Jurnal Kecamatan: Jatiwangi Kota/Kabupaten: Majalengka Provinsi: Jawa Barat

Kebunku Jadi Ciranggon

Written by Imas Masitoh
Penampakan dari salah satu sisi pinggir Sungai Ciranggon di hari ini.

Penampakan dari salah satu sisi pinggir Sungai Ciranggon di hari ini.

Namaku Imas Masitoh. Aku lahir (pada 2 April, 1982) dan besar di Kampung Wates, Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Saat aku kecil, anak-anak di kampungku selalu bermain bersama-sama di halaman rumah-rumah kami, di sungai, di sawah, di kebun, dan di tanah lapang. Banyak sekali permainan yang bisa kami lakukan: jiglongan, sapintrongan, dadaluan, bebentengan, menari, menyanyi, renang di sungai (dengan bergaya cilanglangmuncang), lolocokan, bebeledogan dan sejumlah permainan anak lainnya.

Saat aku kecil, fasilitas untuk menuntut ilmu tidak semudah sekarang. Dulu, belum ada madrasah untuk kami belajar mengaji. Kalaupun ada, hanya mengandalkan kebaikan Pak Ustad, yang bernama Abdul Wahid (kadang, aku menyebutnya Pak Juju), yang berbagi ilmu tanpa pamrih. Di saat musim ke sawah tiba, Pak Juju menghentikan kegiatan madrasahnya karena harus bekerja di sawah. Ketika madrasah yang dikelola oleh Pak Juju terhenti, aku dan teman-teman harus mencari madrasah yang lain. Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), aku pun pernah mengikuti pendidikan madrasah di SD Angkasa Komplek TNI AU Lanud S. Sukani, meskipun aku bersekolah di sekolah yang berbeda, yakni SD Jatisura III. Di pagi hari, SD Angkasa menjadi sekolah negeri, tapi di sore hari menjadi sekolah agama (madrasah). Namun, aktivitas madrasah di sekolah ini pun terhenti, karena tenaga pengajarnya harus pindah tugas. Karena tidak aktif beberapa bulan tanpa kegiatan, kami lebih sering belajar kelompok untuk mengasah wawasan beragama.

Penampakan halaman belakang rumah Bu Imas di hari ini.

Penampakan halaman belakang rumahku di hari ini.

Keadaan seperti itu membuat aku mempunyai lebih banyak waktu untuk bermain. Sore hari, sepulang sekolah dari SD Jatisura III, aku sering bermain di luar rumah bersama teman-teman. Saat kemarau tiba, contohya, kami mencari pohon mangga yang berbuah lebat. Angin kemarau menyebabkan banyak buah mangga yang jatuh ke tanah sehingga kami tidak perlu memanjatnya. Kami saling berebut, saling menjerit, saling tertawa, dan saling berkejaran. Demikian juga pohon asem, tak luput jadi tempat berkumpul kami. Pohon asem itu tumbuh besar di kebun sebelah Selatan rumahku. Di depannya ada tambal ban sepeda yang dikelola oleh seorang pak tua, namanya Pak Beni.

Intinya, kebun-kebun kami bersih dan teduh. Sungai Ciranggon, yang mengalir di kawasan kampung kami juga bersih dan airnya bening.

Foto dokumentasi milik Bu Imas. Tampak pada foto: halaman rumah Bu Imas, tahun 2007.

Foto dokumentasi pribadi. Tampak pada foto: halaman rumahku, tahun 2007.

Tahun berganti tahun, tambal ban milik Pak Beni pun semakin tak terurus. Ketika akhirnya Pak Beni meninggal, hanya pohon asem besar itulah yang berdiri kokoh di tengah-tengah kebun. Aku dan teman-teman masih tetap bermain di sekitaran pohon asem itu. Masih tersimpan di dalam ingatanku. Jika mata kami terasa pedih, merah dan berair, kami cukup meneteskan air dari kuncup bunga krisman yang ada di sekitar pohon asem untuk meredakannya.

Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), pohon asem itu ditebang. Tanahnya diurug dan dibangun sebuah rumah. Hilang sudah satu tempat kami bermain karena pohon asem dan sekitarnya berubah jadi bangunan kokoh yang kini didiami oleh Ibu Anirem. Hanya kebun-kebun kecil di sekeliling rumah sajalah yang tersisa hingga aku dewasa, salah satunya kebun kecil di tanah milik nenekku.

Foto dokumentasi milik Bu Imas. Tampak pada foto: halaman rumah Bu Imas, tahun 2007.

Foto dokumentasi pribadi. Tampak pada foto: halaman rumahku, tahun 2007.

Kini, aku telah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Anakku tak dapat merasakan keindahan kebun yang luas dan bersih. Bahkan, anakku tak dapat melihat kebeningan Sungai Ciranggon, tempat ibunya sewaktu kecil dulu berenang, bermain, mencuci, mengambil udang dan mengambil ikan-ikan. Semuanya tak dapat dinikmati oleh anakku, keponakanku, dan anak tetanggaku. Keramahan alam dan permainan anak-anak di zamanku jarang sekali dialami oleh anak-anak zaman sekarang. Semuanya tergerus modernisasi. Anak lebih suka diam di dalam rumah, bermain playstation, menonton televisi, bermain boneka barbie dan semacamnya. Seandainya anak-anak kami ingin bermain di kebun, di sungai atau di mana pun yang mereka inginkan, pastinya orangtua mereka melarang karena kebun-kebun kami bersarang nyamuk dan bersampah. Sungai kami telah dangkal, kotor dan bersampah juga. Sesekali, aku pernah mendengar celoteh anak-anak kami yang berkesempatan bermain jiglongan di halaman rumah yang sudah menyempit, tak seluas halaman di masa ibunya kecil. Saat ini, halaman-halaman luas itu telah berubah menjadi bangunan tinggi, seiring dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat.

Kebunku Jadi Ciranggon_akumassa_06

Tahun 2013, pemerintah menjalankan program pembuatan drainase di sepanjang Jalan Lanud S. Sukani, Desa Jatisura. Galian drainase itu memanjang dan berular di depan rumah-rumah yang ada di pinggiran jalan. Saat pembangunan drainase itu akan berakhir, kontraktor sempat mengalami kesulitan untuk menentukan titik akhir dari drainase tersebut. Menurut rencana, drainase itu akan berujung pada aliran yang menuju Sungai Ciranggon yang terletak di perbatasan Desa Jatisura (Kecamatan Jatiwangi) dan Desa Gandawesi (Kecamatan Ligung). Akan tetapi, jarak lintasan drainase akan menjadi sangat panjang dan menelan biaya yang besar untuk membangunnya. Maka, dipilihlah sebidang tanah yang sebenarnya masih berupa kebun-kebun kecil untuk jalan pintas aliran drainase itu. Awalnya, yang dipilih adalah batas rumah yang dulu merupakan kebun tempat pohon asem itu berada, tetapi karena si pemilik tanah menolak, akhirnya kontraktor meminta tanah nenekku yang berada di sebelah Utara rumah Ibu Anirem, sebagai jalan akhir drainase itu supaya alirannya bisa menuju ke Sungai Ciranggon.

Neneknya Bu Imas.

Nenekku.

Keluarga besarku sempat menolak permintaan si kontraktor, karena kami mengkhawatirkan dampak dari pembuatan drainase tersebut. Misalnya, kebocoran yang bisa saja membuat tanah-tanah di sekitar drainase itu terkikis. Tapi kami juga menghadapi dilema dengan program pemerintah tersebut. Di satu sisi, pembangunan drainase pasti memberi manfaat bagi seluruh masyarakat sekitar. Tapi, di sisi yang lain, adanya drainase itu membuat struktur tanah rentan dan gampang rusak jika tidak dikelola dengan tepat guna. Karena alasan untuk kemaslahan bersama, akhirnya nenekku memberi izin agar tanahnya digunakan, asal dibuatkan bak kontrol di ujung drainase, sebelum turun ke aliran Sungai Ciranggon. Nenekku menuntut hal itu supaya tanah di sekitar air turunan tersebut tak terkikis. Si kontraktor setuju. Aku ingat, dia menawar tanah nenekku dengan harga Rp3.000.000,- supaya drainase dapat dilanjutkan pembuatannya. Tapi, apa yang terjadi kemudian, sedikit melenceng dari perjanjian.

