Oleh Iskandar Abeng | Pada Rabu, 17 Februari 2010
* * *

Pada tanggal 14 Februari 2010  masyarakat keturunan Tiong Hoa merayakan Tahun Baru Cina atau Imlek ke-2561. Di Cirebon masyarakat merayakannya dengan berbagai acara…

Dan ini adalah salah satu kegiatan Imlek yang di dakan di sebuah sekolah yang mana siswanya mayoritas kaum Tiong Hoa. Mereka menggelar beberapa kegiatan untuk memeriahkan Tahun Baru Cina.

Perayaan Imlek di Sekolah

Perayaan Imlek di Sekolah Putra Nirmala, yang mayoritas muridnya merupakan keturunan Tiong Hoa

Sekolah Putra Nirmala adalah sekolah umum namun mayoritas siswanya beretnis Cina. Mereka menggelar acara perayaan Imlek dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang, 15 Februari 2010 di lapangan bola basket kompleks Sekolah Putra Nirmala dengan diisi beberapa pagelaran. Di antaranya ada peragaan busana Tiong Hoa, paduan suara dengan lagu-lagu Mandarin, modern dance oleh siswa-siswi Putra Nirmala, pembacaan puisi yang  oleh siswa dari SLB Silih Asih, Jalan Dr. Sutomo, dan yang sudah tak asing lagi  bagi masyarakat, yaitu budaya khas Tiong Hoa, Barongsai dan Liong.

[Lanjutkan membaca Perayaan Imlek di Sekolah Putra Nirmala]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Bayu Alfian | Pada Selasa, 2 Februari 2010
* * *

‘Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang’; Pameran enam perupa Cirebon: Nico Permadi, Agus Suwanda, Beas Abimanyu, Iskandar Abeng, Yudha Sasmito, dan Nur Oji  pada 10-17 Januari 2010. Pameran Senirupa yang dilaksanakan kali pertama di Galeri Merdeka, dikurasi oleh Daniel Adenis. Dibuka oleh Nurdin M. Noer dan dimeriahkan oleh kelompok Kroncong “Semoga Ayah Cepat Pulang”.

Para pengunjung sedang memotret karya para seniman

Para pengunjung sedang memotret karya para seniman

Ketika membaca pengantar katalog ‘Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang’, kita dituntun ke dalam kerangka pemikiran tentang pameran senirupa sebagai representasi solidaritas sosial masyarakat Cirebon1. Sedemikian hingga paradigma tersebut menjadi suatu hal yang baru dalam lingkungan seni dan budaya di Cirebon; bahwa seni telah ‘mencair’ dalam masyarakat ditandai dengan kerangka berpikir yang komprehensif.

“Pameran Senirupa sebagai sarana memahami situasi di sekitar kita.”

Sedemikian kontemplatif sehingga mengingatkan pada perhelatan JAKARTA BIENNALE XIII 2009 - ARENA yang untuk pertama kalinya memanfaatkan bentuk-bentuk kesenian sebagai sarana pemahaman dan kritik terhadap ruang, kota, secara bebas di ruang-ruang publik2.

[Lanjutkan membaca Membaca Pameran Senirupa Kontemporer di Galeri Merdeka]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh Evy Rainy | Pada Kamis, 24 Desember 2009
* * *

Artikel ini ditulis ulang dengan EYD yang disesuaikan, dari Rubrik Surat Pembatja, Majalah Dunia Film, Edisi 1 April 1955.

Dunia Fim Edisi 1 April 1955

Dunia Fim Edisi 1 April 1955

Sebelum kubentangkan sekedar pendapat perlu diterangkan dan diakui aku bukanlah seorang yang termasuk golongan pengarang, wartawan atau pelajar, melainkan hanya terdiri dari rakyat biasa yang baru saja dapat membaca dan menulis. Terutama yang kusukai membaca majala-majalah perfilman, baik Dunia Film maupun Film Varia. Disamping mengikuti jejaknya para aktor kita selangkah demi selangkah dalam majalah perfilman, sewaktu-waktu dapat pula menyaksikan pertunjukkan film-film yang diputar di kotaku.

Kegemaran-kegemaran rakyat bangsa kita kepada dunia seni perfilman di kotaku dapat kubagi menjadi dua bagian besar, tetapi tidak sekali-kali aku menggugat-gugat atau membeda-bedakan antara film dalam dan luar negeri. karenanya kuanggap penting juga untuk diketahui oleh para pembaca, umumnya rakyat bangsa kita ada yang gemar seni film barat dan ada juga yang suka seni film timur. Bila kutinjau dari kenyataan rakyat bangsa kita kebanyakan lebih menyukai film barat, bahkan ada juga diantara mereka yang membenci dan mencaci maki film negeri sendiri.

