Jurnal Kecamatan: Jagakarsa Kota: Jakarta Selatan Provinsi: DKI Jakarta

Enambelas Besar yang Wajar-wajar Saja

Written by Otty Widasari

Permisi dan maaf sebelumnya, ini bukan cerita tentang jalan-jalan keliling dunia, tapi ini cerita dari tahun ke tahun, tentang sepak bola.

George weah

George Weah (Foto diakses dari Google).

Ini cerita tentang seorang sahabat saya yang menularkan kepada saya kegemaran menonton siaran langsung pertandingan sepakbola di TV. Sebelumnya, saya sama sekali  tidak tertarik dengan olahraga tersebut. Teman laki-laki di sekeliling saya selalu menggilai sepakbola. Namun, tak satu pun dari mereka membuat saya tertarik pada olahraga yang dulu bagi saya sangat aneh itu.

Bayangkan saja, sebuah bola kecil diperebutkan oleh 22 orang. Dua puluh dua orang! Bagi saya, itu sangat laki-laki. Sejak kecil, saya sering menganggap laki-laki itu aneh. Misalnya, mereka suka mengintip orang pacaran di taman atau tempat-tempat sepi. Waktu saya tanya apa yang dilakukan orang pacaran itu, mereka menjawab, “Ya nggak ngapa-ngapain, sih. Cuma ngobrol aja sambil pegangan tangan dan duduk berdempetan.”

“Jadi, buat apa diintip?” pikir saya.

Sang Sahabat ini dulu saya kenal sebagai seorang pelukis dan disainer grafis di sebuah majalah ekonomi. Tahun 1999, kami berkenalan dan sering menghabiskan waktu bersama karena cocok membicarakan banyak hal. Sering kali, waktu kami habiskan untuk berbincang, dan hampir tiap kali itu harus diselang dengan aktivitasnya menonton siaran langsung Liga Italia di televisi. Saya bilang pada dia kalau saya tidak suka, karena sepak bola milik laki-laki. Tapi, dasar Sahabat saya ini pandai berkata-kata, dia berhasil membuat saya sedikit melirik pertandingan yang ada. Dia bilang, sepak bola bukannya sangat laki-laki melainkan sangat humanis. Di sana ada emosi, ada kesalahan-kesalahan, ada drama, dan yang pasti di sana ada seni. Hmm… menarik juga!

(Sampai beberapa tahun ke depan setelah itu, saya terus menikmati dongeng indahnya tentang sepak bola).

Di tahun itu, dia menggemari klub AC Milan. Bintang-bintangnya, antara lain Paolo Maldini, Clarence Seedorf (Belanda) dan Andriy Shevchenko (Ukraina). Menurutnya, klub ini memiliki tradisi ‘menyerang’ yang istimewa, warisan trio gemilang asal Belanda yang pernah menyukseskan AC Milan hingga mendapat julukan The Dream Team: Marco Van Basten, Ruud Gullit dan  Frank Rijkaard. Bagian cerita yang itu membawa saya pada kenangan masa SMP, saat saya sering dijuluki Ruud Gullit karena ibu selalu mengepang kecil-kecil rambut saya sebelum berangkat sekolah. Pernah juga suatu hari, beberapa guru laki-laki di SMP saya tidak mengajar karena menonton pertandingan final AC milan di Liga Itali.

Tiga Serangkai AC Milan

Tiga Serangkai AC Milan asal Belanda (Foto diakses dari Google).

Namun, tahun 1999 rupanya hanya merupakan tahun sisa-sisa kejayaan bagi AC Milan sebagai The Dream Team karena yang sedang naik daun justru klub Juventus dengan Alessandro Del Piero (Itali) dan Edgar Davids (Belanda) sebagai bintangnya. Selain Juve, ada lagi klub andalan Liga Itali, yaitu Lazio, yang menaikkan nama pelatih asal Swedia, Sven Goran Eriksson. Lazio yang dulunya dianggap sebagai klub Underdog tiba-tiba menjadi juara liga tahun 2000 dan Eriksson langsung ditarik menjadi pelatih Timnas Inggris.