Drainase yang melintas di kebun rumah Bu Imas.

Drainase yang melintas di kebun rumah nenekku.

Di tengah-tengah pembuatan aliran akhir drainase itu, yang alirannya melintas di kebun keluarga kami, tiba-tiba si kontraktor menghentikan pembangunan tersebut. Jangankan membangun bak kontrol, drainase pun tak terselesaikan dengan maksimal. Drainase itu tidak berakhir di ujung tanah nenekku yang bersinggungan dengan Sungai Ciranggon, tetapi justru dibiarkan terputus begitu saja di tengah-tengah tanah. Kami mencoba mencari-cari keberadaan si kontraktor dengan maksud untuk menanyai kelanjutan pembuatan drainase, bahkan Pak Kadus telah turut membantu mencari si oknum. Tapi kami malah kehilangan kontak dan tak seorang pun yang bisa menyampaikan aspirasi kami.

Saluran drainase yang terputus karena pembangunannya yang tak selesai.

Saluran drainase yang terputus karena pembangunannya yang tak selesai.

Mula-mula, tak selesainya drainase itu tidak menimbulkan masalah karena dibuat pada musim kemarau. Tapi, saat musim hujan tiba, masalah mulai bermunculan. Bila hujan lebat, air Sungai Ciranggon meluap. Aliran air dari drainase pun deras memuara ke Sungai Ciranggon. Bayangkan jika hujan mengguyur Kabupaten Majalengka tiap hari di musim hujan! Apa yang akan terjadi dengan tanah di sekitar turunan drainase tersebut? Sekarang ini, keadaan tanah nenekku, telah rusak strukturnya. Bentuk dataran tanahnya melandai serupa selokan kecil yang menyatu dengan Sungai Ciranggon. Tanah kebun milik Pak Saidun, yang berada di belakang rumah Bu Anirem, sebelumnya menyatu dengan tanah nenekku. Karena kini terputus, kami terpaksa menggunakan batangan kayu kecil untuk melintas.

Kebunku Jadi Ciranggon_akumassa_03

Kami mendukung program pemerintah dalam bentuk apapun. Akan tetapi, kami hanya meminta agar pemerintah dapat menunjuk kontraktor yang tepat dan bertanggung jawab, yang bisa memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat dengan mempertimbangkan dampak dari program tersebut. Seperti yang pernah aku dengar, kejadian pembangunan program pemerintah yang direalisasikan secara tidak maksimal itu bukan hanya terjadi di kampung kami, tetapi juga di daerah lain.

Kebunku Jadi Ciranggon_akumassa_12

Perubahan zaman, yang salah satunya dapat dilihat dari pendirian bangunan-bangunan, memang menghilangkan lahan bermain bagi anak-anak. Tapi itu tak jadi masalah selama masih di jalur yang tepat, mendahulukan kepentingan umum dan memperhatikan kebersihan lingkungan. Lain halnya dengan peristiwa yang saya alami terkait pembangunan drainase itu. Bukan hanya mengikis kenangan tentang lahan bermain, tetapi juga mengikis keberadaan tanah tempat kami dahulu dapat memijakkan kaki dengan gembira.

About the author

Imas Masitoh

Imas Masitoh, adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kampung Wates. Lulusan sarjana ekonomi ini ikut aktif berkegiatan di workshop media di Kampung Wates dan mulai menulis narasi-narasi tentang lingkungan tempat tinggalnya.

Leave a Comment