Jurnal Kecamatan: Genteng Kota: Surabaya Provinsi: Jawa Timur

Interaktivitas Media: Merayakan Absurditas di Antara Kesadaran dan Kebiasaan

Foto: Cahyo Wulan Prayogo
Written by Otty Widasari
Pengantar Redaksi

Pada tanggal 24 – 28 Juli 2017, Wisma Jerman, Surabaya, bekerja sama dengan Forum Lenteng untuk mengadakan lokakarya filem bagi sepuluh orang partisipan muda yang berasal dari empat kota berbeda, yakni Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Tangerang. Dalam acara bertajuk Doc-Clinic itu, Wisma Jerman mengundang Otty Widasari dan Syaiful Anwar dari AKUMASSA, Forum Lenteng, sebagai pemateri lokakarya. Secara umum, kegiatan lokakarya itu berisi kegiatan berbagi informasi dan pengetahuan mengenai sejarah media, filem, dan perkembangan teknologi media masa kini. Para peserta kemudian merespon sejumlah isu untuk diangkat menjadi fokus karya yang mereka buat. Ada tiga karya video yang berhasil dibuat, yakni StoryPelancong Kota, dan We Are Stranger. Artikel berikut ini adalah catatan kuratorial Otty Widasari terkait acara presentasi ketiga karya tersebut, juga tentang gagasannya mengenai fenomena millenial dan perubahan-perubahan bentuk dari teknologi media kontemporer. Redaksi AKUMASSA memuat kembali catatan ini, dan foto-foto dokumentasi karya, atas izin penulis dan fotografer.

“Untuk memahami dunia, terkadang seseorang
harus berpaling darinya.”

Albert Camus (1939), “The Minotaur or The Stop In Oran”
dalam The Myth of Sisyphus and Other Essays, 1955.

Mengapa anak muda berhasrat membuat filem? Apakah sekadar untuk memenuhi hasrat dirinya sebagaimana mereka cukup puas memajang dirinya di laman media sosial? Barangkali juga karena melihat fenomena authorship atau ke-seniman-an yang masih menggairahkan dalam kisaran dua dekade ini? Sadarkah generasi akan situasi skena perfileman di Indonesia? Sadarkah mereka tentang di mana posisi pembuat filem dalam skena yang demikian luas dan tak bertatanan ini? Sudah tahukah generasi akan siapa yang berhak memberikan legitimasi padanya sebagai pembuat filem, selain dirinya sendiri? Siapa yang layak memberikan penilaian bahwa sebuah filem bisa dibilang baik atau buruk? Dari mana semua pengetahuan itu bisa didapat?

Suasana dari salah satu sesi brainstorming pada lokakarya dokumenter Doc-Clinic. (Foto: Cahyo Wulan Prayogo)

Berdasarkan pengalaman saya mengajar secara alternatif dan non-akademis selama hampir lima belas tahun ini, yang artinya saya bertemu dengan mereka yang disebut sebagai Gen Y, atau generasi milenial (yang lahir di kisaran tahun 1980-an hingga 1990-an), saya mendapati karakter generasi yang mengganti sensitivitasnya terhadap pencarian makna ke arah yang lebih performatif.

Para milenialis membuka matanya saat pertama lahir ke dunia dengan situasi yang berwarna, di mana semua warna tersebut berada dalam satu genggaman tangan bernama remote control. Maka si tombol kontrol ini yang selanjutnya mengembangkan dirinya sendiri sebagai ruang tradisi, yang merupakan wadah budaya yang dihidupi oleh sirkulasi para milenialis kemudian.

Suasana proses editing filem para partisipan lokakarya. (Foto: Cahyo Wulan Prayogo)

Sementara tradisi authorship dari era modern lalu masih menjejakkan kakinya dengan cukup mantap hingga kini, generasi millennium yang serba terhubung dan melegitimasi dirinya melalui jumlah follower dan like, sadar ataupun tidak, masih terpesona oleh tradisi authorship tersebut. Terbukti dengan besarnya minat menjadi pembuat filem di kalangan generasi muda sekarang ini.