Sven

Sven Goran Eriksson, pelatih Lazio yang membawa Lazio menjuarai liga tahun 2000 (Foto diakses dari Google).

Squad Lazio 1999-2000

Squad Lazio 1999-2000 (Foto diakses dari Google).

Tahun-tahun berikutnya, karir seniman sahabat saya ini menanjak, membuat dia sering bepergian ke luar negeri untuk berpameran atau pun mengikuti acara pertemuan seniman dunia.

Anehnya, ke mana pun dia pergi, sepertinya perhelatan besar sepak bola selalu mengikutinya. Sampai-sampai saya sering mengira, jangan-jangan dia ke luar negeri sebenarnya untuk event tersebut. Alangkah beruntungnya.

Di tahun 2000, dia pergi ke Amsterdam. Bertepatan dengan itu, Belanda sedang menjadi tuan rumah Piala Eropa. Namun, tak satu pun pertandingan bisa dia tonton karena selain harga tiket tidak terjangkau, sahabat saya ini harus mengikuti rapat berhari-hari dengan sesama seniman. Ada hal unik yang dia lihat di sana. Suatu hari, dia berjalan di Kota Amsterdam. Dia lihat banyak panggung didirikan. Seluruh kota dihiasi warna oranye karena tim oranye (julukan Timnas Belanda) berhasil lolos ke babak semifinal dan siap bertanding malam itu. Masyarakat siap berpesta karena sebagai negara dengan tradisi bola yang kuat, mereka yakin pasti mereka akan melaju sampai ke babak final. Ternyata, Belanda dikalahkan Itali dalam adu penalti. Amsterdam padam. Kota menjadi murung dan Sahabat saya jadi geli sendiri.

Saat itu, saya sudah mulai ketularan dia, menyaksikan partai-partai yang saya anggap seru berlaga dari siaran langsung TV di Jakarta. Saat itulah saya mulai mengenali permainan Zidane dan menyukainya. Saat sahabat saya kembali ke Jakarta, dengan seru saya membagi pengalaman nonton saya, dan mengatakan rasanya ada yang hilang tidak menonton event besar itu bersama dia. Dia tertawa melihat saya yang semula antipati jadi bersemangat.

Zinedine Zidan

Zinedine Zidan (Foto diakses dari Google).

Sahabat saya kemudian makin sering bepergian, dan seperti yang saya bilang, aneh bin ajaib, perhelatan bola terus menguntitnya. Suatu ketika, Mali sedang menjadi tuan rumah Piala Afrika saat dia mendapat undangan pameran di sana. Bintang Afrika saat itu adalah George Weah asal Liberia yang  juga pemain AC Milan dan pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik pada tahun 1995 versi FIFA, dan merupakan orang Afrika pertama yang mendapatkan gelar tersebut. Bahkan, dia mendapat penghargaan pemain terbaik Eropa. Di Afrika sendiri, dia mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik Afrika sepanjang masa.

Tahun 2002, dia ke Korea Selatan. Negara tersebut bersama Jepang sedang mempersiapkan pembukaan Piala Dunia. Sahabat saya bercerita kalau di Korea Selatan dan Jepang, sepak bola bukan olahraga favorit. Olah raga nomor satu di sana adalah golf dan baseball. Namun, dia melihat seluruh masyarakat Kota Guangju antusias menyambut perhelatan akbar tersebut. Secara sosial-politik, lobi kedua negara itu sebagai tuan rumah Piala Dunia bukan untuk prestasi melainkan membangun tradisi bola di negara mereka.