Beginilah pendapatku dengan sekejap mata memandang. Letak kotaku di sebelah timur Jawa Barat. Supaya lebih jelas kusebut saja nama populernya, Kota Udang, kota yang demikian kecilnya tetapi gedung bioskopnya tidak kalah bagus dengan gedung-gedung bioskop di Ibukota. dahulu sebelum film Malaya dan para aktor kita terkenal, hanya ada 3 gedung bioskop yang sederhana, tetapi ditahun-tahun sesudahnya para bintang kita terkenal di seluruh pelosok, karena itu gedung bioskop bertambah menjadi 8 buah dan sebuah gedung bioskop yang disebut Paradise Park. Di Paradise Park ini tidak diadakan tingkatan kelas. Jadi setiap penonton hanya perlu membayar seratus sen. Layarnya terlebar dan tidak mudah terbakar. Tempat duduknya teristimewa, dan tidak ada kutu busuk yang menggigit penonton, hanya nyamuk yang berdansa, karena layarnya terbuat dari tembok dan kursinya model terbaru terbuat dari semen batu. Jika musim hujan banyak penonton kebagian air suci, karena penonton berada di lapangan terbuka.

[Lanjutkan membaca Sekitar Tontonan Layar Putih di Kotaku]

5 pembaca suka artikel ini.
Oleh akumassa | Pada Senin, 19 Oktober 2009
* * *

Tanggal 18 oktober 2009 jalan raya Palimanan - Cirebon macet total. Dikarenakan hari itu bertepatan dengan Pesta Rakyat atau Pesta Serang. Di kalangan warga Cirebon sendiri, pesta ini dikenal dengan istilah Ngunjung Buyut ( kunjungan ke makam sesepuh atau nenek moyang).

_dsc0060

_dsc0046

_dsc0121

[Lanjutkan membaca Ngunjung Buyut]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh akumassa | Pada Minggu, 18 Oktober 2009
* * *

Awal bulan Juli 2009, ketika sedang berkumpul di saung, kami dikagetkan oleh suara jeritan seorang perempuan. Seketika kami berhamburan keluar mencari sumber suara yang ternyata datang dari istri Pak Joni. Suaranya nyaring tertawa kadang menangis bergantian. Rambutnya terurai dengan wajah pucat dan mata melotot.. Semua orang terlihat kecut dan berdoa sebisanya.

kamar Bu Joni

kamar tempat Bu Joni kesurupan

Di tengah jeritan dan amarahnya dia menyebut-nyebut nama saya. Saya kaget setengah mati..”Ndi Nico.. bocah ndlogdog bli weru sopan..” umpatan kasar dalam bahasa Cirebon yang artinya kurang lebih “Mana Nico.. anak kurang ajar tidak tahu sopan santun..” Saya tambah ciut dan lemas rasanya lutut ini..”ari ana slametan bli ngajak- ngajak, nawari ta apa..” (kalau ada selametan ga ngajak-ngajak, sekedar menawari kek). Kontan teman-teman dan orang yang sedang berkumpul menatap sinis ka arah saya. Dian yang saat itu memegang kaki Ibu Joni menyuruh saya untuk minta maaf, demikian juga Pak Joni yang terlihat gugup menyiapkan permintaan kopi pahit dan rokok Gudang Garam merah. Saya bingung harus minta maaf untuk apa?

pak Joni menunjukkan keris Bali

pak Joni menunjukkan keris Bali

Katanya, pada acara ulang tahun Aples, ketika memotong tumpeng dan makan bersama saya tidak ijin dan basa-basi menawarkan atau sekedar membuang sedikit nasi kuningnya ke pojok ruangan. Hal yang aneh.. Mana saya tau di pojok ada Mbah Buyut yang lagi nongkrong nunggu nasi kuning. Pak Hendra yang saat itu menggunakan baju koko dan topi kopiah memaksa saya untuk masuk ke kamar Pak Joni yang berantakan. Lampu yang tidak terlalu terang membuat suasana semakin ‘pas’. Di kamar saya lihat beberapa orang memegang tangan dan kaki Bu Joni. Saya langsung minta maaf dan Si Mbah Buyut penghuni pohon besar itu memperkenalkan diri sebagai Nyi Kesih. Sebelum pamitan beliau menenggak kopi panas dan menghisap rokok kretek dalam-dalam lalu pergi. Ibu Joni langsung jatuh pingsan..suasana kembali tenang.

