Bernas Kali Ciujung Provinsi: Banten

Eretan Penghubung Kampung

Written by Fuad Fauji

CAM04315

Anak sungai-sungai kecil dari wilayah pedalaman di Lebak mengalir, membentuk sungai besar, melintasi pusat kota dan akan berakhir di Tirtayasa, daerah timur Kesultanan Banten lama. Ujung muara sungai akan berakhir di Laut Selat Sunda. Di Serang, tepian muara sungai sangat terkenal dengan tambak ikan bandeng. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, hampir seluruh jalur-jalur sungai di Banten dalam kontrol penuh kerajaan untuk kepentingan pengangkutan lada di daerah pedalaman. Dari sekian banyak sungai di Banten, Sungai Ciujung tercatat dalam proyek besar Sultan, seperti dikutip dalam buku Sejarah dan Peradaban (Abad X-XVII) pada bagian kronologi proyek-proyek besar pertanian di Banten tahun 1675-1677. Dituliskan pula bahwa pemukiman di tepian sungai tumbuh subur di Banten, terutama Sungai Ciujung.

Pada masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, dilakukan pembuatan proyek pertanian di seluruh tepian sungai. Tiap-tiap tepian sungai ditanami pohon kelapa, dibuat parit-parit pengairan untuk sawah dari sungai hingga membelokan air ke arah Tirtayasa yang baru saja dibangun sebagai wilayah khusus pertanian pengganti lada. Dalam buku Sejarah dan Peradaban (Abad X-XVII) juga dijelaskan bahwa Pemerintah Banten mengerahkan begitu banyak tenaga dalam pembangunan daerah pedalamannya di bawah pemerintahan Sultan Ageng, bukan hanya untuk mengatasi masalah penyediaan bahan-bahan makanan, yang akan dibahas lebih lanjut di sini. Salah satu alasan yang menentukan pelaksanaan proyek-proyek besar ini jelas adalah soal keamanan dan pertahanan negara menghadapi tentara Belanda di Batavia yang hampir tak henti-hentinya menjadi musuhnya yang utama sejak tahun 1619 sampai 1659. Saat itu Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia (Jakarta) begitu khawatir terhadap pembangunan masif sungai-sungai yang memudahkan pengangkutan hasil bumi dari pedalaman Banten.

Diakses dari situs web Tropenmuseum.

Diakses dari situs web Tropenmuseum.

Bagi Belanda, proyek ‘pengairan’ sangat memungkinkan untuk mengangkut orang. Prediksi mereka adalah, sangat mungkin proyek ini kelak difungsikan untuk pengangkutan pasukan yang akan mengancam kekuasaan pemerintah jajahan di Batavia. Pengerjaan pengairan dari sungai-sungai di Banten untuk pertanian dibarengi dengan penempatan penduduk yang mengelola lahan pertanian.

“Kekhawatiran mereka tentunya beralasan. Tidaklah kebetulan kalau memindahkan penduduk yang pertama, berjumlah kira-kira dua puluh ribu orang, artinya hampir sebanyak penduduk Batavia pada waktu itu, berlangsung segera setelah penandatanganan perjanjian perdamaian yang diputuskan dengan setengah hati oleh orang Banten yang merasa dipaksa menerima diktat-diktat perdagangan tertentu oleh Batavia: larangan berdagang di Maluku, misalnya, dan di wilayah yang benar-benar terletak di perbatasan antara kedua negara. Saat itu, Kesultanan Banten terus menganggap bahwa Batavia sebagai musuh yang utama dan paling berbahaya.” Begitulah salah satu yang saya kutip dari buku Claude Guillot, berjudul Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII (diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia dan Ecole francaise d’Extreme-Orient, 2008).

Hulu di Tjioedjoeng di Rangkasbitoeng , di tempat di mana jalur kereta api di Batavia ke Banten untuk datang. Diakses dari situs web Tropenmuseum.

Hulu di Tjioedjoeng di Rangkasbitoeng , di tempat di mana jalur kereta api di Batavia ke Banten untuk datang. Diakses dari situs web Tropenmuseum.

