerjain aja dia jadi tukang ojek, dan Mas Kiki juga memang akrab dengan Si Kemumun.

[Lanjutkan membaca Jejak Misbar (Gerimis Bubar) di Wajah Pemenang]

3 pembaca suka artikel ini.
Oleh Lalu Herlan | Pada Senin, 15 Februari 2010
* * *

Artikel ini dikutip dari Lombok Post, 13 Januari 2010

Pulau Lombok yang dihuni 60 persen dari seluruh masyarakat NTB mengalami krisis energi  listrik dengan jumlah kekurangan energi listrik sekitar 28 Megawatt (MW), PLN Wilayah NTB terpaksa menerapkan pemadaman bergilir di semua wilayah, “Dua atau tiga hari menyala, satu kali padam”. Itulah konsep yang digunakan PLN. Kebijakan pemadaman bergilir ini meresahkan masyarakat. Sebab, masyarakat merasa dirugikan dengan kebijakan ini. Akibat yang paling jelas dirasakan adalah: Barang elektronik rusak. Jumlah kebutuhan listrik di NTB tidak disertai pengembangan sumber energi atau pembangunan pembangkit.

LISTRIK NTB1

Data menunjukkan, pembangkit listrik di NTB 99 persen masih menggunakan diesel (PLTD). Padahal, potensi pemanfaatan sumber energi listrik dari sumber lain cukup besar. Seperti di Pulau Lombok maupun di Pulau Sumbawa, ada sejumlah sungai besar di Pulau Lombok seperti Kokoq Putih, Kokoq Beburung, Kokoq Muntur dan banyak sungai besar lain. Diperkirakan masing-masing sungai ini mempunyai potensi 2,2 sampai 20.4 MW. Belum termasuk potensi air skala kecil yang dapat digunakan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hirdo (PLTMH).

[Lanjutkan membaca Perang Melawan Krisis Energi, Menggali Potensi Listrik di NTB]

2 pembaca suka artikel ini.
Oleh Hanani | Pada Minggu, 31 Januari 2010
* * *

Malam semakin beranjak dan langit mendung tidak mau berkompromi di Pemenang Barat, KLU (Kabupaten Lombok Utara). Sabtu, 30 Januari 20.00 WITA di halaman SDN 7 Pemenang nampak sedang ada persiapan pemutaran video akumassa Pemenang. Semua persiapan tersebut berjalan apa adanya meski was-was tak mau pergi dalam hati para partisipan akumassa karena melihat cuaca yang tidak bersahabat. Sang Prabu (sapaan akrab Ghozali) dengan gaya khasnya yang santai mengkoordinir teman-temannya dalam persiapan tersebut.

Pemuataran video akumassa Pemenang

Pemuataran video akumassa Pemenang 1

Satu persatu para orang tua dan anak-anak yang tinggal di seputaran lokasi pemutaran video mulai berdatangan. Hujan yang deras ternyata tidak menyurutkan langkah masyarakat Pemenang untuk menonton. Diantara TV dan segala macam peralatan, anak-anak dan para orang tua tersebut berteduh. Para partisipan tidak mampu berbuat apa-apa selain menghentikan pekerjaannya. Sambil menatap hujan yang semakin deras, segala macam doa keluar dari bibir-bibir yang lelah setelah seharian berkutat di depan komputer. Berharap hujan reda dan pemutaran video bisa berjalan dengan semestinya.

Setelah sekian lama, sekitar pukul 10.00 WITA rintik-rintik hujan mulai memberikan harapan dan persiapan pemutaran video harus segera dikerjakan. Tiga TV berderet di depan kelas, satu layar di depan gerbang sekolah berdiri tegak sementara itu di lapangan bola basket/volly berdiri tegak layar proyektor yang lain. Ketiga televisi dan layar tersebut akan menyuguhi masyarakat dengan tontonan yang berbeda-beda dan mereka bebas memilih ingin menonton video yang mana.

