Oleh Dwi Anggraini Puspa Ningrum | Pada Selasa, 23 Februari 2010
* * *

Bulan kedua ini akan segera berakhir. Tinggal menghitung hari, libur panjang ini akan usai. Aku masih menunggu matahari yang belum nampak hingga kini menjelang siang. Mendung, seketika hujan turun dengan derasnya tanpa aba-aba rintikan air di kulit ini. Rasa dingin terasa begitu mengilukan. Aku melihat orang-orang di sekelilingku mengenakan jaket tebal dan mantel serta payung yang melindungi tubuh mereka. Tanpa itu semua, aku bersandar pada dinding putih sebuah rumah mungil yang bersebelahan dengan Masjid Agung Al-Jihad. Berada di sini kembali dalam nuansa berbeda. Mungkin hanya sebuah kebetulan belaka, hanya untuk sekedar berteduh karena aku sedang melintasi jalan ini. Terdapat sebuah kantor pos yang berwarna jingga, terdengar langkah yang semakin dekat, seperti langkah seseorang yang mengenakan sepatu pantofel. Suara itu semakin dekat seakan menghampiriku. Waktu itu tepat pukul 08.40 WIB, aku masih sangat mengingatnya, masih terlalu pagi untukku bangun pada hari libur kuliah, terlebih pada musim hujan yang belum berakhir. Tapi nyatanya pagi itu aku sudah bermandikan air hujan.

Pak Halim mengenakan seragam dinas kebanggaannya

Pak Halim mengenakan seragam dinas kebanggaannya

Hmm…. tersenyum  dengan sumringah, itulah yang aku lakukan ketika melihat sosok seorang pria tua yang berusia 82 tahun sudah ada di sebelahku. Bahuku ditepuknya dengan sangat pelan. Suaranya yang lembut sesuai dengan parasnya yang sayu itu mempersilakan aku untuk masuk ke dalam ruangan rumah itu. Ternyata kakek ini tidak sendiri, ia ditemani oleh beberapa kerabatnya. Di tubuhnya melekat baju warna hijau zaitun lengkap dengan perintilan atribut kebesarannya. Biasanya aku hanya bertemu dengan Pak Halim saja, namun kali ini ruangan ini ramai oleh rekan sejawatnya. Corak batik yang sangat indah, seakan aku mengenali dari mana motif batik itu dibuat, setidaknya itu yang aku rasakan ketika melihat salah satu rekannya mengenakan batik bercorak batik Solo.

[Lanjutkan membaca Pak Halim Sang Komandan]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Eni Wibowo | Pada Sabtu, 20 Februari 2010
* * *

Pukul 19.00 WIB, aku berada di depan TPS pasar Ciputat bersama Iriel, Umam, dan Imam, temanku sesame anggota Komunitas Djuanda. Tadinya aku yang agak bosan dengan suasana di kantor Djuanda memutuskan untuk mengikuti ketiga temanku ini. Rencananya mereka mau hunting foto kemacetan yang biasa terjadi di sekitar Pasar Ciputat. Umam memutuskan untuk mengambil sudut kemacetan dari depan TPS Pasar Ciputat. Sesampainya di sana justru kami tidak menemukan kemacetan sama sekali, arus kendaraan sepanjang  Jalan Ir. H. Djuanda lancar, tidak ada penumpukan kendaraan yang begitu berarti.

“Telat kali, Mam?” Kata ku pada Umam.

Nggak! Kemarin tuh gue lihat macetnya jam segini. Mungkin belum. Kita tunggu aja.” Jawab Umam dengan yakinnya.

Pintu Masuk Masjid At-Tujar

Pintu Masuk Masjid At-Tujar

Akhirnya kami menunggu di depan gerbang Sekolah Puspita Bangsa, belum ada lima menit menunggu, kami dibuat terkejut oleh suara orang sedang berceramah. Sumber suara itu dari sebuah speaker yang dipasang di atap lantai empat Pasar Ciputat. Awalnya kupikir suara itu berasal dari pengajian di Masjid Agung Al-Jihad. Tapi mana mungkin, pikirku. Jarak dari Masjid Agung dengan TPS cukup jauh, apa mungkin di atas sana ada mushala? Aku terus bertanya-yanya dalam hati.

