Oleh Andang Kelana | Pada Jumat, 5 Maret 2010
* * *

Sedikit cerita dari rumah sakit…

Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Nguuuunnngg…. nguunngggg… krrrrttttt….. krrrttttt….”

Suara bor mesin yang sangat memekakan telinga sedang menembus plafon baja, tampak para tukang sedang berada di atas tangga lipat alumunium sedang memasang instalasi listrik di depan pintu masuk IGD (Instalasi Gawat Darurat) dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Mereka menarik kabel panjang, dan memasukannya ke sela lubang bekas bor tadi. Ada seorang tukang yang tampaknya sudah siap di atas plafon untuk menarik kabel yang dimasukan kawannya dari bawah.

Suasana ruang tunggu IGD RSCM yang sedang diperbaiki

Suasana ruang tunggu RSCM yang sedang diperbaiki

“Nguuuunnngg…. nguunngggg… krrrrttttt….. krrrttttt….”

Aku pikir hanya satu kali mereka mengebor, ternyata banyak lubang yang mereka buat di plafon. Berjarak satu neon panjang, dengan jeda yang sama. Mereka tampaknya sedang memasang neon-neon itu sebagai penerang. Ada sekitar 9 neon baru, kalau aku tidak salah, yang mengelilingi ruangan tunggu IGD ini.

[Lanjutkan membaca Instalasi Gawat Darurat RSCM]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Hamdani Mutiara Tanjung | Pada Rabu, 3 Maret 2010
* * *

Sekitar dua minggu yang lalu, gue sedang pusing dan malas narik (mengoperasikan  tarayek) Metro Mini 91 jurusan Batusari-Tanah Abang karena terlalu sering dibokisin (dibohongi) oleh supir gue.  Awalnya, supir gue, Si Sihombing ini baik. Melihat gue  luntang lantung dia langsung memanggil gue,

“He, lae! Sini Kau. Apa marga Kau?”

“Tanjung, Paman.”

“Ah, masih saudara Kau dengan Akbar Tanjung? Faisal Tanjung? Orang kaya, Kau?” dia bercanda, “Ngapain Kau tak karuan begitu, seperti dewa mabuk, bawa-bawa botol setiap hari. Sudah, besok ikut jadi batanganku (jadi kondektur tetap dia) saja, Kau!”

Ikutlah gue bekerja dengan Sihombing sejak saat itu. Tapi lama kelamaan, setelah gue tahu seluk beluk tentang besar setoran dan pembagian pendapatan, gue baru sadar kalau selama ini dia ngebokisin gue. Misalnya pendapatan kita satu hari sebesar 700 ribu rupiah. Setoran kepada bos sebesar 230 ribu rupiah. Hutang air minum dan rokok kami berdua di pool perhari cuma 30 ribu rupiah. Untuk beli solar 180 ribu. rupiah Artinya penghasilan kami berdua 260 ribu rupiah. Kalau supir yang ‘asyik’ seperti supir gue sebelum bekerja dengan Sihombing, penghasilan dibagi rata. Yah, minimal harusnya gue mendapat 120 ribuan lah dari 230 ribu itu. Sihombing tiap hari cuma ngasih gue 70 ribu rupiah. Kawan gue sesama kondektur pernah bilang, “Wah, Tak. Itu namanya lo di-kadalin (dikerjai).” (kawan-kawan biasa memanggil gue dengan sebutan ‘Batak’)

Sudahlah, gue tinggalkan Sihombing.

[Lanjutkan membaca Cewek Bertato dan Sekaleng Aica Aibon]

5 pembaca suka artikel ini.
Oleh Mira Febri Mellya | Pada Selasa, 2 Maret 2010
* * *

…Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu


Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu


Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu


Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal…

Lirik lagu milik Iwan Fals ini sering sekali terdengar olehku, dari suara vokal dan gitar seadanya oleh pengamen jalanan, atau pun dari suara teman-temanku ketika bernyanyi bersama, yang juga seadanya. Mulanya ku kira lagu ini berjudul ‘Anak Sekecil Itu’, maklum saja aku tak pernah mendengarnya melalui versi lengkap yang dinyanyikan Iwan Fals. Ternyata lagu ini berjudul ‘Sore Tugu Pancoran’.

Tiap kali mendengar lagu ini, ada satu perasaan yang hadir menyelimuti hatiku, yaitu tragis. Kenapa? Karena lagu ini berkisah tentang anak kecil bernama Budi yang harus bekerja sebagai penjual koran sore di kawasan Pancoran, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ia melakukannya demi tetap dapat bersekolah dan mengenyam pendidikan untuk menggapai cita-cita.

