Jurnal Kota: Kopenhagen Negara: Denmark

Edvard Munch, yang Kami Lalu-lalangkan

Written by Akbar Yumni
Tidak ada yang terlalu imajinatif dalam perjalanan melalui pesawat udara. Seperti halnya perjalanan melintasi dunia melalui kapal yang telah banyak menghasilkan karya adi macam Rudyard Kippling (1865-1936), Joseph Conrad (1857-1924), penulis jauh sebelumnya Daniel Defoe (1659-1731). Bahkan mungkin sastrawan kita, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), membuat metafor perjalanan kapal. Mereka para penjelajah, selalu merenungkan laut, dan tentunya cakrawala,“ … apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh. Yang tertinggal jarak itu juga – abadi. Di depan sana ufuk yang itu juga – abadi,” demikian kata Pram, yang bagi kami seakan renungan perjalanan kapal, karena kita bisa melihat ufuk. Lalu apa yang bisa direnungkan dalam perjalanan pesawat, sedangkan kami bukan sang ‘Karl May’, seorang penulis yang nyaris tidak pernah bepergian, namun memiliki visi geografis dan gambaran masyarakat di seluruh dunia yang jauh lebih akurat ketimbang para pelancong dunia. Sedangkan kami juga bukan Eropanis, yang membuat perjalanan pesawat ini, yang nyaris membuat kami seakan seorang turis, atau pelancong yang menikmati fasilitas transportasi dalam perjalanan.

Patung Siren, di Kopenhagen, Denmark

Hanya layar monitor kecil di depan kami, yang memberikan peluang akan sebuah imajinasi perjalanan melalui pesawat. Setidaknya kami bisa mengenal lintasan pesawat yang melewati beberapa kota di negara-negara Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Sebut saja nama Phuket, mungkin di daerah Thailand. Nama lain yang cukup memberikan imajinasi adalah ketika melintasi Karachi, sebuah kota di Pakistan. Melewati Karachi, pada sisi atas peta ada semacam legenda untuk pegunungan. Dalam bayangan kami, mungkin itu pegunungan Himalaya, yang melingkar melindungi India dari serbuan Alexander Agung, sang Raja Makedonia. Kemudian pada peta juga menunjukkan pesawat melintasi Laut Mediterian. Anehnya peta pada monitor tidak terlihat, ketika pesawat menurut kami melintasi wilayah Iran. Mungkin ini pengaruh politik keamanan negara Iran atau apa, namun bagi kami ini terasa janggal.

Imajinasi-imajinasi yang berasal dari peta, hanya membawa kami tentang kenangan Perang Salib ketika pada monitor peta nampak kota Istambul Turki, dan sejarah filsafat tentunya ketika pada peta nampak Kota Athena. Yang pasti semua imajinasi-imajinasi pada perjalanan melalui lintasan pesawat pada peta di monitor, adalah memori-memori pengetahuan yang tidak terlalu kuat. Yang tersisa bagi kami adalah, sebuah keberuntungan, mendapatkan kesempatan perjalanan ke Eropa, dalam rangka menghadiri Festival Filem Dokumenter di Kopenhagen, Denmark. Mungkin seharusnya mereka mengirim seorang sejarawan, atau penyair, agar kesempatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang lebih berguna bagi masyarakat kami. Namun setidaknya, di balik keberuntungan kami ini, masih ada segudang semangat, yakni mempelajari filem pada festival, mengenal festival filem secara baik di Kopenhagen, sebagai balas budi atas keberuntungan kami ini.

Pagi hari kami tiba di Kopenhagen, waktu itu awan mendung, dan pendaratan berjalan dengan baik. Dan kami pun mendarat di Bandara Kopenhagen, sebuah bandara di tepi laut. Apa yang pertama kali terlintas di benak kami adalah, Kopenhagen, adalah Denmark, sebuah bangsa Skandinavia, mereka adalah para ras murni, setidaknya itu yang selintas dalam pikiran kami, dari endapan-endapan ingatan membaca buku L. Stoddard, Pasang Surut Kulit Berwarna. Di sinilah kami, di sebuah bangsa yang masih mewarisi ras murni, atau bangsa yang berambut jagung, demikian kata Bung Karno.

