Jurnal Kecamatan: Jatiwangi Kota/Kabupaten: Majalengka Provinsi: Jawa Barat

Kuli Membayangkan Jadi Pengusaha

Written by Maman Sudirman
Salah satu pabrik penggilingan beras yang berada di Dusun Wates.

Salah satu pabrik penggilingan beras yang berada di Dusun Wates.

Dulu, saya punya pengalaman bekerja di sebuah perusahaan pabrik penggilingan padi di sekitar wilayah Kecamatan Jatiwangi. Orang-orang tahu bahwa Kecamatan Jatiwangi terkenal dengan banyaknya pabrik penggilingan padi, tapi sebenarnya pabrik-pabrik penggilingan padi itu lebih banyak berada di Desa Jatisura. Saya pernah bekerja di sebuah pabrik yang bernama Pabrik Sinar Harapan, yang letaknya di kampung saya, Kampung Wates.

DSCN2204

Suka duka selama bekerja di sana saya abaikan, yang penting bisa membiayai kebutuhan rumah tangga saya. Tapi, jika harus diceritakan, bisa dibilang sukanya adalah bila saya mendapatkan upah yang agak lumayan besar dibanding upah para pekerja harian. Namun, di balik itu saya harus mengeluarkan tenaga ekstra besar untuk mendapat upah tersebut, selain durasi jam kerja yang sangat tersita dari pagi hingga malam.

DSCN2183

Para pekerja di pabrik penggilingan, biasanya dibentuk menjadi satu tim, yang terdiri dari tujuh hingga sepuluh orang. Tapi, ada kalanya hanya terdiri dari empat atau lima orang, karena ini hanyalah pekerjaan bebas. Meskipun statusnya adalah pekerja tetap, tetapi tidak ada aturan yang mewajibkan pekerja masuk setiap hari. Memang, majikan (pemilik pabrik) inginnya para pekerja bisa masuk setiap hari. Namun, seorang pekerja bisa dimaklumi tidak masuk kerja jika kelelahan karena pada hari sebelumnya dia bekerja hingga larut malam.

Kalau hal yang harus dikerjakan tidak terlalu banyak, seluruh anggota tim bisa mengerjakan satu tugas bersama-sama. Ada saatnya pekerjaan menjadi sangat banyak, misalnya ketika bak beras harus diangkat dan dimasukkan ke dalam karung berbarengan dengan kosongnya panggung penggilingan dan datangnya mobil dari bandar yang harus dibongkar. Anggota tim harus membagi-bagi tugas.

DSCN2201

DSCN2202

Pagi hari, sekitar pukul 06.30 WIB, saya sudah siap bekerja, memikul-mikul karung padi yang beratnya sekitar 40 sampai 50 kg, atau lebih. Pekerjaan dimulai dari penjemuran padi, banyaknya sekitar 8000 kg (8 ton). Sembari menjemur padi, para pekerja bisa sambil mengerjakan pekerjaan yang lain, seperti menaikkan padi yang siap digiling ke panggung penggilingan beras. Setelah panggung itu penuh, barulah mesin pencacah padi dinyalakan. Mesin penggilingan padi ada tiga macam. Dua yang pertama disebut mesin pencacah atau mesin PK (istilah yang sering dipakai untuk menyebut padi yang belum sepenuhnya menjadi beras, tetapi sudah digiling). Sedangkan yang terakhir adalah mesin penggiling beras atau polisher (yang hasilnya beras jadi). Dengan kata lain, padi itu melalui tiga tahap penggilingan sampai menjadi beras.

DSCN2203

DSCN2149

DSCN2150

DSCN2166

DSCN2167

DSCN2168

DSCN2170

Sambil menunggu padi itu digiling oleh mesin untuk menjadi beras PK, pekerja bisa mengerjakan hal yang lain, misalnya membolak-balik padi yang sedang dijemur itu atau membongkar (sekaligus menimbang) padi yang ada di mobil milik bandar padi yang datang ke pabrik penggilingan. Akan tetapi, menaikkan padi ke atas panggung penggilingan tidak hanya sekali. Jika sudah kosong, harus diisi lagi. Begitu seterusnya. Jika tidak ada padi yang harus dibongkar, atau jemuran padi selesai dibolak-balik, pekerja bisa istirahat.

