Jurnal Kecamatan: Jatiwangi Kota/Kabupaten: Majalengka Provinsi: Jawa Barat

Energi yang Terbarukan: Manusia

Written by Otty Widasari

Prolog: Pasca Lebaran

Sehabis libur lebaran, aku bercerita tentang obrolanku dengan Kepala Desa Jatisura yang biasa dipanggil Pak Kuwu Ginggi. Kuceritakan betapa terkesannya aku dengan cara dia memimpin masyarakat di dusunnya, dengan pemikiran yang sangat mengglobal. Dia menyebutkan bahwa keluh kesah tentang harga cabai yang mahal karena terus naik, tak lain merupakan sebuah ketololan kolektif. Waduh! Setelah dia jelaskan maksudnya, barulah kumengerti dan sepaham, bahwa cabai adalah tanaman yang mudah dikembangbiakkan di rumah, dan bisa dipanen sendiri secara rumahan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kita ini sedang tidak percaya diri dan sedang dimanja!” kalimat itu terdengar begitu optimis bagiku. Aku kagum, Pak Kuwu tidak menggunakan kalimat dalam bentuk waktu sekarang, melainkan sekarang dan berkelanjutan.

Sayang, waktu kami di sana tidak lama sehingga belum sempat melihat lebih jauh optimisme warga binaan Pak Kuwu Ginggi dalam menatap masa depan.

Maka, berangkatlah Gesya sebagai perwakilan redaksi Akumassa pada  perayaan tujuhbelasan ke Jatiwangi, untuk meliput perhelatan seni dan budaya yang diselenggarakan oleh Jatiwangi Art Factory bersama seniman Irwan Ahmet dan Tita Salina yang bertajuk PANENERGI.

panenergi

PANENERGI sendiri digagas untuk mendorong kesadaran untuk terus melakukan penemuan, pemanfaatan dan pengolahan energi terbarukan dari sumber daya lokal sebagai bentuk gerakan menuju Desa Energi. Perhelatan ini mengajak warga masyarakat serta elemen lainya, seperti Pemerintah, pengusaha dan institusi untuk terlibat aktif melakukan kolaborasi baik secara ide, isu, gagasan maupun produksi, sebagai bentuk promosi kreatif sebuah daerah dalam mengolah sumber daya lokal untuk mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi serta kesadaran pemanfaatan energi.

donor-bensin-31

Donor Bensin, salah satu proyek dari Panenergi.

Donor Bensin.

Donor Bensin.

Donor Bensin. (klik foto untuk tautan ke laman Panenergi)

Donor Bensin. (klik foto untuk tautan ke laman Panenergi)

Ngangon Motor, salah satu proyek Panenergi.

Ngangon Motor, salah satu proyek Panenergi.

Ngangon Motor, memanfaatkan tenaga manusia untuk menggerakkan motor.

Ngangon Motor, memanfaatkan tenaga manusia untuk menggerakkan motor.

 Musik angin, memanfaatkan bilah-bilah kayu yang menegangkan pita kaset, menimbulkan suara yang unik sewaktu digoyangkan, menjadi hiburan dalam prosesi upacara Panenerggi 17 Agustus kemarin

Musik angin, memanfaatkan bilah-bilah kayu yang menegangkan pita kaset, menimbulkan suara yang unik sewaktu digoyangkan, menjadi hiburan dalam prosesi upacara Panenergi 17 Agustus kemarin.

Anak-anak dan orang dewasa ikut serta memainkan musik angin.

Anak-anak dan orang dewasa ikut serta memainkan musik angin.

Dan obrolan Gesya dengan Pak Kuwu sendiri sangat menggambarkan hal tersebut di atas.