Rasa benci yang dalam terhadap pemerintah kolonial tumbuh subur dan turun temurun dalam masyarakat Banten. Sungai memungkinkan perjalanan lebih cepat dari satu kota ke kota lainnya. Teks Claude Guillot menyebutkan tidak ada bukti yang jelas mengenai keinginan Kerajaan Banten untuk membuat daerah sungai sebagai jalur distrik militer. Akan tetapi jejak-jejak proyek besar itu hingga kini masih bisa ditemui. Dapat dilihat pada Google Earth, jalur sungai tampak mengiris daratan mulai dari Tangerang, Lebak, Pandeglang, Serang dan Cilegon. Saya terkagum-kagum dengan luas area pesawahan di daerah Pontang dan Tirtayasa. Blok-blok pemukian sepanjang tepian sungai dari Lebak hingga Tirtayasa menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.

***

Pada tahun 1990-an, kampung tetangga, Babakan Seeng, yang juga didominasi para pedagang, turun ke sungai setiap pagi untuk menyeberang ke Kebon Kopi, sekarang daerah pasar, di mana warga pulang-pergi ke Pasar Pagi. Mula-mula mereka hanya menggunakan Sungai Ciujung untuk keperluan mandi-cuci-kakus dengan getek (rakit) yang berjejer di sepanjang tepian sungai. Selain itu, getek juga menjadi alat transportasi penyeberangan yang efektif dan efisien. Bagi warga, transportasi getek bisa menghemat waktu menuju pasar. Jika berjalan kaki harus memutar arah melalui Jembatan Dua. Kini warga kampung masih mempertahankan penyeberangan tradisional dengan rakit bambu dari satu kampung ke kampung lainnya. Saya masih menemukan penyeberangan tradisional ini berada di perbatasan Kampung Lebak Pasar dan Kebon Kopi walaupun hanya tinggal beberapa rakit. Sementara di daerah Kampung Kebon Kelapa, Kampung Muara, Kampung Jeruk, Kampung Lebak Picung, Kampung Lebak Sambel dan beberapa daerah lainnya di tepian sungai, sudah tidak lagi ditemukan transportasi tradisional getek.

Kampung Lebak Pasar.

Kampung Lebak Pasar.

Menurut keterangan Enjat, seorang tukang eretan, puncaknya musim penyeberangan warga kampung adalah sekitar tahun 1970-an. Tapi dari beberapa bacaan dan hasil penelusuran, memberikan penjelasan lain. Pada masa kekuasaan Pemerintah Kolonial, daerah ini hanya perkebunan kelapa. Sekilas tidak tampak jelas bagaimana awal mula warga membangun pemukiman di tepian Sungai Ciujung. Saya menemui lembaga pemerintahan tingkat terendah (kelurahan) untuk mencari keterangan lebih lanjut. Kelurahan menyebutkan bahwa dari tahun ke tahun, tepian sungai dipenuhi pemukiman baru dari luar Lebak. Semakin banyak warga, maka semakin banyak pula orang mau menyeberang menggunakan eretan.

Kampung Lebak Pasar adalah salah satu daerah pemukiman padat di Rangkasbitung. Sebelum bernama Kampung Lebak Pasar, dulunya daerah ini terkenal dengan sebutan Kampung Pacinan. Letaknya berada di samping Jembatan Dua, daerah tepian Sungai Ciujung. Daerah perkampungan yang dulunya merupakan pasar pertama di Rangkasbitung. Rumah-rumah di Lebak Pasar, bangunannya disebut orang-orang bangunan ‘setengah badan’ alias tampak seperti setengah jadi. Orang Rangkas menyebutnya model rumah Jawa. Disebut rumah Jawa, karena lantai rumah terbuat dari semen dengan pondasi yang dibangun di atas tanah. Umumnya, masa itu rumah-rumah di Rangkasbitung masih berupa rumah panggung. Dinding rumah terbuat dari bilik bambu dilapisi kapur sirih berwarna putih. Sekilas seperti tembok bermotif. Sedangkan rumah masyarakat yang tidak berpunya biasanya membiarkan tanah sebagai lantai. Pemandangan model rumah seperti itu biasanya jadi bahan tertawaan kawan-kawan yang berasal dari Cilegon dan Serang di masa sekolah dulu. “Kok, umah mewah ning Rangkasbitung temboke bilik pring…?” (Kok, rumah mewah berdinding bilik dapur?) ejek mereka. Padahal, model rumah ini pernah jadi idola warga Rangkasbitung tahun 1950-an. Kalau hari raya besar tiba, warga sibuk memperbaiki dinding dengan kapur sirih. Saat itu, belum ada cat tembok. Rumah-rumah Jawa kini sangat sulit ditemukan di Rangkasbitung, khususnya di Lebak Pasar.

