Jurnal Kecamatan: Sangir Batang Hari Kota/Kabupaten: Solok Selatan Provinsi: Sumatera Barat

Makan Bersama Raja di Nagari Badewa

Written by M Fandi Taufan
Abai. Itulah nama daerah yang harus aku kunjungi guna membantu ujian akhir Strata 2 (S2) salah satu mahasiswa Pasca Sarjana ISI (institut Seni Indonesia) Padangpanjang. Untuk tiba di Abai, aku harus menempuh waktu sekitar enam jam dari tempat kosku yang berada di Padangpanjang.

Abai, Nagari Badewa

Abai, Nagari Badewa

Aku melewati Danau Atas dan Danau Bawah atau biasa dikenal dengan nama Danau Kembar yang berada di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Aku berangkat bersama temanku dari Padangpanjang pukul  lima sore, setelah sebelumnya menunggu mobil yang akan menjemput kami.

Seminggu sebelum keberangkatan, aku pun sempat mencari informasi tentang daerah tersebut, tetapi hasilnya nihil. Sampai-sampai, ada yang mengatakan bahwa Abai itu berada di daerah Pasaman, bagian pesisir Pulau Sumatera. Itu berarti, aku berada dalam perjalanan ke sebuah daerah yang belum pernah aku jejaki.

Danau Kembar

Danau Kembar

Dengan bermodal penasaran yang dalam tentang daerah tersebut, aku pun mulai menikmati perjalanan dengan melihat kebun teh di daerah Solok. Sesampainya di daerah Danau Kembar, waktu menunjukkan pukul 7 malam. Itu artinya, aku telah menempuh perjalanan sekitar 2 jam.

Kebun Teh Alahan Panjang

Kebun Teh Alahan Panjang, Solok

Selama perjalanan, aku berbincang-bincang dengan teman yang sudah pernah ke sana. Mitosnya, ternyata wanita-wanita Abai sangat cantik dilihat, namun hanya jika di dalam kampungnya saja. Kalau mereka sudah ke luar Abai, mereka akan terlihat biasa-biasa saja. Itulah kenapa daerah tersebut dinamakan Nagari Badewa (Desa Berdewa). Masyarakat di sana masih percaya dengan adanya dewa walaupun mayoritas mereka beragama Islam.

Mobil kami pun memasuki Kabupaten Solok Selatan. Namun, perbincangan dan rasa penasaranku  masih berlanjut. Abai juga dikenal sebagai negeri yang mempunyai tiga raja, yang disebut Rajo Nan Tigo Selo dan salah satunya diberi gelar Tuanku Rajo Putiah. Ia merupakan raja tingkat kedua dari tiga tingkatan raja di daerah itu.

Sudah pukul 23:00 WIB, tapi penasaranku dengan daerah yang berada di Kecamatan Sangir Batang Hari ini pun belum selesai. Abai dulu terdiri dari satu kerajaan. Karena suatu hal, kerajaan tersebut terpisah menjadi tiga bagian yang disebut Tiga Jorong. Jorong merupakan wilayah terkecil dalam sebuah nagari (desa). Setiap satu jorong dipimpin oleh seorang raja.

Perjalanan panjang menuju Abai

Perjalanan panjang menuju Abai

Nagari Abai mempunyai ketinggian 400–1200 Meter di atas permukaan laut dan memiliki luas sekitar 10 Hektar. Yang unik lagi dari daerah ini ialah jika seseorang ingin memasuki Abai dengan maksud jahat, dia tidak akan menemukan Abai.

Praakk…! Tiba – tiba mobil kami terhenti karena ban depan sebelah kanan masuk lubang besar.

“Tenang…! Itu berarti kita sudah hampir dekat dengan Abai,” kata teman di sebelahku.

Kami harus menempuh waktu 2 jam lagi untuk melewati jalan yang berlubang dan di kelilingi hutan karet. Masyarakat asli Abai mencari nafkah dengan menanam sawit dan karet.

Sambil mobil kami bergoyang ke kiri dan ke kanan setiap masuk lubang dan dengan kecepatan 20–40 Kilometer per jam, kami pun memulai perbincangan kembali tentang daerah yang berada di Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan itu.

Nagari Abai merupakan daerah yang memiliki hukum adat sangat kuat. Hukum ini lebih berperan besar daripada hukum pemerintahan. Masyarakat lebih memilih mengikuti peraturan adat daripada peraturan pemerintah setempat. Konon, dahulunya daerah ini tidak pernah dapat ditaklukkan oleh Kerajaan Pagaruyuang yang pernah dipimpin oleh raja yang terkenal, Adityawarman.

