Oleh Muhammad Gazali | Pada Rabu, 7 Juli 2010
* * *

Suku Sasak adalah penduduk asli dan suku mayoritas di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebagai penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistim budaya sebagaimana terekam dalam Kitab Nagara Kartha Gama karangan Empu Nala dari Majapahit.

Berugaq

Berugaq

[Lanjutkan membaca Berugaq, Ruang Terbuka Masyarakat Lombok]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An Nuha | Pada Sabtu, 29 Mei 2010
* * *

Jalanan di kawasan Hutan Pusuk sore ini masih terlihat basah setelah di guyur hujan yang cukup deras siang tadi. Bentang pelangi di balik bukit menemani perjalananku ke Mataram.

Kondisi jalan raya Pusuk yang rusak

Kondisi jalan raya Pusuk yang rusak

[Lanjutkan membaca Kisah Perjalanan Menuju Mataram]

9 pembaca suka artikel ini.
Oleh Mukhlisin Aleks | Pada Sabtu, 22 Mei 2010
* * *

“Sumber Daya Manusia harus dilestarikan”, kalimat itu menjadi topik utama pikiran kami untuk melakukan sesuatu. Komunitas Pasir Putih, diharapkan masing-masing punya kinerja individual yang mampu menyokong komunitas ke depan.

[Lanjutkan membaca Malam Pagelaran Seni di Kampus Universitas Nahdlatul Wathan]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Lalu Maldi | Pada Kamis, 6 Mei 2010
* * *

Karang Subagan adalah suatu dusun yang terletak berdekatan dengan Bangsal dan berada di kaki bukit. Karang Subagan merupakan pusat perdagangan di wilayah Pamenang karena terdapat Pasar Pamenang di dusun ini.

 

Kue Batun Bedil siap disantap

Kue Batun Bedil siap disantap

[Lanjutkan membaca Kue Batun Bedil]

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Mukhlisin ‘Aleks’ | Pada Rabu, 28 April 2010
* * *

Di kamar ini aku dilahirkan

Di balai bambu buah karya bapakku

Di kampung ini aku dibesarkan

Di belai mesra lentik jari ibu ku

Aku dengar lirik syair lagu Iwan Fals “Balai Bambu” yang mengalun dari Radio Komunitas Pesona FM Pemenang.

Kolam di Kampung Halamanku

Kolam di Kampung Halamanku

[Lanjutkan membaca Kampung Halamanku]

9 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An-nuha | Pada Jumat, 12 Maret 2010
* * *

Apakah benar manusia lahir membawa bakat? Lalu apakah fungsi pendidikan yang sebenarnya? Apa yang terjadi seandainya bakat itu dibiarkan berkembang bersama alam? Apakah tidak cukup alam membentuk manusia dengan bakatnya?

Anak-anak yang tergabung dalam grup musik Kamput Tatar sedang berlatih

Anak-anak yang tergabung dalam grup musik Kamput Tatar sedang berlatih

Beberapa pertanyaan di atas cukup membuatku pusing akhir-akhir ini. Karena mungkin secara tiba-tiba, teman-teman AKARPOHON, Mataram meminta kami untuk membuat video art tentang beberapa tokoh naturealisme di antaranya, Brecht, Artaud dan, Rimbaud, yang kemudian memaksa kami utnuk mencari gambar dan artikel mereka di Internet. Sangat mengesankan tentang siapa mereka sebenarnya, dan yang terpenting bagiku adalah ini akhir dari kebingungan ku tentang pendidikan. Meski saya sendiri pernah mendapatkan mata kuliah khusus tentang pendidikan, mulai dari Pengantar Pendidikan, Pengembangan Peserta Didik, Psycholinguistics, Sosiolinguistics dan sebagainya yang juga membedah tentang pendidikan itu sendiri.

[Lanjutkan membaca Kamput Tatar, Kesenian Multi Talenta]

5 pembaca suka artikel ini.
Oleh Rosmayadi | Pada Selasa, 9 Maret 2010
* * *

Orang tua     : Mannn….!!!

Anak-anak    : Enggih…!!!

Orang Tua    : Dengah ceritan Bapu’…

Leq jaman laeq araq sopoq cerita aran a Tetuntel-tuntel… Leq sopoq jelo ya lampaq-lampaq,  nempur a timpal aran a tekura-kura…..