Dan seperti yang kita ketahui, sejak itu, prestasi kedua negara ini di bidang sepak bola terus meningkat hingga kini. 2002, mereka menarik pelatih asal Belanda, Gus Hiddink yang berhasil membawa Korea masuk sampai babak semifinal. Hal itu membuat Gus Hiddink mendapatkan tempat sebagai warga negara istimewa di Korea. Saya semakin ketularan dan menyaksikan perhelatan tersebut di Biak Papua saat sedang membuat sebuah dokumenter di sana. Saya menyaksikan masyarakat Kota Biak sangat menggandrungi siaran Piala Dunia. Di jam-jam siaran langsung, Kota Biak yang kecil itu sepi sekali karena semua orang menonton siaran langsung menggunakan antena parabola. Dan yang anehnya, saat itu hampir semua orang yang saya temui di sana sangat tergila-gila dengan Timnas Turki dengan bintangnya, Hakan Sukur.

Sepulang dari Korea, sahabat saya ini melamar saya dan kami pun menikah di tahun yang sama. Dan event sepak bola jadi ikut menguntit perjalanan saya jika saya bepergian dengan suami saya. Kami tidak bisa tidur sampai pagi oleh suara petasan sepanjang malam saat kesebelasan Galatasaray memenangkan ‘The Turkish Derby’ dalam ajang ‘Turkcell Super Lig’ melawan Fenerbahce pada 2005 di Istanbul, saat kami sedang mengikuti sebuah pameran di sana. Kedua tim ini memang dikenal memiliki supporter yang rusuh dan saling bentrok.

Galtasaray

Galtasaray (Foto diakses dari Google).

Fenerbahce 2005

Fenerbahce 2005 (Foto diakses dari Google).

Satu hal yang membuat saya kesal setelah kami hidup bersama adalah, kadang sahabat, eh…, suami saya ini tidak mau menonton siaran langsung yang ditayangkan larut malam menjelang dini hari. Dan belakangan, saya baru tersadar ternyata dia bukan penggila sepak bola. Dia bisa bercerita sama fasihnya tentang Valentino Rossi atau Roger Federer, seperti dia bercerita sepak bola. Ternyata, memang saja dia selalu update terhadap informasi.

Namun, virus sepak bola yang dia tularkan kepada saya terus merambat perlahan di badan saya. Kalau dulu saya hanya bisa menikmati tontonan itu jika ada teman yang bisa diajak berbagi, kini saya bisa sangat menikmati menonton siaran langsung Barcelona sendirian saat dini hari.

Maka, malam ini, setengah jam sebelum pertandingan pertama putaran enambelas besar ditayangkan di TV, saya wawancara suami saya, tepatnya saya paksa dia untuk memberikan ulasan serta prediksi tentang Piala Dunia 2010 kali ini, yang menurut saya agak berbeda. Selain ada 5 Timnas negara Eropa maju yang mana selalu menjadi unggulan, di babak ini ada 1 negara dari Eropa Timur, 6 negara Latin, 2 Asia, 1 Afrika. Selain ke-5 negara Eropa Barat tadi, negara-negara tersebut adalah negara berkembang. Dan sisanya adalah Amerika Serikat, sebuah negara yang lebih mem-favoritkan olahraga baseball, rugby dan basket.

Kurang lebih begini ulasannya:

Siapa pun yang lolos ke Piala Dunia biasanya negara yang memiliki sistem pembinaan yang baik. Selain itu, juga memiliki sistem negara (dalam hal ini, sosial-politik) yang baik, dan yang pasti sistem ekonomi yang baik. Kamerun pernah mengejutkan dunia karena, sebagai negara berkembang dan bisa dibilang miskin, masuk ke penyisihan Piala Dunia 1994, menunjukkan bahwa bola itu tidak hanya sekadar persoalan sistem, tapi juga ada bakat-bakat yang harus dilihat di situ. Jadi, susunan 16 besar kali ini sebenarnya wajar saja.