Tentu ingatan akan Soren Kierkegaard (1813-1855), sang filsuf eksistensialis pertama, juga melintas tidak terelekkan, maklum kami memang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi, intelektualisme kadang memang tak terhindarkan, yang terkadang membuat kami menjadi tidak tulus memandang segala sesuatunya, karena harus disandarkan pada pengalaman-pengalaman teks, buku, literatur, sinema dan lain sebagainya. Atas nama pengalaman intelektualisme pula lah, nama macam Carl de Dreyer, sang sutradara besar berkebangsaan Denmark, juga tidak akan lepas dari endapan kesadaran ketika berada di Kopenhagen, dan ayo siapa lagi nama-nama berdasarkan intelektualisme, Hans Christian Andersen (1805-1875), ah tapi mereka semua terlalu besar dalam menggambarkan Denmark, dalam khasanah pengetahuan berbasis Wikipedia, mereka pasti mudah dipelajari, termasuk bagi mereka para pandangan konsumerisme olah raga kita juga selalu mengenal nama-nama Michael dan Brian Laudrup, Peter Schemeichel, dan seterusnya.

Terkadang nama-nama besar tersebut menghalangi pandangan kami terhadap Kopenhagen itu sendiri, bahkan menjadi peta yang memandang kesadaran. Intelektualisme bisa menguntungkan dan bisa merugikan, karena bisa jadi peta literasi tersebut tidak memandu arah yang khas. Karena boleh jadi ada sesuatu yang di luar teks, atau sesuatu yang belum diliterasikan, yang terdapat di Kopenhagen ini, dan hal itu sungguh sesuatu yang niscaya bagi kami yang memang masih gagap dalam proses belajar.

Kopenhagen, memang sebuah kota tua, seperti halnya mereka mewarsi dongeng Hans Christian Andersen nan abadi dalam setiap generasi, demikian pula beberapa bangunan kotanya adalah kelanjutan dari kebudayaan yang berlangsung sebelumnya. Memang demikianlah Eropa, sebuah peradaban tua yang tidak pernah mempraktikan sebuah bumi hangus terhadap sejarah peralihan kekuasaannya. Mereka mungkin tidak perlu mengenal sejarah dari buku, atau melalui mekanisme sistem pengajaran di sekolah, seakan-akan, mereka bisa mengenal sejarah mereka melalui keseharian mereka, di mana ketika melintasi kota, masih banyak terdapat bangunan tua nan bersejarah. Boleh dibilang, kesadaran akan sejarah bukan sesuatu yang berjarak dalam kesadaran mereka.

Lalu lintas di Kopenhagen adalah satu di antara hal yang menyenangkan. Mungkin ini cerita lama, atau ciri yang kental bagi kita yang beruntung melancong ke kota-kota di Eropa. Lalu lintas Kopenhagen begitu tertib, seperti sebuah sistem yang sudah melekat dalam mental mereka, bahkan sudah membudaya. Para pejalan kaki sangai dihormati, layaknya para pengguna jalannya yang lain, mobil dan sepeda. Hal ini bisa dilihat dari rambu lampu merah yang juga memandu para pejalan kaki. Artinya, secara sistem dan infrastruktur lalu lintas, para pejalan juga bagian dari kebijakan sistem lalu lintas kota. Bahkan kepatuhan lalu lintas telah menjadi etika publik yang melekat dalam moral masyarakat. Walau jalanan sepi, tidak ada kendaraan, dan kami harus melintasi sebuah jalur sepeda yang kecil, biar lampu merah menyala bagi pejalan kaki, kami tetap harus berhenti. Dan tentunya, kami semua bangga mematuhi hal tersebut, seperti para masyarakat Kopenhagen yang lainnya. Karena kepatuhan mematuhi rambu lalu lintas, secara tidak langsung menjadi prestise kami juga, sebuah hal yang elegan. Semacam ‘kebangsawanan estetis’ yang diperlihatkan di jalanan publik.

Suatu ketika sehabis menonton di Dox: Club I Teater Grob, di sebuah perempatan lampu merah dekat Danau Plebinge (Pleblinge Sø), kami yang berjalan berhenti pada rambu lalu lintas. Ketika lampu hijau menyala saat kami harus berjalan, sebuah mobil mungkin kebablasan, nyaris menghalangi kami para pejalan kaki, namun seorang pesepeda terhalang jalannya, dan nampak pesepeda tersebut emosi, dan meludah pada kaca mobil. Peristiwa tersebut seakan memberikan gambaran tentang etika publik di lalu lintas, siapapun dia pengguna jalan, tidak pandang bulu, jika sedikit melanggar, publik akan memberikan image buruk. Bahkan, boleh jadi para pejalan kaki dan pesepeda malah justru subyek yang sangat dihormati.

