Tajuk

Habis Sekolah, Mau Ngapain?

Salah seorang anggota Forum Lenteng, Ageung,  baru kembali ke Lenteng Agung. Beberapa hari ini dia pulang ke kampungnya di daerah Parung Kuda, Sukabumi untuk menjenguk keluarganya.

SD Malabar, Sekolah Rakyat pertama di Pangalengan
School voor kinderen van arbeiders van Theeonderneming Malabar, West-Java, yang kini bernama SD Malabar 2, Sekolah Rakyat pertama di Pangalengan

Dia bercerita, betapa leganya dia karena adik perempuannya yang bernama Alit, berhasil lulus dari SMU, sementara dia menyaksikan berita di televisi yang mengatakan banyak sekali siswa SMU yang tidak lulus, bahkan sampai menimbulkan kerusuhan di beberapa daerah. Ada peristiwa di beberapa kota di Indonesia di mana para siswa SMU yang tidak lulus mengamuk dan menghancurkan sekolah.

Ageung sebelumnya sangat mengkhawatirkan perihal lulus tidaknya adiknya dari SMU,  karena menurut dia, sekarang ini tidak bisa kita pastikan kalau kita pintar dan rajin belajar, sudah pasti lulus dari Ujian Nasional. Terbukti, teman adiknya selalu mendapat peringkat teratas di kelas, tidak lulus dan sangat frustasi karena hal tersebut.

Saya coba mengutip sedikit isi Tajuk Rancana Harian Kompas hari ini, 1 Mei 2010, yang berbunyi :

Kita setuju hasil ujian nasional sekolah menengah atas dengan kenyataan melorotnya presentase kelulusan dievaluasi. Perlu ditemukan akar masalahnya. Tidak hanya perlu tidakya ujian nasional, tetapi terutama penyegaran tujuan menyelenggarakan pendidikan lewat sekolah. Berarti pula berani menempatkan lembaga pendidikan sebagai bagian utama dari upaya pembangunan Negara dan dan karakter bangsa.

Praksis pendidikan dan hasil didik tidak seluruhnya tergantung dari sekolah. Di sana ada kesempatan strategis menghadapi rusaknya habitat. Ketika di sekolah tidak lagi dibiasakan kejujuran, tertanamlah benih koruptif-dan terjadilah seperti yang hari ini riuh di media.

Ki Hadjar Dewantara, salah satu bapak bangsa, Menteri Pendidikan pertama yang hari lahirnya ditabalkan sebagai Hari Pendidikan 2 Mei, niscaya menangis. Tidak oleh semakin susutnya obor lembaga pendidikan Taman Siswa, tetapi terutama oleh pupusnya kebangsaan sebagai bangsabermartabat. Pemerintah dan kita mengabaikan kesempatan membangun karakter dan martabat bangsa itu.

Seorang Staf Ahli Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Yudil Chatim, mengatakan, “Makin tinggi tingkat pendidikan ternyata tak mencerminkan kepercayaan diri tenaga kerja di Indonesia. Fenomena menarik, justru yang tak tamat SD bisa membuat usaha sendiri dan mempekerjakan orang lain mencapai sekitar 15 persen. Sementara lulusan perguruan tinggi yang bisa melakukan hal serupa hanya 3,2 persen. Sekitar 83 persen sarjana hanya menjadi buruh atau karyawan.”

(Dikutip dari website: http://indocultural.wordpress.com/2009/04/29/pendidikan-kita-hari-ini-hanya-mencetak-buruh/)

Dr Ir V Priyo Bintoro, seorang praktisi perguruan tinggi swasta mengemukakan, kalangan dunia usaha sangat berharap lembaga pendidikan tinggi melahirkan alumni yang secepatnya mampu menyesuaikan dengan kebutuhan tiap profesi dalam berbagai lowongan pekerjaan.

Keberhasilan atau kegagalan LPT (Lembaga Pendidikan Tinggi) sangat kompleks terkait kebijakan ekonomi dan peluang tenaga kerja. Namun tren yang terjadi, kecenderungan pengangguran terbuka oleh tenaga terdidik diperkirakan meningkat.

Jumlah pengangguran terbuka 2005 diproyeksikan 11,19 juta atau 10,45 persen dari jumlah angkatan kerja sebanyak 107,1 juta. “Data itu menunjukkan pengangguran intelektual sekitar 12,1 persen atau 1,3 juta orang. Mereka para sarjana itu memerlukan masa tunggu enam hingga tiga tahun sebelum memperoleh pekerjaan tetap.”

(Dikutip dari website: http://indocultural.wordpress.com/2009/04/29/pendidikan-kita-hari-ini-hanya-mencetak-buruh/)

Mungkin kekhawatiran Ageung tentang kelulusan adiknya sudah lewat dan tak menjadi persoalan. Namun, kekhawatiran akan kelanjutan masa depan adiknya setelah mengenyam dunia pendidikan, sepertinya akan menjadi isi kepala Ageung berikutnya. Karena isu pendidikan di manapun, khususnya di Indonesia, tidak akan pernah lepas dari persoalan tenaga kerja.

Saat ini adik Ageung sudah bekerja sebagai buruh perempuan di sebuah pabrik di kawasan Parung Kuda, Sukabumi. Bahkan dia sudah menjadi buruh di sana untuk bekerja magang sejak selesai ujian nasional. Dan itu pun memang disalurkan oleh si sekolah sendiri.