[Lanjutkan membaca Acara Pemutaran Video akumassa Pemenang]

9 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An-nuha | Pada Sabtu, 30 Januari 2010
* * *

“Where are you going?” Seorang makelar menyambut kedatangan para tamu berambut pirang. “I wanna go to Gili Trawangan,” jawab salah seorang turis asing yang baru saja turun dari sebuah bis travel. Tanpa basa-basi, para pedagang asongan langsung menyerbu para turis itu seperti sekoloni semut. Mereka menawarkan kalung, gelang, seraung (topi jerami) dan beberapa sarung-pantai sebagai cinderamata. Kusir cidomo (delman) pun sibuk menawarkan tumpangan dengan bahasa Inggris seadanya, “Come on, sir!” tukas mereka, berharap turis-turis itu mau menumpang sampai ke bibir pantai. Begitulah suasana Terminal Bangsal yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari Pelabuhan Bangsal. Terkadang tamu lebih memilih untuk berjalan-kaki ketimbang naik cidomo. Mungkin alasannya demi mengendorkan urat-urat kaki usai perjalanan jauh yang mereka tempuh.

Gerbang masuk Bangsal

Gerbang masuk Pelabuhan Bangsal

Pedagang asongan tak henti-hentinya menawarkan dagangan kepada para turis yang berjalan kaki maupun ber-cidomo. Mereka terus mengikuti para tamu sampai ke Pelabuhan Bangsal. Ada juga pedagang asongan yang nekat “nyamplek” (meloncat) mengikuti turis-turis yang berada di atas cidomo. Pemandangan lain disuguhkan ketika kita tiba di Pelabuhan Bangsal. Pangkalan ojek yang berkotak-kotak, cidomo yang seperti barisan kios pasar, dan penumpang lokal yang kadang menggelar dagangannya, menyisakan serpihan-serpihan daur ulang. Sama seperti makelar, pedagang asongan dan kusir cidomo, buruh-buruh juga tidak mau ketinggalan menawarkan jasanya mengangkat barang ke atas Public Boat yang akan membawa para tamu tersebut. Demikianlah suasana yang dekat di mata kita saat berada di Bangsal Pemenang.

Pelabuhan Bangsal merupakan tempat penyebrangan menuju Three Islands (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air). Bangsal juga menjadi salah satu tempat mata pencaharian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Ni wah Bangsal, informasi apa ukuran a dek kalin dik dengah a nu, mauq diq bae. Ito ite leq tau ni dateng moq” (Inilah Bangsal, informasi apa saja yang tak pernah kamu dengar sekalipun, pasti kamu dapatkan di sini. Orang-orang datang dari berbagai tempat, kok), tutur salah seorang temanku yang mengais rejeki di tempat ini bertahun-tahun sebagai pemandu wisata. Memang, setiap hari tempat ini selalu dipadati orang yang entah dari mana datangnya. Ada yang bertujuan mencari rejeki, bersantai ke Tiga Gili, study tour, sampai niatan untuk sekadar menampang dan banyak lagi. “Public Boat ke Gili Air perlu seorang penumpang lagi, The Gili Air Public Boat destination needs one more passanger”, terdengar suara dari Tiket Office. Temanku langsung berlari, “Bro… ku baq Gili Air juluq sengak araq siq urus (Bro… saya mau ke Gili Air dulu karena ada yang saya urus)”, teriaknya menuju Tiket Office.

[Lanjutkan membaca Aku dan Bangsal]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh akumassa | Pada Kamis, 28 Januari 2010
* * *

pemutaran video Pasir Putih

Pemutaran Video akumassa Pemenang,

Lombok Utara

Sabtu, 30 Januari 2010. Pukul 20.00 WITA - selesai

di SDN 7 Pemenang Barat.

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An-nuha | Pada Kamis, 28 Januari 2010
* * *

Kehidupan saat ini memaksa kita untuk menjadi manusia yang multifungsi dan mampu bersaing dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang informasi. Karena bagaimanapun kemajuan itu harus didukung dengan kemajuan dalam bidang tersebut. Untuk menciptakan generasi yang mampu bersaing, pada Rabu, 27 Januari 2010 Forum Lenteng bekerjasama dengan Ma’had Diniyah Banu Sanusi mengadakan workshop media komunikasi yang spesifik pada karya jurnalistik dan video.  Kajian jurnalistik seperti ini tergolong sangat bermanfaat sekali sebagai penambah wawasan dan pengetahuan, terutama mengenai jurnalistik dan media komunikasi.