Tradisi konsumsi yang terbangun di kalangan milenial mempercayai pembelian produk setelah melihat review atau testimoni yang dilakukan orang lain di internet. Maka wacana authorship filem yang naturalnya dihadirkan secara nyata, menjadi terasa begitu berat untuk dipahami sebagai pengetahuan.

Di era 1950-an, dalam ranah kritik filem berkembang teori yang menyatakan bahwa sutradara filem adalah sosok utama “Auteur” dalam pembuatan sebuah filem, di mana dia harus mengembangkan sisi kreatif pribadinya. Atau gampanganya, sutradara adalah seniman dari sebuah karya filem. Maka kecil peluang dia menyediakan ruang ego untuk berbagi posisi dengan orang lain. Dia dilingkupi dengan keterpusatan wacananya, yang dia bingkai menjadi sebuah karya. Dia sendiri sebagai individu adalah sebuah sentral.

Hal ini, kini,  bagi saya adalah sebuah friksi, yang bisa memberikan gambaran tentang karakter apolitis generasi yang terbiasa menerima afeksi melalui emoticon/emoji, #hashtag, pray for “sesuatu”, ataupun tersanjung oleh “tanda jempol”. Bagaimana seseorang yang bertradisi performatif, berekspresi sosial secara termediasi, menjadi bintang karena banyaknya jumlah follower yang memberi peluang menyumbangkan “like” terhadap tampilannya, harus membuat tampilan yang berada di ranah yang tidak secara langsung terhubung dengan respon di luar dirinya? Sementara, ranah di luar jaringan itu memiliki jenjang pengetahuan yang cukup berbeda, yang telah terlebih dahulu tersusun secara mapan sejak lahirnya modernitas.

Maka terjebaklah generasi ini di bawah kutukan mitos kontemporer yang bergulir dalam pesona zaman dan romantisisme akan semangat “kekinian”, yang mengharuskan generasi menjadi sepenuhnya pengguna (users), dan hidup bergulir sesuai dengan pengembangan diri teknologi itu sendiri. Padahal, kita semua tentu ingat bahwa teknologi adalah anak emas kapitalisme. Eksistensi yang terbangun atas dasar bagaimana penilaian subjek lain di ranah jejaring, dibenturkan dengan situasi nyata yang jelas mencirikan lokalitasnya. Ciri di dunia tidak terhubung itu, saat dibingkai, dia besifat satu arah. Sebuah filem diproduksi untuk ditampilkan dengan mentalitas satu arah. Dia hanya akan hadir di dunia maya untuk menjelma menjadi sebuah produk simulasi. Dia harus menanggalkan sifat-sifat lamanya yang sakral dan teatrikal, karena bahkan dia bisa ditonton dalam layar telepon pintar.

Bagaimana sebuah karya filem bisa menjadi demikian relevan untuk diminati kalangan muda, jika bisa dibilang para milenialis tidak percaya lagi kepada distribusi informasi yang bersifat satu arah. Mereka lebih percaya kepada user generated content (UGC) atau konten dan informasi yang dibuat oleh perorangan, dan berdialog secara peer-to-peer?

Suasana proses editing filem para partisipan lokakarya dokumenter Doc-Clinic. (Foto: Cahyo Wulan Prayogo)

Tradisi konsumsi yang terbangun di kalangan milenial mempercayai pembelian produk setelah melihat review atau testimoni yang dilakukan orang lain di internet. Maka wacana authorship filem yang naturalnya dihadirkan secara nyata, menjadi terasa begitu berat untuk dipahami sebagai pengetahuan.

Saat filem ditayangkan melalui proyeksi ke sebuah permukaan layar, butuh kemauan lebih untuk tidak tetap menunduk—meng-update-diri—berselancar sosial. Tidak lagi sakral, tidak lagi terkonsentrasi, dan tidak lagi istimewa tayangan ini, saat filem harus berpindah-wujud menjadi karakter yang tidak sentral sebagaimana karakternya saat dia dilahirkan lebih dari seabad lalu.

Lalu di mana posisi pembuat filem di era milenium ini?

