Jurnal Kecamatan: Pemenang Kota/Kabupaten: Lombok Utara Provinsi: Nusa Tenggara Barat

Mencari Ruang, Mencari Rumah

Rumah Pak Mas’un.
Written by Manshur Zikri
Setelah menaiki mobil travel sekitar satu setengah jam dari Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah, naik-turun bukit, melewati jalur Pusuk yang menghubungkan Lombok Barat dan Lombok Utara—di mana kita bisa melihat ada banyak monyet berbaris-baris di pinggir jalan pada hari terang—saya pun tiba di rumah Sibawaihi, seorang aktivis kebudayan di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, sekitar pukul delapan malam, 8 Desember, 2015. Saat itu, Siba, sapaannya, kebetulan menjadi kawan seperjalanan saya dari Jakarta menuju Lombok, kampungnya sendiri, karena dia sempat mampir ke Forum Lenteng, Jakarta, setelah menghadiri sebuah konferensi seni di Bandung.

Rumah H. Amir. Foto diambil siang hari.

Rumah H. Amir. Foto diambil siang hari.

“Assalamualaikum!” teriak Siba keras, ketika kami berdua masuk ke pekarangan rumahnya.

Rumah Siba berpagar tembok, dengan pekarangan seluas ± 4×6 m, terletak di pinggir gang kecil. Secara umum, rumah itu terdiri dari dua bangunan. Yang di kanan sepertinya adalah bangunan utama—ketika tiba dan mengucap salam, saya melihat H. Amir, ayahnya, seorang Tuan Guru, baru saja selesai makan malam bersama anggota keluarga yang lain di ruangan tengah (seluas ± 3×6 m) bangunan itu. Bangunan kedua, yang di sebelah kiri, bertingkat dua—lantai bawah tampak digunakan sebagai ruangan keluarga, sedangkan yang di atas saya tidak tahu gunanya (saat itu). Di antara dua bangunan tersebut, ada semacam lorong yang difungsikan sebagai teras, seluas ± 4×8 m, terlihat dari tempat duduk untuk ngaso dari bambu yang diletakkan di depan pintu. Di mata saya, rumah itu sangat akrab karena telah melihatnya berkali-kali dalam Elesan Deq a Tutuq (Sutradara: Syaiful Anwar & pasirputih, 2014).

Mencari ruang mencari rumah (2)

Suasana rumah H. Amir di siang hari.

Suasana rumah H. Amir di siang hari.

Sesaat kemudian, piring-piring baru sudah tersedia. Saya dan Siba dipersilakan oleh Tuan Guru untuk makan malam. Beliau menemani kami sembari menikmati rokok dan kopi. Tiba-tiba terdengar suara orang-orang berlari menuruni tangga. Ghozali, saudara Sibawaihi—mereka berdua dan beberapa kawan di Pemenang mengelola sebuah komunitas, bernama pasirputih—berseru dari depan pintu, “Selamat datang, Saudaraku!”.

Dengan gembira, saya menyambut salamnya yang begitu bersemangat itu. Ghozali datang dengan diiringi oleh dua orang.

“Ini Imran, Zik!” kata Siba, mengenalkan seseorang kepada saya. “Duuuuum…!?” Siba berteriak memanggil seseorang. “Ini Oka…” katanya lagi, mengenalkan yang seorang lagi.

Di suapan nasi yang kelima, dua orang lagi datang menghampiri kami yang sedang makan secara lesehan di ruangan tengah bangunan di sebelah kanan itu. Yang satu adalah laki-laki berkacamata yang oleh Siba tadi dipanggil “Dum”. Dia pernah menjadi salah satu peserta workshop kurator yang sempat diadakan oleh Dewan Kesenin Jakarta bulan lalu. Yang seorang lagi adalah Hadi, yang sudah saya kenal sebelumnya karena pada tahun 2014 dia menginap di Forum Lenteng untuk menyelesaikan proses editing filem Elesan Deq a Tutuq.

Malam itu, kami semua bersemangat. Sebab, keesokan harinya kami akan mencari rumah baru.

About the author

Manshur Zikri

Lulusan Departemen Kriminologi, FISIP, Universitas Indonesia. Anggota Forum Lenteng, pelaksana Program akumassa. Dia juga aktif sebagai sebagai kritikus film di Jurnal Footage, dan sebagai Kurator di ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival.

Leave a Comment