Jurnal Kecamatan: Pemenang Kota/Kabupaten: Lombok Utara Provinsi: Nusa Tenggara Barat

Catatan Kaki Pemilu Kali Ini

Sejak tiga hari menjelang pemilihan, suasana memang sedikit berbeda. Di rumah-rumah, warung-warung nasi, tempat-tempat nongkrong bahkan sampai di dalam dapur, orang ramai membicarakan pemilihan ini. Obrolan pun bermacam-macam. Mulai dari mendukung partai apa, calonnya siapa, tatacara memilih, sampai apa yang didapat jika memilih calon A, B, C dan seterusnya. Isu pun berkembang. Banyak sekali hal-hal yang merusak citra demokrasi tercoreng. Misalnya adanya salah satu caleg yang membagikan jenset, mesin air dan uang tunai.

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_01

Sehari sebelum pemilihan, aku dan keluarga sempat ngobrol mengenai Pemilu Legislatif kali ini, menimbang-nimbang calon yang akan dipilih. Keluargaku memang taat terhadap hukum. Mereka sependapat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, untuk memilih Calon Dewan yang kelak bisa membawa angin segar perubahan di Lombok Utara.

Seorang sepupuku, bernama Ilham, menyatakan akan memilih caleg yang menyumbang baju sepak bola ke klub mereka.

Pokoknya, sekarang ini yang penting kita dapat apa? Kalu pilih si A, belum tentu kita dapat apa-apa. Lebih baik milih si B, yang sudah memberikan baju sepak bola ke klub kami. Walaupun kalau sudah menjabat, kita juga bakal tidak dapat apa-apa. Daripada tidak dapat sama sekali…?!” ungkapnya kepada kami.

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_02

Memang banyak trik yang dilakukan oleh para caleg untuk memikat hati masyarakat. Salah satunya, yang marak adalah membagikan kostum kepada klub-klub sepak bola. Ya, semoga saja apa yang mereka berikan ikhlas, semata-mata untuk kepentingan orang banyak.

Memang tidak bisa dipungkiri, di lapangan, menurut kesaksian beberapa teman, banyak sekali caleg yang bermain kotor. Apalagi, malam menjelang pemilihan. Sehingga, mematahkan prediksi perolehan suara. Mereka yang awalnya akan memilih si H tanpa uang misalnya, berubah kepada si S yang memberikan uang tunai kepada mereka, meski hanya Rp. 100.000,- (Seratus ribu rupiah).

Hamdun.

Hamdun.

Seorang temanku, Hamdun, yang menjadi salah satu tim sukses seorang caleg, pusing. Bagaimana tidak?! Ia yang bergerak tanpa dukungan finansial, terpaksa harus memeras kepala karena adanya praktek money politic tersebut. Nah, para caleg yang bermain money politic inilah, yang kelak dalam sejarah bangsa Indonesia, menjadi wakil yang kurang ajar.

***

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_06

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh! Melaui kesempatan ini, kami permaklumkan kepada semua jamaah Masjid Ass-Shiratal Mustaqiem, Karang Subagan, untuk hadir di TPS (Tempat Pemungutan Suara –red), guna sama-sama kita melaksanakan pemilihan para anggoa legislatif…”

Himbauan yang terdengar dari corong masjid tersebut membangunakanku. Tanggal 9 April, 2014. Hari ini, di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, dilaksanakan pemilihan anggota dewan, mulai dari DPRD Kabupaten sampai DPR RI. Himbauan ini bukan hanya ajakan kepada warga untuk sekedar memilih, tetapi juga agar bagaimana warga menggunakan hak pilih dengan tepat. Memilih calon yang kelak mampu membawa dan menyampaikan aspirasi masyarakat.

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_04

Jamaah Masjid Ass-shiratal Mustaqiem, terdiri dari dua dusun., yaitu Dusun Karang Suabagan dan Dusun Karang Bedil. Dari dua dusun ini, ada 6 Calon Legislatif yang ikut meramaikan Pemilu Legislatif kali ini. Pada pemilu yang lalu, hanya ada tiga calon. Menurut Herman Zohdi, S.PdI, Ketua PPK Kecamatan Pemenang, bertambahnya jumlah calon ini menunjukan meningkatnya kesadaran terhadap demokrasi dan menunjukan kualitas sumber daya manusia yang meningkat. Semakin kerasnya kompetensi, menunjukan majunya suatu daerah. Pendapat beliau bisa dibenarkan. Namun, realitanya, terjadi kebingungan warga untuk memilih. Kebingungan ini sering sekali aku dengar dari warga.

“Mau milih si A, gak enak ama si B karena tetanggaan. Mau milih si B, gak jadi karena si C teman. Mau milih si C, si D sepupu…”

Bahkan, tetanggaku, dalam satu keluarganya ada tiga calon di Dapil yang sama dan memperebutkan kursi yang sama, yakni DPRD Kabupaten.

Sementara itu, di dusunku, terdapat dua TPS, yakni TPS 20, yang berlokasi di sebuah bengkel mobil, dan TPS 21 yang berlokasi di gedung Sekolah Dasar Negeri 7 Pemenang.

Kebingungan yang saya sebutkan tadi di atas, tidak berakhir sampai di situ. Pukul delapan pagi, ketika aku sampai di TPS 20 untuk mencoblos, beberapa warga ramai membicarakan tata cara mencoblos dan caleg yang akan mereka coblos. Mereka berkumpul di depan papan informasi untuk melihat para jagoan mereka. Mengenali wajah mereka dan memastikan bahwa mereka tidak salah orang dan tidak salah nomor. Kesempatan ini, bagi beberapa tim sukses, tidak disia-siakan. Terlihat beberapa orang tim dari salah satu caleg, mencoba mempengaruhi warga. Mengarahkan warga untuk memilih caleg mereka. Bahkan, kakakku Gozali, dihampiri oleh salah seorang dari tim seorang caleg, seraya membisiki, “Awas kalau kamu tidak memilih si ‘anu’!”