Separuh perjalanan, mobil kami berpapasan dengan mobil truk yang mebawa sawit. Itu berarti salah satunya harus mengalah karena jalan yang kami tempuh, selain berlubang, hanya cukup untuk dilalui satu mobil. Sebelah kiri jalan terdapat jurang yang di bawahnya terdapat Sungai Batang Hari, sedangkan di sebelah kanan terdapat tebing  yang menjulang.

Nagari yang memiliki curah hujan 20–30 Celcius ini mempunyai banyak kebudayaan yang  belum pernah aku jumpai sebelumnya. Di antaranya, batombe.

Batombe

Batombe

Batombe adalah sebuah kesenian sastra tutur yang lahir dari daerah ini. Ritual batombe hanya boleh diadakan dalam acara-acara besar atau penikahan masyarakat yang boleh dibilang ternama di daerah tersebut.

Konon, batombe sudah menjadi adat sebelum Islam masuk. Sebelum melakukan batombe, masyarakat harus memotong kerbau terlebih dahulu. Masyarakat percaya, ketika batombe diadakan, para dewa-dewa mereka turun ke bumi dan menjaga mereka selama kegiatan batombe berlangsung. Batombe biasanya diadakan hingga dua sampai empat minggu di sebuah rumah gadang (rumah adat Minangkabau).

Ada yang menarik dari batombe, yaitu banyak muda-mudi yang menemukan jodohnya lewat acara adat ini. Sebab, dalam batombe, dua orang bersahut-sahutan, bisa antara laki-laki dan perempuan sehingga saat itulah mereka dapat menyampaikan maksud mereka dengan sastra tutur batombe. Mereka saling berbalas kata-kata dengan irama seperti orang mengaji, diiringi dengan sebuah alat musik yang di sebut rabab (alat musik yang menyerupai biola, memiliki 3 sampai 4 senar).

Batombe diiringi Rabab

Batombe diiringi Rabab

Namun, aku juga diingatkan oleh teman bahwa tidak boleh mengambil gambar atap Rumah Gadang sebelum atap tersebut diberi hiasan. Atap Rumah Gadang tersebut dipercaya dihuni oleh berbagai makhluk yang menjaga rumah itu.

Akhirnya, kami sampai dan berhasil masuk ke Nagari Abai. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara seperti orang mengaji. Jam tanganku sudah menunjukan pukul 02:00 WIB. Aku heran, kenapa jam segini masih ada orang mengaji.

“Itu orang sedang batombe,” kata temanku.

Saat kami sampai di tempat yang dituju, kami pun disambut dengan keramahan warga Abai. Ketika aku menjejakkan kakiku di tanah Abai, aku merasakan sebuah keakraban daerah ini dengan segala mitos-mitosnya.

Salah satu Rumah Gadang di Abai

Salah satu Rumah Gadang di Abai

Kami dijamu makan malam di salah satu rumah warga. Ya, anggap saja makan malam karena sebenarnya kami belum singgah ke warung makan selama perjalanan dari Padangpanjang menuju Abai. Sambil makan, kami ditemani oleh suara warga yang sedang batombe.

Di saat kami sedang menikmati makanan, datanglah dua orang bapak, salah satunya memilki tinggi sekitar 180 Centimeter. Tiba-tiba, semua orang di sekelilingku berdiri, menghentikan makannya, dan langsung bersalaman dengan bapak itu. Ternyata, kami dikenalkan dengan Tuanku Rajo Putiah.

Wah, berarti aku bersalaman dengan seorang raja! Kemudian, Raja pun ikut makan bersama kami. Dalam hati, kuberkata, “Ternyata Raja suka juga dengan jengkol balado, sama seperti aku.” Selesai menikmati makanan, kami pun mulai bercerita-cerita untuk menambah keakraban diri dengan daerah ini.

Tuanku Rajo

Tuanku Rajo Putiah

Menurutku, sang Raja memiliki wibawa yang besar. Ia memakai kemeja bercorak batik dan mengenakan peci berwarna hitam di kepalanya. Malam itu, kami berbaur dengan masyarakat sekitar. Saat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul empat pagi, kami pun dipersilakan beristirahat di salah satu ruang tamu rumah warga.

Malam itu, aku jadi lebih banyak tersenyum karena baru saja makan malam bersama Raja di Nagari Badewa.

About the author

M Fandi Taufan

Dilahirkan di Padang pada tanggal 12 Maret 1989. Ia kuliah di ISI Padang Panjang konsentrasi pertelevisian. Selain itu ia juga aktif mengelola studio foto di Padang.

Leave a Comment

6 Comments