Pengantar Tajuk

Seandainya Kartini

Ia berangkat di pagi hari dan pulang ketika malam tiba. Bahkan, ketika dinas luar kota, dengan santainya ia pergi sendirian. Ia juga terbiasa mengendarai mobil sendiri. Di usianya yang sudah lebih setengah abad, baru sepuluh tahun terakhir ini ia bekerja di kantoran. Kini ia bekerja di salah satu majalah di Jakarta. Ia adalah ibu saya, sejak kecil ayah kurang berkenan jika ibu saya bekerja di kantoran. Ketika saya duduk di bangku SMA, akhirnya ayah mengizinkan ibu bekerja di balik meja.

Potret perempuan karir seperti ibu saya memang banyak dijumpai di negeri kita. Tak hanya di perkotaan, di desa-desa pun sudah banyak perempuan yang aktif di masyarakat sebagai tenaga intelektual yang tidak hanya mengurusi persoalan domestik, seperti memasak di dapur dan mengurus anak-anak.

Di negeri kita khususnya, hal ini tidak lepas dari peran R.A Kartini. Seorang pejuang hak perempuan yang dulu di jaman Belanda tidak bisa ngapa-ngapain, mereka dipingit dan tidak tahu perkembangan dan kemajuan zaman. R.A Kartini mendobrak itu semua, kelahirannya di Jepara, Jawa Tengah 21 April 1879 menjadikan tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Kartini.


Kartini, tidak akan bangga pada perempuan yang hanya sibuk memoles kecantikannya di depan cermin saja. Kartini akan lebih bangga jika kaum perempuan bisa mewujudkan pendidikan dan kesehatan gratis yang berkualitas di setiap pelosok negeri. Kartini juga akan lebih bangga bila bangsa ini tidak memberi ruang bagi para perusak lingkungan hidup.

Sehari setelah memperingati Hari Kartini, setiap 22 April penduduk dunia merayakan Hari Bumi. Sebuah peringatan terhadap kondisi bumi yang kian hari kian memprihatinkan. Semasa hidupnya, mungkin Kartini tak pernah ikut merayakan Hari Bumi. Namun, seandainya ia hidup di jaman ini, tentu saja karya tulisnya yang terkenal itu tidak hanya tentang minimnya kesempatan memperoleh pendidikan bagi kaum perempuan saja. Kartini pasti akan menulis tentang limbah pabrik, penebangan liar dan sebagainya. Mungkin ia juga menjadi tokoh wanita terdepan yang menyuarakan kesetaraan hak hidup dan kelestarian lingkungan.

Teringat salah satu pesan Kartini kepada kaum wanita di dalam suratnya :

‘Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi’ [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Untuk itu, Kami redaksi www.akumassa.org mengucapkan selamat Hari Kartini dan selamat Hari Bumi!

Riezky Andikha Pradana
(Wakil Pimpinan Redaksi www.akumassa.org)

About the author

Riezki Andhika Pradana

Riezky Andhika Pradana (Kikies) seorang mantan jurnalis majalah anak-anak Ananda semasa kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Fakultas Komunikasi jurusan Jurnalistik, ia lulus pada tahun 2005. Salah satu karya videonya, Balada Hari Raya yang merupakan salah satu karya dari proyek Cerpen Untuk Filem yang masuk nominasi kategori filem pendek Konfiden 2007. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi akumassa.org. Sekarang ia tinggal di Jogjakarta, dan menjadi wartawan di salah satu surat kabar lokal Jogjakarta.

Leave a Comment

4 Comments

  • wuuuuaaaa .. kritik yg bagus !!

    tp mungkin dulu kartini ga ngerayain hari bumi karena, global warming blm booming, jd hari bumi belum di tetapkan tgl sgitu .. hehehe => becanda

    eh .. eh kritik2 neh .. “kartini akan lebih bangga kalau perempaun menciptakan pendidikan dan kesehatan gratis => asumsi saya ketika baca tulisan itu pendidikan dan kesehatan gratis saat ini adalah prestasinya kaum lelaki ..

    hihihihi ..
    piss ah bang ..

  • berbica tentang sosok Kartini, memang tak akan pernah ada habisnya. Pro dan kontra masih menyelimuti kisahnya.
    Tetapi, yang paling penting, kartini adalah kesaksian sejarah pada waktu itu; ketika kapitalisme mulai tumbuh, politik etis mulai dilaksanakan. Kartini seperti halnya Multatuli, yang merekam kejadian pahit masyarakat Banten lewat tulisan.
    Tetapi, agaknya Kartini tak begitu tahu tentang dunia luar. Terbukti dalam semua tulisannya, praktis tak membahas satu pun tentang Jalan DEANDLES; yang termasuk sejarah genoside di bumi pertiwi. Padahal Jalan Deandles berbatasan langsung dengan Kadipaten Jepara.