[Lanjutkan membaca Gaib]

5 pembaca suka artikel ini.
Oleh akumassa | Pada Sabtu, 19 September 2009
* * *
Ramadhan 1430 H, pada dasarnya sama saja seperti pada tahun-tahun sebelumnya dengan segala seremonial seperti puasa, mudik, buka puasa bersama, bazar-bazar pangan dan sandang serta kebiasaan-kebiasaan lain. Banyak dari teman saya yang mengeluh tentang cuaca pada ramadhan tahun ini yang sangat panas. Tapi sekiranya kita tidak perlu terlalu khawatir karena pada bulan Maret dan September sudah sewajarnya cuaca terasa sangat panas karena pada bulan-bulan tersebut merupakan titik terdekat bumi terhadap matahari.
cuaca terik

area bazar

area bazar

bazar pangan di alun-alun kejaksan

bazar pangan di alun-alun kejaksan

Namun, kita tetap harus menjaga diri karena sinar ultra violet memang tidak baik untuk kesehatan kulit. Sedemikian terik sorot matahari sehingga bayang-bayang akan sop buah ataupun es oyen seolah menghapus dahaga. Banyak juga yang menuliskan berbagai macam makanan dan minuman di facebook. Bahkan tidak jarang menuliskannya dengan menggunakan huruf kapital seperti aksentuasi klimaks dari puasa yang entah dijalankan atau tidak.

masjid At Taqwa dikelilingi stand panganan

masjid At Taqwa dikelilingi stand panganan

[Lanjutkan membaca Teknologi Menghasilkan Kenangan Ramadhan]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh akumassa | Pada Senin, 24 Agustus 2009
* * *

17 Agustus bagiku bukan hanya tanggal di mana Negara dan bangsa Indonesia merasakan hidup merdeka meskipun belum sepenuhnya, namun 17 Agustus tampaknya merupakan ajang pesta suka cita bagi kebanyakan daerah di Indonesia. Coba saja tengok beberapa tempat perayaan hari ‘kemerdekaan’ ini yang kebanyakan dari mereka melakukan penutupan jalan hanya untuk menampilkan pawai dan perlombaan yang katanya dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

jalan-dipenuhi-para-peserta-konvoi-17an-di-kuningan

1

jalanan dipenuhi oleh massa

jalanan dipenuhi oleh massa

drama bertemakan anak sekolah

drama dengan tema anak sekolah

[Lanjutkan membaca Nasionalisme yang Bergelora di Bulan Agustus]

4 pembaca suka artikel ini.

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Kardus Dalam Obrolan

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      pict0075
      “Ruangan ini memiliki luas 2 x 4 m², dengan tinggi kurang lebih sama dengan tinggi tubuhku, yaitu 175 cm. Ruangan belakang atau ruangan depan tidak jauh berbeda. Jika sesampainya dari pasar atau warung sebelah saat membeli air minum kemasan gelas pla ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

      Di Taman Lenteng Agung, Aku Kaget Ada Pasar Kaget

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Pasar Kaget atau Pasar Malam di Taman Lenteng Agung
      Aku adalah orang baru di Lenteng Agung, perantau dari Sukabumi, mencari ilmu dan melakukan sebuah pekerjaan di Lenteng Agung. Aku bergabung bersama kawan-kawan Forum Lenteng. Baru kali ini aku terpisah jauh dari sanak keluarga. Lenteng Agung berada d ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Penyaluran Bantuan Untuk Korban Gempa Sumatera Barat Tahap Dua

      (Padang, Sumatera Barat)

      sebuah rumah warga rata dengan tanah, di Desa Durian Dangka
      Pada 8-10 Oktober 2009 kawan-kawan dari Komunitas Sarueh dan Komunitas Belanak Padang melanjutkan kembali program Penyaluran Bantuan Untuk Korban Gempa di Sumatera Barat yang diprakarsai oleh Forum Lenteng. Kali ini bantuan diberikan ke Kecamatan Kam ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      The Wind Will Carry Us: Pudarnya Nilai-nilai Tradisional Teknologi dan Globalisasi Telekomunikasi

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      The Wind Will carry Us
      [caption id="attachment_1021" align="alignnone" width="211" caption="The Wind Will Carry Us"][/caption] The Wind Will Carry Us merupakan sebuah film Iran yang disutradarai oleh Abbas Kiarostami pada tahun 1999. Film ini diangkat dari puisi Forough Fa ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Berita Duka

      (Pengantar)

      Keluarga besar Forum Lenteng dan akumassa turut berduka atas meninggalnya Rit Liawati, ibunda dari kawan kita Bima Mulia (Saidjahforum–Lebak, Banten). Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga serta kerabat yang ditingga ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Tontonan Kolonial yang Menjadi Tradisi

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      12
      Dimulai dari zaman penjajahan Belanda di Indonesia, panjat pinang adalah acara yang dibuat poleh para penjajah sebagai bahan tontonan yang diadakan pada saat ada perhelatan besar seperti pesta pernikahan, kenaikan jabatan atau pesta ulang tahun. Per ...

      (Ada 13 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  292
    • Komentar:  1,494
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 36

    Total: 41113

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media