DSCN2153

DSCN2154

DSCN2205

DSCN2151

Dalam mengerjakan tugas, tim ini harus benar-benar bekerja sama. Sambil menangani satu pekerjaan, misalnya bongkar-timbang padi dari mobil, seorang pekerja harus lincah matanya melihat-lihat apakah panggung penggilingan padinya sudah kosong, atau bak berasnya, yang letaknya di bawah mesin polisher, sudah penuh. Jadi, para pekerja siap siaga mengisi padi ke dalam mesin PK, atau jika beras PK-nya sendiri sudah banyak, si pekerja harus siaga untuk menyalakan mesin polisher. Mesin polisher itu cukup dijaga oleh satu orang saja. Jika bak beras di mesin polisher sudah penuh, semua anggota tim bergotong-royong memasukkan beras ke dalam karung sambil ditimbang. Ada juga yang bertugas untuk menjahit karung setelah ditimbang, dan ada juga yang bertugas untuk menyimpannya ke tempat penyimpanan sebelum dimuat ke mobil yang akan mengantarkan beras untuk dijual. Di saat menunggu bak beras berikutnya penuh, anggota tim kembali mengerjakan pekerjaan yang lainnya, seperti yang sudah saya jelaskan tadi.

DSCN2184

Pukul 08.30 WIB adalah waktu yang bisa dimanfaatkan oleh masing-masing pekerja untuk makan, tapi itu bukan waktu istirahat yang pasti. Mengapa dibilang begitu? Sebab, kita, para pekerja, harus makan bergantian. Jarang kita makan bersamaan karena pekerjaan selalu banyak.

Pekerjaan itu terus menerus dijalankan. Pada sore hari ketika padi yang dijemur sudah kering, barulah padi itu diangkat dan diangkut untuk disimpan di dalam pabrik sebagai persiapan penggilingan esok harinya. Terkadang, pekerjaan itu baru akan selesai pada larut malam. Bisa sampai pukul 22:00 WIB, atau lebih.

DSCN2162

Salah seorang pekerja pabrik sedang menghitung uang.

Malam hari setelah semua pekerjaan selesai, saya yang biasanya dipercaya oleh majikan, mulai menghitung hasil pekerjaan yang sudah kami kerjakan seharian. Contoh penghitungannya adalah seperti ini:

  1. Upah menjemur padi: 8 ton x Rp20,- = Rp160.000,-
  2. Upah muat-bongkar-timbang padi dari mobil: 7 ton x Rp12,- = Rp84.000,-
  3. Upah hanya bongkar-timbang padi dari mobil: 35 ton x Rp7,- = Rp105.000,-
  4. Upah giling padi: 12 ton x Rp25,- = Rp300.000,-
  5. Upah memuat beras ke dalam mobil: 10 ton x Rp7,- = Rp70.000,-
  6. Upah hanya bongkar beras dari mobil: 10 ton x Rp3,- = Rp30.000,-

Jadi, jumlah total upah yang didapat adalah Rp749.000,-.

DSCN2188

Jumlah total upah itu kemudian dibagi dengan jumlah anggota tim pekerja. Jika misalnya anggota tim hanya tujuh orang, berarti masing-masing orang mendapat upah sebesar Rp107.000,- dalam satu hari kerja. Kalau jumah anggota lebih banyak, misalnya sepuluh orang, berarti masing-masingnya mendapat Rp74.900,- saja. Jumlah total upah ini pun, bergantung dari jumlah pekerjaan dalam sehari. Jika tugas yang harus dikerjakan sedikit, misalnya hanya menggiling saja, tidak ada stok padi yang harus dibongkar dari mobil, upahnya bisa jadi lebih sedikit.

