Bernas Kali Ciujung Provinsi: Banten

Rumah Komik

Sampul "Si Kuncung" (1975). Diakses dari http://koleksikemalaatmojo.blogspot.com/2008/08/majalah-si-kuncung-tahun-1975.html
Written by Fuad Fauji
Tempat penyewaan buku Lebak Picung. Kini dimiliki penghuni baru.

Tempat penyewaan buku Lebak Picung. Kini dimiliki penghuni baru.

Kisah Ingatan Saya

Suatu hari yang sepi, seorang ibu penjaga penyewaan buku meletakkan kain sulamnya dan berseru, “Siapa itu…?” Kemudian, dengan bergegas mencurahkan perhatiannya pada tumpukan komik-komik yang terserak di meja kayu kecil. Ragam komik terbitan luar negeri. Setiap kali musim libur sekolah tiba, rumah penyewaan komik di tepian sungai akan ramai dikunjungi, baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Mereka menghabiskan waktu untuk membaca dan menikmati udara segar dan kerindangan pepohonan. Di saat itulah, biasanya, Ibu Ayun, selaku pemilik rumah sewa komik, akan sibuk melayani dan merapikan buku sewaan yang acap kali diseleksi penyewa. Pernah sesekali saja saya mampir bersama kakak perempuan. Atau sekedar mengingat saja, saya pernah berkunjung beberapa kali untuk menyewa Majalah Kuncung ketika itu. Di waktu yang bersamaan, sudah menjadi pemandangan umum, bahwa toko-toko alat tulis dan buku di tengah pasar akan ramai dikunjungi anak sekolah yang mulai habis masa liburnya. Menyiapkan segala keperluan menjelang waktu masuk sekolah tiba.

Di bawah terik matahari, pertokoan padat di Jalan Sunan Kalijaga memiliki pohon-pohon asam sehingga jalan yang terbuat dari aspal hitam terlihat cukup teduh. Dedaunan dari pohon asam jatuh berterbangan ditiup angin menghiasi permukaan jalan yang sekilas tampak seperti motif permadani. Toko-toko berderet sepanjang jalan, saling berhadapan. Di samping tembok took, terdapat bangunan kecil penyewaan buku. Tempat ini merupakan satu-satunya tempat penyewaan buku di Rangkasbitung saat saya duduk di bangku sekolah dasar sekitaran tahun 1989. Di samping tempat penyewaan buku, terdapat jalan berpasir menuju tepian Sungai Ciujung. Perkampungan di sekitarnya padat dan ramai. Bangunan rumahnya pun tinggi-tinggi. Belakang permukiman ini menjadi tempat penyeberangan eretan (rakit) dari Kampung Lebak Sambel ke Kampung Lebak Pasar. Jadi, tidak heran jika terlihat ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang dari dan menuju pasar.

Pemandangan sore di sekitar rumah penyewaan komik ramai oleh anak-anak dari berbagai kampung. Mereka duduk di atas bangku kesayangan di bawah pohon beringin menghadap ke aliran sungai. Dari sana, biasanya terlihat pemandangan eretan muncul dan menghilang, terhalang batang pepohonan di tepian sungai. Tempat penyewaan buku cukup jauh letaknya dari tepian sungai untuk ukuran seorang anak kecil. Posisinya lebih dekat ke bibir jalan daripada ke tepian sungai. Saat itu, saya yang masih tujuh tahun, untuk kali pertama diajak oleh kakak perempuan ke tempat tumpukan buku yang menyediakan berbagai jenis buku, dari novel, majalah hingga komik. Semua anak muda di Rangkasbitung yang suka menyewa buku, tahu Ibu Ayun. Sebagai pemilik, Ibu Ayun tidak sungkan menyarankan apa yang harus dibaca. Saat itu, saya hanya memilih satu majalah kesukaan, Si Kuncung, dengan harga sewa seratus rupiah untuk lama pinjam tiga hari. Begitulah kiranya suasana ketika rumah penyewaan komik masih ada. Hal ini meningkatkan kesadaran bagaimana sebuah buku menentukan lingkungannya meskipun kecil pengaruhnya terhadap masyarakat tepian sungai pada saat itu. Maksud saya, kehidupan warga tepian sungai kala itu tidak menjadi kambing hitam pemerintah daerah atas situasi kerusakan Sungai Ciujung kini.

