Sore ini tampak cerah, walau tadi sempat datang mendung sejenak yang mendatangkan gerimis-gerimis kecil yang turun tidak begitu lama. Matahari di sebelah barat memancarkan sinarnya dari balik-balik awan putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Angin sepoi-sepoi terkadang lewat dan masuk melalui jendela ke dalam kamar kostku disaat aku sedang berkemas diri untuk pulang ke kampung halaman. Hari ini (Minggu, 14 Februari 2010) aku memang sudah merencanakan untuk pulang ke kampung halaman di Klaten, karena kuliah sedang libur semester.

Antrian pembeli tiket di Stasiun Tanah Abang
Semua sudah siap. Aku segera berangkat ke Stasiun Tanah Abang. Jam di telepon genggamku sudah menunjukkan pukul 15.50 WIB. Setelah sejenak menunggu di halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, akhirnya Koantas Bima bernomor 102 yang akan mengantarkanku ke Stasiun Tanah Abang datang juga.
Setelah satu jam perjalanan, aku telah sampai di stasiun. Tampak banyak orang keluar-masuk dari stasiun. Aku segera menuju loket kereta Bengawan untuk membeli tiket. Tanpa menunggu lama, tiket sudah aku dapatkan, karena kebetulan saat itu antrian tidak begitu banyak. Di dalam tiket tertulis jadwal keberangkatan Kereta Bengawan dari Stasiun Tanah Abang pada pukul 19.30 WIB dan akan sampai di Stasiun Klaten pukul 06.30 WIB. Di bawah tulisan jadwal keberangkatan ada tulisan K3-4, 9C. Itu menunjukkan kelas kereta api (K3= kelas 3 atau ekonomi), nomor gerbong (gerbong 4) dan nomor tempat duduk (9C), berarti di situlah tempatku. Aku sengaja datang lebih awal dengan maksud agar masih mendapatkan tiket yang bertempat duduk. Karena apabila tidak mendapatkan tempat duduk, maka penumpang harus berdiri atau duduk di sela-sela gerbong dan ini sangat tidak mengenakkan. Apalagi lama perjalanan membutuhkan waktu kira-kira dua belas jam, sebuah hitungan waktu yang lumayan lama.
[Lanjutkan membaca Cerita Sebuah Perjalanan Bersama Kereta Bengawan]
6 pembaca suka artikel ini.