“Asssalamu’alaikum… Mama Najwa!”
Terdengar sebuah seruan salam dari luar rumah. Ibu saya yang sedang memasak di dapur langsung berlari ke depan, ternyata itu suara Mbak Heni, pedagang snack keliling langganannya.

Mbak Heni, penjual snack keliling
“Asssalamu’alaikum… Mama Najwa!”
Terdengar sebuah seruan salam dari luar rumah. Ibu saya yang sedang memasak di dapur langsung berlari ke depan, ternyata itu suara Mbak Heni, pedagang snack keliling langganannya.

Mbak Heni, penjual snack keliling
Warga Depok mana yang tidak tahu Margo City atau Depok Town Square (DETOS)? Semuanya tahu dua mall besar yang berdiri saling berhadapan.

SD Pondok Cina 1, dilihat dari seberang jalan
Hantu pocong menjadi fenomena tersendiri dalam masyarakat Indonesia. Hampir di seluruh wilayah Nusantara tahu betul bagaimana rupa hantu tersebut, meskipun dengan beragam versi cerita yang berbeda dari masyarakat yang satu dengan masyarakat lain di daerah yang berbeda pula. Bahkan cerita tentang hantu pocong semakin populer ketika diangkat oleh berbagai media dan ceritanya pun juga menjadi inspirasi para sutradara lokal untuk membuat filem-filem horor.

Warung Es Pocong
Jujur saja saya merasa tidak terlalu peduli dengan cerita-cerita hantu, seperti cerita hantu pocong, karena sampai sekarang saya belum pernah mengalami (dan saya harap hal itu tidak akan pernah terjadi pada diri saya) apa yang dinamakan dengan istilah melihat ‘penampakan’, kesurupan dan sebagainya. Bahkan pernah di sekolah saya yang dulu, saat saya masih di kota Pekanbaru, terjadi persitiwa yang menggemparkan ketika ada seorang guru yang selama seminggu tak henti-hentinya mengalami kesurupan, namun saya tidak peduli dengan peristiwa tersebut. Malahan dugaan saya yang menganggap bahwa guru itu mungkin saja hanya berpura-pura merupakan suatu kebenaran, dan hal ini menjadi faktor tambahan bagi saya untuk menganggap bahwa hal-hal yang berbau horor bukanlah sesuatu yang menarik dan merupakan suatu fenomena yang dilebih-lebihkan oleh masyarakat.
Lenteng Agung dan Depok dihubungkan oleh sebuah fly over (jalan layang) yang biasa dikenal dengan nama Fly Over UI (Universitas Indonesia). Di sana menjadi tempat transit beberapa angkutan kota (angkot), di antaranya jurusan Pasar Minggu-Depok, Kampung Rambutan-Depok, Pasar Minggu-Mekar Sari dan lain-lain. Aku dan temanku, Zikri, tidak tahu pasti kapan fly over itu dibangun. Ada yang bilang tahun 1989, 1994, 1996 bahkan ada juga yang bilang tahun 2003. Sampai kantor Wali Kota dan Kantor Polisi pun kami datangi, tetap tidak membuahkan hasil.

Dari pencarianku bersama Zikri mengenai kapan dibangunnya Fly Over UI, kami menemukan sebuah kasus bernama ‘Kubu 1 Milyar’. Kisahnya, fly over itu dibuat memutar karena tanah di tengah-tengah fly over itu ada yang memiliki. Si pemilik tanah meminta harga 1 Milyar untuk tanah tersebut, tetapi Pemda tidak mau membayarnya, jadilah fly over itu memutar. Sampai sekarang aku dan Zikri tidak mengetahui juga siapa pemilik tanah itu. Pak Wandi yang aku temui di Balai Wartawan, Polres Depok, bilang sampai sekarang sengketa tanah kubu 1 Milyar itu belum selesai dan si pemilik tanah tersebut sudah meninggal. Mungkin kami akan mencari ahli waris si pemilik tanah itu. Dari situ mungkin juga kita akan tahu kapan dibangunnya fly over tersebut.
Di antara bingkai-bingkai kisah kota Jakarta dalam durasi 60 menit miniDV itu, ringis bocah kelas 1 sekolah dasar membenamkanku ke dalam ingatan alunan lagu,
Bukan lantaran kerjaan brutal
Ujungnya daging harus dipenggal
Di bumi insan makin berjejal
Hingga terjadi sunatan massal

Salah satu peserta sunatan massal di Masjid Jami Al Huda
Sunatan Massal-Iwan Fals
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Rekaman itu sudah tersimpan satu setengah tahun lamanya. 5 juli 2008, di jam setengah sembilan, tutup lensa kamera miniDV DCR-HC15E itu terbuka. Merekam medium shot balon gas di depan Masjid Jami Al Huda. Lalu menurun ke bawah menelusuri benang kenur pengikat sampai ke genggam erat tangan kecil. Bocah bersarung berkopiah itu menahan tangis di tengah kerumunan anak-anak berkaos yang berharap cerita ‘anu’nya diiris.
Universitas Indonesia adalah salah satu universitas negeri yang menjadi incaran para pelajar yang baru menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas. Universitas ini dianggap sebagai universitas negeri yang terbaik dari segi fasilitas, tenaga pengajar, dan kemampuan rata-rata mahasiswanya. Oleh karena itu universitas ini mendapat perhatian yang besar dari pemerintah.

Jalan Kober, yang berada di sisi Jalan Margonda, Depok
Pada tahun 1987 saat rezim Soeharto berkuasa, pinggiran Kota Depok yang berbatasan dengan Jakarta Selatan dipilih sebagai tempat yang layak untuk pembangunan dan pengembangan Universitas Indonesia. Beberapa fakultas dan jurusan yang ada di Kampus Salemba dan Kampus Rawamangun dipindahkan ke Kota Depok sementara Jurusan Kedokteran tetap menempati bangunan tua, STOVIA, yang berada di Salemba, Jakarta Pusat. Diresmikannya bangunan baru Universitas Indonesia pada tanggal 5 September 1987 di daerah yang disebut sebagai salah satu kota satelit Ibukota tersebut menyebabkan banyak perubahan pula bagi pembangunan Kota Depok itu sendiri.
[Lanjutkan membaca Jalan Kebo dan Ziarah Malam di Kuburan Syekh Al-Maghribi]
[copyleft] akumassa.org januari 2009 - 2010
www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.
FB | TWEET
RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media