
Keluarga Besar akumassa mengucapkan,
“Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng”
* * *

Keluarga Besar akumassa mengucapkan,
“Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng”
* * *
Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menghadiri pameran di North Art Space, Pasar Seni Jaya Ancol. Yang menarik, terutama bagi saya, adalah kemasan pamerannya, yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Para pengunjung pameran FIXER di North Art Space, Ancol
[Lanjutkan membaca Oleh-oleh dari Ancol: Pentingnya Strategi Politik Bagi Komunitas]
Domino adalah sebuah permainan kartu generik (dimainkan oleh semua kalangan). Domino tertua dibuat sekitar tahun 1120 Masehi di Negara-negara Barat, tetapi menurut sejarahnya permainan ini kemungkinan besar berasal dari Cina. Awalnya Domino hanya terdiri dari 21 kartu (atau 21 batu Domino), yang mana angka-angka tersebut (contohnya 2-3, 2-6,3-6 dan sebagainya) merupakan hasil dari pelemparan dua dadu. Domino khas Cina ini umurnya lebih lama daripada domino orang-orang Eropa. Selanjutnya, permainan domino Cina ini berkembang menjadi permainan Mah Jong, yang menjadi populer di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1920-an. Permainan Domino mulai dikenal di Eropa pada awal abad ke-18, yang pertama kali dimainkan di Italia. Berbeda dengan Domino Cina, Domino Eropa memiliki tambahan tujuh kartu, yaitu enam kartu yang terdiri dari kombinasi angka single die, seperti 0-1, 0-2, 0-3, dan seterusnya dan satu kartu 0-0.

Domino
Domino ini pun menjamah Indonesia, kemungkinan besar dibawa oleh para penjelajah dari Eropa yang singgah di kepulauan Indonesia. Sebagian besar di Indonesia, terutama di Jawa, permainan Domino lebih dikenal dengan nama Gaple. Kombinasi angka pada Gaple sama dengan Domino, namun bentuk fisiknya bukan batu, melainkan kartu kertas. Aturan permainan dan jumlah kartunya sama halnya dengan Domino di Eropa.
Berbicara tentang Gaple, aku pernah mendengar cerita dari temanku, Dani. Dia pernah melihat sekelompok orang bermain Gaple di kereta ekonomi dari Jakarta menuju Bogor. Menurut ceritanya, waktu itu dia sedang berada di dalam kereta menuju pulang ke Lenteng Agung. Dia melihat kerumunan orang-orang di satu titik, lalu dia mendekati kerumunan itu. Ternyata di sana sedang terjadi sebuah pertandingan Gaple, yang dimainkan oleh empat orang laki-laki. Keempat orang itu berdiri, dan ada seorang wanita yang duduk. Paha wanita tersebut dilapisi kain, dimana itu dijadikan meja untuk menyusun kartu. Setelah mendengar cerita dari Dani, aku menjadi penasaran. Akhirnya aku memutuskan untuk membuktikan cerita Dani.
Rabu malam, 31 Maret 2010, terasa ramai walaupun terlihat mendung di wilayah sekitar Jakarta. Malam itu di gedung CCF (Centre Culturel Francais) Jakarta, ada pembukaan Pameran Video ‘…yang taksa [ambigu]‘.

Instalasi televisi menuju sebuah ruangan yang berjudul ‘Red-Closet’, salah satu karya yang dipamerkan dalam Pameran Video'...yang taksa [ambigu
Acara pembukaan pameran sempat mundur sekitar setengah jam. Sebelumnya acara akan dimulai pukul tujuh malam. Karena menunggu ruang galeri yang masih dirapihkan, akhirnya pameran dibuka jam setengah delapan malam. Pameran video ‘…yang taksa [ambigu]‘ dibuka oleh Karel Ratulangi (Kadol) selaku MC, kemudian diteruskan dengan kata sambutan oleh Patrick Perez selaku Direktur CCF Jakarta. Beliau mengucapkan selamat atas pembukaan pameran ini dengan berbahasa Indonesia dicampur Bahasa Inggris namun berlogat Perancis. Selanjutnya giliran Adel Maulana Pasha yang memberikan kata sambutan dan terima kasih kepada kawan-kawan yang ikut membantu dan para pendukung dibalik layar atas terlaksananya pameran ini. Setelah itu, para penonton yang sudah tak sabar melihat pameran dipersilakan masuk oleh Patrick Perez untuk menonton karya video yang dipamerkan.
Jauh perjalanan mencari intan pujaan
Aduhai…di mana puan
Mengapa pergi tanpa pamitan
Lembah kuturuni
Bukit nan tinggi kudaki
Aduhai…tak kunjung jumpa
Mengapa hilang tak tentu rimba

Grup band Sore
Beberapa waktu lalu saya mendapatkan ‘notes’ di sebuah jejaring sosial dari keponakan saya yang sedang menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Catatan itu cukup menggelitik saya untuk melihat kembali makna ‘melow’ dan ‘metal’. Dalam catatan itu, ia menulis bagaimana kegelisahannya tentang fenomena musik Indonesia yang didikotomikan hanya dengan melow (mendayu) dengan musik ‘keras’. Padahal yang paling penting dalam musik –dalam hal ini musik pop— adalah harus punya ‘isi’ yang lebih baik daripada sekedar soal cinta dengan bahasa yang sangat gampang.
[Lanjutkan membaca Sore, Yang Beda dari Hingar Bingar Musik Pop Sekarang]
Beberapa waktu lalu, warga Jakarta, khususnya pecinta sepak bola, ramai meramalkan apa yang akan terjadi pada 25 Maret 2010. Pasalnya, dua kubu tim sepak bola yang terkenal sebagai musuh bebuyutan akan beradu di Gelora Bung Karno, Senayan. Mereka tak lain tak bukan adalah Persija-Jakarta dan Persib-Bandung. Keduanya bertanding dalam Indonesia Super League (ISL).

