Jurnal Kecamatan: Wonokromo Kota: Surabaya Provinsi: Jawa Timur

VIDEO:WRK #02 – Surabaya International Video Festival

Penampilan DJ dari Perancis
Avatar
Written by Komunitas Kinetik
“Bonne seance!” (Selamat menonton!) seru Christian Gaujac, Direktur Pusat Kebudayaan Perancis Surabaya, membuka pameran VIDEO:WRK #02 Surabaya International Video Festival. VIDEO:WRK #02 telah resmi dibuka pada selasa, 21 Juni 2011 di galeri Pusat Kebudayaan Perancis Surabaya. Festival video dua tahunan ini digagas oleh New Media Art Center dan Urban Space Surabaya. Namun festival yang ke-2 ini diselenggarakan oleh WAFT yakni gabungan antara New Media Art Center dan Urban Space, serta Komunitas Kinetik yang menjadi salah satu pendukung dalam acara tersebut.

Suasana pameran

Berbeda saat VIDEO:WRK #01, kami hanya menjadi partisipan individual biasa. Akan tetapi untuk kali ini, kami telah tergabung bersama menjadi Kinetik. Selain menjadi partispan, Kinetik juga berkontribusi dalam penyelenggaraan festival ke-2 ini. Kami mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang sejak jauh-jauh hari, mulai dari mempersiapkan beberapa peralatan pendukung pameran, sampai mengisi salah satu program di Festival tersebut.

Proses kurasi

Merupakan pengalaman baru bagi kami saat bisa menyaksikan langsung pengkurasian video-video yang dikirimkan partisipan. Video yang masuk pada Festival ini dikurasi oleh Asy Syams, seorang penggiat seni rupa di Surabaya.

Pada saat peroses pengkurasian berlangsung, salah satu anggota Kinetik merasa ada sesuatu yang ganjil dalam pengkurasian video tersebut. Menurutnya suatu karya video harus dilihat mulai dari awal hingga akhir secara utuh untuk bisa mengerti maksud karya video itu, namun sang kurator hanya melihat awal dan akhir video, tidak melihat secara utuh tiap video yang di-preview. Mungkin ada maksud tersendiri oleh sang kurator saat proses pengkurasian itu.

Kegiatan persiapan pameran

Proses pengaturan proyektor

Proses pengaturan proyektor

Setelah  video terkurasi, kami bertugas untuk mengkompilasi karya-karya video yang lolos. Ada 10 kompilasi dengan total 41 karya video  dalam single chanel dan tiga video menggunakan dua proyektor yang masing-masing di ikuti oleh beberapa seniman video berasal dari Surabaya, Jakarta, Yogyakarta,  Padang, Perancis, Amerika dan sebagainya. Tibalah saat untuk kami merancang ruang pamer seperti konsep yang sudah kami diskusikan pada malam sebelum pembukaan VIDEO:WRK #02 Surabaya International Video Festival. Ada beberapa hal yang membuat kami kesulitan untuk men-display dua karya video, karena penyuguhan dua video ini berbeda dari video-video yang lain. Kami harus menggantung salah satu proyektor karena konsep video ini menyorot ke lantai, sedangkan pihak perlengkapan tidak menyediakan alat untuk menggantung proyektor agar dapat lansung menyorot ke lantai. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai tali untuk menggantung proyektor dari atas dengan perhitungan keamanan proyektor agar tidak sampai terjatuh.

Pembukaan dari direktur festival

Acara VIDEO:WRK #02 ini juga dimeriahkan electronic music dari musisi-musisi asal Surabaya dan Perancis yang dibarengi visual-visual dari VJ muda Surabaya. Sebelum pameran video ini dibuka, pengunjung disuguhi musik perfomance band-band asal Surabaya, sembari menunggu dibukanya pameran video. Cukup ramai pengunjung yang ingin menikmati rangkaian acara ini, mulai dari muda sampai orang tua.

Pembukaan dari direktur festival

Pada pukul 18:30 WIB, Benny Wicaksono, selaku Direktur Festival VIDEO:WRK #02, memberikan sambutan yang berisi tentang wacana-wacana seni media baru di Surabaya dan respon positif festival video ini dari masyarakat. Setelah itu sambutan dilanjutkan oleh Direktur Pusat Kebudayaan Perancis, Christian Gaujac, sekaligus resmi membuka VIDEO:WRK #02 Surabaya International Surabaya Video Festival. Para pengunjung langsung masuk begitu pintu galeri telah dibuka dan segera melihat video-video yang dipamerkan.

Antusiasme pengunjung terhadap karya Andang, “Chiper Video”

Barcode stiker

Para pengunjung mengapresiasi dan bertanya-tanya tentang karya-karya video di dalam galeri, salah satunya bertanya tentang pengaksesan karya milik Andang Kelana, seniman asal Jakarta, yang berjudul Chiper Video. karya  Andang ini berbentuk barcode berukuran A0 yang ditempel pada salah satu sisi tembok galeri dan stiker barcode kecil yang disediakan untuk para pengunjung. Karya tersebut dapat diakses melalui handphone berkamera dan berakses internet. Setelah memotret dan mengakses barcode tersebut melalui internet dari handphone maka kita dapat melihat karya milik Andang yang langsung tersambung pada link di Youtube.

Interaksi pengunjung dengan karya Henry Foundation, “Control”

Beberapa pengunjung juga terlihat asyik berinteraktif dengan video milik Henry Foundation yang berjudul Control.

