Jurnal Kecamatan: Rangkasbitung Kota/Kabupaten: Lebak Provinsi: Banten

Kumpulan Catatan

Written by Jaenudin

Komunikasi Lewat Media

Kami lama menanti tamu dari Jakarta di Saidjah Forum. Di sini  berkumpul beberapa orang yang sedang asyik membicarakan cuaca buruk akhir-akhir ini yang tiba-tiba dikagetkan oleh dering handphone.

Tamu kami: “Sebentar lagi kami keluar dari tol dengan nama Baleraja. Setelah itu kemana lagi kami harus memacu mobil ini?”

Aku menjawab: “Jika sudah keluar dari pintu tol, belokkan mobilmu ke arah barat menuju daerah Asem.  Jika sudah sampai di Asem, jangan menuju jalur lurus karena jika lurus kalian akan ke Serang, beloklah ke selatan maka kalian sudah menuju jalan ke Lebak.”

Tamu kami: “Kami sudah masuk pintu selamat datang di kota Rangkasbitung, kemana lagi kami harus belok?”

Aku menjawab: “Jika sudah sampai Tugu Adipura, terus lurus sedikit dan belok ke kiri nanti ketemu bundaran, setelah itu kalian akan masuk jalan Sunan Kali Jaga, berhentilah di situ nanti kami akan menjemputmu.”

Begitulah komunikasi yang terjadi pada 10 Desember, 2008, dan masih teringat dengan jelas. Itu hanya ingatan, mereka sudah tidak ada di Lebak lagi, peristiwa itupun tidak akan bisa di ulang. Ingatan dan catatan ini yang akan menjadi saksi pada peristiwa lalu. Apabila pada awal mulanya, pengungkapan pikiran dan perasaan aku pertama dan kedua itu berkisar pada kepentingan individual yang sederhana mengenai pencarian dan petunjuk sebuah jalan. Sehingga, antara satu sama lain tidak melihat lagi tetapi saling mengenal secara akrab. Maka pikiran seseorang yang dipengaruhi oleh perasaan itu dapat berupa ide atau gagasan, informasi atau keterangan, permohonan, saran, bahkan perintah.

Dalam interaksinya aku dengan mereka dalam menyampaikan pikirannya tidak lagi memberi tahu, tidak lagi memberi pengertian dasar, tetapi mempengaruhi agar lawan bicaranya melakukan sesuatu. Aku mulai mengkonstruksi diri. Aku ada bersama orang lain. Aku memetakan juga identitas sosial budayaku saat itu. Di dalamnya berlaku struktur dari sistem sosial budaya yang lebih besar yang memuat semua aku-aku yang lain.

Tugu Adipura.

Tugu Adipura.

Kumpulan Catatan Kami

Aku dan Kalian dalam posisi sama, duduk dalam satu lantai dengan sebuah karpet yang baru selesai di jemur. Di ruangan kecil bercat tembok pudar dan sesekali bocoran air dari atap menetes jika hujan datang. Aku sering membiarkan ventilasi udara terbuka lebar-lebar maksud hati bisa mengurangi kesumpekan ruangan. Sedikit malu-malu dalam bicara, darimana perasaan itu datang, aku tidak tahu. Kami hanya sekumpulan anak muda daerah yang ingin belajar saat itu.

Diskusi.

Diskusi.

Obrolanpun dimulai, walau tersendat di hari pertama. Menelusuri asal-usul video dan perkembangannya sungguh menyenangkan. Aku dikenalkan pada beberapa pelopor video seperti Nam June Paik. Walaupun kami belum kenal dekat dengannya, tetapi “tamu dari Jakarta” fasih sekali mendekatkan aku pada orang ini dalam bentuk pembicaraan. Partisipasi kalian dan aku akan di diwujudkan melalui penggunaan perangkat komputer dan kamera video. Dari sembilan orang yang hadir, aku pikir hanya tiga orang menurutku yang banyak tahu tentang konteks obrolan malam itu, dan terkadang mereka mendominasi obrolannya. Diingatan dan catatan kecilku, hanya ada tulisan Media Baru pada presentasi seperti salah satu komputer pertama. Gambarnya sudah lupa lagi, tetapi sempat diperlihatkan lagi oleh saudara Adel di komputer tipis berlambang apel songhek (lambang Apple Computer –red) saat itu. Namanya microprocessor, dan supercomputer. Aku menyukai sejarah tetapi aku hanya hafal sejarah nasional itupun cuma Banten.

