Jurnal Kecamatan: Jatiwangi Kota/Kabupaten: Majalengka Provinsi: Jawa Barat

Nyeblok di Wates

Written by Iim Rohiman

DSCN2639

Kebanyakan masyarakat di Indonesia bekerja sebagai petani, tetapi berbeda-beda caranya di setiap daerah. Yang aku maksud berbeda di sini bukanlah cara menanamnya, tetapi cara mengelolanya. Mungkin, di daerah lain, menanam padi itu dilakukan langsung oleh si pemilik tanah sawahnya, sedangkan di daerahku, Kampung Wates, Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, agak berbeda. Di sini, sebagian besar orang yang mempunyai tanah, biasanya, menyuruh orang lain untuk menanam padi. Petani nyeblok berbeda dengan petani penggarap. Di Wates, petani penggarap biasanya menggarap lahan pertanian yang dia sewa dari pemilik tanah. Disebutnya ngelagu. Mereka menggarap sawah selama masa sewa tanah. Sedangkan para buruh tani, adalah orang yang bisa membantu pekerjaan di sawah baik milik petani penggarap ataupun bukan. Aksi buruh tani inilah yang disebut nyeblok. Jadi nyeblok bisa dilakukan di berbagai sawah milik siapa saja.

Alasan si pemilik tanah ataupun petani penggarap menggunakan sistem nyeblok adalah untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan sekaligus menumbuhkan rasa gotong royong, serta membantu sesama warga. Si pemilik tanah biasanya merekrut kerabat dekat, atau tetangga di sekitar rumah, untuk menjadi buruh di sawahnya. Orang tua saya juga ikut nyeblok, salah satunya di tanah sawah milik Pak Tobib. Saya juga selalu ikut membantu, tetapi hanya di waktu panen.

Pak Tobib adalah warga Desa Surawangi yang terletak di sebelah Barat Daya Desa Jatisura, tetapi memiliki lahan sawah di Kampung Wates. Umumnya, jika ada orang dari luar Kampung Wates yang mempunyai lahan sawah di dekat daerah kami, mereka  menyuruh warga sekitar untuk nyeblok, dan produksi padinya untuk dijual ke daerah lain. Sementara itu, sebagian besar warga dari daerah kami yang mempunyai tanah sebagai lahan garapan, mengelola sawahnya untuk konsumsi pribadi. Sebenarnya ada beberapa warga Kampung Wates yang memiliki lahan garapan agak luas. Mereka mampu untuk menjual hasil panennya ke pabrik-pabrik penggilingan padi. Contohnya, Bapak Sama, Bapak Mul, Bapak Sob, dan beberapa orang lainnya. Beras dari Wates tersebut dijual ke luar daerah. Jadi bisa dibilang, hasil padi dari Dusun Wates turut berkontribusi menjalankan roda perekonomian warga Wates ini sendiri.

DSCN2660

Proses nyeblok itu ada tiga tahap, yaitu ngarit (mengumpulkan benih padi), tandur (menanam padi) dan panen. Kebiasaan di Kampung Wates, ngarit dan tandur dilakukan oleh perempuan, ksrena pekerjaan-pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian yang dimiliki oleh para perempuan. Sedangkan masa panen yang pekerjaannya lebih berat, akan dibantu oleh laki-laki. Ketika nyeblok, mula-mula, si buruh nyeblok  itu melakukan ngarit benih padi, lalu melakukan tandur (singkatan dari ‘tanam mundur’) di tempat yang sudah disediakan oleh si pemilik tanah, sesuai dengan instruksi si pemilik. Ngarit yang saya maksud adalah mencabut benih padi yang sebelumnya sudah ditanam lebih-kurang dua puluh hari di salah satu petak sawah si pemilik. Biasanya, ngarit itu dilakukan di waktu sore, sehari sebelum waktu tandur.

