Oleh David Darmadi | Pada Rabu, 14 Juli 2010
* * *

Aku : “Ibu maaf, kenapa makannya pakai kantong plastik segala?”

Ibu : “Tak ada, pengen aja aku makan kayak gini..”

Pertanyaan pertamaku di atas menjadi kalimat pembuka antara aku dengan seorang ibu muda yang sama sekali belum pernah aku lihat sebelumnya. Jika aku tidak satu mobil dengannya, mungkin malam perjalananku dengan temanku Fadly Capaik sepulang dari kota Medan, tidak akan memiliki satu kisah untuk diceritakan.

[Lanjutkan membaca Satu Kisah di Malam Perjalanan]

12 pembaca suka artikel ini.
Oleh Alwendry | Pada Rabu, 23 Juni 2010
* * *

Siang itu, setelah selesai rapat di Komunitas Sarueh, saya bersama 4 orang lainnya Fauzi, Anggi, Zani dan Angga berjalan bersama menuju Pasar Padangpanjang. Sampai di pasar saya dan Fauzi berpisah dengan yang lainnya, kami berdua berjalan sampai pada sebuah warung kaki lima yang menjual Katupek (Ketupat) Pitalah

Katupek Pitalah

Katupek (Ketupat) Pitalah

[Lanjutkan membaca Katupek Pitalah]

3 pembaca suka artikel ini.
Oleh Linda Gusnita | Pada Kamis, 29 April 2010
* * *

Beberapa waktu yang lalu ajakan Jelita, temanku sesama anggota Sarueh, untuk kembali bertandang ke Bioskop Karia ku sambut dengan baik. Di tengah gerimis dan dinginnya Padangpanjang kami melangkahkan kaki menuju bioskop tua yang masih kokoh berdiri di tengah kota kami ini.

Iklan slide yang kami dapatkan dari Bioskop Karia

Salah satu iklan slide yang kami dapatkan dari Bioskop Karia

[Lanjutkan membaca Iklan Slide dan Rupa Reklame]

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Rudi Rahman | Pada Jumat, 16 April 2010
* * *

16 Maret 2010, salah satu “SARUEH MAN” berulangtahun. Si Capaik alias Fadly Nasrul namanya. Tak disangka, temanku yang satu ini sudah berumur 21 tahun saja. Selamat ya, Capaik. Untuk merayakan ulang tahunnya, pagi itu Capaik mengajak pergi ke salah satu tempat pemandian yang ada di daerah Pasar Usang, yaitu Lubuk Mata Kucing. Si Capaik menjemput saya, Eva dan kekasih Capaik. Kami berangkat berempat dengan berjalan kaki, walaupun jaraknya cukup jauh (kira–kira 2 kilometer dari tempat kos saya). Ditambah dengan sulitnya berjalan di pematang sawah, tapi demi Capaik tersayang rasa lelah pun hilang seketika.

Tampak luar Pemandian Lubuk Mata Kucing

Tampak luar Pemandian Lubuk Mata Kucing

Sesampainya di sana, kami langsung membeli karcis masuk seharga Rp.2000 per orang. Setelah masuk, kami cukup kaget. Kurang lebih 150 orang memadati tempat pemandian ini. Jumlah ini naik tiga kali lipat dari pada  biasanya. Mungkin karena kami pergi ke sana saat hari libur. Tapi tetap cukup mengherankan buatku, mengingat tempat liburan macam Minang Fantasi (Mifan) dan Waterpark Malibo Anai lebih menarik dibanding Lubuk Mata Kucing ini. Mifan apalagi, bisa dibilang salah satu tempat liburan terfavorit di daerah Sumatera Barat yang mengedepankan permainan canggihnya, seperti Boom–Boom Car, Bianglala, Banana Boat dan masih banyak lagi. Bandingkan dengan Lubuk Mata Kucing yang cuma ada kolam renang dengan dua buah pondok untuk beristirahat. Dari situ saya dapat menarik kesimpulan bahwa animo masyarakat untuk berkunjung ke sini masih cukup besar.

[Lanjutkan membaca Lubuk Mata Kucing]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Linda Gusnita | Pada Senin, 12 April 2010
* * *

Minangkabau sangat terkenal dengan makanan tradisionalnya yang khas, dia ntaranya dendeng kering dan dendeng batokok. Banyak orang bisa membuat jenis makanan yang satu ini, namun tidak semuanya menjadikan bisnis keluarga seperti yang dilakukan oleh Hj. Rostina yang telah berusia 75 tahun. Beliau adalah penjual dendeng kering yang cukup terkenal di Padangpanjang dan merupakan satu-satunya produsen dendeng rabu di Padangpanjang. Dendeng rabu merupakan dendeng yang dibuat dari paru-paru sapi. Di Minangkabau, paru disebut juga dengan rabu.

Ibu Hj. Rostina (Uni Tina)

Ibu Hj. Rostina (Uni Tina)

Beliau memulai usahanya sejak tahun 1988, yang artinya telah 20 tahun menggeluti usaha ini. Usaha ini telah menghantarkan empat orang anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Salah satunya Emil Bustaman yang berusia 31 tahun yang saat ini meneruskan usaha dendeng Uni Tina (sapaan akrab beliau).  Bahkan berkat usahanya ini Uni Tina juga telah naik haji ke Mekah.

