DKI Jakarta Kontribusi

Menyaksikan Anak Sabiran

Gedung Graha Bhakti Budaya
Written by Imam Rahmadi

“Nah,….ya? Jangan main-main, Ini bukan main-main. Coba kumpulin, gimana ngumpulinnya nih? Apa gampang bangun beginian? Tuh coba…masa begini, bagaimana? Ah…! Kan sayang, ya? 30 tahun umur saya di sini. Ujungnya dibeginiin saja. Sayang, kan?! Ah…! Makanya… Nasib lah…”, kata almarhum Misbach Yusa Biran.

Gedung Graha Bhakti Budaya

Kata-kata di menit-menit akhir film itu, masih terus terngiang di pikiran. Bagiku, dan sepertinya juga bagi para penonton yang lain. Kata-kata itu menyulutkan kegelisahan yang sebelumnya tak pernah aku tahu, apalagi pikirkan. Sebuah kegelisahan akan nasib arsip film Indonesia.

Jauh hari sebelumnya, kalender kecil di meja kecil di sudut kamar kosan, pada tanggal 29 Maret 2013, memang sudah aku tulisi “Anak Sabiran, bang Hafiz 19.00 TIM.” Kebetulan tahun ini aku mendapatkan hadiah kalender dari sebuah penerbit yang menerbitkan kedua bukuku, dengan format kalender yang sekaligus bisa digunakan untuk pencatat kegiatan.

Kalender kecil di meja kecil di sudut kamar kosan.

Jujur, awalnya semua kegiatan yang aku tulis di kalender kecil itu, aku anggap biasa saja. Tidak ada yang sangat mencuri perhatian, dan membuatku seolah wajib untuk datang. Mungkin ini karena aku masih fokus berjuang menyelesaikan yang namanya “skripsi,” demi memperoleh gelar sarjana. Sehingga semua kegiatan itu hanya iseng belaka, sebagai hiburan,  jika ternyata aku mendatanginya.

Ternyata, Jum’at 29 Maret 2013 kemarin aku ditakdirkan untuk mendatangi “Anak Sabiran, bang Hafiz 19.00 TIM,” yang sudah aku tulis di kalender kecil itu. Sebuah pemutaran perdana film feature dokumenter berjudul “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip).” Pemutaran bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Para tamu yang datang.

Mulai pukul 18.30 WIB meja penerima tamu sudah mulai padat. Tamu yang datang sangat beragam usianya, mulai dari anak muda hingga orangtua. Sesudah mengisi buku tamu, para tamu sebagian ada yang langsung masuk ke dalam gedung, namun ada juga yang masih mengobrol di teras gedung Graha Bhakti Budaya, karena bertemu dengan teman-temannya. Sementara ini aku masih berada di teras gedung, karena beberapa tamu yang datang aku juga mengenalnya, sehingga aku menemui mereka dan mengajak ngobrol-ngobrol sejenak sebelum masuk ke dalam gedung.

Para tamu yang masih mengobrol di teras gedung.

Sekilas sebelum menonton, yang aku tahu, film feature dokumenter “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)” ini bercerita tentang seorang tokoh pengarsip film Indonesia, yaitu almarhum Misbach Yusa Biran. Maka pada malam itu, salah satu tamu yang datang adalah Nani Widjaya, istri dari almarhum Misbach Yusa Biran. Kedatangan Nani Widjaya disambut langsung oleh sutradara film ini, Hafiz Rancajale.

Nani Widjaya (tengah) dan Hafiz Rancajale (kiri).

Ribuan kursi di dalam gedung Graha Bhakti Budaya hampir terisi penuh. Sekitar pukul 19.30 film feature dokumenter “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip),” yang merupakan kerja kolaborasi dari teman-teman Forum Lenteng, yaitu antara Fuad Fauji, Hafiz Rancajale, Mahardika Yudha, Syaiful Anwar “Paul”, dan H. Misbach Yusa Biran, mulai diputar. Dari sekilas kabar yang aku dengar, almarhum Misbach Yusa Biran memang sempat ikut andil dalam pembuatan film ini, namun pada waktu proses pembuatan belum selesai, H. Misbach Yusa Biran meninggal dunia.

Para penonton di dalam gedung.

Aku dan ribuan penonton lain menyaksikan film dengan khusyuk. Beberapa kali tawa menggelegar ketika ada adegan lucu melewati layar. Dan kembali khusyuk lagi. Hingga dua jam, tiga puluh dua menit, tak terasa telah berlalu. Tepuk tangan panjang dari ribuan penonton menggelegar di dalam gedung. Tidak ketinggalan, aku ikut bertepuk tangan. Tepuk tangan belum berakhir, justru suaranya semakin keras. Lebih keras lagi, hingga akhirnya sunyi.

Almarhum Misbach Yusa Biran dalam salah satu adegan film.

Dari film yang baru saja aku lihat, baru aku tahu bahwa sedemikian parahnya pengarsipan film di Indonesia. Almarhum Misbach Yusa Biran dengan susah payah membangun dan menghabiskan tiga puluh tahun dari usianya, untuk Sinematek Indonesia sebagai tempat pengarsipan film Indonesia. Namun setelah beliau keluar dari Sinematek Indonesia pada tahun 2001, semua ditelantarkan begitu saja. Berantakan, minim perawatan, dan hingga kini tidak ada perkembangan.

Para penonton berhamburan keluar.

Sambil berlalu para penonton berhamburan keluar gedung. Mereka pulang, dan aku juga pulang. Pada akhirnya aku baru sadar, sangat beruntung ditakdirkan datang menyaksikan pemutaran perdana film “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip),” karena aku pulang membawa kegelisahan.

About the author

Imam Rahmadi

Imam Rahmadi, memiliki nama pena Imam FR Kusumaningati di kedua bukunya: Jadi Jurnalis Itu Gampang! dan NGANDROID. Masih kuliah di Universitas Islam Negri Jakarta (UIN), Syarif Hidayatullah, Jakarta, jurusan Pendidikan Agama Islam. Aktif di Komunitas Djuanda sebagai Sekretaris Jenderal dan di Forum Lenteng sebagai Sekretaris Redaksi akumassa.org

Leave a Comment

5 Comments

  • Hmmm aku bersyukur bisa menimba ilmu di jogja, tapi membaca tulisanmu aku jadi ingin mjd mahasiswa baru lagi di jakarta supaya bisa menjadi sehebat kamu dan seberuntung kamu 🙂 yeyeyeyye goodluck yaaaaah

  • oorang kepo,, memang orang kepo ini gaya nulise apik tenan,, singkat tpi menjelaskan makna dan tujuan, semoga orang kepo ini menjadi penulis hebaaat,, amienn. suksesmu ojo nglalekake jaman semono. hahaha. H. jusuf Gang Ster,,,,

  • wah, makin kece aja tulisan mu mam, tambah keren,, apalgi ditambah di pich yang bagus,,, mantap dah

  • bagus tulisannya mas imam. pesannya tersampaikan. aku jadi pengen liat filmnya. kapan-kapan bagi-bagi ilmu ya. keep working 🙂

  • hahaseeekkkkk keren oi,,,,
    suatu saat pasti aku nonton..
    asek2 kakak imam pancen uyea,,,
    salam dari jogja yow,,,hehehe