Jurnal Kecamatan: Baso Kota/Kabupaten: Agam Provinsi: Sumatera Barat

Dulon The Idol

Saat ini, masyarakat Indonesia khususnya anak muda memang sangat haus dengan popularitas. Hal itu bisa dilihat dari berbagai acara televisi yang menawarkan cara cepat terkenal dengan konsep acara beragam. Mereka terlihat sangat antusias untuk mengikuti audisinya. Mulai dari ajang mencari bakat sebagai pesulap, pelawak, presenter, hingga acara yang selalu dinanti tiap tahunnya, Indonesian Idol. Ajang mencari bakat ini memang bisa membuat orang mendadak menjadi artis.

Cover Album Kompilasi Indonesian Idol 1

Cover Album Kompilasi Indonesian Idol

Siapa yang tidak kenal dengan Delon, Mike, Judika, Ikhsan, Haris dan temannya yang lain. Mereka adalah anak muda Indonesia yang berhasil diorbitkan Indonesian Idol menjadi penyanyi terkenal. Tercatat sejak acara ini digelar pada 2004, tiap tahun peminatnya selalu meningkat. Puncaknya terjadi di tahun 2010, yaitu mencapai 80 ribu peserta. Naik tiga kali lipat dibanding beberapa tahun lalu yang hanya diikuti 24 ribu peserta. Dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa ajang Indonesian Idol menjadi sebuah magnet yang luar biasa bagi peserta dan penonton.

Delon Indonesian Idol

Delon Indonesian Idol

Dan di antara 80 ribu orang yang mengikuti audisi, ada salah satu teman saya yang datang jauh-jauh dari Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ke Jakarta untuk mencoba menjadi superstar. Sebuah mimpi yang ia pendam sejak ajang Indonesian Idol digelar.

Nama aslinya Abdullah. Namun, untuk ajang Indonesian Idol jilid dua yang dimenangkan oleh Delon, nama Abdullah rela diganti menjadi Dulon. Adalah dirinya sendiri yang mendemonstrasikan nama tersebut pada orang-orang sekitarnya. Hal ini dapat diterima orang lain karena suara Dulon yang cukup merdu dan indah jika melantunkan lagu–lagu melankolis. Mulai dari lagu band pop sampai melayu yang dia suka, seperti Ungu, Wali, ST12, Kerispatih hingga lagu milik Rossa.

Abdullah alias Dulon

Abdullah alias Dulon

Dari awal ajang Indonesian Idol, Dulon memang mempunyai niat besar untuk mengikuti audisinya. Tiap kali acara ini digelar, ia selalu antusias melihatnya di TV. Acara yang tayang setiap Jumat malam ini sangat pantang untuk ia lewatkan. Bahkan setiap saya datang ke rumahnya, dia menyanyi dan menyuruh saya berpura-pura sebagai dewan juri untuk menilai apakah dia benar–benar pantas untuk menjadi the next Indonesian Idol. Tapi keinginannya untuk pergi selalu batal karena masalah ongkos ke Jakarta.

Pada tahun 2003, saya mengenal Badul, sapaan akrab Abdullah, melalui adiknya yang sewaktu SD satu lokal dengan saya. Namanya Yani. Karena tidak mempunyai uang untuk melanjutkan sekolah ke SMA, di tahun 2006 Yani pergi merantau ke Jakarta untuk bekerja bersama abangnya. Di tahun 2003 itu, Badul belum membuka usaha sendiri. Badul yang merupakan warga asli daerah Sicincin ini bekerja di rumah Ibu Ani sebagai tukang goreng Kerupuk Sanjai. Dengan jumlah gaji pas–pasan atau yang biasa di sebut orang minang dengan “Palapeh Makan” sangat sulit menabung untuk pergi mengikuti audisi di Jakarta. Tapi Dulon tetap semangat. Tiap hari ia mengumpulkan uang hasil kerjanya. Dan setiap mandi ia melatih vocal-nya dengan memanfaatkan ruang kamar mandi.

Sekitar pertengahan tahun 2007, usaha Ibu Ani mengalami penurunan. Ibu Ani kemudian pergi merantau ke Medan bersama suaminya. Tapi Dulon tidak menjadi pengangguran, karena di saat itulah Dulon memutuskan untuk meniti usaha sendiri. Dengan modal yang dia dapat selama bekerja menjadi tukang goreng kerupuk, serta pelajaran dan pengalaman yang didapat dari Ibu Ani, Dulon membuka usaha sendiri dengan berjualan di salah satu sudut Pasar Baso. Mulai dari Kerupuk Sanjai (kerupuk ubi), Kerupuk Talas, hingga Keripik Pisang hasil produksinya ia jual di sana. Pada saat bulan puasa seperti sekarang ini, Dulon tidak jualan kerupuk, dagangannya berganti menjadi kue–kue dan roti tawar untuk menu buka puasa, yang ia jual di pasar pabukoan (makanan untuk berbuka puasa) setiap sore harinya.