Perkenalan

Aku dan di sebelahku saat itu tidak tahu karya-karya woodcut Albrecht Dürer, George Eastman, Paul Cézanne, Edgar Degas, dan Pierre-Auguste Renoir, saat itu hanya orang-orang ini yang tercatat dalam kertas besar yang diberikan Adel untuk bahan menulis. Sekali lagi aku tidak kenal dekat dengan mereka dalam pembicaraan. Yang kutahu pertama, Adel, Paul, yang banyak mengingatkan kami agar mengambil gambar tidak boleh menjadi “mata yuyu” (mata kepiting –red.) dan “mata Gaang” (sejenis serangga –red.).

Otty, Hafiz dan anaknya Bodas yang mengingatkan kami agar terus berkebudayaan, “Suatu saat kalian akan besar, kalian telah memiliki  potensi, mulailah melihat posisi kalian sekarang ada dimana.” Hati-hati dalam menyikapi materi akumassa. Yang kutahu kedua, tamu lelaki bernama Galib dan tamu wanita yang dengan cepat menghilang. Yang aku tahu terakhir, Ugeng dan Akbar berbadan besar, sungguh menyenangkan sekali berbicara dengan mereka.

Tentang pengalaman personal dan memori kolektif mengenai satu peristiwa lampau di lebak. Kembali ke pembicaraan,  saat itu dengan membicarakan satu dari kamera film gambar-bergerak pertama, di rancang oleh Louis Le Prince. Rancangannya masih dapat dilihat sampai sekarang di Museum Media Nasional, Inggris ujarnya sambil tersenyum simpul. Perkenalan yang singkat, tidak jelas untuk dibaca, kecakapan untuk mengingat tidak cukup di andalkan, hanya catatan sebagai jawaban saat kami dihampiri penyakit lupa.

Teknis

Memegang kamera handycam seumur hidupku, pertama kali adalah saat workshop akumassa. Aku sungguh harus mengakuinya sebagai pengalaman berharga mengenal benda ini yakni, kamera. Aku tidak tahu teknologi dan struktur film. Dalam catatanku hanya ada era film bisu, dengan mengesampingkan awal eksperimen suara oleh Dickson pada 1894, film adalah murni seni visual sepanjang abad ke-19, tetapi film bisu inovatif ini memberikan pengaruh pada imajinasi masyarakat. Sekitar abad ke-20, dimulailah pengembangan struktur naratif dengan menjalin adegan-adegan menjadi sebuah cerita. Adegan-adegan itu kelamaan terpecah menjadi beberapa shot dengan sudut dan ukuran yang berbeda. Para penemu dan produser berusaha keras semenjak kelahiran film untuk mengawinkan gambar dengan suara, tapi tak ada teknologi yang memungkinkan hingga akhir 1920an. Karena pada 3 dasawarsa awal yang ada hanyalah film bisu. Teknik lainnya seperti gerak kamera disadari sebagai cara efektif untuk memotret sebuah cerita dalam film.

Perpustakaan di Saidjah Forum.

Perpustakaan di Saidjah Forum.

Saudara Adel sering sekali bicara pada kami tentang Dziga Vertov  yang berperan dalam perkembangan teknologi sinema dunia. Dia orang yang mendorong munculnya gerakan perubahan di dalam melihat teknologi ini dalam perspektif seni ucapnya sambil sesekali menulis di whiteboard. Vertov menempatkan film dan sinema sebagai sebuah kultur baru dalam perkembangan kesenian dunia. Pengaruh gerakan ini masih terasa hingga sekarang yaitu bagaimana sinema mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang di luar kenyataan dan ia ditempatkan sebagai di luar realitas yang sebenarnya. Ini jugalah salah satu pemicu lahirnya eksperimentasi medium dalam karya seni di dunia.

Di catatanku hanya tertera tentang bahasan neorealisme Italia yang merupakan gaya film dengan karakter cerita yang dibangun dalam lingkungan kaum miskin dan kaum pekerja, difilmkan langsung dalam lokasi, seringkali memakai aktor amatir. Film-film neorealisme Italia kebanyakan berhadapan dengan situsi ekonomi yang sulit dan kondisi mental setelah Perang Dunia II Italia. Merefleksikan perubahan jiwa Italia dan keadaan hidup sehari-hari: Kemiskinan dan keputusasaan.

