Jurnal Kecamatan: Jagakarsa Kota: Jakarta Selatan Provinsi: DKI Jakarta

Cerita Sebelum Dipenggal

Pak Yusuf sedang memberi makan domba yang dikat di penanda jalan depan mushola
Written by Gesyada Siregar
Mungkin dia tahu ini saat-saat terakhirnya sebelum nanti dicerna perut-perut mereka. Sang kerbau sudi untuk dielus-elus oleh anak-anak Tanjung Barat. Lucu juga melihat anak-anak itu dengan asyik bermain-main di antara kandang temporer hewan-hewan kurban di Mushola Annuriah, yang ajaibnya, tidak begitu bau seperti kandang-kandang pinggir jalan lain (yang dalam radius berapa meter saja sudah mengganggu penciuman). Terkadang juga anak-anak itu menyodorkan daun-daun kepada si kerbau, yang dilahap dengan sukarela. Sang anak senang karena usahanya diterima, si kerbaupun senang karena kenyang.

IMG_20141004_185939

IMG_20141004_190003

Tak hanya si kerbau, kambing dan domba yang berada di sana nampak santai dan tak rusuh dengan lain.  Bahkan ada yang dengan mesra bersandaran di badan temannya seraya beristirahat. Tak lama kemudian, mereka kedatangan teman senasib seperjuangan baru yang diantar dengan mobil pick up. Saat itu jam 8 malam. Supir manusia yang mengantar dan membawa turun si kerbau tak mengalami kesulitan ketika menurunkan sang mamalia bernama latin Bubalus bubalis ini. Tali dilehernya kemudian ditambatkan di depan mushola Annuriah, karena di bagian dalam sudah dipenuhi kambing dan domba-domba yang ukurannya lebih kecil daripadanya.

SAMSUNG

SAMSUNG

SAMSUNG

SAMSUNG

Si kerbau itu dibawa oleh Ibu Merry, yang tinggal di Jalan Nangka, tak jauh dari Mushola Annuriah.  Mushola itu dipilih olehnya di antara sepuluh masjid dan mushola lain yang sudah dicek satu persatu jumlah sapinya.  “Yang di sini sapinya masih dikit, jadi saya bawa kurban di sini. Biar merata aja, gak numpuk di satu tempat” ujar Ibu Merry.  Kerbau itu ia beli dan bawa dari Bogor, karena menurutnya cukup susah mencari kerbau di Jakarta, dan kebetulan penjual kerbau itu adalah teman suaminya. Kerbau juga dipilih atas permintaan suami, yang sebagai orang Betawi cenderung menyukai kerbau dibanding hewan lain untuk kurban.

Ibu Merry kemudian harus mendaftar ke Pak Dzaenal, panitia kurban Mushola Annuriah tahun ini. Pak Dzaenal mendata hewan kurban dari Ibu Merry dan memberikan tanda bukti. Setelah serah terima selesai, Ibu Merry dan tim pick upnya pun meninggalkan Mushola Annuriah. Anak-anak masih berada di sana bermain-main serta beberapa bapak pengurus mushola dan panitia kurban.

Bu Merry dan Pak Dzaenal

Bu Merry dan Pak Dzaenal

SAMSUNG

Pak Dzaenal sudah seminggu menjadi penerima hewan kurban di Mushola Annuriah. Ia bukan pengurus mesjid,namun salah satu jamaah tetap yang ditunjuk oleh panitia kurban untuk bertugas di sana. Selain Pak Dzaenal ada juga Pak Yusuf.  Mereka saling ganti menjaga sementara yang lain beristirahat, karena pos dibuka 24 jam, mengingat kebanyakan warga baru sempat mengantarkan kurban pada malam hari setelah jam pulang kerja, seperti Ibu Merry tadi. Selain itu, mereka juga perlu menjaga hewan-hewan di sana untuk mencegah pencurian. “Pernah kejadian di masjid sana. Yah, kita, sih, waspada aja, meskipun belum pernah kejadian di sini,” kata Pak Yusuf.

Pak Dzaenal yang sudah seminggu menjadi panitia penerimaan kurban

Pak Dzaenal yang sudah seminggu menjadi panitia penerimaan kurban

Pak Yusuf sedang memberi makan domba yang dikat di penanda jalan depan mushola

Pak Yusuf sedang memberi makan domba yang dikat di penanda jalan depan mushola

Ada juga Pak Anas dan Pak Amdi yang menjadi panitia kurban. Tiap tahun mereka ikut serta untuk mengurus kegiatan ini, sehingga sudah berpengalaman dalam perencanaan dan sistem pembagian kurban. Hewan-hewan nantinya akan dipindahkan ke jalan depan mushola dan pemotongan akan dilakukan di mushola. Tempat harus dipisah agar hewan-hewan tidak panik ketika melihat pemotongan dengan langsung.  Pemotongan akan dilakukan pada pukul 8 pagi esok setelah solat dan pembagiannya akan dilakukan jam 13.30. “Namun lihat situasi juga” kata Pak Anas, yang merupakan pengurus tetap musholla Annuriah “Kalau seandainya ada banyak, kami akan bagikan lebih awal biar gak menumpuk”. Syukurlah, selama ini pembagian di sana selalu berjalan aman dan lancar. Pemindahan hewan-hewan ke jalan juga sudah diberitahukan lebih awal ke warga dan setiap tahun selalu bertempat di sana, sehingga tidak akan menganggu warga.