Demikianlah kata-kata pembuka dari kebiasaan mendongeng pada anak-anak yang sering dilakukan oleh orang tua di tempat tinggalku. Begitu juga dengan kakekku, beliau sering menceritakan sesuatu kepadaku, misalnya tentang Te Tuntel-Tuntel yang memperdaya kura-kura dengan tipu muslihatnya, Doyan Neda yang ceritanya tentang asal-muasal masyarakat Lombok dan juga tentang beberapa sejarah lainnya menyangkut keberadaan masyarakatku di Desa Pemenang, Lombok Utara. Bahkan kakekku juga pernah menyebut-nyebut bahwa masjid yang berada di dekat rumahku yang bernama Masjid Jami’ul Jama’ah itu memiliki sejarah juga.

Masjid Jami'ul Jama'ah yang sedang direnovasi

Masjid Jami'ul Jama'ah yang sedang direnovasi

Kini aku kuliah di STKIP (Sekolah Tinggi Kejuruan Ilmu Pendidikan) mengambil jurusan Sastra Indonesia. Hal ini memaksaku untuk mengenal budayaku, termasuk sejarah yang tidak pernah terlepas dari budaya itu sendiri. Hingga saat ini aku tumbuh dewasa dengan masih menyimpan rasa penasaran tentang masjid yang berada di dekat rumahku itu yang sekarang sedang dalam tahap rehabilitasi.

[Lanjutkan membaca Asal Muasal Masjid Jami'ul Jama'ah Karang Pongsor]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An-Nuha | Pada Minggu, 21 Februari 2010
* * *

Alhamdulillah… Aku baru saja menyelesaikan Sholat Isya’ di Masjid Ass-Shirathal Mustaqim yang terletak bersampingan dengan Pasar Pemenang. Segera kubergegas mengambil sandal dan bergerak menuju ke rumah karena perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maklumlah, dalam perjalanan dari Gunungsari ke Pemenang siang tadi, aku belum menyantap makanan. Apalagi kulihat tadi sore bibiku datang membawa Pes Ikan yang  dia bikin sendiri dari anaknya, hasil memancing.

Suasana malam hari di Bo'bo'an

Suasana malam hari di Bo'bo'an

Memang aku agak canggung untuk berjalan ke masjid dan aku merasa seperti orang asing di tempat sendiri karena lebih sering tinggal di Gunungsari. Dan biasanya aku pergi ke masjid menggunakan sepeda motor Supra-ku. Namun, sekarang motorku masih diperbaiki jadi belum bisa kupakai lagi.

Kali ini jalanan agak ramai karena malam Minggu, di mana biasanya para pemuda menggunakan malam ini untuk berkumpul bersama teman-teman mereka. Banyak kulihat anak-anak muda berkumpul dan seolah-olah dirancang untuk membagi diri mereka menjadi beberapa kelompok. Di depan masjid kulihat orang-orang yang sering berdagang di Bangsal, berbicara tentang hasil dagangan mereka hari ini. Seru sekali kelihatannya. Beberapa orang berdiri dan sebagiannya lagi duduk di sebuah tempat yang bisanya kami sebut dengan istilah bo’bo’an.

[Lanjutkan membaca Reuni Kecil Ba'da Isya di Bo'bo'an]

3 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Gazali | Pada Jumat, 19 Februari 2010
* * *

Senja baru saja menyapa, ketika saya, Mas Kiki Pea dan Maldi kembali dari perkampungan saudara-saudara kami yang beragama Budha. Hasrat ingin tahu tentang keberadaan agama-agama di Pemenang yang memiliki rasa kebersamaan dan toleransi yang tinggi ini, mengantarkan kami mengelilingi kota kecil sebelah barat Lombok Utara.

Salah satu tempat pemutaran film di Pemenang, yang kini kembali menjadi Banjar

Salah satu tempat pemutaran film di Pemenang, yang kini kembali menjadi Banjar

Bersandar sejenak di pojok ruang sekretariat, membuat pinggangku terasa sedikit lega setelah seharian bertengger di punggung sepeda motor tua bapakku yang akrab kami panggil “Kemumun”. Setelah Sholat Isya dan makan malam, kami melanjutkan planning ke rumah saudara kami yang  beragama Hindu. Mumpung Mas Kiki Pea ada disini, kita kerjain aja dia jadi tukang ojek, dan Mas Kiki juga memang akrab dengan Si Kemumun.