Mungkin dia berada di situasi pencarian makna yang sia-sia oleh manusia, dalam menghadapi dunia yang tidak dapat dipahami.

Menggunakan analogi dari mitologi Yunani, saat Sisifus harus menjalankan kutukannya menggulingkan batu karang ke atas bukit kemudian menggulingkannya kembali ke bawah, Albert Camus melihatnya bukan sebagai kesia-siaan, melainkan sebuah perjuangan, karena menurutnya perjuangan sudahlah cukup untuk mengisi hati manusia. Maka kita harus membayangkan Sisifus bergembira, bukan terkutuk. Mungkin kita harus bergembira merayakan teknologi dan aplikasi hari ini, dibanding menjadi pengguna berat yang dimanfaatkan oleh ranah kapital. Mari bayangkan absurditas mendorong-dorong batu ke atas gunung untuk digulingkan kembali ke bawah sebagai sebuah perjalanan bolak-balik kerja media yang absurd, yang menyetir manusia milenium untuk terus bergulir sebagai user tanpa peduli apa yang sedang dilakukannya. Yang dibutuhkan adalah pemberontakan, karena ada bentangan sejumlah pendekatan terhadap kehidupan yang absurd. Jangan-jangan, pendekatan tersebut, terhadap hidup yang absurd mana pun, yang kemudian menjadi tradisi, adalah dengan pendekatan yang bisa mengganggu atau memprovokasi kebiasaan tersebut.

Suasana presentasi publik tiga karya video hasil lokakarta dokumenter Doc-Clinic. (Foto: Cahyo Wulan Prayogo)

Mungkin kita harus melihat dengan perspektif bahwa, sesuai sifat dasarnya, manusia terus mencari makna dalam kehidupan dan perjuangan itu dibingkai dalam karya-karya yang mencoba melihat hubungan dunia absurd dengan pendekatan absurd lainnya. Karena absurditas adalah alasan jernih untuk mengingatkan kita akan batas-batas. Karena manusia hidup bertatapan dengan berbagai hal yang tak masuk akal, tentunya dia merasakan kerinduan pada kebahagiaan yang disebabkan oleh akal. Aksi-aksi kreatif, yang jika terus diaktivasi menjadi kebudayaan, akan menebas belantara ketidaktahuan. Inilah mengapa sebuah ciptaan atau karya yang berpengetahuan adalah sebuah hadiah indah bagi masa depan. Mungkin para pembuat filem milenial bisa mewacanakan hal ini melalui karya-karyanya.

Evaluasi lokakarya usai presentasi publik Doc-Clinic. (Foto: Cahyo Wulan Prayogo)

Maka, hari ini di Surabaya, ada interaksi kota yang mencirikan sedikit banyak lokalitasnya, sedangkan di media sosial, absurditas interaksi berkelindan dengan bingkaian-bingkaian makna yang terus dicari oleh subjek-subjek. Itu semua tak terlepas dari kutukan “kekinian” yang mendorong manusia menjadi user sepenuhnya.

Hari ini di Surabaya, aksi memindahkan interaksi sosial nyata di keseharian, ke interaksi representatif yang digerakkan oleh kekuatan media, adalah kerja kreatif membingkai perjalanan bolak balik presentasi menjadi representasi.

Maka hari ini di Surabaya, mari kita merayakan bingkaian kerja media yang absurd itu dengan melakukan dialog yang sadar menggunakan gestur teknologis yang menyelinap ke dalam gestur sosial, lalu bertatapan, kemudian menghadirkan narasi dari kisah-kisah anonim.

 

Surabaya, 28 Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About the author

Otty Widasari

Otty Widasari adalah Koordinator Program akumassa di Forum Lenteng dan pemimpin redaksi akumassa.org. Sebelumnya ia pernah menjadi wartawan di surat kabar dan tabloid, kemudian beralih menjadi art director TV commercial. Selain itu, ibu satu anak ini yang memiliki pengalaman membuat film dokumenter sejak tahun 2001 ini, juga aktif memberi workshop video di berbagai macam daerah di Indonesia.

Leave a Comment