Pak Anas dan Pak Amdi

Pak Anas dan Pak Amdi

SAMSUNG

Terdapat tiga rukun tetangga di dekat mushola yang menjadi sasaran pembagian kurban. Tiga ratus kupon nantinya dibagikan kepada warga di sana untuk ditukarkan dengan daging kurban. Sampai malam tadi ketika saya berada di sana, terdapat dua puluh dua kambing dan domba serta empat sapi dan kerbau. Tiap sapi dapat menghasilkan 2 kg daging untuk tujuh orang, sedangkan kambing dan domba dihitung perpaha.   Menurut Pak Yusuf, jumlah kambing dan domba menurun dibanding tahun lalu, yang berjumlah sekitar empat puluhan. “Yah, naik turun, tiap tahun rezeki orang beda-beda,” ujarnya. Namun, sesuatu yang berlebihan juga tidak baik. Lima sapi cukup untuk daerah di sana. “Kalau lebih dari itu, nanti repot juga pembagiannya, berarti harus dibagikan ke daerah lain. Belum lagi pemotongannya,” kata Pak Anas.

Karena yang berkurban juga merupakan warga daerah sana, tak jarang juga mereka membeli kurban di penjual-penjual terdekat di sekitar Tanjung Barat. Namun, hewan-hewan tersebut tidak berasal dari Jakarta. Ada yang dari pulau Jawa untuk hewan seperti kambing dan domba, sedangkan kerbau dan sapi, semua datang dari jauh. Salah satu yang berwarna hitam, kata Pak Dzaenal berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat, dan Ibu Merry sendiri membeli kerbaunya dari Bogor.

SAMSUNG

SAMSUNG

SAMSUNG

SAMSUNG

Dari pengeras suara mushola, seorang muazin tak henti-hentinya mengumandangkan takbir, yang disahut oleh sekumpulan bapak-bapak yang duduk melingkar di dalam mushola.  Di luar, tiga anak laki-laki kecil menabuh bedug mengikuti suara takbir.  Anak-anak kecil yang tadinya berpakaian kaos, pelan-pelan datang mengenakan sarung dan baju koko. Sesekali mereka melipir ke kandang sapi tadi untuk melihat-lihat atau sekadar memberi makan. Cukup menarik bagi saya bahwa tak terlihat satupun dari mereka yang memegang ponsel selama beraktifitas, kecuali untuk sesekali menerima telepon. Rasanya cukup wajar dan juga sekaligus aneh untuk tidak melihat figur merunduk diterpa cahaya ponsel, yang biasa saya lihat di kampus, kereta atau tempat umum lainnya.

SAMSUNG

SAMSUNG

Suasana teratur dan santai yang terlihat dari orang-orang yang terlibat seperti panitia dan penyumbang kurban, muncul dari kesadaran masing-masing tentang kurban.  Ibu Merry menganggap ini adalah kewajibannya sebagai umat Islam, sebagai anjuran-anjuran yang lain seperti solat dan berpuasa. Kepekaan tentang makna kurban sebagai amal untuk sesama umat manusia juga ia perhatikan, seperti menyumbangkan kerbaunya untuk tempat yang jumlahnya masih sedikit. Begitu juga dengan para panitia. Bagi Pak Dzaenal, kurban menjadi momen untuk bersedekah, karena kurban hukumnya sunah mendekati wajib untuk mereka yang mampu.

SAMSUNG

Pak Anas melihat lebih jauh makna kurban. Menurutnya, banyak pihak yang terlibat dari peristiwa kurban. Para pedagang hewan ternak menjadi terbantu dengan adanya kurban. Orang-orang yang tadinya susah untuk makan daging, akhirnya mendapat kesempatan. “Yang kaya membantu yang miskin,” serunya. Ia juga yakin, bahwa mereka yang berkurban tidak akan kehabisan rezeki. “Semua sudah diatur ama Allah, justru akan berlipat nantinya,” kata Pak Anas. Pak Amdi menambahkan bahwa menurutnya, akan muncul kerinduan nantinya jika kita berkurban. “Tiap tahun nanti akan berasa-duh, belum kurban, nih!- Percayalah, rasanya itu beda.”

“Yang perlu dicatat, yang sering orang-orang tidak tahu adalah, bahwa di kepala itu kan, ada tujuh pintu dosa..” papar Pak Anas. “Ada mulut satu, dua lubang hidung, dua mata, dan dua lubang telinga,” jelasnya sambil menunjukkan tiap-tiap organ yang disebutnya.  “Nah, ketika itu dipotong, terbebaslah kita dari dosa-dosa tersebut.. Itu makna kurban!”

“Wah, iya, ya? Semuanya ada di kepala. Eh, tapi kalau lubang yang lain, Pak? Yang di tengah-tengah?” tanya saya iseng.

“Naaah… itu, sih, kan awalnya dari yang atas.. Dari mata turun ke hati terus ke bawah.. gitu, kan, katanya?” jawab Pak Anas diiringi tawa saya dan bapak-bapak yang lain.

About the author

Gesyada Siregar

Gesyada Annisa Namora Siregar lahir di Medan pada tahun 1994. Sedang menempuh pendidikan di jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Menjadi co-founder dari Taman Baca Bulian, sebuah taman baca berskala komunitas di Jakarta Selatan dan Ketua Himpunan Mahasiswa Seni Murni FSR IKJ periode 2013-2014.

Leave a Comment