Sampul "Si Kuncung" (1975). Diakses dari http://koleksikemalaatmojo.blogspot.com/2008/08/majalah-si-kuncung-tahun-1975.html

Sampul “Si Kuncung” (1975). Diakses dari http://koleksikemalaatmojo.blogspot.com/2008/08/majalah-si-kuncung-tahun-1975.html

Tersandung-sandung di sepanjang jalan setapak menuju rumah penyewaan buku dan komik dari Lebak Picung ke Lebak Pasar. Melintasi sungai dengan eretan. Menjejakkan kaki di rerumputan yang kuyup dengan embun untuk sampai ke seberang kampung. Sulitlah aku memahami atau sekedar mengingat-ingat kembali kenapa rumah penyewaan komik bisa tidak ada lagi di kota Rangkasbitung. Waktu itu, entahlah, bagaimana sampai terlintas di pikirannya untuk mendirikan tempat penyewaan buku. Jika saya harus mengingat kembali beberapa puluh tahun ke belakang, maka daerah tepian Sungai Ciujung adalah tempat ramai oleh hilir mudik eretan, anak-anak bermain tanpa dihantui kekhawatiran orang tuanya. Gundukan rumah-rumah bercampur dengan pohon kelapa, berderet memanjang di tepian Sungai Ciujung. Dari kejauhan, jalan-jalan setapak di tiap perkampungan seperti jejak cacing tanah, menjadi jarak pembatas antara pemukiman dan sungai. Ada jarak yang tidak disepakati antara warga dan pemerintah saat itu, menurut keterangan H. Halimi, salah satu warga yang dituakan di Kebon Kelapa. Kesemuanya murni bertumpu pada kesadaran individu. Dulu, di daerah rumah penyewaan komik, jarak rumah dengan sungai cukup jauh karena beberapa tempat memiliki kontur tanah yang agak curam. Pohon-pohon yang rindang tumbuh dengan sendirinya. Tetapi kini pepohonan berubah menjadi pemukiman yang berhimpitan rawan erosi. Begitupula dengan rumah penyewaan komik yang tempatnya berada cukup jauh dari jalan raya dan tepian Sungai Ciujung. Sementara sekarang pertokoan yang sebelumnya merupakan tempat penyewaan komik dengan pemukiman jaraknya sangat dekat dengan tepian sungai. Pemukiman di sepanjang tepian sungai nyaris menyatu dengan sungai. Setiap kali banjir datang, peristiwa rumah hanyut dan degradasi kali sering terjadi.

Meluasnya pemukiman di tepian Sungai Ciujung menjadi salah satu sumber masalah bagi pemerintahan daerah hingga akhirnya seluruh pemukiman akan direlokasi ke wilayah timur kota. Pemukiman padat memunculkan kebiasaan warga yang melalaikan perhatian ke lingkungan tepian sungai. Warga membuang apa pun ke sungai yang tidak dianggapnya bernilai. Sungai dijadikan mesin penggiling raksasa sampah rumah tangga dan limbah industri. Di sisi lain, mereka sangat bergantung pada sungai. Dampaknya tidak akan terasa dalam waktu cepat oleh warga. Para pegiat lingkungan mengistilahkan persoalan tepian Sungai Ciujung seperti bola salju. Persoalan yang dibiarkan menggelinding membentuk persoalan besar nan rumit. Kehidupan warga tepian sungai menjadi ironis dan tidak menyenangkan untuk generasi sekarang. Seluruh irama kehidupan menjadi kian cepat. Muncul suatu pola kehidupan baru. Industri kecil dan pemukiman bermunculan membentuk penampilan sungai yang kian kumuh. Daerah pemukiman di tepian sungai berkembang sebagai kamar tidur dan tempat memproduksi barang dagangan bagi warga Rangkasbitung. Semakin banyak orang pindah ke sana, diikuti oleh kelas menengah ke bawah mendirikan bangunan baru dengan ironi di belakang rumah-rumah, tebing-tebing tepian dipenuhi sampah dan limbah rumah tangga mengalir ke hilir sungai. Sebut saja bahwa tepian sungai menjadi satu-satunya tempat untuk bertahan hidup bagi warga Kota Rangkasbitung hingga sekarang. Seperti halnya ketika saya menelusuri tepian sungai dengan eretan menuju rumah bekas penyewaan komik. Saya melihat anak-anak kecil bermain dan warga yang memanfaatkan air sungai di tepian Sungai Ciujung. Pohon-pohon yang rindang tumbuh dengan sendirinya, kini tak ada lagi. Pepohonan telah berubah menjadi pemukiman yang berhimpitan di bibir sungai rawan erosi. Begitu pula dengan rumah penyewaan komik dahulu, sudah tak terlihat. Pertokoan yang sebelumnya tempat penyewaan komik dengan pemukiman, jaraknya sangat dekat dengan tepian sungai. Jarak yang semakin dekat karena di tiap banjirnya daratan selalu tergerus sungai.