DSCN2155

Dukanya, jika bekerja sebagai buruh di pabrik penggilingan padi, adalah ketika pekerjaan sepi. Misalnya, pada musim paceklik, pemasok atau bandar padi akan berkurang sehingga aktivitas semacam bongkar-timbang padi atau jumlah padi yang akan digiling juga berkurang. Dengan kata lain, jumlah upahnya juga berkurang. Bahkan, pekerjaan menggiling padi bisa ditunda beberapa hari karena harus menunggu jumlah padinya banyak, paling tidak harus mencapai 15 ton per hari. Pada waktu-waktu seperti ini, pemasukan sebagai buruh juga kecil. Paling-paling, hanya Rp20.000,- per harinya. Kadang juga tidak dapat penghasilan karena aktivitas menggiling terhenti hingga beberapa minggu lamanya. Berbeda dengan si pemilik pabrik. Keuntungan yang didapat lebih besar, karena dia yang memiliki modal.

DSCN2182

Seandainya kalau saya punya modal, rasanya saya tertarik juga untuk menjalankan usaha penggilingan padi tersebut. Tapi, modalnya harus ganda. Umpamanya, untuk satu hari, modal belanja padi yang harus saya punya adalah Rp4.500.000,-/1 ton, sedangkan jumlah padi yang hendak digiling adalah 15 ton. Berarti, total modal saya adalah Rp67.500.000,-. Umumnya, dari 1 ton padi, setelah digiling, akan menjadi 600 kg beras (kualitas tidak baik) atau lebih dari 650 kg (kualitas sangat baik). Biasanya, cara mengetahui kualitas padi adalah dengan melihat struktur kulit padi, antara tebal dan tipisnya kulit padi. Anggaplah hasil berasnya adalah yang kurang baik, yakni menghasilkan 630 kg. Jadi, jika jumlah padi yang akan digiling adalah 15 ton maka akan menghasilkan 9.450 kg beras. Sementara itu, harga jual beras perkilonya adalah Rp8.500,- sehingga harga jual beras hasil dari gilingan 15 ton padi adalah Rp8.500,- x 9450 = Rp 80.325.000,-. Dengan kata lain, jika beras saya dijual, akan mendatangkan uang sebesar Rp80.325.000,- – Rp Rp67.500.000,- = Rp12.825.000,-. Uang hasil penjulan ini akan dikurangi dengan ongkos pekerja dan biaya tak terduga, biasanya sudah menggunakan angka pembagi yang digunakan secara umum oleh pengusaha penggilingan beras, yakni sebesar Rp25. Jadi, uang sebesar Rp12.825.000,- dibagi 25, menjadi Rp513.000,-, Artinya, saya akan mendapatkan untung sebesar Rp513.000 per hari. Tapi kita harus punya modal ganda untuk persiapan buat bahan penggilingan esok harinya. Sebab, beras yang telah dihasilkan hari ini, baru akan bisa diuangkan keesokan sorenya, bahkan terkadang malam. Jika tidak punya modal simpanan, saya tidak akan bisa menggiling beras untuk esok hari.

DSCN2160

Namun, usaha ini menghasilkan keuntungan yang lain, yakni hasil penujualan bekatul dan dedak kasar. Bekatul adalah kulit padi yang halus, bekas digiling. Sedangkan dedak kasar adalah kulit padi yang kasar. Setiap tiga hari penggilingan padi, biasanya akan menghasilkan kurang lebih 2 ton dedak halus dan 1 mobil dedak kasar. Jika dijual, harga dedak halus perkilonya adalah Rp3.000,-, jadi jika menjual 2 ton akan menghasilkan uang Rp6.000.000,-. Sementara itu, harga jual 1 mobil dedak kasar adalah Rp1.500.000,-. Dedak halus dan dedak kasar ini banyak dicari orang. Dedak halus biasanya digunakan untuk bahan makanan ternak, sedangkan dedak kasar sering digunakan untuk bahan campuran batu bata. Pengusaha ternak dan batu bata dari luar Jatisura seringkali datang ke desa ini untuk mendapatkan dedak, baik yang halus maupun yang kasar. Keuntungan penjualan dedak ini dimiliki sepenuhnya oleh pemilik pabrik penggilingan padi. Bahkan, si pemiliki bisa membeli mobil hanya dari uang hasil penjualan dedak tersebut. Contohnya seperti Bapak Husein, bekas majikan saya di Pabrik Sinar Harapan itu.

