Jurnal Kecamatan: Tanjung Harapan Kota: Solok Provinsi: Sumatera Barat

Bingkaian-bingkaian Isu di AKUMASSA Solok

Avatar
Written by Manshur Zikri

Catatan tentang AKUMASSA Solok (Bagian 4)

Program AKUMASSA Solok dilaksanakan oleh Forum Lenteng dan Komunitas Gubuak Kopi dalam kemasan yang berbeda. Jika kegiatan lokakarya AKUMASSA biasanya berlangsung selama satu bulan penuh, pada lokakarya kali ini, kegiatan hanya berlangsung selama dua minggu. Karenanya, penerapan lokakarya AKUMASSA mengalami modifikasi yang menyesuaikan situasi dan kondisi di Kelurahan Kampung Jawa dan Komunitas Gubuak Kopi, tetapi tetap mengacu kepada prinsip-prinsip dasar AKUMASSA yang telah dikembangkan oleh Forum Lenteng sejak tahun 2008.

Peta Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok, yang dibuat oleh partisipan AKUMASSA Solok. (Foto: Manshur Zikri).

Lokakarya literasi media AKUMASSA tetap menekankan pentingnya sudut pandang warga dalam memproduksi informasi dan pengetahuan, dengan tetap mengambil aspek-aspek yang berasal dar narasi lokal dan peristiwa massa di lokasi pelaksanaan lokakarya. Kesadaran terhadap arsip dan kebutuhan untuk membangun pusat dat yng dikelola oleh warga lokal juga masih menjadi fokus utama kegiatan ini. Akan tetapi, kegiatan produksi output-nya tidak mengharuskan membuat karya “video akumassa” (yakni, karya video yang dibuat berdasarkan teknifikasi dan metode produksi yang telah dikembangkan oleh Forum Lenteng sebagai bagian dari eksperimen bahasa visual).

Gelar Soemantri, salah satu fasilitator AKUMASSA Solok, menjelaskan tentang pentingnya aktivitas merekam kegiatan sehari-hari. (Foto: Manshur Zikri).

Dalam lokakarya kali ini, para partisipan lebih didorong untuk melakukan aksi merekam aktivitas sehari-hari, peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar mereka, terutama lingkungan bertetanggaan, dengan memanfaatkan fasilitas kamera pada telepon genggam milik masing-masing partisipan dan kekuatan media sosial. Aksi merekam itu menghasilkan karya video (dengan gaya bahasa “video diary”) dan karya fotografi. Tidak jarang pula kegiatan-kegiatan lokakarya atau aktivitas mereka di lapangan disiarkan langsung di video live Facebook sehingga teman-teman yang berada di luar Kota Solok dapat menyimak perkembangan kegiatan tersebut.

Partisipan AKUMASSA Solok membuat peta Kelurahan Kampung Jawa. (Foto: Manshur Zikri).

Partisipan AKUMASSA Solok melakukan simulasi menggunakan fasilitas live streaming video di Facebook. (Foto: Manshur Zikri).

Presentasi publik pada penghujung kegiatan diselenggarakan dalam bentuk “open lab” (atau “open studio”) yang memamerkan arsip-arsip yang telah dikumpulkan partisipan selama kegiatn lokakarya.

Secara garis besar, ada enam isu yang oleh para partisipan dicoba untuk dibingkai dan direspon berdasarkan sudut pandang mereka sebagai warga lokal di Kota Solok. Enam bingkaian isu tersebut, antara lain:

1. “Bundo Kanduang”