Setiap tahun, di masa kelulusan siswa SMU, datanglah bursa tenaga kerja yang bisa menyalurkan siswa-siswa utuk kerja di pabrik-pabrik. Daerah Parung Kuda memang merupakan kawasan yang dipadati pabrik-pabrik milik perusahaan Korea. Kemudian sekolah menanyakan siapa siswa yang mau bekerja magang di pabrik. Dari angkatan adik Ageung ini terjaringlah 40 siswa. Kemudian mereka mendapatkan tawaran lagi, apakah mau bekerja tetap kemudian di pabrik. Lalu dipisahkanlah antara siswa magang yang berminat melanjutkan kerja di pabrik dengan yang masih berpikir untuk melanjutkan ke jenjang kuliah. Bagi yang ingin melanjutkan kerja di pabrik akan ditempatkan di bagian unit dan bekerja dengan target tertentu. Sedangkan Alit yang termasuk dalam kelompok ‘masih pikir-pikir untuk kuliah’, ditempatkan di bagian operator perakitan tanpa target. Upah yang mereka terima sebesar 520.000 rupiah perbulan, selama 2 bulan.

Akhirnya saya sebagai warga Negara memiliki sebuah pertanyaan besar: Apakah pilihan yang diberikan oleh lembaga pendidikan di negeri ini? Menjadi buruh/pekerja, atau sebagai pendewasaan individu yang diharap mampu membuat  peluang kerja sendiri atau menjadi tenaga kerja (buruh) yang kritis terhadap kondisinya.

(Di luar sana demo buruh yang sedang merayakan Hari Buruh Internasional terus berlangsung hari ini dengan tuntutan yang awalnya seputar kesejahteraan buruh, penghapusan sistem outsourcer, dan kudengar janji salah satu koordinatornya dalam wawancara di radio pagi tadi adalah melakukan aksi damai karena mencari simpati masyarakat dan semua ini dilakukan untuk kesejahteraan rakyat, serupa dengan janji pemerintah selalu).

Otty Widasari

About the author

Otty Widasari

Otty Widasari adalah Koordinator Program akumassa di Forum Lenteng dan pemimpin redaksi akumassa.org. Sebelumnya ia pernah menjadi wartawan di surat kabar dan tabloid, kemudian beralih menjadi art director TV commercial. Selain itu, ibu satu anak ini yang memiliki pengalaman membuat film dokumenter sejak tahun 2001 ini, juga aktif memberi workshop video di berbagai macam daerah di Indonesia.

Leave a Comment

2 Comments

  • “Sebagian besar penduduk negara maju adalah tenaga kerja terdidik yang bekerja di bidang nonagraris (industri, perdagangan, dan jasa).” (diktuip dari http://www.crayonpedia.org/mw/PERKEMBANGAN_NEGARA-NEGARA_DIDUNIA_9.1_RATNA_SUKMAYANI)

    kalau mau negara ini maju, seharusnya Pemerintah lebih mendahulukan keinginan masyarakat untuk menempuh jenjang pendidikan hingga universitas.

    Saya sendiri malah terheran-heran:
    “Setiap tahun, di masa kelulusan siswa SMU, datanglah bursa tenaga kerja yang bisa menyalurkan siswa-siswa utuk kerja di pabrik-pabrik. Daerah Parung Kuda memang merupakan kawasan yang dipadati pabrik-pabrik milik perusahaan Korea. Kemudian sekolah menanyakan siapa siswa yang mau bekerja magang di pabrik.”

    masa sekolah mendorong siswa/i nya untuk menjadi buruh pabrik? Kapan negara ini bisa maju?

  • “Orang yang tak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa yang tak pernah selesai. Tapi lebih ironis bila pengangguran itu banyak dari kalangan sarjana. Ini menarik didiskusikan. Apalagi mengingat bahwa dalam laporannya, UNDP (badan dunia untuk program pembangunan) melihat pola pengangguran di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sebagai fenomena unik. Sebab, ternyata tingkat pengangguran lebih banyak ditemukan di kalangan mereka yang mengenyam pendidikan tinggi. Fenomena Ini menjadi tanda tanya besar bagi kita.

    Ada 3 hambatan yang menjadi alasan kenapa orang tak bekerja, yaitu hambatan kultural, mutu dan relevansi kurikulum pendidikan, dan pasar kerja. Hambatan kultural menyangkut budaya dan etos kerja.

    Sementara masalah kurikulum pendidikan adalah belum adanya mutu dan re-levansi kurikulum pengajaran di lembaga pendidikan tinggi yang mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian sumber daya manusia (SDM) yang sesuai kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan rendahnya kualitas SDM untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.

    Namun fakta cenderung menunjukkan, sistem pendidikan Indonesia (perguruan Unggl/PT) jauh lebih produktif dalam mencetak lulusan ketimbang lapangan kerja yang tersedia. Contoh, banyak perguruan tinggi negeri (PTN) dengan arogan membuka Jalur ekstensi dan D3, meski kenyataannya kampus tersebut tak memiliki sarana pendidikan dan dosen yang sebanding dengan jumlah mahasiswanya.

    Pesan ilustrasi di atas bahwa dalam menyelesaikan masalah, perlu mendahulukan yang paling besar (prioritas). Dalam dunia pendidikan, masalah terbesar yang mesti Jadi prioritas penyelesaian adalah kualilas dan mutu. Artinya, kualitas sistem dan metode pendidikan, dosen, kesejahteraan tenaga pendidik, metode mengajar, dan infrastrukturnya.

    Dalam banyak hal patut kita cermati, peningkatan kualitas pendidikan adalah sebagai titik penentu yang mempertinggi kesempatan orang-orang terdidik memperoleh pekerjaan. Itulah masalah yang perlu kita atasi segera. (Hendrizal SIP adalah Dosen FKW-PGSD Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Sumbar)”

    dikutip dari http://bataviase.co.id/detailberita-10494879.html