Semua venue pemutaran terpaksa kami kunjungi dengan berjalan kaki. Bagi kami yang tinggal di Jakarta, jarak antar venue kurang lebih dua sampai lima kilometer. Selain memang tidak ada angkot jarak pendek seperti di Jakarta, warga Kopenhagen sebagian besar memang para pejalan kaki, atau mayoritas adalah para pesepeda. Parkir-parkir sepeda banyak tersedia di mana-mana, hampir setiap gedung atau ruang-ruang publik menyediakan parkir sepeda. Yang nyaris tidak ada di Kopenhagen adalah, sepeda motor, sebuah hal yang berbalik 360 derajat jika kita berada di Jakarta tentunya. Mungkin hal ini juga yang menjadikan semangat sadar lingkungan oleh warga Kopenhagen, sehingga suasana kota memang jarang polusi.

Denmark, sebuah masyarakat yang nampaknya bersahaja. Sepertinya, mereka sangat percaya pada negara. Nampak pertokoan yang tidak selalu buka setiap hari, dan pada hari buka juga tidak bisa kita kunjungi pada jam-jam kerja. Kami sempat berpikir, “Kapan kita bisa belanja?” Ini memang agak janggal bagi kami yang terbiasa melihat pertokoaan buka setiap hari dan pada jam kerja. Di Kopenhagen, seakan kami dipaksa untuk tidak konsumtif, kecuali berbudaya. Seakan kami melihat jam buka teater dan bioskop jauh lebih lama ketimbang pertokoaan.

Suatu ketika kami pun juga harus berjalan, ketika ingin mengunjungi Taman Christiania, atau juga dikenal sebagai Freetown Christiania (Fristaden Christiania). Ini sebuah tempat yang unik, dan memiliki sejarah panjang. Jika menyontek pada keterangan Wikipedia, Taman Christiania juga dikenal sebagai fistraden (freetown), atau kota nan bebas, atau kota kebebasan, atau anda bisa menafsirkan sendiri secara tepat. Taman ini seperti sebuah pemukiman, ada taman, flat, rumah-rumah, ada café, ada bar, dan lain sebagainya. Jika anda memasuki Taman Christiania, akan ada sebuah gapura bertuliskan “Wellcome to Christiania”, ini bukan hal yang menarik, namun jika anda melihat di balik gapura, akan ada tulisan “You are now entering the EU,” ucapan pada gapura tersebut seakan menandakan bahwa Taman Christiania adalah sesuatu yang terpisah dari Eropa.

Taman Christiania adalah sebuah tempat yang otoritas sipil, di mana pada hari Sabtu-Minggu, tidak ada hukum yang berlaku di wilayah tersebut. Walau kami hanya melintasi taman tersebut di siang hari, sehingga tidak terlalu nampak pemandangan ‘mesum’ seperti yang kami bayangkan sebelumnya, namun tempat ini memang taman kebebasan, orang minum, mesum dan lain sebagainya tentu banyak dilakukan di tempat ini. Beberapa orang yang sedang bersendirian dan minum nampak bergaya penampilan Hippies, dan menariknya ada sebuah rumah di taman ini yang cukup menarik, di mana ada seorang ibu-ibu tua dengan rumah mungil dan taman yang indah, tinggal di taman tersebut. Dalam bayangan kami, ini hippies dari angkatan pertama mungkin, atau ibu ideolog hippies yang sudah tidak perlu lagi berpenampilan nyeleneh, namun berkehidupan yang tenang bersama lingkungan dan tumbuh-tumbuhan.

Ada tiga peraturan ketika melintasi Taman Christiania ini, yang pertama bersenanglah, tidak boleh lari karena panik, dan tidak boleh melakukan jual beli narkotik. Dari ketiga aturan tersebut, ada aturan tambahan yang barangkali bersifat etis, yakni di larang memotret. Peraturan pertama tentu adalah  peraturan yang  menarik, ‘kesenangan’ menjadi kewajiban. Aturan yang kedua, juga merupakan aturan  yang unik juga. Mungkin karena justru taman ini adalah kota nan bebas, lari karena panik dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan justru menggambarkan dampak negatif dari makna ‘kebebasan’. Saya membayangkan bahwa di taman kebebasan ini, pasti tidak ada pembunuhan, atau perampokan. Para penduduk di Taman Christiania ini, mereka mungkin para penganut etika moral ‘Immanuel Kant’, yang mematuhi moral bukan berdasarkan hukum, tapi karena moral baik bagi dirinya sendiri (imperatif kategoris), sehingga di balik kebebasan yang terdapat pada taman ini, tidak akan ada kebebasan yang merugikan orang lain. Oleh karenanya peraturan di larang lari karena panik justru menjadi larangan. Jika ada orang teler yang mengganggu, itu pasti bukan bermaksud mengganggu, tapi persepsi sadar kita yang mungkin merasa terganggu oleh orang teler tersebut.