Menurut Pak Iyang, orang yang dituakan di Kampung Lebak Pasar, pada tahun 1940-an kebanyakan warga Kampung Pacinan adalah pendatang. Mereka berasal dari Serang Timur, bekerja menjadi kuli angkut air dari Sungai Ciujung. Memasok air bersih untuk keperluan warga satu kampung. Biasanya air bersih dipikul menggunakan kaleng drum. Waktu itu belum ada pompa air atau Perusahaan Air Minum milik pemerintah. Saat itu, hanya ada satu sumur air milik seorang ibu yang bekerja di pemerintahan, letaknya di samping jembatan. Semua orang pasar harus mengantri untuk ambil air bersih. Dulu, Sungai Ciujung bening, namun saat banjir warna air sungai menjadi keruh. Kota Rangkasbitung sendiri pernah mengalami musim kemarau selama sembilan bulan. Warga kampung Pacinan akhirnya memasang drum di tengah sungai untuk saringan air bersih.

Pak Iyang (kiri).

Pak Iyang (kiri).

Daerah Lebak Pasar, dulu, termasuk wilayah sektor 1 (daerah yang berada di bawah kontrol militer pada masa kerusuhan PKI), di masa transisi rezim Orde Lama ke Orde Baru. Misinya menangkap garong (pencuri), jawara dan gerombolan yang membuat kerusuhan di pusat pasar. Biasanya, mereka menyamar menjadi warga untuk menyelidik orang-orang yang sedang ngobrol membicarakan kejelekan pemerintah. Kabarnya, seringkali pasokan beras di Rangkasbitung dirampas oleh partisan PKI (Partai Komunis Indonesia). Gentingnya pusat kota membuat Presiden Soeharto menempatkan tentara di Kampung Pacinan. Di tiap rumah harus ada, setidaknya, empat tentara berpangkat letnan. Para pekerja toko Baba Cikong di Pacinan diminta untuk bekerja di tempatnya Mayor Abdulrahman untuk jadi informan pemerintah. Sebab, Mayor Abdulrahman adalah yang mengendaikan informan se-kabupaten Lebak. Kehidupan para kuli pasar seperti anak ayam yang tidak berinduk. Tidak punya ibu dan bapak, dan kerjanya keluyuran.

Pak Iyang juga menjelaskan kalau dekat tepian sungai dulunya terdapat rumah Almarhum KH. Abdullah yang merupakan tokoh agama di Rangkasbitung. Orang tuanya dulu bekerja di Perusahaan Jasa Kereta Api. Semasa hidup, beliau suka berkhotbah tentang perlawanan terhadap penjajah.

“Nah…! Itu yang lagi duduk, putranya, Pak Juhro, ketua RT,” Kata Pak Iyang.

Kampung Lebak Pasar hanya memiliki dua Rukun Tetangga (RT). Satu RT bisa dihuni sampai 20-30 kepala keluarga. Sekarang, Pak Juhro sudah sepuh. Umurnya sudah 80 tahun lebih. Sudah sakit-sakitan dan kalau bicara suka tidak nyambung. Jadi, kalau mau jelas cerita kampung ini, ya, harus menemui beliau. Saya agak sungkan menemuinya. Padahal, saya membutuhkan keterangan tambahan untuk pembahasan tentang jalur-jalur penyeberangan di Sungai Ciujung.

Pertokoan Lama di Lebak Pasar.

Pertokoan Lama di Lebak Pasar.

Pada tahun 1950, posisi Pasar Lama saat itu berhimpitan dengan terminal angkutan jurusan ke beberapa kecamatan di Lebak. Sementara itu, di bawah pasar terdapat rakit-rakit untuk penyeberangan, menyatu dengan pasar bambu. Di bawah pasar (tepian sungai), tiap malam Rabu selalu ada pasar bambu. Penjual bambu berdatangan dari Gunung Kencana, Sajira dan Cimarga dan kampung lain yang berasal dari hulu sungai.

“Kakeknya saya bercerita bahwa Lebak Pasar adalah pasar dan tempat awal mula persebaran Islam di Rangkasbitung yang dibawa oleh Syaikh Muhammad Nawai al-Jawi al-Bantani dan muridnya Haji Abdul Karim dari Tanara,” kata Pak Iyang menceritakan kesaksiannya. “Para kyai dari Tanahara, Serang, mengembara ke Kampung Lebak Pasar, ‘ngumbara’ menyebarkan agama Islam. Mereka menggunakan perahu menyusuri sungai dan ada pula yang melalui daratan. Di samping batang pohon asam dekat jembatan kini tidak ada bekas pasar bamboo.”