Penampilan DJ dari Perancis

Penampilan DJ asal Surabaya

Setelah puas melihat video di galeri para pengunjung menikmati ramuan musik elektronik dan permainan visual VJ di ruang Selle France di belakang galeri. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Surabaya, ada juga teman-teman dari Jogja, Jakarta dan beberapa kota lain yang menyempatkan hadir dalam acara pembukaan pameran festival video tersebut. Rangkaian acara pembukaan festival video ini berakhir pada pukul jam sebelas malam.

Pada hari ke dua festival video ini, berlangsung rangkaian program diskusi yang membicarakan tentang bagaimana perkembangan video di Indonesia. Ade Darmawan, direktur ruangrupa Jakarta, dan Benny Wicaksono didapuk sebagai narasumber dalam diskusi ini. Namun sedikit disayangkan karena peserta dalam diskusi tersebut terbilang sedikit, melihat banyaknya pengunjung dan partisipan festival yang hadir pada malam pembukaan. Padahal, pembahasan perkembangan video tersebut cukup menarik. Ade Darmawan mengatakan bahwa perlunya keseimbangan antara pembuat karya, penikmat, penulis dan kritikus video, rantai-rantai ini yang harus direkatkan. Karena menurut beliau di Indonesia masih sangat sedikit kritikus-kritikus video. Sebuah kritik yang kritis diperlukan sebagai acuan peningkatan sebuah karya.

Ada sebuah cerita menarik dan sedikit unik bagi kami, pagi itu, sebelum diskusi dimulai. Saat itu hanya ada ada beberapa pengunjung saja yang sedang menikmati pameran. Tiba-tiba salah seorang pengunjung mengeluarkan alat ukur yang dibawanya, lalu mengukur pedestal, dvd player serta plasma TV 17 inch milik Komunitas Kinetik yang memutar karya video Hanry Foundation-Jakarta yang berjudul Control, spontan kawan kami, Juve Sandy, bertanya pada pengunjung tersebut.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Apa karya ini dijual?” pengunjung itu bertanya pada kawan kami, Juve Sandy.

“Oh, untuk itu silakan bapak bertanya kepada direktur festival ini, Pak!” jawab Juve lalu mengantar pengunjug tersebut bertemu Benny Wicaksono.

Pengunjung tersebut ingin membeli karya itu. “Lantas kenapa diukur, Pak?” tanya Benny.

“Kalau saya membeli karya ini harus sama persis setting-an seperti ini,” jawab pengunjung tersebut.

Sedikit membuat Juve bingung adalah bahwa Plasma TV 17 inch itu milik Kinetik, pedestal dan DVD player juga hasil pinjaman, “Kalau dibeli, terus balikin sama yang punya gimana?” gurau Juve saat bercerita pada kami.

Presentasi program ‘akumassa’ oleh Komunitas Kinetik di Universitas Airlangga

Hari ke tiga, Kinetik berkesempatan mengisi salah satu program VIDEO:WRK #02, yakni presentasi dan  diskusi yang bertempat di Universitas Airlangga, Surabaya, pada pukul dua belas siang. Kinetik memperkenalkan dan mempresentasikan program kerja, salah satunya akumassa, yang di sampaikan oleh kawan kami, Aditya AdiNegoro, selaku Koordinator Progam Kinetik, dan mendapat respon baik dari peserta diskusi.

Jumat, tanggal 24 juni 2011, adalah hari terakhir terselenggaranya VIDEO:WRK #02 International Surabaya Video Festival ini. Sebelum penutupan dilakukan, sore harinya diselenggarakan artist talk, memutar dan mempresentasikan karya videonya, artist perwakilan yang mempresentasikan karyanya ini adalah Agus Sam, dan dalam presentasinya, beliau menjelaskan tentang karya videonya bahwa kata ‘jancok’ bukan kata kotor bahkan sebenarnya kata ‘jancok’ sama saja dengan kata ‘anjing’. “Semua kata tersebut tergantung cara kami mengucapkan kata itu sendiri,” begitu menurut Agus Sam.

Pesta penutupan Festival Video Work #2

Setelah artist talk berlangsung cukup seru, tiba saatnya penutupan festival dua tahunan ini, tetapi penutupan tidak di selenggarakan di Pusat Kebudayaan Perancis,  melainkan dilaksanakan di tempat yang berbeda, pesta penutupan VIDEO:WRK #02 International Surabaya Video Festival diadakan di  salah satu  nigth club Surabaya. Dengan demikian berakhir pula rangkaian acara dan program VIDEO:WRK #02. Banyak pelajaran dan pengalaman baru yang kami dapat.

About the author

Avatar

Komunitas Kinetik

Berdiri pada 1 Mei 2010. Anggotanya terdiri dari para mahasiswa Universitas pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur. Di umurnya yang masih sangat dini, komunitas ini memiliki harapan besar untuk dapat menjadi wadah para seniman dan pemuda kreatif Surabaya dalam berkarya. Mereka juga bertekad memperkenalkan seniman-seniman Surabaya kepada khalayak luas dan membuktikan bahwa kesenian masih hidup di Surabaya. Komunitas Kinetik merupakan kelompok belajar mengenai media, baik itu audio, visual, maupun teks. Kinetik juga berusaha menjadi media center yang merekam keadaan sosial masyarakatnya dengan segala medium.

1 Comment

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.