Tempat itu memang cukup kontroversi, sempat di tutup pada tahun 2011 lalu. Namun, kini telah dibuka kembali. Menariknya, taman tersebut tidak jauh dari Gereja Our Saviors Church, berjarak kurang lebih 200 meter dari gereja. Pada awalnya daerah di seputar Taman Christiania adalah barak militer. Pada tahun 1971, tempat tersebut sudah tak terpakai lagi, kemudian mulai dihuni para tunawisma. Menurut keterangan Wikipedia, tujuan dari Christiania adalah untuk menciptakan masyarakat berpemerintahan sendiri, di mana setiap individu memegang sendiri tanggung jawab atas kesejahteraan seluruh masyarakat. Semangat Christiania memang tidak bisa lepas atau identik dengan semangat hippies, atau kesadaran para anarko, sebagai sebuah semangat otonom para penduduk di sana. Dan juga menurut keterangan Wikipedia, pada tahun 1976, mereka memiliki semacam lagu kebangsaan mereka, Ikke Sla Os Ihjel (Anda Tidak Bisa Membunuh Kami), yang ditulis oleh Tom Lunden bunga listrik grup rock Bifrost, yang juga menjadi semacam lagu protes mereka kepada para pihak pemerintah.

Kami sendiri merasa dari kultur yang berbeda ketika hadir di taman Christiania ini. Sungguh tidak ada niatan kami yang berasal dari negeri seberang lautan nan lugu ini, untuk mencicip kebebasan yang disajikan di Taman Christiania. Bukan karena intelektualisme, atau kultur timur, dan lain sebagainya, tapi mungkin karena lugu pada dirinya sendiri. Pada dasarnya Kopenhegan memang masyarakat yang ramah, walau kabarnya biaya hidup agak mahal dibanding kota di Eropa lainnya. Masyarakat kota ini cukup beradab, dan kami selalu menerima keramahan para masyarakat di sana. Mungkin ajaran eksistensialis terhadap etika individu Kiekegaard, atau kehangatan dongeng Christian Andersen sungguh sangat melekat bagi mereka. Sedemikan hingga, keberadaan Taman Christiania bukan sekedar menggambarkan masyarakat Kopenhagen yang semata-mata liberal, malah sebaliknya, adanya ‘taman kebebasan’ justru menandakan adanya derajat moral yang tinggi yang diinsyafi oleh para masyarakatnya.

Selama di Kopenhagen, kami pun menyempatkan diri untuk datang ke Museum Nasional, Statens Museum for Kunst. Harapannya, khasanah visual kami akan bertambah, khususnya di bidang seni rupa. Harapan kami pun cukup terkabul, ketika melihat beberapa lukisan asli karya impresionis, Henri Matisse, dan lukisan yang cukup terkenal dari Modigliani “Alice”. Lukisan tersebut adalah foto diri seorang perempuan, dengan matanya yang lebar. Beberapa sumber menyebutkan bahwa lukisan wajah dengan mata, adalah karakter khas dari karya Modigliani, karena hampir kebanyakan lukisan Modigliani adalah gambaran mata yang berwarna hitam. Jika tidak salah mengingat, dalam sebuah filem yang menggambarkan Modigliani ada pernyataan sang pelukis, “Jika aku mengenal mu, maka aku akan melukis mata mu.” Oleh karenanya, lukisan “Alice” dengan lukisan mata yang berwarna, bisa jadi adalah satu di antara karya terbesar pelukis asal Italia tersebut.

Tentu banyak pelukis Denmark ternama dalam Museum Nasional Kopenhagen tersebut. Dan ketika berada di museum, kami sungguh buta tentang para pelukis Denmark. Namun ada lukisan yang bisa dikatakan cukup menyolok mata kami, karya itu adalah Christ in The Realm of The Dead, karya pelukis Denmark Joakim Skovgaard. Mungkin lukisan tersebut agak dramatis, berupa gambar Yesus di sekeliling para umatnya dengan cahaya yang menyinari tubuhnya. Di kemudian hari, salah, seorang teman menyatakan, seharusnya kami mencari karya-karya pelukis ternama Denmark, Edvard Munch ketika berada di museum Kopenhagen. Kami agak menyesal telah melalu lalangkan karya Edvard Munch, setelah menyadari informasi tersebut. Seperti yang baru kami ketahui kemudian, ketika menyaksikan karya Michel Haneke, Amor, juga memuat metafor melalui karya pelukis Denmark, Vilhelm Hammershoi. Sungguh, bepergian tanpa bagasi pengetahuan adalah hal yang merugikan, apa bedanya kami dengan para turisme.