Gesya pada Tujuhbelasan di Jatiwangi

“Orang Swedia itu ngetawain kita kalo hidup melarat,” ujar Pak Kuwu membuka percakapan setelah ku-todong untuk bercerita tentang kisah ‘cabai’ yang pernah kudengar dari Otty.  Masyarakat kita masih merasa peningkatan kualitas hidup ditunjukkan dengan kemampuan daya belinya, padahal tidak, menurut beliau. “Bisa juga dengan tidak usah membeli,tekannya.

Pola mental itulah yang sedang diusahakan Pak Kuwu untuk dimiliki masyarakat di desanya.  Dengan menanam, banyak hal positif yang bisa didapat masyarakat, apalagi di lahan Indonesia yang subur.

“Ghorie kemarin bawa benih Polandia sehabis dari sana, dan bisa ditanam di sini,” cerita Pak Kuwu. “Lucu juga ngelihat ada postingan warga di Facebook, ‘Wah, tanaman Polandia saya hidup!’ dan ada warga yang comment, ‘Tanaman saya juga!’”

Tentang kisah ‘cabai’, ada masyarakat yang mengeluh harga cabai mahal.

“Diumumkanlah mau ada bantuan lahan. Ditanya, ‘Di sini siapa yang tidak punya lahan 20 cm x 20 cm?’, semua pada diam. ‘Kalau tidak punya, akan dibagikan!’.  Mereka pun disuruh untuk menanam cabai di rumah masing-masing. Menanam cabai sebenarnya membutuhkan perawatan yang paling gampang. Cuma butuh disiram air beras. Waktu itu, kami tanya, ‘Buat pupuknya, pakai air beras! Di sini, siapa yang tidak punya air beras? Kalau tidak, akan kami kasih juga!’,” cerita Pak Kuwu.

Banyak warga yang membandel. Ketika diperiksa satu persatu, mereka mengaku tanaman cabainya mati.

“Sok kaya banget, tuh! Cabe aja beli!” seru Pak Kuwu menirukan ucapannya sendiri ketika ‘menyemprot’ warga.

Tidak kehabisan akal, Pak Kuwu pun meminta tentara untuk mendisiplinkan masyarakat supaya menanam cabai. Masing-masing rumah didatangi dan diberikan bibit oleh tentara.  Jika nanti disidak oleh tentara dan ditemukan tanaman cabainya mati, si tentara akan meminta ganti rugi. Sepele, sepertinya. Akan tetapi, menurut Pak Kuwu, pengeluaran masyarakat untuk membeli cabai saja bisa menghabiskan dana Rp 3 miliar setahun, per desa. Namun, masyarakat belum sadar dan merasa tidak perlu untuk berpikir sejauh itu. Mereka berpikir, selama ada duit, semua bisa diatasi.

“Namun, tidak semuanya, kan bisa diselesaikan dengan uang?!” seru Pak Kuwu kemudian. “Seperti sampah. Kita ini, kan masyarakat pemindah polusi. Kita tidak ingin jorok. Contoh, di sebuah SD. Selesai pulang sekolah, murid-murid merasa tanggung jawab sampah yang ada di kelasnya milik petugas kebersihan. Lalu, petugas kebersihan merasa sampah-sampah di luar sekolah milik tanggung jawab orang lain.   Iya, ada TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah —red). Tapi cuma satu di daerah ini. Ketika mau dibikin TPA yang baru untuk mengurangi ongkos transportasi, gak ada daerah yang mau. Yah, akhirnya, mau gak mau sampah harus kita olah sendiri.”

“Ketika diajak mengolah sampah, masyarakat bilang, ‘Ya udah, Pak, kami bayar aja (operasional untuk membuang sampah —red).’ Tapi, kan bukan itu! Kita tidak bisa membeli pohon yang besar,” kata Pak Kuwu.

Eli, seorang periset yang juga ikut dalam percakapan ini, menimpali, “Ya, perumpamaan yang bagus, karena kalau kita membeli pohon yang besar, yang berarti memindahkannya, belum tentu ia mempunyai akar yang kuat.  Seperti investasi.”