Si pemilik tanah sawah sudah membagi-bagi jumlah petak sawah sesuai dengan jumlah buruh nyeblok. Masing-masing penyeblok itu harus tahu dan bertanggung jawab terhadap bagian petak sawah yang harus dia kerjakan. Pada waktu akan tandur, kira-kira dimulai pukul setengah enam pagi, si pemilik sawah sudah menyiapkan hasil ngarit benih dan membawanya dari petak sawah tempat benih itu ditanam ke petak-petak sawah tempat menanam padi. Dia membagikan hasil ngarit benih itu dengan cara melempar ke setiap petak sawah yang sudah dijaga oleh masing-masing buruh nyeblok untuk kemudian di-tandur.

DSCN2658

Teknik tandur itu sendiri ada dua macam, yaitu ombol dan ecek. Ombol adalah penanaman benih dengan jumlah batang yang banyak, biasanya lebih dari lima batang. Sementara itu, ecek adalah penanaman padi dengan jumlah batang yang sedikit, biasanya dua hingga tiga batang saja. Antara teknik ombol dan ecek itu, bergantung pada keinginan si pemilik. Kalau misalnya jumlah benih banyak, si pemilik biasanya menyuruh teknik ombol. Sebaliknya, jika jumlah benih sedikit, si pemilik biasanya menyuruh teknik ecek. Tapi, itu semua tergantung pada kebiasaan juga. Kalau menurut Pak Maman, Kepala Dusun Wates, teknik ecek lebih baik. Sebab, jika sudah tumbuh menjadi besar, semua batang padi menghasilkan buah. Sedangkan teknik ombol, walaupun batangnya banyak, biasanya akan menghasilkan buah padi lebih sedikit, karena jika sudah tumbuh besar, batangnya berdesak-desakan. Tapi, menurut pengalaman saya, teknik ecek rawan rusak, terutama jika terserang hama keong. Karena benihnya hanya sedikit, dia bahkan mudah habis jika dimakan keong.

DSCN2659

Beristirahat di saung.

Setelah tandur, para buruh nyeblok diberi upah sebesar Rp 20.000,- per petak sawah, atau Rp15.000,- ditambah makanan. Biasanya, makanan yang diberikan berupa nasi dengan lauk tahu, tempe, dan sepotong telor dadar. Di pertengahan aktivitas tandur, kira-kira pukul delapan atau sembilan pagi, para buruh beristirahat untuk makan di tempat si pemilik sawah menyiapkan makanan (biasanya, pada sawah yang lahannya luas, ada saung di pematang sawah untuk tempat istirahat dan makan bagi para petani nyeblok). Para buruh nyeblok itu makan bersama-sama dengan si pemilik sawah. Setelah selesai makan, para buruh akan melanjutkan pekerjaannya. Lamanya waktu untuk menyelesaikan aktivitas tandur itu berbeda-beda di setiap petak sawah. Ada yang selesai dengan cepat dan ada yang lambat, sesuai dengan keahlian si buruh nyeblok yang mengerjakannya.

DSCN2650

Para buruh nyeblok yang melakukan tandur, kadang-kadang, mendapatkan perintah yang bersamaan dari si pemilik tanah yang lain di hari yang sama. Kondisi ini biasa disebut mareng, yang artinya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan tandur di lahan sawah yang berbeda pada hari itu juga. Itu merupakan resiko yang harus ditanggung oleh si buruh. Mau tidak mau, dia harus mengeluarkan tenaga yang ekstra. Sebab, dalam sehari, setelah selesai di satu sawah milik seseorang, si buruh itu harus pindah ke sawah yang dimiliki orang yang berbeda untuk menyelesaikan pekerjaan yang serupa.