Tapi, yang terpenting adalah bisnis ini harus dijalankan dengan hati-hati. Seperti misalnya, hati-hati memilih rekan usaha (orang yang menitipkan padi untuk digiling) atau menentukan kapan padi itu sebaiknya digiling, tergantung harga di pasar.

DSCN2152

Pabrik Sinar Harapan itu adalah contoh pabrik besar. Aktivitas penggilingannya selalu berpatok pada jumlah padi dan beras yang besar pula untuk tujuan perdagangan. Sementara itu, ada juga tempat penggilingan padi yang skalanya lebih kecil. Biasanya, yang menggiling padi itu adalah masyarakat sekitar dengan tujuan untuk dikonsumsi sendiri. Tapi, di Kampung Wates tidak ada tempat penggilingan kecil sehingga warga di kampung ini harus menggiling beras konsumsi pribadinya ke desa tetangga.

DSCN2163

DSCN2165

DSCN2157

DSCN2156

DSCN2158

Jika kita berbicara soal pemasaran beras, itu bukanlah hal yang sulit karena sudah ada para pemasar-pemasar ke setiap wilayah atau kota tujuan pemasaran. Masing-masing distributor memiliki lahan distribusinya sendiri. Misalnya ke Kota Bandung, Jakarta, Karawang, Depok, Bogor, Sukabumi, dan kota-kota lainnya. Distributor yang biasanya mengirimkan beras ke Bandung, tidak akan mengirimkan beras ke kota lain. Tidak ada aturan resmi, tetapi itu sudah jadi kesepakatan sosial (atau rasa saling mengerti) di antara para distributor dan pengusaha penggilingan padi. Jadi, jika pada satu waktu tertentu, kota lain sedang musim jual beras atau harganya sedang bagus, si pengusaha penggiling padi yang ingin menjual berasnya cukup memilih distributor beras ke kota yang ingin dituju.

Dalam proses pemasaran ini, si pemasar tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk mendapatkan beras yang akan dia bawa ke wilayah pemasaran. Dia hanya mengandalkan modal kepercayaan dari si pemilik usaha penggilingan padi. Pembayarannya pun dapat dilakukan di waktu yang berbeda, tidak harus diwaktu si pengusaha penggilingan memberikan berasnya. Sepulangnya si pemasar dari kota pemasaran, si pengusaha penggilingan padi harus memberikan upah, atau lebih tepatnya persenan kepada si pemasar. Persentase bagi hasil ini tidak menentu, tergantung kesepakatan dan kepercayaan di antara si pemasar dan si pengusaha penggiling padi.

DSCN2190

Demikianlah cerita mengenai pengalaman saya bekerja di penggilingan padi. Cerita ini saya buat, harapannya, dapat menjadi acuan untuk teman-teman yang ingin belajar bisnis tentang perdagangan padi/beras. Sebab, saya percaya, bahwa tidak mungkin beras itu tidak laku. Semua orang memerlukan beras karena itu makanan pokok sehari-hari.

Sekarang ini, di kampung saya, baru sebagian kecil orang yang sudah mulai mengolah sawahnya dengan sistem organik, menggunakan mekansime tanam tunggal, termasuk juga pupuk organik. Hasilnya ternyata lebih unggul dari cara bercocok tanam biasa. Dengan kata lain, kualitas dari hasil pertanian akan lebih baik sehingga berpotensi pula untuk meningkatkan usaha perdagangan (karena harga padinya juga pasti lebih tinggi, otomatis harga beras juga lebih mahal). Dengan kata lain, sistem penggilingan padi di Kampung Wates pun berpeluang untuk menjadi bisnis yang dapat menghidupkan warga masyarakat di Kampung Wates.

About the author

Maman Sudirman

Maman Sudirman, lahir 2 April, 1970, di Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka. Biasa dipanggil Pak Kadus karena jabatannya sebagai Kepala Dusun di Dusun Wates, Desa Jatisura. Selain aktif berkegiatan di Jatiwangi Art Factory (JaF), Pak Kadus Maman juga aktif mengembangkan kampungnya dengan mengelola Saung Ciranggon.

Leave a Comment

6 Comments