Di Kelurahan Kampung Jawa, terdapat komunitas ibu-ibu yang tergabung dalam nama “Bundo Kanduang”. Komunitas ini dikelola dan bertanggung jawab kepada pihak kelurahan. Sekretariat “Bundo Kanduang” yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso juga berfungsi sebagai “Perpustakaan Nagari” dan kini dikelola sebagai salah satu ruang publik. Istilah “bundo kanduang” sendiri memiliki makna yang penting, baik dari segi filosofis maupun sosial-budaya, dalam konteks masyarakat Minangkabau, karena seorang Bundo Kanduang merupakan simbol kebijaksanaan seorang ibu dalam mengurus hal-hal penting dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat di Sumatera Barat. Lokakarya ini mencoba memaknai kembali esensi dari “Bundo Kanduang” yang agaknya telah mengalami pergeseran, baik dari segi fungsi maupun maknanya, di tengah-tengah ranah kehidupan masyarakat kontemporer Minangkabau.

2. “Jamu Malam”

Di Kot Solok, terdapat fenomena para pedagang jamu yang biasanya beroperasi pada malam hari. Menariknya, para pedagang ini rata-rata adalah perantau dari luar Solok meskipun mereka masih berdarah Minangkabau. Tidak sedikit pula dari mereka yang memiliki ikatan darah karena mewarisi tradisi menjual jamu tersebut dari seorang pedagang yang dianggap pelopor dagangan jamu di Kota Solok.

3. “Market 24”

Warga tak pernah kehabisan ide untuk bertahan, terutama untuk hal-hal ekonomis. Salah satunya, adalah fenomena pedagang warung kelontong yang memanfaatkan mobil pribadinya sebagai warung. Warung itu dapat berpindah kapan saja, bahkan mampu menyiasati para petugas ketertiban. Warung itu juga beroperasi hampir 24 jam dan menjadi salah satu alternatif bagi warga yang membutuhkan barang-barang keseharian di malam hari. Jika kamu mendadak ingin membeli makanan di waktu dini hari di Solok, datangilah warung ini. Mereka pasti buka.

4. “Rang Kaliang”

Di Solok, orang-orang mengenal rang kaliang (artinya: ‘orang keling’ atau ‘orang berkulit hitam’ dalam bahasa Indonesia) sebagai keturunan India atau Pakistan. Mereka hidup berdampingan dengan menjunjung tinggi toleransi bersama warga Jawa, Minangkabau, dan Batak yang ada di Kelurahan Kampung Jawa. Ini adalah salah satu fenomena yang menunjukkan bahwa kelurahan ini dibangun oleh masyarakat yang pada masa lalu merupakan orang-orang perantau. Umumnya berprofesi sebagai pedagang rempah-rempah, maka masyarakat selalu menyebut “toko rang kaliang” jika ada orang yang bertanya, di mana kita bisa membeli bumbu-bumbu khas Timur?

5. “Taman Syech Kukut”

Di Kota Solok saat ini, Taman Syech Kukut adalah salah satu tempat rekreasi favorit masyarakat karena di sana ada banyak pedagang dan penyedia jasa wahana hiburan bagi keluarga-keluarga atau muda-mudi yang ingin jalan-jalan di sore hari. Di taman itu pula, ada sebuah spot di bagian depan yang dapat dijadikan sebagai ruang untuk berfoto narsis. Fenomena ini menjadi visual sehari-hari yang selalu disaksikan oleh orang-orang yang melintas di depan taman.

6. “Terminal Kota Solok”

Terminal Kota Solok adalah titik lokasi yang selalu sibuk di hari-hari biasa. Angkutan kota di Solok selalu menjadikan terminal ini sebagai titik awal keberangkatan mereka. Konon, di dekat terminal ini dahulunya terdapat sebuah bioskop lokal yang populer, disebut-sebut bernama “Bioskop Karia”. Namun, bioskop itu telah hilang sama sekali dan bangunannya berganti fungsi menjadi ruko.

About the author

Avatar

Manshur Zikri

Lulusan Departemen Kriminologi, FISIP, Universitas Indonesia. Anggota Forum Lenteng, pelaksana Program akumassa. Dia juga aktif sebagai sebagai kritikus film di Jurnal Footage, dan sebagai Kurator di ARKIPEL - Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.