Video, pada akhirnya, memiliki peranan yang sangat penting dalam usaha mendidik masyarakat ini.

“Kebanyakan, mereka gak mengerti untuk apa berbuat seperti itu. Tapi ketika sudah difilemkan, dan di-screening, baru mereka paham, ‘Oooh, itu maksudnya…!’,” seru Pak Kuwu.

Video juga yang menjadi nilai jual proses ini kepada aparat penegak hukum yang diajak. Menirukan kalimat dalam kisah Pak Kuwu: “Nanti divideoin, lho, Pak!”. Biasanya, itu menjadi rayuan ampuh untuk membuat mereka tertarik.

“Video itu bagai saya senjata,” tegas Pak Kuwu.

Pak Kuwu

Pak Kuwu

Tidak hanya cabai, banyak hal-hal lain yang sebenarnya bisa dikerjakan secara mandiri, seperti menanam kedelai.

“Orang Indonesia itu dikacaukan sama kedelai. Orang Indonesia mana yang gak suka tahu? Tempe? Mana ada yang gak doyan kecap?” Pak Kuwu mengemukakan pendapatnya.

Peristiwa ‘cabai’ terulang lagi di masalah ‘asbak’.  Ia marah saat menemukan seorang warga yang membeli asbak rokok.

“Padahal, kalo dia minta tanah sisa dari pembuatan genteng, bentuk, numpang jemur, numpang bakar, bisa aja, kan? Makanya, saya ledek, ‘Kaya lo, ya? Asbak aja beli.  Awas aja nanti minta-minta surat keringanan ke saya!’,” lagi-lagi Pak Kuwu mengisahkan celetukannya ke warga.

“Kalau rokok, belum bisa mandiri, ya?” tanyaku iseng, melihat rokok merek terkenal yang berkali-kali dihirupnya.

“Wah, kalo itu, sih…kita pernah coba tanam tembakau. Dua kali, tapi gagal semua.  Gak cocok soalnya sama udara di sini. Dia harus dingin,” jawab Pak Kuwu.

Cerita lain, pada saat ada kebijakan BLT (Bantuan Langsung Tunai —red). Ada warga yang mengeluh karena tidak mendapatkan BLT.

“Dia mengeluh, ‘Saya, kan begini-gini, Pak…, saya, kan begitu…!’ Akhirnya, saya bilang, ‘Tahun depan, yang dapat BLT cuma orang kaya!’ Lalu mereka tanya, ‘Kok gitu, Pak?’ Saya jawab, ‘Iya, biar kalian pura-pura kaya semua!’,” demikian kenang beliau, sedangkan aku langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

“Lah, iya, kan?! Biar nanti ngantrinya rapi-rapi, perlente…biar ada perubahan hidup dikitlah! Orang Indonesia itu emang harus diledek, dan saya suka ngeledek,” canda Pak Kuwu.

Pak Kuwu pun menceritakan sedikit kisah tentang awal terbentuknya JAF. Saat itu, Jatiwangi terkena imbas krisis pada tahun 1998. Terkenal karena produksi gentengnya, bisnis tersebut tentu saja menjadi turun karena, sebagaimana ujaran Pak Kuwu: “Genteng itu, kan (kebutuhan —red) papan. Waktu itu, orang untuk memenuhi pangan dan sandang aja susah, bagaimana dengan papan?!” Terpuruk, mereka akhirnya berpikir untuk bisa menjadi kreatif agar tetap bertahan hidup. “Untuk bisa belajar kreatif, yah…, tepatnya belajar pada seniman.”

Hasil dari usaha yang sudah bertahun-tahun itu bukannya tak kasat mata, apalagi pada generasi terbaru penduduk Jatiwangi. “Di SD itu, kan anak-anak biasanya, kalau tidak ada guru, suka berisik, main-main gendang dan semacamnya. Sekarang itu, ada yang seperti ini: ‘Gesya, jangan ketuk sekarang!’ Jadi, ada usaha untuk membentuk harmoni. Ada konduktornya. Makanya, sekarang banyak lagu dari Jatiwangi,” jelas Pak Kuwu.

