Cirebon, Jawa Barat Uncategorized

Sekitar Tontonan Layar Putih di Kotaku

Artikel ini ditulis ulang dengan EYD yang disesuaikan, dari Rubrik Surat Pembatja, Majalah Dunia Film, Edisi 1 April 1955.

Dunia Fim Edisi 1 April 1955

Dunia Fim Edisi 1 April 1955

Sebelum kubentangkan sekedar pendapat perlu diterangkan dan diakui aku bukanlah seorang yang termasuk golongan pengarang, wartawan atau pelajar, melainkan hanya terdiri dari rakyat biasa yang baru saja dapat membaca dan menulis. Terutama yang kusukai membaca majala-majalah perfilman, baik Dunia Film maupun Film Varia. Disamping mengikuti jejaknya para aktor kita selangkah demi selangkah dalam majalah perfilman, sewaktu-waktu dapat pula menyaksikan pertunjukkan film-film yang diputar di kotaku.

Kegemaran-kegemaran rakyat bangsa kita kepada dunia seni perfilman di kotaku dapat kubagi menjadi dua bagian besar, tetapi tidak sekali-kali aku menggugat-gugat atau membeda-bedakan antara film dalam dan luar negeri. karenanya kuanggap penting juga untuk diketahui oleh para pembaca, umumnya rakyat bangsa kita ada yang gemar seni film barat dan ada juga yang suka seni film timur. Bila kutinjau dari kenyataan rakyat bangsa kita kebanyakan lebih menyukai film barat, bahkan ada juga diantara mereka yang membenci dan mencaci maki film negeri sendiri.

Beginilah pendapatku dengan sekejap mata memandang. Letak kotaku di sebelah timur Jawa Barat. Supaya lebih jelas kusebut saja nama populernya, Kota Udang, kota yang demikian kecilnya tetapi gedung bioskopnya tidak kalah bagus dengan gedung-gedung bioskop di Ibukota. dahulu sebelum film Malaya dan para aktor kita terkenal, hanya ada 3 gedung bioskop yang sederhana, tetapi ditahun-tahun sesudahnya para bintang kita terkenal di seluruh pelosok, karena itu gedung bioskop bertambah menjadi 8 buah dan sebuah gedung bioskop yang disebut Paradise Park. Di Paradise Park ini tidak diadakan tingkatan kelas. Jadi setiap penonton hanya perlu membayar seratus sen. Layarnya terlebar dan tidak mudah terbakar. Tempat duduknya teristimewa, dan tidak ada kutu busuk yang menggigit penonton, hanya nyamuk yang berdansa, karena layarnya terbuat dari tembok dan kursinya model terbaru terbuat dari semen batu. Jika musim hujan banyak penonton kebagian air suci, karena penonton berada di lapangan terbuka.

Rubrik "Pendapat Pembatja"

Rubrik "Pendapat Pembatja"

Diantara kesembilan bioskop di kotaku yang menjadi buah bibir dan kunjungan utama para penonton yaitu Paradise Park dan yang kedua Bioskop Capitol, yang dimiliki oleh sebuah maskapai.

Bioskop Paradise terletak di tepi jalan yang ramai oelh hilir mudik orang dan kendaraan, berhadapan pula dengan rumah makan. di kiri kanannya terdapat toko-toko, kedaan gedungnya boleh dikatakan paling mentereng dan termasuk bioskop kelas satu di Kota Udang ini. Aku suka menonton di bioskop Paradise, karena kipas anginnya yang banyak dan sangat kencang. Sehingga bau-bau busuk dari manusia dapat lenyap karenanya. Namun, ada juga yang aku sesalkan bila menonton film di paradise dan memutar film untuk usia 17 tahun ke atas, misalnya Film Ibu, Kerana Kau, Lenggang Djakarta, Dewa Dewi dan Lailani, cukuplah sekian contoh filmnya karena saudara-saudara penonton pasti telah mengetahuinya. kesukaran yang kualami yaitu saat membeli karcisnya, karena harus antri dahulu, kurang lebih 12 meter panjang antriannya. Lebih susah payah lagi saat hendak masuk ke gedung bioskopnya, para penonton harus kuat bedesakan berjam-jam dengan penonton lainnya. Setelah masuk pun, pastilah aku tak dapat memiih tempat duduk sesuka hati. Kebiasaanku jika menonton di bioskop yaitu duduk di kelas tengah, yang disebut di kotaku kelas dua, kecuali jika aku kehabisan karcis. Ada ruginya juga menonton di Paradise, karena pakaian yang sudah begitu necis-nya dari rumah, menjadi basah keringat dan berantakan saat pulang. Di Bioskop Paradise lah yang sering dikunjungi dan dibanjiri penonton layar putih. Sampai disinilah ceritaku tentang Bioskop Paradise.