[Lanjutkan membaca Beribadah di Atap Pasar]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Renal Rinoza Kasturi | Pada Selasa, 16 Februari 2010
* * *

Iring-iringan sepeda motor berdatangan tepat pukul 21.00 WIB. Sebuah jalan sempit yang berlokasi di Panti Asuhan Al-Ikhwaniyyah Kampung Ceger, Jurang Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan pada malam itu ramai sekali, dalam rangka menghadiri ceramah yang ingin disampaikan oleh ulama panutan mereka yaitu Habib Munzir Al-Mussawa dan KH. Saifudin Amsir. Para jamaah berdatangan dari segala penjuru Jabodetabek. Tabligh Akbar dilangsungkan di sebuah lapangan yang cukup untuk menampung sekitar 3000 jamaah dan diperkirakan jamaah yang memenuhi Tabligh Akbar tersebut berkisar 5000 orang termasuk bagi mereka yang tidak mendapatkan tempat di lapangan. Bagi para jamaah yang tidak mendapatkan tempat di lapangan, panitia telah menyediakan sebuah layar berukuran 3×4 meter yang merekam penyampaian ceramah melalui media audio visual.

Jamaah majelis Rasulullah

Jamaah majelis Rasulullah

Tabligh Akbar ini diselenggrakan oleh Barisan Muda Ceger (BMC) dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad Saw. Antusiasme jamaah yang berdatangan tak lekang oleh kondisi jalan yang becek dan sempit untuk ukuran 5000 orang. Segala kekurangnyamanan ini rupanya tak menyurutkan antusiasme dalam mendengarkan ceramah Habib pujaan mereka.

[Lanjutkan membaca Ada Majelis Souvenir di Jurang Mangu]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Imam FR | Pada Rabu, 3 Februari 2010
* * *

Terhitung telah genap dua tahun sudah masyarakat di daerah Ciputat dan sekitarnya merasa lega dengan keadaan Jalan Juanda pada sisi lintasan yang berada tepat di depan Pasar Ciputat. Kemacetan sekitar pasar sudah sedikit terkurangi, walaupun tetap masih ada. Hal itu menjadi wajar, seperti layaknya pada pasar-pasar lain, pasti ramai dengan para pengunjung dan angkutan umum sehingga menyebabkan kemacetan. Selain pengunjung mungkin juga karena ulah para pedagang yang berjualan di pinggir jalan atau bus dan angkutan yang parkir dan menaik-turunkan penumpang sembarangan. Namun, walau masih ada saja kemacetan, tidaklah terlalu parah apabila dibandingkan dengan keadaan dua tahun yang lalu sebelum adanya flyover.

 

Pada siang hari flyover terlihat sepi dari kendaraan

Pada siang hari flyover terlihat sepi dari kendaraan

Sebelumnya kemacetan sangatlah parah, dan itu terjadi setiap hari. Bagian jalan yang melintas di depan pasar yang panjangnya hanya sekitar 200 meter, seharusnya bisa dilewati tidak lebih dari 1 menit, namun karena macet, butuh waktu sekitar 5 sampai 10 menit untuk melewatinya. Penderitaan akibat kemacetan diperparah lagi dengan keadaan jalan yang berlubang. Sungguh melewati jalan itu seperti ungkapan peribahasa “bagai jatuh tertimpa tangga”, sudah macet masih ditambah dengan jalan yang berlubang.

Penderitaan berganda yang menimpa siapa saja yang melintasinya, diakhiri dengan dibangunnya jalan alternatif yang melintas di atas jalan tersebut atau istilah kerennya disebut flyover (jembatan layang), sedangkan di bawahnya yang semula adalah jalan rusak, kini berubah menjadi trotoar. Sebagai ganti jalan di bawahnya dilakukan pelebaran jalan. Pelebaran diperkirakan sekitar 8 meter di setiap sisi kanan dan kiri jalan.

[Lanjutkan membaca Di Balik Beton Baja]

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Marifka Wahyu Hidayat | Pada Senin, 1 Februari 2010
* * *

Tidak  jauh dari markas Komunitas Djuanda di Mandor Baret, Legoso - Ciputat,  terdapat sebuah lapangan futsal. Aku merasa senang karena aku dapat menemukan tempat untuk bermain bola khususnya futsal yang jaraknya sangat dekat dengan kampusku dan kantor Komunitas Djuanda. Mungkin itu alasan kenapa aku mencari markas dekat dengan lapangan futsal.