Tempat penyewaan buku bacaan di Rangkasbitung kini tidak ada lagi. Jangankan penyewaan buku, untuk membeli buku bacaan saja cukup sulit di Kota Rangkabitung. Apalagi setelah buku bacaan digital semakin mudah diakses di internet sehingga orang enggan membuat usaha penyewaan atau penjualan buku bacaan. Situasinya akan berbeda jika dalam satu kota terdapat banyak tempat penjualan buku bacaan, pasti kota tersebut lebih maju, karena ada stimulan. Tetapi saya juga ragu apakah jika ada banyak toko buku bacaan, bakal bisa memberikan kemajuan generasi selanjutnya. Karena setahu saya, kami pemalas. Sekarang, kalaupun ada, hanya sebatas toko penjual buku untuk kebutuhan alat tulis saja. Beberapa tahun belakangan, toko swalayan Rabinsa membuka toko buku. Tapi kebanyakan buku-buku yang dijual sangat terbatas dan lebih dominan bertema agama.

Dulu, eretan sering digunakan warga tetangga Kampung Lebak Pasar untuk mengunjungi rumah komik yang pernah dua kali mengalami pindah tempat di sekitar tepian sungai. Rumah komik menjadi kisah baik kehidupan di tepian Sungai Ciujung. Juga bagi kami dan orang-orang Rangkasbitung lainnya yang pernah berkunjung ke rumah komik sewaktu masih ada sekitar tahun 1990-an. Anak-anak kecil selalu bermain di tepian sungai setiap pagi dan sore karena memiliki lahan yang luas untuk bermain. Sementara, sebagian warga lain bersantai atau memanfaatkan sumber air di bawahnya. Banyak pula warga berani duduk di tepian sungai hanya untuk menghirup udara segar. Semasa anak-anak tidak jarang saya kerap berlindung di bawah teduh pohon untuk sembunyi dari terik matahari mencari rasa sejuk dan suka ria di tepian sungai sambil membaca buku sewaan. Pepohonan rindang menghasilkan oksigen berlebih saat terik panas datang. Tepain sungai menjadi satu-satunya tempat yang bisa memberikan nafas panjang udara segar.

Saya berusaha mencari keterangan lebih rinci tentang berdiri dan hilangnya rumah komik yang berada di tepian Sungai Ciujung. Ida Farida, 78 tahun, salah satu putri Ibu Ayun yang masih hidup, menuturkan pengetahuan berdirinya penyewaan buku dan komik di kediamannya di Depok. Bahasa tuturnya terkadang acak dan emosional.

Kisah Ingatan Ibu Ida

Apa yang bisa diharapkan dari seorang perempuan ketika memiliki suami “kabalingeur” malas bekerja? Kehidupan di dalam dan di luar rumah tangga sudah pasti ada suka dan duka.  Saya tahu semua laki-laki akan mengangap bahwa mereka punya harga diri. Ketika seorang anak melihat ibunya bekerja dengan sangat keras, maka saya akan maklum jika anak itu akhirnya berujung marah besar.

“Kalau kamu sukses membuat usaha, aku akan telanjang bulat di depan rumah,” begitu kata ibu.

Datanglah rasa frustasi yang begitu hebat. Perkataan itu membuat ayah memutuskan bekerja di Batavia (Jakarta). Setahun kemudian, ayah berhenti bekerja dan kembali ke Rangkasbitung. Menjelang akhir pendudukan Belanda di Lebak, ayah mendirikan usaha kecil-kecilan. Ayah membuat usaha studio foto bernama Bantam (Banten). Usaha ini bertahan sampai tahun 1999 sebelum akhirnya dijual ke orang lain. Ibu yang baik punya ‘seribu ide’ untuk membahagiakan anak dan bertahan hidup. Jika usaha satu gagal maka ibu akan membuat ide usaha lainnya yang tak kalah bagus dari ide sebelumnya.