[Lanjutkan membaca Jejak Misbar (Gerimis Bubar) di Wajah Pemenang]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Lalu Herlan | Pada Senin, 15 Februari 2010
* * *

Artikel ini dikutip dari Lombok Post, 13 Januari 2010

Pulau Lombok yang dihuni 60 persen dari seluruh masyarakat NTB mengalami krisis energi  listrik dengan jumlah kekurangan energi listrik sekitar 28 Megawatt (MW), PLN Wilayah NTB terpaksa menerapkan pemadaman bergilir di semua wilayah, “Dua atau tiga hari menyala, satu kali padam”. Itulah konsep yang digunakan PLN. Kebijakan pemadaman bergilir ini meresahkan masyarakat. Sebab, masyarakat merasa dirugikan dengan kebijakan ini. Akibat yang paling jelas dirasakan adalah: Barang elektronik rusak. Jumlah kebutuhan listrik di NTB tidak disertai pengembangan sumber energi atau pembangunan pembangkit.

LISTRIK NTB1

Data menunjukkan, pembangkit listrik di NTB 99 persen masih menggunakan diesel (PLTD). Padahal, potensi pemanfaatan sumber energi listrik dari sumber lain cukup besar. Seperti di Pulau Lombok maupun di Pulau Sumbawa, ada sejumlah sungai besar di Pulau Lombok seperti Kokoq Putih, Kokoq Beburung, Kokoq Muntur dan banyak sungai besar lain. Diperkirakan masing-masing sungai ini mempunyai potensi 2,2 sampai 20.4 MW. Belum termasuk potensi air skala kecil yang dapat digunakan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hirdo (PLTMH).

[Lanjutkan membaca Perang Melawan Krisis Energi, Menggali Potensi Listrik di NTB]

3 pembaca suka artikel ini.

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Padang: Kota Seribu Angkot Modis

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      modifikasi-interior1
      Angkutan kota (angkot) merupakan alat transportasi publik yang utama digunakan di kota Padang selain bus kota. Akses yang mudah dan harga yang terjangkau membuat masyarakat kota Padang lebih memilih menggunakan jasa angkot daripada taksi ataupun oje ...

      (Ada 19 komentar pada artikel ini)

      Aku Massa: Aku Adalah Mata

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Aku: Orang pertama, tunggal Massa: Komunitas manusia, masyarakat umum Aku Massa. Aku dilihat atau aku sebagai massa dimana mata kita yang mewakili aku. Melihat Cirebon sebagai massa atau mungkin cara pandang aku terhadap Cirebon atau aku sebagai aku ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Rencana Bingkaian Akumassa Blora

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      sapi
      1. Sapi Menjaga dan merawatmu seperti anak sendiri, terkadang aku juga memecut kalian. Itu semua aku lakukan karena sayang padamu. Budaya kesapian sudah ada sejak zaman nabi , ada agama yang menganggapnya sebagai hewan suci. Bahkan dalam Al-Qur’an te ...

      (Ada 8 komentar pada artikel ini)

      Persiapan Pemutaran Video Akumassa Randublatung

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      1
      Persiapan pameran pemutaran video akumassa di Randublatung, sudah memasuki tahap display. Tahapan ini dikerjakan oleh para anggota Anak Seribupulau dengan penuh gotong royong, mulai dari konsumsi, penyebaran undangan, publikasi ke sekolah-sekolah dan ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Niagara Theatre

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      1
      Niagara Theatre  adalah sebuah bioskop yang berada di wilayah Ciputat, Tangerang selatan. Bioskop ini berdiri pada tahun 1984, dengan pemiliknya keturunan Cina yang bertempat tinggal di daerah Kota. Awalnya tanah yang dipakai oleh Bioskop Niagara ada ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

      Satu Kisah di Malam Perjalanan

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Aku : "Ibu maaf, kenapa makannya pakai kantong plastik segala?" Ibu : "Tak ada, pengen aja aku makan kayak gini.." Pertanyaan pertamaku di atas menjadi kalimat pembuka antara aku dengan seorang ibu muda yang sama sekali belum pernah aku lihat sebelum ...

      (Ada 9 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 41

    Total: 68998

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media