Pertandingan futsal di Primaraga Futsal

Pertandingan futsal di Primaraga Futsal

Lapangan tersebut bernama Primaraga Futsal, di dalamnya terdapat dua lapangan, yaitu lapangan A dan B. Masing-masing lapangan memiliki fasilitas yang berbeda. Harganya pun berbeda. Perbandingan harganya, lapangan A lebih mahal sepuluh ribu ketimbang lapangan B. Hal itu disebabkan karena pada lapangan A terdapat fasilitas kipas angin dan kondisi alas lapangan yang berbeda. Lapangan A memiliki kombinasi warna lebih bagus, tentunya ini menjadi sebuah keistimewaan besar bagi pencinta futsal untuk melepaskan kecintaanya terhadap dunia futsal. Sedangkan pada lapangan B, alas kakinya tidak sebagus di lapangan A dan tidak ada kipas anginnya.

Primaraga Futsal memiliki klasifikasi harga yang beraneka ragam, terdiri dari harga reguler, paket atau member (keanggotaan). Untuk harga paket atau member mempunyai dua klasifikasi, yang diberi nama lucu-lucu seperti Pak Lurah 4 (paket bayar Langsung lebih murah 4 kali main) dan  Pak Lurah 8 (paket bayar Langsung lebih murah 8 kali main), ada lagi Pak Unyil 4 dan Pak Unyil 8 (paket Untung pakai nyicil 4 kali main dan paket Untung pakai nyicil 8 kali main).

[Lanjutkan membaca Sepak Terjang di Primaraga]

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Helmi Nur Alami | Pada Jumat, 29 Januari 2010
* * *

Dari namanya mungkin terdengar sangat asing. Namun hadroh sudah sangat populer di kalangan majelis taklim yang dipimpin oleh beberapa ulama, kiyai, dan habib yang kemudian menyebar di kalangan masyarakat. Hadroh dari segi bahasa diambil dari kata ‘hadhoro-yuhdhiru-hadhron-hadhrotan’ yang berarti kehadiran. Tapi dalam pengertian istilahnya adalah sebuah alat musik sejenis rabana yang digunakan untuk acara-acara keagamaan seperti acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Di mana hadroh ini mengiringi lagu-lagu atau lantunan shalawat kita kepada Nabi Muhammad SAW.  Hadroh juga tidak hanya sebatas untuk acara Maulid Nabi saja, tetapi digunakan juga untuk ngarak (mengiringi) orang sunatan ataupun orang kawinan.

 

Tim Hadroh As Su'udi

Tim Hadroh As Su'udi

Sebenarnya hadroh bukan suatu hal yang baru dalam masyarakat. Hadroh sudah ada sejak jaman dahulu. Awalnya, hadroh berasal dari bangsa Arab dan Negara-negara Timur Tengah. Lalu dengan berkembangnya Agama Islam dan masuk ke Indonesia yang dibawa oleh para pedagang yang berasal dari Timur Tengah, masuklah hadroh ini seiring dengan masuknya Agama Islam. Kita ketahui bahwa Islam masuk ke Indonesia tidak lepas dari peran Wali Songo yang menyebarkan dakwahnya. Sebenarnya pada kebudayaan Betawi juga terdapat alat musik yang menyerupai hadroh, tetapi bentuknya lebih kecil, yaitu ketimpring. Kegunaannya juga hampir sama dengan hadroh yaitu untuk ngarak. Dan uniknya lagi pemainnya adalah kebanyakan orang tua yang sudah uzur (tua), karena tidak ada regenerasi. Sungguh teramat disayangkan. Padahal ini merupakan budaya yang sangat menopang seni kebudayaan Islam.

Tujuan dari memainkan hadroh ini yaitu untuk menambah ke-khusyu’an kita ketika acara maulid dan suara tabuhan hadroh seakan membuat hati kita bergetar mendengar puji-pujian kepada Allah SWT dan lantunan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW (Subhanallah syahdunya, itulah yang aku rasakan). Jika kita sekali saja bershalawat kepada nabi, maka Allah akan membalas dengan sepuluh kali shalawat untuk kita. Itulah pelaksanaan hadroh dalam sebuah acara Maulid Nabi. Sedangkan, kalau ngarak tujuannya agar orang yang kita arak merasa bahagia. Bagi orang yang memainkan alat musik hadroh ataupun mendengar lantunan musik beserta shalawat dan menghayatinya maka orang tersebut akan terbuka hatinya serta terangkat kesadarannya akan kehadiran Allah SWT (Insya Allah).

[Lanjutkan membaca Hadhoro-Yuhdhiru-Hadhron-Hadhrotan]

5 pembaca suka artikel ini.
Oleh Dwi Anggraini Puspa Ningrum | Pada Rabu, 27 Januari 2010
* * *

“Assalamualikum warahmatullahi wabbarakatuh. Terimakasih kepada hamba Allah yang telah menyumbangakan seperangkat alat shalat yang terdiri dari sajadah dan mukena beserta sebuah Al-Quran kepada Masjid Agung Al-Jihad, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT…

Beberapa menit kemudian…

“Bissmillahirahmanirrahim.. Kami sangat mengucapkan terima kasih kepada para penyumbang yang berada di jalan sekitar Masjid Agung Al-Jihad yang telah menyisihkan sebagian rizkinya untuk pembangunan Masjid Agung Al-Jihad ini”.