Ibu Farida di rumahnya.

Ibu Farida di rumahnya.

Seorang ibu terdidik yang memiliki ketelitian, ketekunan dan kesabaran, kelak menjadi panutan anak-anaknya. Saya sendiri waktu itu suka terkagum-kagum. Jika ada pertanyaan tentang kesan Rangkasbitung pada jaman dulu, maka saya akan menjawab: “indah”. Saya berusaha jujur tentang apa yang pernah saya alami meskipun menggali ingatan masa lalu, bagi kebanyakan orang, sangat sulit. Saya merasakan hal sebaliknya. Saya jelas bisa mengingat kejadian masa lalu. Tentu bukan ingatan tentang peristiwa-peristiwa penting, melainkan peristiwa biasa tentang kehidupan sehari-hari. Setelah cerai dengan ayah, kehidupan ibu berantakan. Ibu memutuskan pindah ke Tangerang. Di sana, kehidupannya tidak kunjung membaik sehingga ia kembali pulang ke Rangkasbitung. Akhirnya, Ibu memutuskan membuat usaha penyewaan buku dan komik di daerah Pecinan. Memulai usaha sekitar tahun 1950-an, novel dan komik didapatnya dari Pasar Senen, Jakarta. Jadi, kalau belanja, harus naik kereta jurusan Rangkasbitung-Pasar Senen. Membawa buku-buku cerita macam novel dan komik seperti Don Quixote, Copinho, Tarzan, Rip Kirby dan lainnya. Saya tidak tahu darimana Ibu begitu hafal komik dari mancanegara. Saya pikir mungkin dari kakek saya, karena sebagai seorang Digulis, alias orang pergerakan yang dibuang ke Digul, umumnya mereka rajin membaca. Mungkin itu mempengaruhi kebiasaan Ibu.

Tempat penyewaan buku novel dan komik ada di kampung Pecinan. Letaknya dari arah jembatan Lebak Picung, lalu belok kiri. Semua orang Rangkasbitung zaman itu tahu Kampung Pecinan. Kampung itu sudah ada dari zaman dulu. Zaman saya lebih dikenal dengan sebutan daerah Baba Beck. Satu-satunya kampung kecil yang memiliki gedung sekolah dan gereja. Di sekolah itu, saya pernah belajar Bahasa Belanda. Semua remaja perempuan menak (terhormat—red) di Rangkasbitung pernah belajar di situ. Perbedaan Agama saat itu bukanlah penghalang pergaulan di antara para remaja karena Gereja Bethel yang ada di sana menjadi tempat belajar bahasa dan ilmu pasti bagi siapa yang ingin. Saya tidak pernah menggunakan Bahasa Belanda sepatah kata pun. Jadi, hanya ingat sedikit saja.

Ibu saya masih membuka usaha penyewaan komik tahun 1980. Suami kedua Ibu, yang lebih muda dari Ibu, menjadi penyebab keuangan keluarga semakin parah. Saat itu, tidak ada pilihan untuk menetap. Tidak mungkin pulang ke Bantam Foto Studio. Laki-laki yang pintar kebelinger. Anak-anak yang lahir dari keluarga suami baru Ibu tidak ada yang bisa memperbaiki riwayat keturunannya. Ibu akhirnya pindah rumah ke Lebak Picung dan membuka kembali penyewaan buku dan komik. Perkampungan yang ada di sepanjang tepian sungai menuju arah Pandeglang. Suatu ketika, ibu diminta pindah oleh Pemerintah Daerah dari pinggir jalan, karena rumahnya terlalu berdekatan dengan jalan raya. Akhirnya, Ibu membangun rumah di bawah, dekat jembatan jalur rel kereta Rangkasbitung-Bayah. Daerah itu terkenal dengan keberadaan penjual mi cina, namanya Mbok Kartun. Dulu, warga dibolehkan membuat rumah di tepian sungai saja. Ibu tinggal di sana sangat lama. Pemukiman di bawah dekat jembatan ramai sekali. Saya yang merasakan tinggal di pusat Kota Rangkasbitung, Jalan Pahlawan, melihat perkampungan Lebak Picung itu mirip Negara Meksiko tahun 1930-an. Kehidupan warga yang tidak jelas dan rawan perang saudara. Punya rasa fanatik tinggi, tetapi kelakuan hidupnya teu paruguh (tidak jelas). Gaya hidupnya berbeda dengan kampung lainnya di Rangkasbitung. Satu kampung yang semuanya memiliki hubungan saudara, sering rusuh. Berbeda dengan warga kampung di daerah Jalan Pahlawan yang hidupnya masing-masing dan mayoritas menak. Ibu saya lama bertahan menyewakan novel dan komik di Lebak Picung sampai tahun 1990-an.

