Jurnal Kota: Jakarta Pusat Provinsi: DKI Jakarta

Peluncuran Buku Email dari Amerika: Tentang Kulkas yang Pulang dan Typo yang Dibiarkan

Written by Gesyada Siregar
“Saya memiliki burung beo, atau mungkin lebih tepat jika dikatakan dia memiliki saya…”

Janet Steele membacakan sepotong surel dari bukunya di depan para hadirin @America Selasa kemarin.  Aku cukup kaget dan salut dengan Bahasa Indonesianya yang ternyata fasih.   Ia seorang profesor jurnalisme dari George Washington University di Amerika Serikat, yang bukunya kali ini, jauh dari nuansa akademis.  Sebelum pergi ke peluncuran buku tersebut, aku sempat meriset kecil-kecilan melalui mesin pencari Google tentangnya.  Ia pernah menulis buku sejarah majalah Tempo di zaman Orde Baru berjudul Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia, serta aktif menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah tentang kritik dan sejarah media.  Lalu, mengapa buku yang diluncurkan saat ini bercerita tentang burung beonya?

Buku tersebut rupanya merupakan kumpulan surat elektronik (surel) yang dikirim Janet untuk mengisi kolom Surya,  sebuah koran harian di Surabaya, dari tahun 2007 hingga 2011.  “Saya diminta menulis untuk harian Surya, tapi saya bilang ke mereka saya tidak bisa menulis cepat! Saya tidak suka dengan deadline.  Tapi kemudian mereka berkata, “‘Tapi Janet, kan cepat sekali kalau membalas email?’” ceritanya dengan aksen bule yang samar-samar tentang awal keterlibatannya dalam proyek ini. Topik yang dipilih pun merupakan hal yang sederhana, tentang kesehariannya sebagai orang Amerika.  “Misalnya salju, orang Indonesia penasaran sekali dengan salju, padahal di Amerika,  orang-orang biasa saja.”

DSC_2041

DSC_2043

Seperti kisah tentang burung beo tadi yang dinarasikan dalam surel Conrad,  Janet menceritakan tentang hari-harinya bersama burung itu, Conrad,  dan segala suka-dukanya.

“Susah untuk menentukan apakah Conrad jantan atau betina, tetapi saya bergurau bahwa perilaku Conrad sangat kelaki-lakian,”  kutipnya.

Kesetiaannya dibuktikan ketika dulu ada seorang pacarnya memberi ultimatum, “Either Conrad goes or I go!” (Kamu harus memilih Conrad atau saya!), dan Janet pun menutup ceritanya dengan mengatakan, “Pacar itu hilang, tetapi Conrad masih ada.” Kalimat itu langsung memancing tawa dari para hadirin pada saat dibacakan.

Selain cerita-cerita ringan menggelitik, hal lain yang membuatku tertarik dengan buku ini adalah bahwa penulisnya warga ber-Bahasa Indonesia. Janet selalu menuliskan surelnya dengan Bahasa Indonesia, dan sepanjang diskusi di peluncuran buku, ia berbicara dengan Bahasa Indonesia yang lancar. Sesekali, kami mendengar American English-nya, yang hanya sebagai  penunjang cerita yang mau disampaikannya.

Akan tetapi, fakta bahwa Bahasa Indonesia sebagai  bahasa kedua tetap tampak di tulisan-tulisannya.  Kalimat seperti “Kulkas saya pulang” dan typo (salah ketik-red) di sana-sini, yang agaknya sengaja dibiarkan oleh sang editor. Itu, bagiku, malah menambah keunikan dari surel-surel Janet.

“‘Kulkas tidak pulang, Janet!’ kata Dhimam, tapi ia sengaja tidak mengubahnya,” kenang Janet.

Tidak hanya typo di buku.  Di luar dari materi diskusi, ada satu hal yang membuatku dan sahabatku, Dinda, yang kebetulan menemani  ke sana, terkikik-kikik di pojok tempat duduk kami. Terdapat tulisan “Book Lauch” di banner  yang terproyeksi di panggung diskusi, yang harusnya ditulis “Book Launch”.  Kami pun berlomba-lomba memotret dari tempat duduk kami dan bergurau tentang akun sosial media apa saja yang harus kami tag.  Cukup disayangkan, mengingat lembaga yang menjadi tuan rumah acara tersebut adalah pusat kebudayaan Amerika Serikat. Akan tetapi, mungkin saja mereka terburu-buru hingga lupa memastikan ketepatan bahasa. Tak lama, sambil menyimak diskusi, aku melihat layar berkedap-kedip dan menampilkan gambar lain, dan kemudian menampilkan versi revisi banner tadi dengan tulisan yang benar.  Aku dan Dinda-pun terkikik lagi dan mengangkat ponsel kami untuk segera mengabadikannya.

DSC_2046

Sebelum diganti.

DSC_2047

Sesudah diganti.

Selain Janet sendiri, hadir juga Endy Bayuni, redaktur senior Jakarta Post, yang juga memberikan kata sanjungan di buku, dan Andreas Harsono, seorang periset  dan salah satu founder dari Yayasan Pantau, yang menerbitkan buku tersebut. Mereka bergantian menampung dan menjawab pertanyaan yang diajukan para hadirin. Ada yang bertanya tentang hal-hal personal, seperti apa yang Janet sukai dari Indonesia, kesulitan ketika menulis dalam bahasa yang lain, apakah dia mau berkeluarga di sini, hingga teknis-teknis jurnalisme, seperti perbedaan jurnalisme sastrawi dan jurnalisme populer. Hadirin yang kebetulan merupakan teman dekat Janet juga menyempatkan bertanya sebagai momen untuk memuji Janet dan membahas salah satu tulisannya.