Artikel tentang S. Waldy: Seniman jang Berdjiwa Proletar

Artikel tentang S. Waldy: Seniman jang Berdjiwa Proletar

Selanjutnya kuteruskan cerita tentang Bioskop Capitol. Letaknya di dekat pelabuhan Kota Udang. Dijalan yang ramai juga dan dibelakangnya ada gedung Balai Prajurit, tempat pertunjukkan sandiwara digelar. Di sebelah selatannya adalah gedung Sositet Ponix, yang sekarang sering disebut penduduk disini kantin. Keadaan Bioskop Capitol juga mentereng, tapi sedikit lebih unggul Paradise. Bioskop ini pun selalu kebanjiran kunjungan meriah dari rakyat berbagai golongan.

Tidak jarang pula aku menonton di Bioskop Mars. Letaknya tidak jauh dari Bioskop Capitol. Bisokop Mars bertingkat dua. Diatasnya disebut Ceres. Dahulu sebelum berdirinya bioskop Ceres, aku kerap nonton di Bioskop Mars. Menurut pandangan mataku, keunggulan bioskop ini adalah karena gedungnya luas dan layarnya lebar.dan tidak banyak dikunjungi penonton seperti di Paradise atau Capitol. Tetapi akhir-akhir ini, sesudah dibukanya Bioskop Ceres, penonton mengeluh karena kipas angin dari Mars dipindahkan semua ke Ceres. Hal ini menyebabkan para penonton di Bioskop Mars tidak bisa menghirup nafas panjang, karena bau keringat orang-orang di dalamnya tak dapat keluar. Aku rasa keadaan seperti itu kurang sehat dan dapat menimbulkan penyakit.

Dunia Fim Edisi 1 April 1955

Sekarang saatnya menceritakan Bioskop Sampurna. Letaknya di belakang Pasar Sore (Kanoman), dan di sampingnya terdapat Keraton Kanoman. Keadaannya hampir sama dengan Mars, namun ada kipas anginnya. Aku jarang menonton di sana karena letaknya jauh dari tempat tinggalku.

Selain bioskop-bioskop yang kusebut di atas, kiranya masih ada yang ingin kuuraikan dan penting juga untuk pembaca. Bukan maksudku mengkritik atau membeda-bedakan antara para pengusaha-pengusaha pemutar bioskop di kotaku ini, melainkan sebuah fakta yang memang nyata. Ada 4 pengusaha bioskop yang tak pernah memutarkan film dalam negeri. Aku pun tak tahu sebabnya kenapa hanya film luar negeri yang diputarnya. Mungkinkah para pengusaha beranggapan film dalam negeri kurang menguntungkan atau oleh sebab kesulitan lain yang hanya diketahui oleh mereka.

Dunia Film: The First Indonesian Movie Magazine

Dunia Film: The First Indonesian Movie Magazine

Demikianlah sekedar pendapat dan uraian dari saya tentang keadaan-keadaan bioskop di kotaku. Saya serahkan terutama kepada sahabat pena beserta pembaca atau pecinta Majalah Dunia Film. Marilah kita bersama saling tukar pendapat mengenai keadaan bioskop di tempat saudara dalam rubrik yang sengaja disediakan oleh Dunia Film.

Saya akhiri dengan mengharapkan mendapat keadaan-keadaan atau hal aneh seputar dunia perfilman. Sekian dan selamat membaca. Saya mengharapkan pendapat dari saudara dalam Majalah Dunia Film yang akan datang.

About the author

Mira Febri Mellya

Perempuan kelahiran Jakarta pada tanggal 22 Februari 1990 ini telah menyelesaikan studi strata satu di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Sebelumnya ia telah aktif sebagai fasilitator program worskhsop akumassa di beberapa kota bersama komunitas dampingan. Sekarang ia menjadi wartawan aktif di majalah Gatra.

Leave a Comment

2 Comments