Dulu, saat Belanda berkuasa di Lebak, sado merupakan kendaraan utama kota Rangkasbitung. Kebiasaan warga Kota Rangkasbitung mencerminkan karakter kotanya. Saat itu banyak rumah-rumah dengan halaman luas dan di tiap paginya orang-orang rajin membaca koran dimanapun berada. Dan ibu saya saat itu sudah memilki banyak koleksi buku. Biasanya pekerja yang jadi pejabat banyak harta, disebut Embah. Saya sering bermain buah Nam-Nam di depan rumah Dr. Adjidarmo. Saya mengikat buah dan mengambilnya dari luar pagar. Sampai suatu ketika, saya dikejar penjaga rumah dan dilempari kerikil sambil berteriak, “Hei! Kici-kici (masih kecil) kamu sudah maok (mencuri)!”. Saya lari sekuat tenaga menuju rumah. Padahal, saking kagetnya ketika diteriaki, buah dan bunganya sudah saya buang di tempat. Saya masih ingat kenangan masa kecil saya mengenai kondisi Kota Rangkasbitung, juga kebiasaan mencari ikan dan haremis (sejenis kerang yang hidup di sungai) ketika Sungai Ciujung kering dan berubah menjadi daratan pada musim kemarau. Ingatan lain yang tak kalah menyenangkan bagi saya, yaitu saat Hari Minggu tiba. Setelah membaca komik, saya akan pergi membeli buah naik sepeda ke Pandeglang. Saya lupa nama buahnya, tetapi jelas ingat bentuknya seperti buah sukun yang kalau dikupas, bijinya seperti topeng Teater Jepang. Saya biasa menusuk biji buah dengan bambu lalu ditancapkan ke tanah di pinggir Kali Ciujung dan memainkannya seperti wayang golek. Jika buah itu masih ada sampai sekarang, saya yakin semua orang tidak akan pernah tahu di dalamnya ada rahasia.

Pada saat Jepang datang ke Rangkasbitung, Jembatan kereta Ciujung masih satu. Jalan kereta digabung dengan jalan untuk pejalan kaki. Waktu itu, jembatan tersebut menjadi pusat peperangan antara Belanda dan Jepang. Ketika Jepang berkuasa di Lebak, suatu hari ada pemberontak dari lebak yang ditebas bayonet karena tidak mau tunduk pada pemerintahan Jepang. Kedua tangan dan kakinya putus, yang tersisa cuma badannya saja. Dia merintih meminta minum. Pemberontak itu berguling-guling mendekati tentara Jepang. Mulut tengadah meminta air minum, sedangkan tentara Jepang malah menendangnya ke Sungai Ciujung. Warga yang berontak terhadap penjajah biasanya disebut ‘Pahlawan Kampung’. Setelah kematian mengenaskan dan terbunuh secara keji di Sungai Ciujung, keesokan harinya Pahlawan Kampung menjadi hantu.

Tempat penyewaan buku. Kini menjadi pertokoan, di samping gereja.

Tempat penyewaan buku. Kini menjadi pertokoan, di samping gereja.

Peristiwa Sungai Ciujung dijadikan tempat pembantaian serdadu Belanda oleh Jepang, samar dan tidak jelas untuk diingat karena saya masih berumur empat atau lima tahun. Apalagi saat pendudukan Belanda, tempat itu sudah sering menjadi tempat pembunuhan pemberontak kaum pribumi. Ketika itu, saya ikut Ibu mengungsi di Pasir Jati. Peristiwa itu terjadi sebelum ibu membuat usaha penyewaan buku di samping Gereja Bethel. Almarhum Misbach Yusa Biran (abang sulung Ibu Ida Farida) cuma tinggal sebentar di Rangkasbitung. Hidupnya pernah berhari-hari tidak pulang ke rumah. Kata temannya, Misbach ikut berperang melawan Belanda. Dan ketika dia pulang, tubuhnya penuh lumpur sehingga kami sekeluarga sulit mengenali. Ibu menangis sejadi-jadinya. Ibu menyuruhnya membersihkan diri. Dan rupa-rupanya, ia pulang ke rumah membawa beberapa granat yang langsung membuat panik keluarga karena takut meledak. Sedangkan Misbach diam saja dan menegaskan akan pergi lagi. Jelas keluarga tidak mengijinkan dia pergi. Di Rangkasbitung, ia hanya sedikit memiliki kawan. Lebih suka menyendiri sambil membawa kamera foto milik ayah. Ia suka terlambat makan di rumah. Biasanya, menu makanan dibagi dua, untuk orang tua dan anak yang sudah dewasa (separuh jagung separuh nasi), sedangkan untuk anak kecil masih harus makan nasi saja.