Selain berbagi cerita tentang hal-hal sederhana, Janet juga kerap memasukkan opininya mengenai hal-hal yang lebih “berat”.  Seperti yang dikisahkan salah satu penanya, Janet pernah bercerita tentang teknisi-teknisi Indonesia yang hanya bisa membetulkan, tetapi tidak bisa menciptakan sesuatu yang baru. Penanya tersebut mengaitkan fenomena tersebut dengan banyaknya putera-puteri Indonesia yang memenangkan olimpiade matematika dan fisika, namun jarang membuat temuan, padahal orang Amerika Serikat sendiri hampir tidak pernah menjuarai olimpiade-olimpiade tersebut, tetapi amat sangat maju dalam menciptakan hal-hal baru.

Pertanyaan tersebut, sebenarnya, bahan yang empuk untuk mengkritik habis sistem pendidikan di Indonesia atau untuk membanggakan Amerika Serikat. Akan tetapi, Janet tidak mengambil kesempatan tersebut. Sebaliknya, ia dengan elegan dan rendah hati menyampaikan sudut pandang lain untuk menjawab itu.  Menurutnya, memang, dulu orang Indonesia pemalu dalam menyampaikan pendapat dan bertindak.  Namun, belakangan ini, ia mendapati orang Indonesia sudah berani, seperti dalam kelas-kelas kuliahnya, orang Indonesia banyak yang mengajukan pertanyaan dan kritis. Ia juga berkali-kali memuji ada banyaknya wartawan Indonesia yang luar biasa.

Janet sempat bercerita bahwa respon yang paling sering ia dapat selama menulis kolom di Surya adalah pertanyaan tentang beasiswa.  Banyak orang Indonesia yang berharap bisa mendapat referensi beasiswa darinya lewat surel, namun Janet berkali-kali menyatakan bahwa ia tidak tahu. Salah seorang penanya bercerita kembali tentang hal itu di sesi tanya-jawab dan menyimpulkan, “Janet memang Jawa sekali dengan kerendah-hatiannya, tapi ia tetap menunjukkan sisi Amerikanya dengan: ‘kalau dia tidak tahu, ya dia bilang tidak tahu’.”

Acara ditutup dengan penandatanganan buku oleh Janet. Sambil mengantri, aku dan Dinda menyempatkan diri menghampiri Andreas Harsono, yang ternyata tulisannya sering menjadi bahan kajian Dinda di perkuliahannya.  Aku memberinya buku Halaman Papua. Beliau antusias, karena ia juga sedang meneliti tentang Papua. Ia berbagi dengan kami tentang temuan-temuan terkininya di sana.  Dinda juga bertukar kartu nama dengannya, dan memanfaatkan momen ini untuk menyanggah tulisan beliau yang pernah mengkritik pers mahasiswa (yang lucunya, beliau sendiri mengaku lupa pernah menulis). Menurut Dinda, seharusnya beliau melihat majalah mahasiswa yang dipimpinnya. Kami pun berjanji untuk saling mengontak via e-mail untuk diskusi lebih lanjut.  Kami juga menghampiri Imam Shofwan,  yang mengundang kami ke acara ini dan sebelumnya pernah menjalin kerjasama dengan akumassa, terutama dalam program Rekam Media.

DSC_2048

DSC_2049

Setelah antrian mulai berkurang, kami segera masuk. Aku berunding dengan Dinda tentang bahasa apa yang sebaiknya aku gunakan ketika berpapasan dengan Janet.

“Bahasa Indonesia, lah, dia udah menghargai kita pake Bahasa Indonesia,” ujar Dinda.

Ketika giliran kami tiba, aku pun menyapanya dengan Bahasa Indonesia dan menjelaskan buku (Halaman Papua) yang kubawa sembari memberikan buku itu padanya. Ia tampak senang dan memintaku untuk menandatanganinya juga.

Terbawa arus orang-orang yang mengantri sebelumnya, kami pun merasa wajib untuk berfoto bersama setelah mendapatkan bukunya.  Kami meninggalkan @America untuk makan malam sambil melihat lagi foto-foto tadi. Sayang sekali, foto tersebut goyang.

Dinda berkata, “Biarin fotonya jelek, yang penting nilai beritanya tinggi!” Kami tergelak sambil menuruni eskalator Pacific Place.

About the author

Gesyada Siregar

Gesyada Annisa Namora Siregar lahir di Medan pada tahun 1994. Sedang menempuh pendidikan di jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Menjadi co-founder dari Taman Baca Bulian, sebuah taman baca berskala komunitas di Jakarta Selatan dan Ketua Himpunan Mahasiswa Seni Murni FSR IKJ periode 2013-2014.

Leave a Comment

2 Comments

  • Wah, terima kasih banyak atas tulisan ini! Boleh saya share di Facebook dan Twitter?

    salam hangat,

    Janet

    • Hai Janet,

      Terima kasih kembali, tentu saja boleh! Selamat atas peluncuran bukunya, ya, buku yang menyenangkan dan jujur sekali..

      Salam,

      Gesya