Masjid Agung Al-Jihad merupakan masjid tertua di Ciputat

Masjid Agung Al-Jihad merupakan masjid tertua di Ciputat

Itulah hal yang sering aku dengar setiap kali melintas di Jalan Juanda, selalu tersedia tempat yang berbentuk seperti jaring yang disangkutkan pada dua buah drum yang ditujukan kepada siapapun yang ingin menyumbang untuk pembangunan Masjid Agung Al-Jihad. Pemandangan serupa adalah beberapa bapak-bapak yang sudah tua berdiri di pinggir jalan sembari mengulurkan tangan kepada orang-orang yang melintasi jalan dan angkutan-angkutan umum. Pemandangan seperti ini tidak baru saja aku lihat, tetapi sudah sangat lama hampir 4 tahun lamanya.

Masjid Agung Al-Jihad adalah sebuah masjid yang masih tersisa di Ciputat sejak masa penjajahan Jepang. Ketika itu bentuknya tidaklah sekokoh bangunan masjid seperti sekarang ini, hanya dengan dinding bilik bambu dan kayu saja, langgar atau surau sebutanya yang berarti musholla, yang hanya cukup ditempati kurang lebih sepuluh orang saja. Masjid Agung Al-Jihad ini dibangun dari tanah wakaf yang kemudian menjadi sebuah yayasan, namun banyak warga dan pimpinan dan keanggotaan masjid sendiri yang menginginkan dan sangat mengharapkan masjid agung ini bisa berdiri sendiri tanpa dinaungi oleh yayasan.

[Lanjutkan membaca Masjid Agung Al-Jihad]

6 pembaca suka artikel ini.

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

POTRET

ARTIKEL ACAK

      VIDEOBASE

      (Pengantar)

      VIDEOBASE
      [caption id="attachment_1013" align="alignnone" width="589" caption="VIDEOBASE"][/caption] Mencermati sejarah Indonesia melalui video menjadi satu gerakan penting. Sejarah memang berpihak pada pemenang. Kenyataan dibentuk sedemikian rupa sesuai kehen ...

      (Ada 7 komentar pada artikel ini)

      Kenapa Lebak?

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      baduy-ciboleger
      [caption id="attachment_419" align="alignnone" width="170" caption="baduy-Ciboleger"][/caption] Awal ketidaktahuan Proyek Aku Massa telah terjawab kini, pasti itu mendatangkan keberkahan tersendiri bagiku sebagai partisipan, Saidjah Forum dan warga s ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Rindu Kami Pada Situ Kuru

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Situ Kuru
      [caption id="attachment_3088" align="alignnone" width="480" caption="Situ Kuru"][/caption] Berbicara Tentang Situ Kuru, mau tidak mau kita juga akan membicarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang tepat berada di sampingn ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      The Wind Will Carry Us: Pudarnya Nilai-nilai Tradisional Teknologi dan Globalisasi Telekomunikasi

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      The Wind Will carry Us
      [caption id="attachment_1021" align="alignnone" width="211" caption="The Wind Will Carry Us"][/caption] The Wind Will Carry Us merupakan sebuah film Iran yang disutradarai oleh Abbas Kiarostami pada tahun 1999. Film ini diangkat dari puisi Forough Fa ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Sebulan di Kota Udang

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Charlie, dan ST12
      Jakarta, 20 Januari 2009 Karena program akumassa ini, saya menghabiskan Desember dan mengawali tahun 2009 di kota Cirebon. Selama sebulan lebih saya tinggal di kota udang ini dan menetap di Jl. Cipto Mangunkusumo yang terletak di pusat kota. Lokasi i ...

      (Ada 16 komentar pada artikel ini)

      Review Observasi Lapangan dan Diskusi, Cirebon

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Pasar Kanoman
      Review Observasi Lapangan Tanggal 15 - 17 Desember 2008 dan Diskusi Tanggal 18 Desember 2008 Diskusi Hasil Observasi Lapangan Di Kanoman Malam hari, Yahya Malik mendapati pasar kanoman sepi. Hanya ada beberapa orang yang dia lihat berada di pasar ter ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  292
    • Komentar:  1,494
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 35

    Total: 41112

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media