Kini, yang bisa saya lihat hanya pemandangan tampian (pemandian umum tempat warga mencuci dan mandi di tepi sungai) saja. Saksi sejarah yang tahu persebaran Islam dari Tanahara sudah tidak ada. Dulu daerah ini adalah daerah getek (tampian dan penyeberangan). Mobilitas getek ini bisa sampai ke Serang. Dari Pamarayan tembus ke Keragilan. Dari sana, ada cabang sungai yang mengalir ke beberapa wilayah sekitar Banten. Selain bisa ke muara sungai dekat laut di daerah Tirtayasa, ada juga jalur masuk ke daerah Banten lama dan tembus ke Karangantu. Jika terus mengikuti jalur sungai, maka akan sampai ke Kawedanaan Serang Lama. Untuk pilih jalur sungai lainnya, bisa masuk lewat aliran sungai irigasi di daerah Cisangut. Pendapat ini masih perlu dikuatkan dengan data. Sebab, sulit sekali mencari teks pendukung mengenai persebaran Islam di kampung Lebak Pasar, tanpa menyepelekan keterangan sejarah lisan warga. Daerah Lebak Pasar sekarang dihuni warga Muslim dan Tionghoa. Aktifitas di tiap harinya adalah berdagang di pasar. Kampung ini dulunya memiliki Kyai besar yang berasal dari Tanahara, bernama KH. Rais, seorang tokoh Nahdlatul Ulama yang dihormati warga Pacinan.

Terminal angkutan Leuwidamar, Sajira, Warung Gunung, Gunung Kencana dan beberapa daerah lainnya menyatu dengan Kampung Pacinan. Sekarang, terminal sudah tidak ada dan daerah ini berubah menjadi Kampung Lebak Pasar. Saat itu, pasar masih terletak di samping Jembatan Dua. Dulu, jembatannya cuma satu, jadi bagi pejalan kaki dan penunggang sado harus antri menunggu kereta melintas jembatan sebelum menyeberang. Ketika perang dengan Jepang usai, dan agresi Belanda kedua datang, jembatan yang menghubungkan Lebak Pasar dengan Lebak Sambel dibangun ulang. Pembangunan jembatan tidak pernah selesai karena pemborongnya selalu saja kabur tidak menyelesaikan pekerjaan hingga ada orang yang akhirnya mau menyelesaikan proyek pembangunan jembatan.

“Setahu saya, dia adalah Raden Pito. Salah satu keluarga dari kalangan menak (ningrat) di Rangkasbitung,” kata Pak Iyang. “Rumahnya berada di persimpangan Jalan Surapati 2 (sekarang Jalan Sunan Kali Jaga) dan Multatuli. Dikenal sebagai pemilik bangunan pertokoan bertembok di Kampung Pacinan atau Kampung Tionghoa.”

***

Eretan adalah penghubung kedua kampung, antara Kampung Bababakan Seeng dan Lebak Pasar. Konflik warga tentang eretan dan jalur operasi terjadi karena terlalu banyak tukang eretan, sedangkan penumpangnya hanya berasal dari dua kampung saja. Suka tidak suka, ada saja keributan. Tahun 1990 pernah terjadi keributan hingga meluas menjadi keributan antar kampung. Hingga akhirnya dibuatlah kesepakatan antara kedua kampong, yakni membuat peraturan ngetem-angkut-sewa (mengantri). Biasanya, tukang eretan yang sudah tua menghindar dari keributan. Pemicu keributan tidak jauh dari persoalan warga Kampung Kebon Kopi yang terlalu dominan mengangkut penumpang. Saya menelusuri kelompok-kelompok tukang eretan di kedua kampung yang masih tersisa tersebut, yang pernah mengalami kerusuhan. Kelompok yang banyak menghindari keributan sampai sekarang masih menjadi tukang eretan. Sedangkan yang dulunya dominan, hampir semuanya beralih kerja menjadi tukang ojek.

Pintu gerbang Lebak Pasar dan Kebon Kelapa.

Pintu gerbang Lebak Pasar dan Kebon Kelapa.