Pinjaman Televisi

Beruntung memiliki sahabat yang loyal pada kelompoknya. Ketika kami menonton film-film baru yang dibawa dari Forum Lenteng Jakarta kami menonton di televisi hibah dari saudara Helmi Darwan. Tadinya Saidjah Forum hanya ruang kosong dan di sebelahnya perpustakaan kecil, tidak ada televisi, komputer ataupun kamera yang yang hebat itu. akumassa membawa kami pada pengetahuan televisi sebagai alat mekanis yang ditransmisikan secara langsung, menghasilkan gambar bergerak. Pembicaraan berlanjut sampai ke Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang mengudara sejak tahun 1962 di Jakarta. Status TVRI saat ini adalah Lembaga Penyiaran Publik. Secara sederhana media baru dapat diawali dengan kemunculan teknologi-teknologi yang mencakup teknologi digital, komputerisasi, atau sistem jaringan informasi dan teknologi komunikasi pada akhir abad ke-20. Teknologi yang dimaksudkan sebagai “media baru” memang teknologi berbasis digital, yang seringkali memiliki karakteristik termanipulasi, terjaringkan, terpadatkan, termampatkan, dan setara.

Sesi menonton.

Sesi menonton.

Ketika mulai berkarya dengan video, kami berdiskusi secara luas kegiatan dalam praktik sosial budaya sehari-hari masyarakat di tempat kami. Video kini menurut kami, tidak lagi terbatas hanya pada dokumentasi secara individu melainkan berkaitan juga dengan aspirasi yang berlangsung di tengah masyarakat. Misalkan pada saat pemutaran karya akumassa, masyarakat banyak bergumam pada rekannya ketika menonton, ini jelas memiliki keterkaitan tangapan reaksioner pada video tersebut. Karya video yang dihasilkan pada akumassa memasuki aktivitas eksterior warga di sekitar kami.

Beragam kebudayaan yang tidak disadari dalam konteks aktual dengan latar sejarahnya, yang kami bahas sebagai suatu wacana yang baru dalam memandang perkembangan gejala sosial budaya kini. Video merupakan representasi persoalan yang diungkapkan berdasarkan pengalaman sosial kekinian ataupun lampau, kami mengakuinya. Bekal estetik yang kami miliki sudah terelokasikan dalam karya, menghasilkan video dan mempengaruhi asal-usul pertumbuhan yang disebut Adel dan Paul sebagai media baru. Bagaimana sesungguhnya praktek media tersebut berlaku sekarang. Peran video yang dieksplorasi menjadi kode atau simbol menjadi media baru dalam penggarapan seni kebudayaan.

About the author

Jaenudin

Pria yang akrab disapa Abeng ini merupakan anggota Saidhah Forum, komunitas dampingan akumassa di Lebak, Banten. Seorang ayah dan telah memiliki dua anak.

Leave a Comment

3 Comments

  • Helmi dan Dableng, gw teharu membaca tulisan kalian. Banyak hal memang dalam dunia kini yang sering kita abaikan. Tinggal di daerah bukanlah halangan untuk menjadi “sesuatu” dalam masyarakat baik tingkat lokal maupun diluar itu. Gw melihat kawan-kawan Saidjah punya enerji itu. Istilah-istilah yang muncul selama program workshop maupun nama-nama besar yang tersebut dalam presentasi adel dan paul adalah bunga-bunga dalam melihat kebudayaan yang ada saat ini. Ini bukanlah patokan untuk menjadi baik. Peristiwa Ki Rabin dan Tampian pada video yang dihasilkan di Lebak adalah sebuah yang luar biasa. Bagi gw ini adalah “catatan” penting tentang sejarah sosial dan kebudayaan kini yang tidak perlu kita kaitkan dengan dziga vertov maupun new media. lebih baik kita bekerja saja. karena kali mati yang kau tulis itu adalah “sesuatu” tidak boleh dilewatkan sebagai fenomena sosial yang menjadi milik “massa”.
    Selama ini gw percaya kepada “keterikatan” kita sama masyarakat kita adalah modal utama dalam apapun yang ingin kita buat.

    salam Hafiz