[Lanjutkan membaca Sore Tugu Pancoran]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Silvia Maulina (Bociel) | Pada Kamis, 25 Februari 2010
* * *

Setiap kali kita berkunjung ke pusat keramaian seperti mall, sering kita jumpai orang yang menawarkan sebuah produk. Entah itu makanan, minuman, baju, rokok, hingga jasa penyimpanan uang di bank. Mereka semua kita kenal dengan sebutan sales. Salesman untuk laki-laki dan salesgirl untuk perempuan, atau lebih populer lagi dengan sebutan SPG (Sales Promotion Girl). Aku akan bercerita bagaimana pekerjaan seorang SPG, dan bagaimana sebagian orang terkadang memandang rendah seorang SPG.

Saat sedang menawarkan produk susu sereal kepada customer

Saat sedang menawarkan produk susu sereal kepada customer

Pekerjaan seorang SPG adalah menawarkan sebuah produk yang sedang dipromosikannya, memberitahu kelebihan produk, menerangkan bagaimana produk itu harus digunakan, memberitahu bahan serta kandungan apa saja yang terdapat di dalam produk tersebut sekaligus fungsinya, dan lain-lain. Biasanya SPG berada di bawah naungan sebuah Event Organizer (EO), sebuah perusahaan menengah dengan omset puluhan bahkan ratusan juta setiap jobnya.

[Lanjutkan membaca Menjadi Sales Promotion Girl (SPG)]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Choiril Chodri | Pada Senin, 22 Februari 2010
* * *

Mendengar kata ‘rongsok’ kita dapat menyimpulkan dengan barang bekas yang sudah dibuang dan tidak dapat dimanfaatkan lagi, namun bagi pemulung dan pengusaha barang rongsok, rongsokan dapat menjadi sebuah penghasilan yang dapat diperjualbelikan dan menjanjikan. Karena yang aku tahu setiap orang yang mempunyai usaha seperti ini, mereka dapat mencukupi biaya hidupnya dan tidak sedikit dari mereka dapat menunaikan ibadah haji, seperti ibuku.

Rongsokan bekas kaleng minuman

Rongsokan bekas kaleng minuman

Seorang pemulung mencari rongsok untuk dijual pada pengusaha yang membeli barang-barang rongsok tersebut, kemudian dijual lagi ke pabrik atau lapak-lapak yang lebih besar, namun tidak semua rongsok dapat dijual dan didaurulang lagi. Kebetulan orang tuaku seorang pengusaha rongsok, dan rumahku yang berada di Jalan Penganten Ali, RT17/RW 06, Kelurahan Rambutan, Jakarta Timur menjadi lapak barang rongsokan. Jadi aku sedikit tahu rongsok apa saja yang dapat diperjualbelikan. Rongsok tersebut seperti: besi, logam (almunium, kuningan, tembaga, kuali, tebel, dan babet), seng, kertas (bekas kerdus, buku-buku bekas), plastik (plastik kresek hitam, bekas tempat air mineral, paralon).

[Lanjutkan membaca Dari Rongsok Ku Meraup Rupiah]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Agung Natanael | Pada Kamis, 18 Februari 2010
* * *

Musim hujan adalah pertanda untuk harus segera mengungsi bagi beberapa warga yang tinggal di wilayah rawan banjir. Sebab, bila hujan terus menerus turun berarti dalam beberapa hari lagi bencana banjir akan melanda. Apalagi, banjir kerapkali merendam pemukiman yang mereka tinggali akibat curah hujan yang cukup tinggi dan banjir kiriman dari Bogor. Seperti yang menimpa warga di kawasan perkampungan Dewi Sartika, Jalan Arus, Jakarta Timur, Kamis (18/2). Luapan Sungai Ciliwung mulai merendam wilayah RW 02 dan 03 permukiman warga yang memang terletak bersebelahan dengan bantaran Kali Ciliwung tersebut, sejak pukul 03.30 WIB.

akrab dengan banjir1

Dalam beberapa tahun terakhir,banjir seolah menjadi agenda rutin. Berbagai antisipasi disiapkan, salah satunya memindahkan para warga di sepanjang bantaran sungai, cara ini merupakan salah satu cara yang efektif  untuk mengendalikan banjir. Alternatif lainnya adalah dengan menyiapkan perahu-perahu serta tempat pengungsian. Wajar saja, mengingat akses trransportasi sepenuhnya tergenang air saat banjir melanda. Perahu menjadi satu-satunya alat evakuasi warga atau yang dikenal dengan istilah getek (kapal getek, adalah jenis kelotok yang fungsinya khusus untuk mengangkut orang.)

