Lenteng Agung, Jakarta Selatan

Kemeriahan Pemilu RT. 10 RW. 02 Lenteng Agung

“Kepada warga yang belum memilih, kami tunggu sampai pukul 11.30!”

Suara itu terdengar berulang kali melalui alat pengeras suara mikrofon.  Asal suara itu dari seorang wanita paruh baya yang pada saat itu sedang menjadi panitia pemilihan ketua RT 10. Bertempat di Lenteng Agung, RT 10 RW 02. Pemilihan dimulai sekitar pukul 08.30 WIB pagi.

Jauh sebelum acara dimulai, tepatnya pada pukul 05.00 subuh, ibu-ibu telah mulai memasak untuk makan warga dan panitia pemilihan Ketua RT Ada Ibu Maemunah, Ibu Irma, Mbak Sri dan Ibu Masnah sebagai pemilik rumah. Tempat masak bukan hanya di rumah Ibu Masnah saja, masih ada beberapa rumah yang kebagian untuk memasak. Namun, untuk menu-menu utama ditempatkan di rumah Ibu Masnah. Hari itu ibu-ibu memasak menu ala Betawi, seperti pindang kaki, pindang iga, tempe goreng, perkedel kentang, kentang belado dan sambal. Aku pun dipersilahkan mencicipi semua masakan.

Tim masak

“Calonnya siapa aja, Bu?”

“Juanda sama Junaedi!” Jawab Mbak Sri yang sedang menggoreng perkedel kentang.

“Oh… Pak Juanda nyalonin lagi?”

“Iya, kita seneng sama Pak Juanda.” Jawab Ibu Masnah sambil mengaduk-ngaduk pindang kakinya.

“Kalau ketemu di jalan pasti nyapa saya.!” Ibu Irma menambahkan.

Semua masakan sudah matang. Kemudian ibu-ibu mengangkutnya ke tempat acara pemilihan.  Sudah banyak warga yang berkumpul di tempat pemilihan. Pemilihan Ketua RT di sini beda dengan pemilihan Ketua RT pada umumnya. Biasanya, pemilihan hanya dilakukan dengan musyawarah kepala keluarga di suatu tempat, misalnya Masjid, Balai Desa, Rumah Ketua RT sebelumnya dan seterusnya. Warga RT 10 mengadakan pemilihan ketua RT yang suasananya dibuat seperti pemilihan umum. Kelengkapan pemilihan Ketua RT ini disiapkan dengan sedemikian rupa, seperti adanya Panitia Pemilihan yang kesemuanya wanita, Tempat Pemungutan Suara, Kartu Suara, Bilik Suara, Kotak Suara, Saksi dari ibu-ibu PKK RW 2 dan orang-orang dari kelurahan.

Ada 2 calon Ketua RT yang bersaing, Pak Juanda dan Pak Junaedi. Pak Juanda merupakan Ketua RT 10 periode 2009-2011. Pak Juanda kembali mencalonkan diri sebagai Ketua RT periode 2011-2014. Pak Junaedi mendapat nomor urut 1 dan Pak Juanda nomor urut 2.

Dua calon Ketua RT, Pak Juanda (kiri) dan Pak Junaedi (kanan)

Satu persatu nomor antrian dipanggil untuk ke bilik suara. Nomor antrian didapat dengan cara menandatangani buku pendaftaran di meja Pendaftaran Pemilih. Setelah nomor dipanggil, pemilih menuju meja tempat Ketua Anggota (masih panitia) untuk menukar nomornya dengan kartu suara. Kemudian pemilih menuju Bilik Suara dan memasukan kartu suara ke dalam kotak yang telah tersedia. Setelah itu, pemilih dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah tersedia. Seperti di acara kawinan. Setelah bersalam-salaman dengan kedua mempelai, perjalanan dilanjutkan menuju prasmanan.

Bilik Suara

Aku sempat mengobrol dengan kedua calon.

“Pak, ini tiap pemilihan Ketua RT emang suka gini ya?”

“Iya, biar demokrasi… Meskipun calonnya cuma dua… kita tetap bikin acaranya kayak gini. Jangankan cuma dua calonnya, kalau gak ada calonnya aja, diada-adain. Hehehe..” Jawab Pak Juanda.

“Kepada warga RT 10 yang belum milih, saya sebagai panitia masih menunggu!” Terdengar kembali peringatan kepada warga yang belum juga memilih. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB.

Hari sudah siang, kembali para panitia diperingatkan oleh waktu yang sudah menunjukkan pukul 11.20. Sedangkan, dari 176 undangan memilih untuk warga RT 10 yang umurnya sudah di atas 17 tahun, hanya 126 warga yang baru memilih. Akhirnya panitia dan kedua calon memusyawarahkan nasib 50 warga yang belum memilih. Panitia dan kedua calon memutuskan untuk menutup acara pemilihan hanya dengan 126 warga saja. Penghitungan suara pun dimulai.

Penghitungan suara

“Nomor 1…!”

“Sayang Ibu…”

“Nomor 2…!”

“Sayang Bapak…”

Setiap Ketua Anggota menyebutkan nomor calon yang terpilih, beberapa kali ada yang menimpalinya dengan lagu Satu Satu Aku Sayang Ibu. Begitulah suasana pemilihan Ketua RT 10 yang sering diiringi oleh canda tawa warga. Penghitungan suara tidak berlangsung lama, mungkin karena jumlah pemilih hanya 126 warga.  Akhirnya hasil pemilihan telah diketahui. Nomor urut 1 yaitu Pak Junaedi mendapatkan suara 43, nomor urut 2 yaitu Pak Juanda mendapatkan suara 81 dan 2 suara lainnya dinyatakan gagal karena tidak ada contrengan pada salah satu calon.

Hasil penghitungan suara

Kembali Pak Juanda menjabat sebagai Ketua RT untuk periode 2011-2014. Saking senangnya warga karena Pak Juanda terpilih kembali, ada seorang ibu yang mengerjai Pak RT dengan menyiramkan air secara mendadak kepada Pak RT dan ibu-ibu lainnya mengikuti. Pak RT basah kuyup. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemakaian topi caping dan sarung oleh Bu RT kepada Pak RT.

Ketua RT terpilih disiram ibu-ibu

Semenjak Pak Juanda menjabat Ketua RT, kas warga RT 10 mengalami peningkatan dan menjadi RT yang mandiri. Mereka membuat usaha penyewaan lahan dagang yang dikelola oleh kepengurusan RT 10. Lahan tersebut berada di dekat Taman Lenteng Agung yang masih termasuk wilayah RT 10. Kebanyakan warga senang dengan Pak Juanda. Menurut mereka Pak Juanda melaksakan tugasnya sebagai Ketua RT dengan baik.  Sehingga periode 2011-2013 ini merupakan kelima kalinya berturut-turut Pak Juanda menjabat sebagai Ketua RT.

About the author

Avatar

Dian Komala

Dian Komala, akrab disapa Ageung, tinggal di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sehari-harinya ia bekerja sebagai buruh pabrik wig di Parungkuda. Ageung turut aktif di Forum Lenteng dalam Program akumassa, untuk lokasi dampingan Lenteng Agung (Jakarta Selatan) dan Depok. Selain menjadi salah satu penulis aktif di jurnal online www.akumassa.org hingga sekarang, Ageung juga mengelola blog pribadi, bernama www.dariwarga.wordpress.com, yang mengangkat narasi-narasi warga Parungkuda, khususnya warga masyarakat yang tinggal di sekitar rumahnya.

2 Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.