Terlihat agak luar biasa karena beberapa nama yang ada di sana sudah lama tidak terdengar. Padahal, mereka semua memang negara yang layak. Misalnya saja, Ghana. Walau dari benua miskin, pertumbuhan ekonominya bisa dibilang sedikit lebih maju dari negara Afrika lainnya. Amerika Serikat, sistem yang yang baik membuat negara ini mudah untuk membangun tradisi baru di persepak-bolaan, seperti juga yang terjadi di Korea Selatan dan Jepang sejak 2002. Menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994 merupakan lobi Amerika Serikat dalam membangun tradisi tersebut (ini juga dilakukan Afrika Selatan yang berhasil menjadi tuan rumah 2010. Sebab, sebenarnya tradisi sepak bola Afsel tidak seperti negara Afrika lainnya. Sebagai negara Common Wealth Inggris, olahraga terdepan mereka adalah kriket).

Sedangkan negara-negara Latin, yah, semua orang tahu kalau mereka memang hebat dalam sepak bola. Dan hampir dari semua negara Latin yang masuk perenambelas final ini pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia dan pernah menjadi juara dunia. Dimulai dengan Uruguay sebagai tuan rumah Piala dunia pertama dan bahkan menjadi ‘juara dunia pertama’ di tahun 1930, diikuti dengan Brazil yang menjadi tuan rumah piala dunia tahun 1950 dan gelar juara dunia diraih oleh Uruguay lagi. Chili menjadi tuan rumah Piala Dunia 1962 dan Brazil sebagai pemenangnya. Meksiko menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 1970 dengan Brazil kembali ke luar sebagai pemenangnya, kemudian di 1986 dengan Argentina sebagai juara dan mencuatkan nama Diego Maradona. 1978 Argentina menjadi tuan rumah sekaligus juara Piala Dunia.

Diego Maradona

Diego Maradona (Foto diakses dari Google).

Sedangkan Slovakia, dulunya Chekoslovakia kemudian sejak 1 Januari 1993 terpecah menjadi republik Cheko dan Republik Slovakia. Chekoslovakia pernah menjadi negara bola yang hebat di kawasan Eropa timur, di samping Yugoslavia, Rusia dan Bulgaria.

Jadi bisa dibilang mereka semua pasti memiliki liga lokal yang hidup. Itu pastinya yang membangun kultur bola di negara masing-masing. (Akankah Indonesia?) Maka, Saudara-saudara, ini akan menjadi tontonan yang lebih menarik, lively dan semoga menyemangati persepakbolaan kita.

Tim Nasional Indonesia pernah masuk Piala Dunia 1938 di Perancis, dengan nama Dutch East Indies

Tim Nasional Indonesia pernah masuk Piala Dunia 1938 di Perancis, dengan nama Dutch East Indies (Foto diakses dari Google).

Adapun prediksi dari hasil wawancara malam ini adalah:

Babak perdelapan final (enam belas besar) akan melajukan Korea Selatan, Ghana, Jerman, Belanda, Brasilia, Jepang dan Spanyol ke babak perempat final (delapan besar). Berikutnya di semifinal (empat besar) akan ada Ghana, Jerman, Belanda dan Spanyol, yang kemudian akan melajukan Belanda dan Jerman sebagai finalis.

Prediksi suami saya ini saya anggap terlalu-sangat-sangat subjektif, dari dia yang berharap mendapatkan tontonan balas dendam Belanda terhadap Jerman atas kekalahannya di tahun 1974. Saat itu, Johan Cruyff membawa Belanda menjadi pemenang Piala Eropa 1972. Namun, secara mengejutkan tim Cruyff dilumpuhkan oleh Franz Beckenbauer dan kawan-kawan (yang tidak diunggulkan) pada Piala Dunia 1974.

frans

Frans Beckenbauer saat muda (kiri) dan tua (kanan) (Foto diakses dari Google).

Johan Cruyff

Johan Cruyff saat muda (kiri) dan tua (kanan) (Foto diakses dari Google).

Apa yang saya maksud dengan terlalu subjektif, terbukti. Saat saya baru memulai tulisan ini, Korea Selatan berhasil dikalahkan oleh Uruguay dengan skor 2-1. Dan saat tulisan ini mendekati akhir, Ghana berhasil mengalahkan Amerika Serikat dengan skor 2-1 (untuk yang ini prediksi suami saya tepat). Artinya, Uruguay-lah yang akan berhadapan dengan Ghana di babak perempat final 2 Juli nanti di Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth.