Lautan Oranye The Jakmania memenuhi stadion
Sebenarnya, para pendukung kedua tim inilah yang lebih menjadi kekhawatiran massa ketika keduanya harus dipertemukan. The Jakmania (pendukung Persija) dan Viking (pendukung Persib) selama ini dikenal saling caci dan benci satu sama lain. Pertemuan kedua kubu tersebut biasanya berujung rusuh.
Apakah anda mengenal Giring ‘Nidji’ atau Edi Brokoli? Ya, Keduanya memang musisi berambut kribo yang tampil eksentrik, namun yang dimaksud Duo Kribo bukanlah mereka berdua.

Neraka Jahanam
Kalau begitu, apakah anda mengenal lagu ‘Neraka Jahanam’, lagu rock lawas Indonesia yang sempat dipopulerkan kembali oleh Boomerang dan di trash-kan oleh Suckerhead. Apakah anda juga mengenal lagu ‘Dunia Panggung Sandiwara’ yang liriknya ditulis oleh Taufik Ismail, salah satu penyair mashyur Indonesia. God Bless sering membawakan lagu tersebut di setiap kali pementasan mereka. Lagu tersebut juga pernah dipopulerkan kembali oleh Grace Simon, Nicky Astria, (alm) Nike Ardilla, Ramli Syarif (rocker Singapura), hingga Sheila On 7.
[Lanjutkan membaca Menonton Duo Kribo]
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Selasa lalu, pukul 06.15 WIB aku terbangun karena suara adikku. Aku pun langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka. Dari luar kembali terdengar suara adikku,
”Kak, buruan udah pada ngumpul!”
”Ntar dulu, lo duluan aja,” jawabku.
“Masa’ panitia telat?” Ibuku pun menyambung suara adikku.

Para peserta siap melaju dengan sepedanya
Pagi itu aku bertugas menjadi panitia acara sepeda santai anak-anak yang diadakan oleh warga sekitar rumahku, RT 17 RW 06 Kelurahan Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Setelah selesai aku bergegas berangkat ke tempat berkumpulnya para peserta kegiatan sepeda santai yang kebetulan di belakang rumahku. Belum sampai tujuan, aku terkaget, ternyata para peserta sudah siap berangkat. Salah seorang temanku sedang menertibkan kembali para peserta dan aku langsung membantu. Ternyata para peserta bukan sudah siap memulai bersepeda, namun mereka salah tempat start.
Sedikit cerita dari rumah sakit…
Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Nguuuunnngg…. nguunngggg… krrrrttttt….. krrrttttt….”
Suara bor mesin yang sangat memekakan telinga sedang menembus plafon baja, tampak para tukang sedang berada di atas tangga lipat alumunium sedang memasang instalasi listrik di depan pintu masuk IGD (Instalasi Gawat Darurat) dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Mereka menarik kabel panjang, dan memasukannya ke sela lubang bekas bor tadi. Ada seorang tukang yang tampaknya sudah siap di atas plafon untuk menarik kabel yang dimasukan kawannya dari bawah.

Suasana ruang tunggu RSCM yang sedang diperbaiki
“Nguuuunnngg…. nguunngggg… krrrrttttt….. krrrttttt….”
Aku pikir hanya satu kali mereka mengebor, ternyata banyak lubang yang mereka buat di plafon. Berjarak satu neon panjang, dengan jeda yang sama. Mereka tampaknya sedang memasang neon-neon itu sebagai penerang. Ada sekitar 9 neon baru, kalau aku tidak salah, yang mengelilingi ruangan tunggu IGD ini.
Sekitar dua minggu yang lalu, gue sedang pusing dan malas narik (mengoperasikan tarayek) Metro Mini 91 jurusan Batusari-Tanah Abang karena terlalu sering dibokisin (dibohongi) oleh supir gue. Awalnya, supir gue, Si Sihombing ini baik. Melihat gue luntang lantung dia langsung memanggil gue,
“He, lae! Sini Kau. Apa marga Kau?”
“Tanjung, Paman.”
“Ah, masih saudara Kau dengan Akbar Tanjung? Faisal Tanjung? Orang kaya, Kau?” dia bercanda, “Ngapain Kau tak karuan begitu, seperti dewa mabuk, bawa-bawa botol setiap hari. Sudah, besok ikut jadi batanganku (jadi kondektur tetap dia) saja, Kau!”

Ikutlah gue bekerja dengan Sihombing sejak saat itu. Tapi lama kelamaan, setelah gue tahu seluk beluk tentang besar setoran dan pembagian pendapatan, gue baru sadar kalau selama ini dia ngebokisin gue. Misalnya pendapatan kita satu hari sebesar 700 ribu rupiah. Setoran kepada bos sebesar 230 ribu rupiah. Hutang air minum dan rokok kami berdua di pool perhari cuma 30 ribu rupiah. Untuk beli solar 180 ribu. rupiah Artinya penghasilan kami berdua 260 ribu rupiah. Kalau supir yang ‘asyik’ seperti supir gue sebelum bekerja dengan Sihombing, penghasilan dibagi rata. Yah, minimal harusnya gue mendapat 120 ribuan lah dari 230 ribu itu. Sihombing tiap hari cuma ngasih gue 70 ribu rupiah. Kawan gue sesama kondektur pernah bilang, “Wah, Tak. Itu namanya lo di-kadalin (dikerjai).” (kawan-kawan biasa memanggil gue dengan sebutan ‘Batak’)
Sudahlah, gue tinggalkan Sihombing.
[copyleft] akumassa.org januari 2009 - 2010
www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.
FB | TWEET
RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media