Workshop Kilat di Ponpes Banu sanusi

Acara ini dilaksanakan di sebuah ruang belajar yang juga befungsi sebagai Mushola Pondok Pesantren Banu Sanusi. Cuaca yang panas tidak mengurangi minat para santri dalam mengikuti kegiatan yang dimulai pada pukul 11.00 WITA tersebut. Riezky Andhika Pradana (Kikie Pea) dan Gelar Agryano Soemantri dari Forum Lenteng bertindak sebagai pemateri. Mereka dengan semangat memberikan penjelasan kepada para peserta workshop yang terdiri dari para santri Tsanawiyah dan Aliyah (setingkat SMP dan SMU).

Kajian ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama mengenai jurnalistik dan media komunikasi, sedangkan yang kedua mengenai video. Sesi pertama menjelaskan tentang proses dan jenis-jenis media komunikasi yang dilanjutkan dengan jenis-jenis karya jurnalistik. Sebelum istirahat makan siang dan sholat Dzuhur, para peserta diberi tugas membuat contoh berita singkat (spot news) sesuai dengan apa yang diterangkan sebelumnya.

[Lanjutkan membaca Workshop Kilat Media Komunikasi di Pondok Pesantren Banu Sanusi]

7 pembaca suka artikel ini.

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Jagakali Art Festival II [Sirkulasi air] 2

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Arak-arakan TK Darul Hikam
      Nikmatnya Rasa Pusing Pimpinan Produksi [caption id="attachment_1365" align="alignnone" width="468" caption="Arak-arakan TK Darul Hikam"][/caption] Cirebon merupakan kota sejarah yang memiliki situs-situs refleksi kebudayaan lampau, sebagai bentuk ke ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Perayaan Imlek di Sekolah Putra Nirmala

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Perayaan Imlek di Sekolah
      Pada tanggal 14 Februari 2010  masyarakat keturunan Tiong Hoa merayakan Tahun Baru Cina atau Imlek ke-2561. Di Cirebon masyarakat merayakannya dengan berbagai acara... Dan ini adalah salah satu kegiatan Imlek yang di dakan di sebuah sekolah yang mana ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Penutupan Workshop Di Taman Lenteng

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      DSC08574
      Jakarta, 8 Mei 2009 Hari terakhir workshop media on-line, Jum'at di bulan Mei itu terasa melelahkan karena baru selesai malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Workshop yang diadakan forumlenteng ini dihadiri oleh wakil-wakil daerah yang terlibat pada r ...

      (Ada 18 komentar pada artikel ini)

      Ngunjung Buyut

      (Cirebon, Jawa Barat)

      _dsc0060
      Tanggal 18 oktober 2009 jalan raya Palimanan - Cirebon macet total. Dikarenakan hari itu bertepatan dengan Pesta Rakyat atau Pesta Serang. Di kalangan warga Cirebon sendiri, pesta ini dikenal dengan istilah Ngunjung Buyut ( kunjungan ke makam sesepu ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Sengitnya Persaingan di Lurah Cup

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      Lurah Cup
      [caption id="attachment_2847" align="aligncenter" width="470" caption="Lurah Cup"][/caption] Sepakbola merupakan olahraga yang sangat populer di dunia. Olahraga ini dimainkan oleh dua kelompok yang berlomba untuk memasukkan bola ke gawang kelompok l ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Di Taman Lenteng Agung, Aku Kaget Ada Pasar Kaget

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Pasar Kaget atau Pasar Malam di Taman Lenteng Agung
      Aku adalah orang baru di Lenteng Agung, perantau dari Sukabumi, mencari ilmu dan melakukan sebuah pekerjaan di Lenteng Agung. Aku bergabung bersama kawan-kawan Forum Lenteng. Baru kali ini aku terpisah jauh dari sanak keluarga. Lenteng Agung berada d ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  292
    • Komentar:  1,494
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 36

    Total: 41113

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media