Salah satunya adalah seorang warga kampung Lebak Pasar, Oga, yang kini memiliki keluarga kecil di Kampung Kebon Kelapa. Kesehariannya bekerja menjadi tukang Ojek. Sesekali saja ia beralih menyeberangkan orang ke seberang dengan eretan milik dahulu. Itu pun kalau sedang sepi penumpang yang mau ngojek. Ketika saya menanyakan cerita masa lalunya, dia tidak mau menjawab karena menurutnya itu cerita memalukan. Saya akhirnya menanyai kelompok eretan yang suka mengalah dari pihak Kampung Babakan Seeng yang sampai sekarang masih jadi tukang eretan. Dari mereka, saya mendapat cerita tentang kenapa beberapa tahun lalu daerah eretan ini sering terjadi keributan. Buyan yang berumur hampir 60 tahun dan memiliki dua anak, menceritakan, bahwa selain menjadi tukang eretan, ia bekerja di pabrik tahu. Dengan berapi-api, ia menceritakan alasan kenapa di daerah ini sering terjadi keributan.

“Sekarang saja kalau saya mau melayani keributan, yak, pasti ribut! Orang Kebon Kopi biasanya baru nyeberangin penumpang, sudah nyeberangin lagi,” ceritanya. “Hihh dia, mah… kakarak geh nanjak geus hayuk… deui bae! (Kamu tahu… baru saja mereka mengantar penumpang sudah mau lagi!). Kasihan yang masih belum dapat penumpang. Biasanya, setelah menyeberangkan penumpang pertama maka harus nunggu di seberang untuk membawa penumpang arah balik. Ada tem ke satu dan ke dua. Dari situ saja sudah akan terjadi rusuh. Biasanya saya suka turun tangan melerai. ‘Jadi, begini saja, deh! Kalau kalian selalu ribut tiap harinya, sekarang ini tukang getek sedikit, berbeda dengan dulu yang ramai.’ Kadang, gara-gara penumpang dobel, jadi masalah. Padahal, saya bawa ke seberang dan bawa pulang lagi karena biasanya penumpang akan bayar setelah dia pulang. Tapi, di seberang malah dibawa sama yang lain dan bayar sama yang lain. Sedangkan ke saya belum bayar. Ketika saya pinta jatah saya, mereka suka marah. Biasanya, Si Samsu yang punya watak gampang marah. Keributan ini bisa berujung duel di pinggir kali. Perkelahian meributkan uang seperak. Kalau berantem, pergi ke Jakarta saja! Kalau menang, bisa kesohor. Ini malah berantem di kampung sendiri.”

About the author

Fuad Fauji

Dilahirkan di Lebak, 10 Maret 1983. Fuad Fauji menetap di Forum Lenteng Jakarta sebagai periset dan penulis seni rupa. Tahun 2005 ia dan kawan-kawan lainnya terlibat mendirikan komunitas Saidjah. Kerja video pertamanya adalah “Saidjah Project”, 2005. Pada tahun 2007 akhir, ia mendapatkan gelar S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, konsentrasi Jurnalistik. Film fiksi pertamanya “Maria”, hasil project workshop Cerpen ke Filem yang diadakan Forum Lenteng, 2008. Dia dibesarkan oleh keluarga yang sederhana. Kedua orang tuanya petani musiman di Leuwidamar. Kadang bertani kadang tidak. Ayahnya telah meninggal bersamaan dengan kerja residensi pertamanya di Tanjung Priuk tahun 2009. Terlibat dalam produksi teks dan video dokumenter di akumassa. Sejak tahun 2010 hingga sekarang ia bekerja dengan Dewan Kesenian Jakarta sebagai peneliti kritik seni rupa Indonesia. Bersama program akumassa dan Saidjah Forum, karya-karyanya telah diputar di berbagai perhelatan filem dan seni rupa, antara lain; Festival Film Dokumenter ke-9 (2009); The Loss of The Real, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung (2010); Decompression #10, Expanding Space and Public, ruangrupa, Galeri Nasional Indonesia – Jakarta (2010); The Decade of Reformation: Indonesian Film/Video, Artsonje Arthall, Korea Selatan; 24 Edition Images Festival, Toronto Free Gallery, Kanada; Selametan Digital, Langgeng Art Foundation, Yogyakarta (2011); Entre Utopia y Distopia-Palestra Asia di Museo Universitario Arte Contemporaneo, Meksiko (2011).

Leave a Comment