[Lanjutkan membaca Uni Tina dan Cerita Rabu]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Linda Gusnita | Pada Jumat, 9 April 2010
* * *

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 31 Maret 2010, aku sedang asyik ber-internet ria. Sudah satu bulan lebih modemku tidak dapat beroperasi lagi karena kartunya hilang di Padang oleh teman kos ku yang meminjam modem selama liburan kemarin. Saking senangnya, sampai tengah malam aku masih asyik melihat-lihat akun facebook-ku dan membaca beberapa artikel online. Teman sekamar ku sudah tidur dengan pulasnya. Ketika aku melihat  handphone, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Aku pun kembali melanjutkan membaca dan browsing.

Dari kanan ke kiri: Remy, Abrar, Rani dan Martha

Dari kanan ke kiri: Remy, Abrar, Rani dan Martha

Tak berapa lama kemudian ada bunyi “meong…meong….meooonggg…”. Bunyi meong itu berasal dari handphone-ku pertanda ada pesan singkat (SMS) yang masuk. Dengan heran aku melihat dari siapa SMS tersebut, ternyata seorang teman di kampus, tetapi kali ini SMS-nya beda. Dia menyatakan rasa cinta kepadaku dengan kalimat yang sangat gombal dan membual. Begini bunyi SMS tersebut,

“Nda aq ndak bisa bohong lagi, sebenarnya aku suka sama kamu. Aq mambolok an km dan mampaulahan kamu tu cuma untuk nutupi perasaan aq ka kamu. Sabananyo aku suko bana sm kamu. aku tulus samo kamu. Maaf klo salamo ko aku kasar samo km…aku kasar…”.

(Nda, aku nggak bisa bohong lagi, sebenarnya aku suka sama kamu. Aku mengolok-olok dan sering mengejek-mu cuma untuk menutupi perasaan aku ke kamu. Sebenarnya aku sangat suka denganmu. Aku tulus sama kamu. Maaf kalau selama ini aku kasar sama kamu… Aku kasar…)

[Lanjutkan membaca April Mop]

3 pembaca suka artikel ini.
Oleh Chandra Zefri Airlangga | Pada Senin, 5 April 2010
* * *

Kisah ini berawal ketika saya bermain teater untuk ujian mahasiswa semester tujuh  Jurusan Teater di kampus saya, Institut Seni Indonesia (ISI), Padangpanjang.  Alhamdulillah acaranya berjalan lancar. Saya bermain teater berpasangan dengan Robert, dia adalah mahasiswa Jurusan Teater angkatan 2008 dan saya adalah mahasiswa Televisi dan Film yang menyukai teater.

Gedung tempat pementasan teater

Gedung tempat pementasan teater

Walaupun  kurang berbakat dan akting yang  pas-pasan, tapi saya bangga bisa dipercaya bermain teater. Saat itu saya memainkan peran Lingga dengan naskah berjudul ‘Sebelum Bebas’. Di naskah ini, Lingga adalah mantan wartawan korban ketidakadilan zaman Orde Baru. Ia menginginkan kebebasan yang diimpikan. Mungkin cerita Lingga tidak jauh berbeda dengan pengalaman saya sehabis bermain teater  kemarin.

[Lanjutkan membaca Ditangkap Satpol PP]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh Alwendry | Pada Rabu, 31 Maret 2010
* * *

Sejak lahir sampai sekarang, saya tinggal di Padang Panjang, tapi ketertarikan terhadap Stasiun Kereta Api Padang Panjang baru muncul belakangan ini. Ketertarikan tersebut berawal dari pertanyaan yang dilontarkan oleh teman saya Zani (salah seoranag partisipan Docuroom Project),

“Al, dima latak stasiun kareta Padangpanjang tu? Kato urang itu stasiun paliang gadang di Sumbar mah” (Al di mana letak Stasiun K.A Padangpanjang? Kata orang itu stasiun terbesar di Sumbar lho).

 

Keadaan Stasiun KA Padang Panjang saat ini

Keadaan Stasiun KA Padang Panjang saat ini

Dari sini saya berpikir, kenapa orang yang bukan berasal dari Padang Panjang saja tahu tentang Padang Panjang, sedangkan saya yang sudah lama hidup di Padang Panjang tidak tahu tentang kota ini?

[Lanjutkan membaca Stasiun Kereta Api Padang Panjang]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Fadly Nasrul | Pada Minggu, 28 Maret 2010
* * *

Basecamp Komunitas Sarueh terletak di Jalan Bahder Johan No. 30 Kecamatan Guguk Malintang, Padang Panjang, Sumatera Barat. Bersebelahan dengan gerbang samping sebelah barat kampus ISI Padang Panjang. Rumah tersebut memiliki sejarah yang panjang bagi keluargaku.  Dulunya rumah tersebut merupakan rumah pondok atau gubuk kecil pada jaman penjajahan Belanda. Untuk membangun rumah yang utuh dan bagus, generasi terdahulu keluargaku yang tinggal di gubuk tersebut mengumpulkan sejumlah uang, tak banyak tapi cukup untuk membeli sebuah kayu atau perkayuan yang utuh (tonggak tuo). Sambil menunggu perlengkapan yang dibutuhkan untuk pembuatan rumah tersebut terkumpul, kayu –kayu tersebut dibenamkanlah ke sebuah rawa atau bancah (lumpur) supaya kayu tersebut tidak lapuk.

