Bogor, Jawa Barat

Pasukan Oranye

Pasukan Oranye
Avatar
Written by Lulus Gita Samudra

Aku lari tergesa-gesa menembus hujan. Menelurusi tumpukan batu kali yang tersusun panjang menjadi tangga di tengah rerumputan. Melewati jembatan kecil yang membelah kolam ikan menjadi dua bagian. Barulah sampai di pondok yang terbuat dari kayu, tempat sepasukan berbaju oranye berkumpul. Mereka merupakan peserta Latihan Dasar Organisasi (LDO) Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (Himajur) IISIP Jakarta berkumpul.

Peserta LDO (Latihan Dasar Organisasi) Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (Himajur) IISIP Jakarta di Megamendung, Bogor, Jawa Barat

Aku datang jam setengah lima sore. Padahal jam setangah empat, harusnya aku sudah memulai materi. Hujan lebat sangat menghambat perjalananku dari Jakarta menuju Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Sedikit malu karena para panitia dan peserta sudah lama menunggu. Tapi kuharap mereka dapat mengerti. Cuaca ekstrem pada sore itu, datang di luar dugaanku.

“Maaf, gue terlambat,” ucapku sambil menggosok-gosok rambut.

Woles (santai), Bang. Handukan dulu aja,” jawab Ine, salah satu panitia.

Woles, Ne. Udah sore, langsung gue mulai aja.”

Oke, Bang. Habis games ya. Kopi mau?,” tanya Ine.

“Boleh, yang hitam ya.”

Ine langsung berbisik pada panitia lainnya yang sedang bermain tebak-tebakan dengan peserta. Permainan ini sengaja dilangsungkan sebagai siasat mengisi waktu kosong jika pembicara datang terlambat. Orang yang dibisiki Ine terlihat mengangguk. Ine langsung meraih mic, sedangkan yang dibisiki segera pergi meninggalkan pondok, mungkin ke dapur.

“Halo peserta LDO, semuanya harap tenang. Pembicara kita untuk materi penulisan berita sudah datang. Semuanya diharap mendengarkan dan belajar dengan baik!” Seru Ine.

Microphone segera dialihkan ke moderator. Seperti pada umumnya, moderator membuka acara dengan salam dan memperkenalkan dirinya dan diriku. Kemudian menjelaskan secara ringkas tujuan belajar penulisan berita dalam acara LDO ini. Setelah itu, mempersilahkanku untuk memulai materi.

“Silahkan, Bang,” seru moderator sambil menyerahkan mic.

“Siap,” ucapku sambil memberi salam kepada seluruh peserta.

Sebetulnya materi penulisan berita cukup sederhana untuk dipelajari. Lagi pula konsep-konsep dasarnya, sudah atau belum pasti dijelaskan oleh para dosen di kampus dalam kuliah penulisan berita. Biasanya konsep-konsep dasar itu meliputi pendalaman 5W+1H, struktur piramida terbalik, dan pemahaman Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Jadi, materi kali ini aku memutuskan untuk lebih menerjunkan para peserta menggali dan memproduksi informasi.

“Teman-teman pasti sudah mengenal 5W+1H, piramida terbalik, dan KEJ, kan?” Tanyaku pada pasukan oranye yang tampak sedikit lesu.

“Iya, Bang,” serentak mereka menjawab dengan nada datar.

Kok, pada murung ya?”

Para peserta hanya diam.

“Panitianya galak-galak ya?”

Mereka tetap diam. Tapi salah seorang panitia menjawab dari belakang pondok dengan nada yang keras, “Oi, jawab tuh pertanyaan!!!”

Hahaha, woles-woles. Ya udah, gue mulai materinya ya,” seruku pada seluruh peserta.

Aku memulai materi dengan mengulas ulang secara ringkas tentang konsep-konsep di atas. Supaya materi berlangsung dengan santai, sesekali aku selingi dengan menceritakan pengalamanku di lapangan. Kadang kuselipkan sedikit humor, lalu mereka tertawa. Tapi sayang, usahaku membentuk suasana belajar yang nyaman tetap tidak membuat mereka tunjuk tangan saat sesi bertanya. Begitu juga ketika aku melontarkan pertanyaan, mereka tidak menjawab kecuali jika aku menunjuk salah satu di antaranya.

Tiba-tiba salah satu panitia datang. Pasukan oranye memperhatikan si panitia membawa segelas kopi hitam untukku. Aku sadar perhatian terhadapku jadi berkurang. Kuputuskan untuk langsung praktik lapangan saja meskipun hujan masih turun, lagi pula waktu sudah menunjuk jam lima sore lebih sedikit. Semoga penjelasan dan sedikit cerita pengalamanku dapat membantu para peserta. “Ya sudah. Sekarang teman-teman gue minta untuk membuat berita. Bahannya bisa diambil dari apa pun yang ada di lingkungan sekitar vila. Prosedurnya gue serahkan ke panitia. Tapi semua berita sudah harus kumpul jam enam kurang lima belas, oke!”

Pasukan oranye segera bergegas mempersiapkan alat tulis untuk menggali informasi. Kemudian mereka berkumpul membentuk lingkaran bersama mentornya (pendamping) sesuai kelompok masing-masing. Semuanya ada delapan kelompok yang terdiri dari lima hingga enam orang. Suasana jadi sedikit ramai dengan suara diskusi. Mereka saling tukar gagasan tentang hal apa yang akan ditulis. Kusambangi satu per satu untuk mencari tahu informasi apa yang akan diproduksi. Ada yang akan menulis tentang keberadaan vila dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup, ada yang akan menulis tentang profil penjaga vila, ada yang akan menulis kisah perjalanan dari Jakarta menuju Bogor, dan ada juga yang akan menulis tentang praktik perpeloncoan selama LDO berlangsung. Semuanya menarik bagiku, karena yang terpenting pasukan oranye itu saling berbagi ide dan mau bekerjasama dengan sesamanya dalam menggali informasi, serta peka terhadap lingkungan sekitar.