Jika ada buruh nyeblok yang tidak sanggup menyelesaikan pekerjaan tandur dengan ‘aturan’ mareng itu, dia (Penandur 1) akan meminta bantuan orang lain (Penandur 2) untuk mengerjakan PR tandur-nya (yang didapat dari pemilik tanah 2). Penandur 1 akan memberi upah tandur, sebesar Rp 50.000,- per petak sawah yang jadi lahannya (hanca) kepada Penandur 2. Selain itu, upah uang sebesar Rp 15.000 atau Rp 20.000 dari si pemilik tanah 2 menjadi hak Penandur 2. Peristiwa seperti itu, di kampung saya dinamakan bedugan tandur: pekerjaan buruh tandur yang satu dilakukan oleh si buruh tandur yang lain. Akan tetapi, jika nanti tiba waktu panen, yang menyelesaikan pekerjaan itu tetaplah si Penandur 1 sehingga pembagian hasil nyeblok tetap menjadi hak milik si Penandur 1. Setelah pekerjaan tandur selesai di semua lahan sawah para pemilik tanah, giliran si pemiliklah yang mengurus dan merawat tanaman padi tersebut hingga waktu panen tiba. Pada masa itu, para buruh nyeblok bisa bebas beristirahat kurang lebih empat bulan lamanya, dan bisa melakukan pekerjaan yang lain.

DSCN2672

Selama musim menunggu panen, kebanyakan masyarakat di Kampung Wates melakukan pekerjaan apa saja yang ada. Misalnya, ada pekerjaan dari si pemilik tanah sawah. Dia menyuruh si buruh nyeblok untuk melakukan bedugan ngoyos, yakni menyiangi dan membersihkan tanaman lain (rumput liar) selain tanaman padi. Pekerjaan ini dilakukan oleh buruh perempuan. Ada juga pekerjaan yang bernama bedugan ngalandak, yakni membersihkan tanaman padi sekaligus menggemburkan tanah area padi, yang biasanya dilakukan oleh laki-laki. Selain itu, ada bedugan ngagemuk (memberikan pupuk pada tanaman padi) yang dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan, dan bedugan nyemprot (menyemprot tanaman padi) yang dilakukan oleh laki-laki. Umumnya, pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakukan oleh orang tua. Menurut saya, ini mungkin disebabkan karena alasan, bahwa orang tua itu lebih berpengalaman.

Di samping itu, anak dari beberapa buruh nyeblok bekerja sebagai buruh serabutan. Ada yang jadi kuli bangunan, nongkrong di jalan sambil menunggu kesempatan mendapat giliran mencuci mobil dari si pengusaha pencucian mobil, menunggu kesempatan untuk ikut bongkar kayu, dan lain-lain. Itu pun kami, anak buruh nyeblok, lakukan jika ada order. Jika tidak ada, ya, diam aja di rumah, karena bingung ‘ntah mau kemana.

DSCN2652

Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga tiga bulan lamanya, tibalah musim panen.

Para petani yang memiliki tanah sawah mulai sibuk memberitahukan kepada para buruh tani nyeblok. Setiap tahun, sawah yang pertama panen di Wates adalah sawah milik Bapak Tobib, karena dia memiliki lahan yang luas, selain itu Pak Tobib memiliki traktor untuk membajak dan pompa pengairan sendiri. Dia yang selalu datang pertama ke rumah-rumah untuk memberi tahu waktunya panen. Kami, sebagai buruh nyeblok, akan bersiap-siap untuk melakukan panen. Jika si pemilik tanah menyatakan bahwa besok adalah hari panen, pada sore hari kami sudah akan berangkat sambil membawa arit untuk menuai padi dan mengumpulkannya di tempat yang sudah disiapkan. Biasanya, padi yang sudah dituai akan dikumpulkan di tengah-tengah petak sawah. Di tempat tersebut, sebelum hari H panen, si pemilik sawah sudah menyiapkan terpal sebagai alas tempat meletakkan padi. Masing-masing buruh nyeblok membawa alat gapretan dan meletakkannya di atas terpal itu agar keesokan harinya para buruh tinggal langsung memukul-mukulkan padi pada gapretan tersebut.

Screen Shot 2015-04-01 at 2.38.17 PM

Di hari H panen, aku bersama keluarga turut serta memanen bagian sawah yang menjadi tanggung jawab kami. Ada yang bertugas menuai padi yang kemarin harinya belum selesai, ada yang memikul padi yang masih ada batangnya untuk dikumpulkan di atas terpal, ada pula yang memukul padi-padi itu pada gapretan. Yang aku maksud dengan gapretan di sini adalah alat yang terbuat dari kayu yang dibentuk menyerupai segi tiga. Sisi depannya dibentuk dari bambu yang disusun sejajar dan agak renggang. Padi dipukul ke gapretan untuk memisahkan buah dari batangnya.