Basecamp Sarueh

Basecamp Sarueh

Setelah perlengkapan rumah tersebut terkumpul, para anggota keluarga dan sanak famili dari keluarga laki–laki kemudian bergotong royong mendirikan sebuah rumah yang telah direncanakan tersebut.  Rumah itu diberi dinding papan dan beratapkan seng. Di dalamnya terdapat 3 buah kamar dan ruang keluarga beserta dapur ,yang pada saat itu masih memakai kayu sebagai bahan perapian untuk memasak (tungku). Di sanalah tinggal 2 kepala keluargaku yang turun-temurun hingga lima keturunan, dari nenek buyut hingga ibuku.

[Lanjutkan membaca Basecamp Sarueh Punya Sejarah Panjang Bagi Keluargaku]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh David Darmadi | Pada Jumat, 19 Maret 2010
* * *

‘Anak dipangku, kamanakan dibimbiang‘ (anak dipangku, keponakan dibimbing), itulah sebait pepatah minang yang menggambarkan fungsi seorang Mamak (panggilan untuk Paman di daerah Minang) yang ikut serta  dalam mendidik dan membimbing anak kemenakannya (kemenakan adalah anak dari saudara perempuan yang dipanggil Mamak) layaknya anak sendiri. Tapi lain lagi dengan sebait pepatah yang aku berikan untuk seorang ibu muda, berumur 34 tahun, ‘anak digendong, pambali manunggu’ (anak digendong, pembeli menunggu).  Sebenarnya bukan sebait pepatah, melainkan hanya sebaris kalimat atau abstraksi awal tentang ceritaku dari Indiana Café.

Indiana Cafe
Indiana Cafe

Ibu muda itu bernama Ernita, tapi aku lebih sering memanggilnya dengan sebutan Uni (panggilan untuk kakak perempuan di Minang). Indiana Café adalah warung Nasi Goreng milik Ernita yang terletak di pinggir jalan sekitar simpang tiga Bukit Surungan, tepatnya sebelum SMK Cendana, Padang Panjang. Setiap hari Indiana Cafe buka pukul 14.00 WIB hingga 05.00 WIB.

[Lanjutkan membaca Cerita dari Indiana Cafe]

3 pembaca suka artikel ini.

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Kelereng Mainan Maen Ball

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      kelereng
      Sudah lama tulisan ini tersimpan rapi di sobekan buku kertas bergaris. Buku dengan gambar depan pemain bola dari inggris bekas semasa Sekolah Menengah Umum (SMUN) 3. Masa yang paling manis dalam perjalanan hidup. Butuh keberanian berucap bahwa aku su ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Dari Blora Ada Cerita

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      peta kabupaten Blora
      Tahukah Anda tentang Blora? - Wah...yang saya tahu menurut buku pelajaran, Blora banyak hutan jati-nya! Ah...masa hanya itu?!  Anda tidak tahu tentang Pramoedya Ananta Toer? - Wah...siapa itu ya? Waduh...anda ini bagaimana, mahasiswa kok tidak tahu p ...

      (Ada 12 komentar pada artikel ini)

      Lebak, Dimana?

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      de-haan-no-b-4594-lebak
      Pada saat kami memulai riset Aku Massa untuk situs Lebak, kami berusaha mencari dari berbagai sumber tentang sejarah Lebak. Usaha pertama yang kami lakukan adalah melihat peta Lebak di Google Earth dan Google Map. Namun, yang kami temukan hanya foto ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Katupek Pitalah

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Katupek Pitalah
      Siang itu, setelah selesai rapat di Komunitas Sarueh, saya bersama 4 orang lainnya Fauzi, Anggi, Zani dan Angga berjalan bersama menuju Pasar Padangpanjang. Sampai di pasar saya dan Fauzi berpisah dengan yang lainnya, kami berdua berjalan sampai pada ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Penyaluran Bantuan Untuk Korban Gempa Sumatera Barat Tahap Ketiga

      (Padang, Sumatera Barat)

      Pada 11 Oktober 2009 Komunitas Sarueh beserta Komunitas Belanak kembali menyalurkan dana bantuan untuk korban gempa Sumatera Barat, yang telah masuk melalui rekening Forum Lenteng. Bantuan yang disalurkan adalah Rp. 2.032.200,- berupa 105 paket kebu ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Padang: Kota Seribu Angkot Modis

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      modifikasi-interior1
      Angkutan kota (angkot) merupakan alat transportasi publik yang utama digunakan di kota Padang selain bus kota. Akses yang mudah dan harga yang terjangkau membuat masyarakat kota Padang lebih memilih menggunakan jasa angkot daripada taksi ataupun oje ...

      (Ada 19 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 44

    Total: 68999

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media