Jedar!!! Bunyi petir menggelegar, suara rintik hujan jadi samar-samar. Pasukan oranye menunjukan militansinya di hadapan panitia. Pondok kayu itu merupakan salah satu tempat paling aman untuk berlindung di kala hujan saat itu. Persepsi itu mungkin berlaku bagi pengecut, tapi kulihat tidak berlaku bagi pasukan oranye itu yang datang ke Bogor untuk belajar menjadi wakil mata dan telinga bagi masyarakat. Tak perduli hujan bahkan petir yang suaranya kadang menciutkan hati. Mereka segera meninggalkan pondok kayu.

Sesekali panitia memaki pasukan oranye sambil berlindung di dalam pondok kayu. Kemudian pasukan itu jadi terlihat gusar saat mengumpulkan informasi. Sebagai pemberi materi barangkali ada baiknya aku ikut mandi hujan bersama mereka. Kuputuskan meninggalkan pondok, meski bajuku sudah setengah kering. Sedangkan para panitia terus melakukan aksinya, memaki pasukan itu bak penguasa tanpa lawan sambil berlindung di dalam pondok dari derasnya hujan.

Peserta LDO Himajur menggali informasi dengan mewawancarai keluarga penjaga vila

Waktu sudah menunjukan jam enam kurang, adzan magrib terdengar samar-samar berkumandang. Suara itu berbarengan dengan peringatan bernada keras dari panitia kepada peserta dari dalam pondok kayu bahwa waktu mengumpulkan berita sudah lewat. Pasukan oranye itu segera kembali ke pondok. Mereka mengolah data yang sudah terkumpul menjadi sajian informasi yang layak untuk dibaca. “Mana kelompok yang sudah selesai? Gue pengen liat, nanti gue nilai, yang oke dapet hadiah dari panitia?” Aku sengaja menjanjikan hadiah kepada pasukan itu agar mereka termotivasi, sekaligus ingin merepotkan panitia dengan menyibukkan mereka menyediakan hadiah.

Wah, Bang. Hadiahnya apa? Kita gak ada persiapan,” bisik Ine dengan raut bingung.

Yah, apa lah terserah panitia. Tapi bikin yang menarik, supaya mereka termotivasi. Pokoknya hadiahnya jangan yang yah gini doang?”

Hmmm…,” Ine bergumam. Kemudian ia berbisik pada panitia lainnya.

“Ya, semuanya dikumpulkan ya,” ucapku pada seluruh peserta tanpa menghiraukan kebingungan Ine. Kemudian tiap kelompok mengumpulkan hasil penulisannya kepadaku. Hal ini juga sebagai penanda waktu materi penulisan berita dianggap selesai. Aku akan membaca tulisan itu satu-per satu. Indikator penilaianku berdasarkan pada kelengkapan 5W+1H, kedalamannya, dan rangkaian kata yang tersusun menarik.

Moderator kembali mengambil alih acara. Sebelum menutupnya, ia mempersilahkanku menyampaikan pesan singkat untuk para peserta. Tanpa maksud menggurui, tapi aku menyampaikan untuk sering-sering membaca buku sebagai koleksi bendahara kata. Serta sering-sering latihan menulis dengan bahan apa pun dan jangan lupa untuk membuat blog. Kemudian pasukan oranye itu meninggalkan pondok satu per satu menuju gedung lain yang berjarak sekitar 20 meter. Sambil mendengar maki-makian panitia dengan alasan yang tak jelas. Mereka akan melangsungkan ishoma (istirahat, solat, dan makan).

Perlahan-lahan pondok kayu menjadi sepi, kecuali beberapa panitia yang masih mengurungkan diri dari derasnya rintik hujan. Beberapa dari mereka sedang berpasang-pasangan. Tiba-tiba aku teringat segelas kopi dari panitia yang belum kusentuh sedikit pun. Kopi itu pasti sudah dingin. Tapi tak apa, itu tetap akan memberi kehangatan sepanjang aku membaca tulisan-tulisan pasukan oranye itu.

Para peserta LDO Himajur memperagakan yel-yel yang sudah disiapkan panitia dan dilatih kepada mereka

Maki-makian masih terdengar dari pondok, meskipun semua sudah berkumpul di bangunan rumah untuk melangsungkan ishoma. Aku yakin pasukan oranye itu akan menjadi jurnalis yang tangguh. Karena mereka sudah mengumpulkan tugas dengan baik meskipun sambil berhadapan dengan tradisi senioritas yang negatif. Tapi tetap ada kekhawatiran dalam benakku, semoga kelak pasukan oranye itu tidak meneruskan tradisi ini pada tahun-tahun selanjutnya yang justru akan membawa mereka menjadi pecundang.

About the author

Avatar

Lulus Gita Samudra

Lulus Gita Samudra telah menyelesaikan studi Strata Satu-nya di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Pria kelahiran Jakarta tahun 1989 ini, juga turut aktif di Forum Lenteng sebagai Sekretaris Redaksi akumassa.org. Sebelumnya ia pernah mengikuti workshop akumassa Depok pada tahun 2011. Kini ia sedang membangun sebuah komunitas berbasis massa di Depok, bernama Suburbia.

1 Comment

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.