Namun kami punya motivasi kuat lainnya tentang keingintahuan terhadap kebudayaan di Kopenhagen. “Little Mermaid” tentu adalah memori kuat yang harus kami kunjungi juga ketika berada di Kopenhagen. Little Mermaid atau Siren, adalah kisah yang dibuat oleh Hans Christian Andersen. Kisah Siren ini selalu abadi melingkupi kota Kopenhagen. Patung Siren terletak di tepi pantai, ujung kota Kopenhagen. Tempatnya semacam di tepi selat kecil, dengan latar laut dan daratan yang terdapat pabrik yang bercerobong asap. Patung Siren berawarna coklat, duduk di sebuah batu, matanya menatap sedih, seperti nasibnya.  Kisah Siren sendiri adalah kisah tentang pergulatan manusia itu sendiri. Ketika seekor ikan bercita-cita menjadi manusia, karena ia memiliki rasa cinta yang sejati kepada seorang manusia. Siren yang bercita-cita menjadi manusia, sampai ia harus mengorbankan dirinya sendiri.

Kisah selalu abadi, karena mengandaikan pergulatan manusia. Mungkin karena itu jualah, Siren juga sesuatu yang abadi, seperti yang diabadikan dalam patung di tepi laut. Wajah murungnya memberikan ilham tersendiri, akan sebuah kesendiriaan. Tentunya patung Siren tersebut tidak akan ‘hidup’, namun imajinasi manusialah yang selalu menghidupinya. Sehingga sejauh imajinasi tentang pergulatan manusia itu masih ada, maka patung Siren akan selalu abadi. Seperti menyaksikan karya-karya seni nan adi, adalah pergulatan manusia itu sendiri. Kopenhagen sungguh sebuah pelajaran dan pengetahuan itu sendiri. Semoga saja perjalanan ini juga pergulatan tentang manusia, pergulatan seorang anak bangsa dari negeri di seberang lautan, yang baru mulai belajar, mengeja alfabhet tentang khasanah kebudayaan dunia.

Perjalanan pulang, kami tidak lagi berimajinasi tentang monitor peta pada bangku pesawat, apalagi menikmati perjalanan melalui sajian fasilitas pesawat. Semua imajinasi perjalanan pulang kami, adalah kuatnya kesan tentang pergulatan menjadi manusia sang Siren, menyentuhnya manusia relasi dengan ‘Yang Lain’ dalam dokumenter tentang Artis Is Present-nya Marina Abromovich, menggugahnya pendekatan dokumenter Joshua Oppenheimer, agungnya lukisan “Alice” Modigliani, beradabnya masyarakat Kopenhagen, dan sungguh kecilnya kami, yang baru mulai belajar mengenal alphabet kebudayaan Eropa, dan bercita-cita untuk mengeja. Perjalanan pulang ke Jakarta pun penuh dengan lamunan itu semua, sampai-sampai buku yang aku bawa sebagai pengganti rasa bosan dalam perjalanan, tak sempat terbaca. Tentu kami akan pulang, dan mungkin tidak akan sempat kembali, atau untuk apa kembali, kami akan lelah terpukau, dan merasa kecil. Tentu saja kami semua akan pulang ke Jakarta, menghadapi kemacetan, dan tertinggalnya dalam huruf-huruf pada paragraf besar kebudayaan Eropa. Sudah pasti kami akan pulang, karena Jakarta adalah rumah kami, yang harus kami bangun dengan ‘perbuatan’. Seperti Bung Hatta katakan, “Hanya ada satu negara, yang menjadi negaraku, ia tumbuh dengan perbuatan, dan perbuatan itu perbuatanku.” Ya, tentu kami harus berbuat. Tentu kami harus banyak belajar lagi, hingga tak terjatuh dalam ‘turisme’ dalam setiap perjalanan, setelah terpukau, dan menyesal melalu-lalangkan karya Edvard Munch.

About the author

Akbar Yumni

Dilahirkan di Jakarta pada 28 September 1975. Pernah kuliah Strata 1 di FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Jurusan Ilmu Komunikasi (1995 – 2000, tidak selesai). Sekarang sedang menyelesaikan studi Strata 1 nya di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, Jurusan Ilmu Filsafat. Sebelumya ia pernah bekerja di Yayasan Desantara Depok (2008). Pria yang aktif di Jurnal Footage ini, beberapa tulisannya pernah tayang di Visual Art, edisi Februari – Maret 2010 dan Jurnal Srintil Desember 2011.

Leave a Comment