[Lanjutkan membaca Akrab Dengan Banjir]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Hikmat Darmawan | Pada Rabu, 17 Februari 2010
* * *

Tulisan ini diambil dari Kolom Catatan di Facebook, yang ditulis oleh Hikmat Darmawan pada Senin, 15 Februari 2010.

Saya pakai kata “Mas”, karena ingin tetap menghormati yang lebih tua, tapi tak mau memanggil “Pak” karena kuatir terjebak dalam penghormatan tradisional-feodalistik yang tak perlu terhadap jabatan. Namun, kalau kita percaya pada sebuah berita BBC, agaknya jelas bahwa Tifatul Sembiring, Mas Menteri Komunikasi dan Informasi memang seorang yang berpandangan tradisional.

Tifatul Sembiring menyampaikan khutbah Jumat

Tifatul Sembiring menyampaikan pendapatnya tentang keterkaitan konten berita di media terhadap bencana alam yang menimpa Indonesia, saat khutbah Jumat di Padang, Sumatera Barat

Dalam berita itu, Tifatul menyampaikan khutbah Jumat di Padang, Sumatera, yang tahun lalu diguncang gempa dengan korban sekitar 1000 orang tewas, bahwa serangkaian bencana yang menimpa Indonesia adalah karena perilaku tak bermoral masyarakat Indonesia. Ia menyebutkan banyaknya tayangan televisi di Indonesia yang “menghancurkan moral”. Berita itu tak merinci tayangan apa saja, mungkin karena logika dasar pernyataan tersebut sudah menggambarkan tradisionalisme Mas Menteri yang tak pada tempatnya.

[Lanjutkan membaca Mas Menteri, Internet Itu Lebih Banyak Manfaat Daripada Mudharat...]

5 pembaca suka artikel ini.

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Beribadah di Atap Pasar

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Pintu Masuk Masjid At-Tujar
      Pukul 19.00 WIB, aku berada di depan TPS pasar Ciputat bersama Iriel, Umam, dan Imam, temanku sesame anggota Komunitas Djuanda. Tadinya aku yang agak bosan dengan suasana di kantor Djuanda memutuskan untuk mengikuti ketiga temanku ini. Rencananya mer ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Di Balik Beton Baja

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Pada siang hari flyover terlihat sepi dari kendaraan
      Terhitung telah genap dua tahun sudah masyarakat di daerah Ciputat dan sekitarnya merasa lega dengan keadaan Jalan Juanda pada sisi lintasan yang berada tepat di depan Pasar Ciputat. Kemacetan sekitar pasar sudah sedikit terkurangi, walaupun tetap ma ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Mengelola Wilayah Tangsel

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      suasana jalan di wilayah Gintung, Tangerang, Banten.
      Diambil dari Harian Kompas, Rabu, 16 Desember 2009 Tak terasa setahun sudah usia Kota Tangerang Selatan. Tepatnya 26 November, saat disahkannya UU Nomor 51 Tahun 2008 soal Pembentukan Kota Tangerang Selatan. Di usianya yang muda ini, Tangsel sudah di ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

      Sebelum Menjadi Markas ASP

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      markas Anak Seribupulau
      [caption id="attachment_2653" align="aligncenter" width="470" caption="markas Anak Seribupulau"][/caption] Waktu masih kecil aku sering maen-maen di sekitar rumahku, salah satunya di rumahnya Mbah Kandar. Dia adalah seorang pensiunan Polisi. Dulu ak ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Agustusan di Alun-Alun Kabupaten

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      merah-putih
      Itulah hari kemerdekaan kita! Aku, kamu dan mereka sudah pasti terbawa pada kehangatan suasananya jika hari itu tiba. Ada gairah yang selalu coba dilukiskan oleh setiap individu. Anak-anak, muda-mudi, orang tua, semua larut dalam gairah yang sama. G ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Siaran Pertamaku di Radio Princess Catharina Amalia

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Studio RCA 107,8 fm
      Padangpanjang, 12 April 2009 Radio Princess Catharina Amalia (PCA) 107.8 FM adalah tempat pertama saya dalam menggeluti dunia penyiaran. Radio ini awalnya dibangun sebagai Pusat Informasi dan Mitigasi Gempa Bumi di Sumatera Barat yang bekerja sama la ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  294
    • Komentar:  1,499
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 87

    Total: 41384

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media