Di tengah pekerjaan memanen tersebut, biasanya, kami beristirahat sambil menikmati bekal makanan yang kami bawa sendiri. Kami makan bersama-sama, ditemani angin yang semiriwing. Nah, itu hal yang paling kami nikmati, karena pada waktu itu kami bisa merasakan betapa enaknya makan di sawah. Mungkin, tidak semua orang bisa melakukannya.

Screen Shot 2015-04-01 at 2.39.36 PM

Waktu pun akan terus berlanjut. Menjelang tengah hari, pasti sudah akan ada beberapa buruh nyeblok yang menyelesaikan pekerjaannya, tergantung luas petak sawah yang mereka kerjakan. Usai memanen, buruh nyeblok hanya tinggal menunggu proses bagi hasil dengan si pemilik sawah. Dalam pembagiannya, para petani menggunakan sistem lima banding satu. Lima untuk si pemilik tanah dan satu untuk si buruh nyeblok. Umumnya, pembagian itu menggunakan baskom sebagai alat pengukurnya. Nah, hasil nyeblok padi tersebut dinamakan catu. Masing-masing pemilik dan buruh nyeblok mendapatkan hasil panen yang berbeda, tegantung pada luas dan banyaknya tanah garapan.

Kata Bapak Mul, sang konglomerat  tanah yang kukenal, jumlah penghasilan panennya pada setiap satu kali panen adalah sekitar 4 ton, dari total semua garapan tanahnya. Sedangkan Bapak Edi, yang memiliki tanah tidak seluas Bapak Mul, mengaku hanya mendapatkan 2 ton setiap satu kali panen. Bapak Wingka, dia hannya mendapatkan 1 ton padi setiap satu kali panen. Yang lumayan mencengangkan adalah pengakuan Bapak Udi yang merupakan seorang buruh nyeblok. Dia bisa mendapatkan penghasilan sebanyak 1,5 ton padi dari total seluruh pekerjaan nyeblok yang dia kerjakan secara bersamaan karena menerima tugas itu dari beberapa pemilik tanah sawah. Penghasilan Bapak Udi ini bisa mengalahkan si pemilik tanah yang berskala kecil.

Screen Shot 2015-04-01 at 2.41.35 PM

Aku pun jadi berpikir, apakah Kampung Wates, Desa Jatisura, bisa dikatakan berpotensi sebagai daerah penyuplai padi, karena dalam satu tahun wilayah ini bisa dua kali panen dan menghasilkan padi yang cukup banyak? Agak bingung juga menjawabnya. Pada masa menunggu panen, para pemilik tanah sawah dan buruh nyeblok tidak mempunyai pekerjaan lain yang tetap, sementara masa penantian itu berlangsung cukup lama, menurutku. Demi menyambung hidup ke depan, sisa hasil panen yang mereka punya harus disimpan dan sebagian dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi persaingan dengan daerah penghasil padi lainnya yang dapat memproduksi jumlah padi yang jauh lebih besar. Dengan terbatasnya infrastruktur untuk mengelola padi, ditambah lamanya waktu musim paceklik yang selalu terjadi di sini, Kampung Wates masih menghadapi dilema akan statusnya sebagai daerah penyuplai padi. Aku juga suka berpikir, jika bergantung terus pada penghasilan nyeblok, mungkin hidup ini akan terus seperi ini. Dilema ini juga terjadi pada anak-anak buruh nyeblok seperti saya yang aperjalanan hidupnya masih panjang.

About the author

Iim Rohiman

Lahir di Kampung Wates, Desa Jatisura, pada 8 Agustus, 1988. Dia mempunyai hobi memancing di Balong H. Udin dan main futsal. Dia juga ikut bertani, membantu kedua orang tuanya nyeblok di sawah Pak Tobib.

Leave a Comment