Aku sempat melihat pada malam hari sebelum percakapan ini, remaja-remaja di sana bermusik dengan menggunakan genteng, menyanyikan beragam versi dari sebuah puisi yang terpampang di galeri PANENERGI, proyek festival yang sedang diadakan di JAF saat ini.

Perbincangan kami pun berlanjut ke presiden terpilih sekarang. Meski tidak ada yang menjamin, jika ia (si presiden terpilih —red) tidak berubah, Pak Kuwu optimis beliau akan membawa perubahan. Pak Kuwu mengamini sikap beliau yang hanya memilih menteri yang siap bekerja —atau galak, menurutku— tidak hanya pintar.

“Semua gagasannya, kan sudah ada, tinggal bagaimana  dijalankannya. Bagaimana memajukan kelautan, bagaimana memperbaiki pertanian, sudah ada semua. Sudah pernah dipikirkan,” kata Pak Kuwu berpendapat.

“Sebenarnya, persoalan Indonesia itu sebenarnya bisa selesai, loh,  hanya dengan menjalankan program PKK!” Pak Kuwu lanjut berpendapat. “Sudah diatur semua: rumah harus ada tanaman obat, harus ada ini dan itu.  Kalau dijalankan semua, udah kelar seharusnya, rumah tangga-rumah tangga kita akan bagus. Tapi, kan tidak seperti itu?!”

Aku sejenak terenyuh dan merenung, lantas berpikir dan mendadak merasa wajib untuk melakukan sesuatu. Setidaknya, ada satu hal baik yang mesti kulakukan. Kalau tidak, aku berhutang terlampau banyak pada “rezeki ilmu”, pada sekian banyak waktu yang telah dihabiskan, dan juga secara tak langsung pada Pak Kuwu.

Akhirnya, suatu ide muncul: “Pak, bibit cabai masih ada, gak? Kayaknya saya mau coba tanam di Jakarta.”

Epilog

Usaha teman-teman kita di Jatiwangi sana, yang berusaha untuk menghasilkan panen energi yang diwadahi melalui sebuah festival rakyat, memang layak diapresiasi. Sebagaimana mereka menyatakan bahwa secara mendasar, energi yang terbarukan itu sebenarnya adalah manusia, maka mereka mendeklarasikan PANENERGI pada upacara peringatan Kemerdekaan Indonesia yang ke-69, 17 Agustus, 2014, tempo hari lalu dengan mengibarkan bendera PANENERGI di samping Bendera Pusaka Merah Putih. Masyarakat mendukung sepenuhnya karena, selama beberapa tahun terakhir, mereka sudah bersama-sama melakukan kegiatan aktivisme di bidang kebudayaan ini dan merasakan hasilnya bagi kehidupan mereka.

DSC_2158

Latihan mengibarkan bendera Panenergi

pembacaan deklarasi meniru prosesi proklamasi_2

Pembacaan deklarasi Panenergi yang meniru peristiwa Proklamasi

Akumassa menyimpulkan PANENERGI bukan sekedar memanen energi, tapi juga merupakan sebuah bentuk terikat yang menyeluruh tentang energi yang terbarukan bagi masyarakat: PAN-Energi.

Foto-foto merupakan dokumentasi dari akumassa dan tim Panenergi.

About the author

Otty Widasari

Otty Widasari adalah Koordinator Program akumassa di Forum Lenteng dan pemimpin redaksi akumassa.org. Sebelumnya ia pernah menjadi wartawan di surat kabar dan tabloid, kemudian beralih menjadi art director TV commercial. Selain itu, ibu satu anak ini yang memiliki pengalaman membuat film dokumenter sejak tahun 2001 ini, juga aktif memberi workshop video di berbagai macam daerah di Indonesia.

Leave a Comment