DKI Jakarta

Gong Xi Fat Cai

Rinai hujan sempat turun membasahi di tahun baru Imlek ke-2561, hal tersebut dapat terlihat dari sisa genangan air, juga sejumlah sumbu liln-lilin yang terpaksa di matikan dan ditutupi dengan plastik air di Vihara Amurva Bumi, Petak 9, Jakarta, Minggu (14/2).

Gong Xi Fat Cai 1

Seorang warga keturunan Tionghoa sedang sembahyang di Vihara Amurva Bumi

Hal tersebut tidak mengurungkan niat warga keturunan Tionghoa untuk melakukan sembahyang leluhur yang telah menjadi tradisi turun temurun. Ritual tersebut dipercaya sebagai wujud bakti seorang anak terhadap orangtua mereka (baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal). Jelas saja sejak tahun 2003 Imlek resmi disetarakan sebagai hari libur nasional yang berarti sejajar dengan perayaan Hari Natal dan Lebaran.

Imlek berasal dari bahasa Hokkian Selatan, berarti “penanggalan bulan”. Jadi, kata Imlek sebenarnya mengacu pada nama penanggalan yang didasarkan perhitungan bulan (lunar), yang dalam bahasa Mandarin disebut yinli. Dengan demikian, istilah Tahun Baru Imlek berarti “Tahun Baru Menurut Penanggalan Bulan”.

Gong Xi Fat Cai 2

Nuansa merah dan kuning keemasan sangat kental ketika memasuki Vihara, puluhan lilin-lilin besar pun ikut menerangi Vihara. Hal yang paling tidak terelakkan adalah asap dari hio (dupa) maupun bakaran persembahan yang menyelimuti seluruh ruangan. Aku sempat terkejut ketika melihat tidak sedikit dari warga Tionghoa tersebut yang mengenakan kacamata renang. Pasalnya, asap tersebut terasa sangat perih di mata sampai-sampai bisa meneteskan air mata.

Gong Xi Fat Cai 3

Memakai kacamata renang untuk menghindari asap hio yang pedih di mata

Memakai kacamata renang untuk menghindari asap hio yang pedih di mata

Puluhan patung dewa-dewi mereka sembah secara bergiliran, sembari membawa sajian berupa buah-buahan, makanan, dan hio. Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Mereka juga membacakan doa-doa berikut segudang harapan agar diberikan rejeki di tahun 2010 ini yang mereka kenal sebagai shio macan.

Gong Xi Fat Cai 6

Namun ada yang berbeda di tahun ini, puluhan pengemis yang sudah antri uang sedekah mulai dari pintu masuk hingga di depan Vihara merasa kecewa. Pasalnya angpau (hadiah berisi uang yang dibungkus dengan sampul merah dan ditukarkan ketika musim perayaan atau peristiwa khas dalam masyarakat Cina–Wikipedia)yang mereka terima di tahun ini jumlahnya jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Mereka hanya berhasil meraup puluhan ribu saja, padahal tahun lalu mereka bisa mendapat angpau hingga sepuluh kali lipat lebih banyak dari tahun ini. Dan tidak semua dari mereka mendapat 1 liter minyak goreng yang dibagikan.

Perayaan Imlek menjadi peluang ekonomi bagi para dhuafa

Perayaan Imlek menjadi peluang ekonomi bagi para dhuafa

Gong Xi Fat Cai 5

Angpau sendiri memiliki makna transfer kesejahteraan atau energi, namun hal tersebut dijadikan ajang untuk mencari rejeki tahunan bagi kaum dhuafa saat Imlek tiba.

Gong Xi Fat Cai 7

Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan persembahyangan kepada Sang Pencipta. Dan, lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan Cina di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate dan sambal docang. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai. “Gong Xi Fat Cai…”



About the author

Avatar

Agung Natanael

Agung “Abe” Natanael dilahirkan di Jakarta pada 12 Desember 1982. Lulus sebagai Sarjana Sosial di bidang Jurnalistik dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta. Bersama kawan-kawan satu kampusnya ia mendirikan Tanahijau, sebuah komunitas mahasiswa di Jakarta yang bergiat di wilayah jurnalistik seni dan budaya di tahun 2001. Lalu di 2003, ikut mendirikan Forum Lenteng dan terlibat di Massroom Project—Proyek 9 video dokumenter tentang Jakarta yang dibuat oleh Forum Lenteng. Sebagai Pecinta Alam, ia juga aktif di lembaga konservasi alam untuk anak (KELANA) di 2003-2004. Beberapa tahun ini ia fokus untuk menjadi seorang fotografer jurnalis, ia pernah bekerja sebagai reporter berita harian di Media Kota News–Bekasi (2002), Magang di Harian Koran5–Jakarta (2005), kontributor foto di Majalah Kesehatan “Family Doctors” (2005) dan Majalah Bung–Jakarta (2012). Di sela kesibukannya ia juga menjadi pemateri untuk workshop-workshop fotografi.

1 Comment

  • Informasi tentang Angpau jelas menarik. Tetapi aku khawatir dengan tampilan image tulisan ini. Perayaan imlek di lebak sedikit berbeda, biasanya warga setelah pulang dari tempat ibadahnya membuka lebar pintu halaman rumahnya. Mempersilahkan siapapun untuk masuk dan keluar. Makanan banyak tersaji dan kue-kue perayaan di antarkan ke tetangga-tetangga tanpa melihat perbedaan. Aku dan kawan lainnya sering sekali menikmati kue-kue buatan mereka sambil ngobrol selintas tentang peristiwa sehari-hari.
    Dodol cina ajib euy..

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.