Aneka kerupuk yang dijual oleh Dulon

Aneka kerupuk yang dijual oleh Dulon

Alhamdulillah, usahanya ini sangat lancar. Keinginannya untuk mengikuti audisi Indonesia Idol ke Jakarta di tahun 2008 pun hampir tercapai. Namun, lagi–lagi urung terlaksana karena Dulon lebih memilih untuk meng-kredit motor. Sudah lama ia mengidam–idamkan motor matic yang sangat populer di kampung saya. Pada awal tahun 2009, bapak Dulon yang sudah sekitar 5 tahun tinggal bersama kakaknya di Pariaman, pulang ke rumahnya di Baso. Melihat bapaknya sudah cukup tua dan hanya menghabiskan hari dengan makan, tidur, makan dan tidur lagi, Badul memutuskan untuk memberikan modal berdagang kepada bapaknya untuk berjualan Jengkol. Karena dulu sewaktu Badul masih kecil, bapaknya adalah pedagang Jengkol.

Bapak Dulon berjualan Jengkol

Bapak Dulon berjualan Jengkol

Akhirnya, di tahun 2010 ini Dulon mewujudkan mimpinya untuk ikut audisi di Jakarta. Malam sebelum keberangkatannya, Dulon dengan motor matic-nya keliling kampung pergi ke beberapa rumah temannya, termasuk saya yang selalu menjadi dewan jurinya, untuk berpamitan sekaligus minta doa dan restu. Setibanya di rumah saya, ia latihan untuk terakhir kalinya dengan membawakan lagu Afghan yang berjudul Terima Kasih Cinta. Itu adalah lagu yang akan dia nyanyikan saat audisi nanti.

“Oke Dul, semangat! Kamu bakalan ada di panggung Balai Sarbini bulan depan!” Itu kata – kata saya yang terakhir sebelum keberangkatannya.

Selama di Jakarta, Dulon tidak mau membalas SMS saya. Mungkin ia ingin memberi kejutan seandainya ia lolos audisi. Seminggu kemudian Si Dulon mendadak menelepon saya. Dia bilang sekarang dia sudah berada di rumah. Karena merasa tidak percaya, saya pun berbegas ke sana. Ternyata Dulon sudah ada di depan pintu rumah sambil menghisap sebatang rokok dengan sebuah Pin bergambar logo Indonesian Idol yang tersemat di bajunya. Dulon ternyata tidak lolos.

“Ndeh Men, Si Agnes Monica se yang suko ka den wakatu tu diang nyo… salabiahnyo ndak ado yang suko samo aden do,” (Duh Men, hanya Agnes Monica yang suka sama aku waktu audisi itu, selebihnya (dewan juri) tidak ada yang suka,”) kata Dulon.

“Yo lah suratan tangan ang ngaleh karupuak ko mah.. disuruahnyo ang di Anang (salah satu dewan juri) mamacik sendok kuali liak tu.. nampaknyo ndak buliah dinyo ang mamacik mic samo inyo do” (Ya, sudah suratan tangan kamu buat jualan kerupuk saja. Anang menyuruh kamu memegang sendok kuali lagi, kelihatannya kamu nggak boleh memegang mic sama dia) jawab saya sambil bercanda.

Dulon pun melempar sandal jepitnya ke motor saya.

Tapi secara keseluruhan, tidak ada raut kesedihan di wajahnya. Walaupun sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk pergi ke Jakarta dan antri selama 8 jam sewaktu audisi. Dia masih seperti biasa. Suka bernyanyi dan selalu bercanda. Satu yang ia sesali, nomor dada pesertanya tercecer entah di mana

Pin Indonesian Idol sebagai satu-satunya kenangan Dulon mengikuti audisi di Jakarta

Pin Indonesian Idol sebagai satu-satunya kenangan Dulon mengikuti audisi di Jakarta

Hanya Pin Indonesian Idol yang tersisa sebagai tanda kalau dia pernah ikut audisi. Sampai sekarang kami masih menanti Dulon untuk ditayangkan di TV. Tapi apa boleh buat, memang nasib Dulon tidak bisa ‘masuk’ TV. Sabar ya Dulon, mungkin berjualan kerupuk adalah jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan untukmu. Namun bagi kami, kamu adalah Delon-nya Desa Baso.

About the author

Rudi Rahman Firdaus

Dilahirkan di Bukittinggi pada bulan Januari. Ia kuliah di ISI Padangpanjang, konsentrasi Ilmu Televisi dan Film. Ia juga aktif di komunitas Sarueh.

Leave a Comment

10 Comments

  • asik2 tulisannya….
    balada sejuta mimpi di ibukota memang selalu lebih pedas dari keripik balado

  • semangat selalu untuk Dulon..
    setidaknya Dulon telah membuktikan bahwa dirinya berani berjuang dan berkorban walaupun hasilnya tidak emuaskan dan keinginannya tidak terwujud…

    masih banyak jalan menuju Makkah..

    smangaaadh Dulon…

  • semangat dulon..
    semangat dan kerja keras mu telah membuktikan siapa
    dirimu..
    walaupun hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan…
    terus berjuang..!!

  • Itulah hidup,tdk smua yg qt ct2kn trwjd. . .

    Yg pnting qt sbg mnsia hrz ttp brsh. . .

    Allah pzti brkan yg trbaik buat qt,sprt ksh hdp si Dulon ne . . .

  • jempoll buat rudi. gini dong. tulisanmu bagus, intim dan ga setengah-setengah…

    bagus, rudi. ditunggu yang berikutnya.