Mulai pendudukan Belanda sampai Jepang, jika eksekusi mati bagi Pahlawan Kampung dilakukan di  Sungai Ciujung, pasti cepat terkenal menjadi hantu. Sudah banyak nama sebutan hantu dari peristiwa itu. Akan tetapi, saya tidak ingat karena tidak tertarik dengan jurig (hantu). Jepang merupakan penjajah yang lebih kejam dari Belanda karena terlalu banyak kabar mengenai eksekusi mati pemberontak, seperti tentang pemberontak yang diikat tangan dan kaki lalu jidatnya ditetesi air keran sampai bolong. Padahal, penjajahan Jepang tidak sampai tiga tahun di Rangkasbitung. Tapi kekejamannya membekas dan membuat mual kalau diceritakan.

***

Jalan Sunan Kali Jaga.

Jalan Sunan Kali Jaga.

Baiknya, saya kembali ke cerita penyewaan buku komik yang juga saya dengar dari Ibu Ida. Tempat penyewaan buku sudah ada sejak tahun 1950-an, di masa invasi Belanda kedua hingga mereka meninggalkan Kota Rangkasbitung. Pasang surut usaha ini tetap konsisten meskipun berpindah-pindah tempat. Sampai pada akhir tahun 1990-an, usaha ini masih bertahan. Tetapi karena si pemilik yang sudah dimakan usia, buku terus berkurang dan tidak memiliki pelanjut usaha, penyewaan komik ini bangkrut tahun 1997. Waktu terus berjalan. Pemandangan indah sepanjang jalan Sunan Kali Jaga ikut berubah menjadi pemandangan pasar yang ruwet. Penyewaan buku Ibu Ayun yang terkenal di Rangkasbitung kini hanya jadi kenangan saja.

About the author

Fuad Fauji

Dilahirkan di Lebak, 10 Maret 1983. Fuad Fauji menetap di Forum Lenteng Jakarta sebagai periset dan penulis seni rupa. Tahun 2005 ia dan kawan-kawan lainnya terlibat mendirikan komunitas Saidjah. Kerja video pertamanya adalah “Saidjah Project”, 2005. Pada tahun 2007 akhir, ia mendapatkan gelar S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, konsentrasi Jurnalistik. Film fiksi pertamanya “Maria”, hasil project workshop Cerpen ke Filem yang diadakan Forum Lenteng, 2008. Dia dibesarkan oleh keluarga yang sederhana. Kedua orang tuanya petani musiman di Leuwidamar. Kadang bertani kadang tidak. Ayahnya telah meninggal bersamaan dengan kerja residensi pertamanya di Tanjung Priuk tahun 2009. Terlibat dalam produksi teks dan video dokumenter di akumassa. Sejak tahun 2010 hingga sekarang ia bekerja dengan Dewan Kesenian Jakarta sebagai peneliti kritik seni rupa Indonesia. Bersama program akumassa dan Saidjah Forum, karya-karyanya telah diputar di berbagai perhelatan filem dan seni rupa, antara lain; Festival Film Dokumenter ke-9 (2009); The Loss of The Real, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung (2010); Decompression #10, Expanding Space and Public, ruangrupa, Galeri Nasional Indonesia – Jakarta (2010); The Decade of Reformation: Indonesian Film/Video, Artsonje Arthall, Korea Selatan; 24 Edition Images Festival, Toronto Free Gallery, Kanada; Selametan Digital, Langgeng Art Foundation, Yogyakarta (2011); Entre Utopia y Distopia-Palestra Asia di Museo Universitario Arte Contemporaneo, Meksiko (2011).

Leave a Comment