Dan jika saja Uruguay dan Belanda yang menjadi tim unggulan suami saya terus melaju, maka mereka akan bertemu di babak semifinal. Pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, Belanda pernah mengalahkan Uruguay, hingga sang pelopor juara dunia ini harus terjungkal di babak penyisihan.

Siapa yang tahu, karena bola tidak persegi. Kemungkinan yang benda itu hasilkan tidak bisa diprediksi secara matematis, Saudara! Lihatlah Perancis dan Italia, dua tim unggulan yang angkat koper di babak penyisihan.

About the author

Otty Widasari

Otty Widasari adalah Koordinator Program akumassa di Forum Lenteng dan pemimpin redaksi akumassa.org. Sebelumnya ia pernah menjadi wartawan di surat kabar dan tabloid, kemudian beralih menjadi art director TV commercial. Selain itu, ibu satu anak ini yang memiliki pengalaman membuat film dokumenter sejak tahun 2001 ini, juga aktif memberi workshop video di berbagai macam daerah di Indonesia.

Leave a Comment

9 Comments

  • Ruud Gullit, masa kecilku di lapangan belakang rumah. Bermain bola dengan jalinan perca kain di kepala, bak rambut sang idola. hehe

  • wahh keren bgts dahhh,, kagak nyangka mbk.otty pengamat bola juga…
    bentar mbak ya, dodi mw baca tulisanya skali lagi, ehehehhe

  • seruu bacanya nih. gw kira2 siapa kah sahabat lo itu ti eh ternyata Hafiz. kok gw lupa cerita itu ya hihihihi..

    Pele gak disebutin ;p

  • Kenangan “Bola” adalah kenangan manusia. Karena itu dia selalu menarik untuk diceritakan kembali. Bola adalah drama manusia yang menarik untuk ditonton dibanding menonton sinetron. Saya selalu teringat sama “tangan Tuhan” Maradona, karena membekas. Juga aksinya melewati 7 pemain Inggris untuk menentukan kemenangan pada pertandingan itu. Terimakasih Ambu.

  • Yuhuuuu…
    ketipu…
    ternyata gak doyan siaran langsung, tapi karena update informasi,hahaha…
    akal-akalan selama pedekate tuh , emang apapun deh pokoknya.

  • makasih mbak,tulisan ini mengingatkan saya kembali tentang seakbola. tetapi selain tim yang terdiri 12 orang yang bermain di lapangan ada juga “pemain ketigabelas” suporter.
    Holigan, ultras,atau kelompok-kelompok lain, yang mengatasnamakan fanatisme terhadap klub, negara bahkan sampai sang pemainya, seakan telah menjadi bagian dari team atau tradisi di sepak bola, misal bagaimana di argentina, maradona di puja oleh sebagian kelompok bak layaknya “Tuhan”.
    maka jadinya adalah sebuah potongan syair lagu:
    Sepak bola dimana-mana.
    di kampung dan di kota.
    heheehehe

  • waduhhhh…
    mantep dah tulisannya mbak…
    cuma ada satu yang kurang tepat..
    pada piala dunia 2002 itu Korea sampai semifinal..
    dan dalam perebutan tempat ke3 dikalahkan Turki..

    idolaku si Ronaldo yang top skor piala dunia sepanjang massa yang berhasil membawa negaranya juara pada tahun tersebut…
    hehehehehehe…

  • terimakasih rudi atas ralatnya. mungkin nanti saya revisi. maaf teman2 atas kekurangtelitian ini.
    sebenarnya ada juga lupa disebutkan, mengenai kemungkinan belanda bertemu jerman di final itu, sebenarnya kalau dilihat dari susunan bagan, tidak mungkin mereka bertemu di final. kalau mereka melaju, harusnya sih ketemunya di semi final. jadi cuma ada kemungkinan salah satu dari mereka yang akan masuk ke babak final.