Tidak sampai di sana, menurut salah seorang saksi dari salah satu partai, sejak TPS 20 ini dibuka, beberapa kecurangan sudah mulai tampak. Aku sendiri tidak tahu pasti bentuk kecurangan itu karena dia sendiri memilih untuk tidak bercerita. Namun, beberapa saat ketika aku menunggu giliran, beberapa hal yang tidak etis sudah tampak jelas. Misalnya, mereka yang bukan petugas atau warga yang dipanggil untuk memilih, berada di dalam area pemungutan suara. Hal ini bisa berdampak sangat buruk. Sebab, kemungkinan tim dari salah satu caleg bisa mempengaruhi warga ketika akan menggunakan hak pilih mereka.

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_05

Semua memang berharap untuk menang. Tapi tentu saja yang seharusnya diharapkan adalah menang dengan jalan yang baik dan terhormat, bukan dengan cara curang. Jika setiap Pemilu terjadi hal serupa maka kita tidak akan pernah dewasa dalam berdemokrasi.

Setelah menggunakan hak pilih, aku pulang ke rumah. Perutku sudah sangat lapar karena tadi pagi aku tidak sarapan sebelum berangkat mencoblos. Setelah sarapan, aku memutuskan mengunjungi salah seorang tetanggaku yang kebetulan mencalonkan diri. Aku ingin mengetahui berita ter-update seputar Pemilu di wilayahku. Di tempat tersebut, aku bertemu dengan beberapa orang tim dari si caleg yang kukunjungi, salah satunya SG. Dia sendiri, kesehariannya, menajadi seorang Tour Guide di Pelabuhan Bangsal.

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_03

Pagi sehabis mencoblos, dia sempat pergi ke Pelabuhan Bangsal. Namun, tidak ada satu pun perahu yang beroperasi. Beberapa wisatawan yang meminta jasanya untuk menyediakan fasilitas untuk menyebrang ke Gili Trawangan, tidak bisa ia penuhi. Melihat kondisi yang demikian, maka ia memutuskan untuk meninjau di beberapa TPS, dan akhirnya menuju rumah si caleg untuk sekedar melaporkan berita terkini.

SG juga sempat menyatakan kekesalannya terkait pelaksanaan pemungutan suara di TPS 20. Dia memilih diam dan tidak melakukan tindakan apa pun dengan alasan tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kalau mau cari rebut, sih, gampaaaang, tapi buat apa kita seperti itu?” ujarnya.

Saya juga sependapat dengannya. Sebab, sebenarnya ada badan yang lebih berhak dan berkewajiban untuk mengamankan jalannya pemungutan suara yaitu, Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu) Kabupaten Lombok Utara.

***

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_14

Penghitungan suara dimulai sesuai jadwal dari PPS (Panitia Pemungutan Suara) TPS 20, yaitu pukul 2 siang. Penghitungan suara dimulai dari DPD, kemudian dilanjutkan dengan DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten. Untuk DPRD Kabupaten, TPS 20 ini masuk ke dalam Dapil (Daerah Pemilihan) I, yang terdiri dari Kecamatan Pemenang dan Kecamatan Tanjung. Sementar itu, untuk DPRD Provinsi masuk ke Dapil Lombok Barat dan Lombok Utara. Saat penghitungan suara, antusisame warga sangat terlihat. Semua kursi yang disediakan oleh panitia habis terpakai. Warga yang tidak mendapatkan jatah kursi, dipersilahkan berdiri dengan manis, sambil bersandar di tiang bangunan bengkel.

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_08

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_09

Suasana panas semakin terasa, ketika panitia bersiap-siap untuk membaca perolehan suara DPRD Kabupaten. Enam orang calon yang berasal dari dusunku akan segera mengetahui suara yang mereka dapatkan. Namun, tidak ada satu pun dari keenam calon tersebut hadir di TPS 20. Hanya para keluarga calon, saksi, tim sukses dan pendukung mereka yang tampak.

akumassa_catatan pemilu kali ini_siba_april 2014_13

Satu per satu kertas suara dibuka dan dibaca oleh ketua PPS. Hadirin nampak tegang. Nampak wajah gelisah dari pihak keluarga calon. Para saksi sibuk menulis. Ada juga saksi yang cengangas-cengengesan, karena dari tadi calonnya tidak pernah disebut. Para pendukung calon mulai berdoa sambil berteriak, semoga saja pendukung mereka mendapatkan suara yang banyak.

Aku tidak kuasa menahan penasaran, dan memutuskan untuk pulang. Dari rumahku, suara sang Ketua PPS membacakan surat suara, sangat  jelas terdengar. Baru saja aku menghirup kopi, Iparku, Asiah, membawa kabar baru. Menurut keterangannya, sempat terjadi adu mulut antara beberapa orang penukung calon. Parahnya, salah satu pendukung calon sempat melontarkan kata-kata tidak sedap kepada pendukung yang lain, dengan ancaman akan memutuskan tali kekerabatan. Parah!

About the author

Muhammad Sibawaihi

Dilahirkan di Desa Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, pada tanggal 20 Mei 1988. Ia kuliah di IKIP Mataram jurusan Bahasa Inggris. Sekarang ia aktif mengajar sebagai guru di wilayahnya dan aktif di Komunitas Pasir Putih.

Leave a Comment